Hutan Tujuh Bukit: Harmoni Antara Tambang dan Pelestarian Lingkungan

Hutan menjadi salah satu aset yang tidak banyak dimiliki negara lain. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melaporkan, hutan […]

blank

Hutan menjadi salah satu aset yang tidak banyak dimiliki negara lain. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melaporkan, hutan Indonesia meliputi daratan seluas 125.795.306 hektare atau setara dengan 62,97% dari total luas daratan Indonesia. Jumlah tersebut tentunya sudah mengalami penurunan sejak beberapa dekade terakhir, di mana banyak terjadi eksploitasi dan pembukaan lahan yang mengakibatkan berkurangnya kawasan hutan.

Hutan merupakan penyumbang 30% oksigen di muka bumi. Jika luas hutan menurun akibat deforestasi, tutupan hutan menipis, maka serapan CO2 dan produksi oksigen akan terhambat. Sedangkan kawasan industri juga tidak henti-hentinya memproduksi CO2 yang meningkatkan emisi karbon. Kondisi tersebut jika dibiarkan akan menyebabkan celah atmosfer dan berpotensi mengundang ancaman kebencanaan yang lebih besar ke depannya. Maka perlu adanya kerja sama dengan berbagai sektor untuk meningkatkan kepedulian demi keberlangsungan hutan.

Hutan Tujuh Bukit (Tumpang Pitu) jadi ekosistem berbagai makhluk hidup sejak lama. Berbagai jenis hewan dan tumbuhan hidup di hutan Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Sebelum PT Bumi Suksesindo (PT BSI/Perusahaan) beroperasi, melalui Departemen Lingkungan, PT BSI telah melakukan studi rona awal (baseline study) pada 2015 terhadap keanekaragaman flora dan fauna yang hidup di Tujuh Bukit. Dalam studi kenakearagaman hayati ini, perusahaan melibatkan pakar, akademisi, dan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sehingga berimbang terhadap hasil studi. “Sejak awal kami berkomitmen untuk menjaga keanekaragaman hayati di Tujuh Bukit. Untuk itu, kami butuh data rona awal sebagai panduan kami dalam pembuatan program-program konservasi ketika tambang beroperasi,” tutur Manajer Departemen Lingkungan PT BSI Doni Roberto, Kamis pada detik.com (1/2/2024).

Doni menambahkan data dari baseline study tersebut perlu diperbaharui selama fase operasi tambang. Timnya terus melakukan pemantauan flora dan fauna secara berkala hingga kini. Kegiatan pemantauan ini berlangsung hingga perusahaan selesai beroperasi (pascatambang). “Dari hasil baseline study dan pemantauan berkala hingga tahun 2023, tercatat ada sebanyak 330 jenis flora dan 244 fauna di Tujuh Bukit. Sampai saat ini pemantauan terus kami lakukan untuk pengkayaan dan pembaharuan data,” katanya.

Setelah mengumpulkan data tersebut, lanjut Doni, PT BSI tidak hanya menyimpannya. Melalui kebijakan lingkungan, Perusahaan membentuk program perlindungan keanekaragaman hayati di Operasi Tujuh Bukit. Agar kebijakan ini dipahami dan diikuti semua karyawan dan mitra kerja, Departemen Lingkungan menyosialisasikan kebijakan tersebut secara terus-menerus melalui berbagai media. Seperti induksi, rambu-rambu, poster, termasuk aksi nyata seperti inspeksi lingkungan secara berkala, dan program hari lingkungan hidup yang diselenggarakan setiap tahun.

Bukan hanya sosialisasi, Perusahaan juga melakukan langkah-langkah prefentif demi menjaga keanekaragaman hayati, antara lain menetapkan area penyangga (buffer zone) untuk konservasi keanekaragaman hayati; menyelamatkan benih dan bibit pohon lokal untuk perbanyakan yang digunakan dalam reklamasi; mempertahankan dan/atau meminimalkan penebangan pohon induk yang memiliki fungsi ekologis bagi fauna.

Selain itu, meminimalkan bukaan hutan sesuai kebutuhan operasional dan melakukan patroli dan pengamanan kawasan hutan. Hal yang tidak kalah penting yang telah dilakukan oleh PT BSI adalah melakukan reklamasi lahan secara progresif. Hingga akhir 2023, Perusahaan telah menyelesaikan reklamasi seluas 68,80 hektare. Hasil reklamasi tersebut kini juga menjadi habitat bagi fauna di Tujuh Bukit. “Kami terus berupaya agar keanekaragaman hayati di Tujuh Bukit tetap terjaga hingga tambang ini tidak lagi beroperasi,” jelasnya.

REFERENSI:

The State of the World’s Forests 2020. In brief – Forests, biodiversity and people. Rome, Italy: FAO & UNEP. 2020. doi:10.4060/ca8985en. ISBN 978-92-5-132707-4.

Holdridge, L.R. Life zone ecology. San Jose, Costa Rica: Tropical Science Center.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *