Selama puluhan tahun, para ilmuwan memperkirakan bahwa tanaman berbunga atau angiospermae mulai muncul di Bumi sekitar 120 juta tahun lalu. Namun, sebuah penemuan baru di Portugal mengubah gambaran itu. Berdasarkan bukti fosil mikroskopis berupa butiran polen (serbuk sari), para peneliti menemukan bahwa tanaman berbunga sudah ada sejak 123 juta tahun lalu — 2 juta tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya.
Meskipun selisih dua juta tahun terdengar kecil, dalam skala waktu geologis dan evolusi, itu merupakan lompatan penting. Ini dapat mengubah cara kita memahami evolusi tanaman, interaksi awal antara tumbuhan dan serangga penyerbuk, dan peran bunga dalam memperkaya ekosistem Bumi.
Selama puluhan tahun, para ilmuwan memperkirakan bahwa tanaman berbunga atau angiospermae mulai muncul di Bumi sekitar 120 juta tahun lalu. Namun, sebuah penemuan baru di Portugal mengubah gambaran itu. Berdasarkan bukti fosil mikroskopis berupa butiran polen (serbuk sari), para peneliti menemukan bahwa tanaman berbunga sudah ada sejak 123 juta tahun lalu — 2 juta tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya.
Meskipun selisih dua juta tahun terdengar kecil, dalam skala waktu geologis dan evolusi, itu merupakan lompatan penting. Ini dapat mengubah cara kita memahami evolusi tanaman, interaksi awal antara tumbuhan dan serangga penyerbuk, dan peran bunga dalam memperkaya ekosistem Bumi.
Angiospermae adalah kelompok tumbuhan yang paling dominan di planet ini. Mereka mencakup hampir semua tanaman berbunga, dari bunga matahari, apel, hingga padi dan gandum. Ciri khas angiospermae adalah kemampuan mereka untuk mereproduksi menggunakan bunga dan biji yang tertutup dalam buah. Ini membedakan mereka dari tumbuhan lain seperti gymnospermae (misalnya pinus), yang bijinya terbuka dan tidak memiliki bunga.
Kelompok ini sangat penting dalam rantai makanan global dan juga dalam kehidupan manusia. Angiospermae adalah sumber utama makanan, bahan bangunan, obat-obatan alami, dan tentu saja, keindahan dalam lanskap alam.
Tim ilmuwan dari Jerman yang terdiri dari ahli paleobotani dan geologi meneliti sampel sedimen laut dari Cekungan Lusitania di Portugal. Di dalam sedimen berusia 123 juta tahun tersebut, mereka menemukan polen jenis trikolpat, yang memiliki tiga alur (colpi) pada dindingnya.
Polen trikolpat adalah karakter khas dari eudikotil, salah satu cabang terbesar dari angiospermae modern yang mencakup lebih dari 70% tanaman berbunga saat ini. Ini termasuk mawar, tomat, apel, dan sebagian besar tanaman kebun.
Dengan kata lain, penemuan ini membuktikan bahwa cabang besar angiospermae ini sudah muncul lebih awal dari perkiraan sebelumnya.
Menentukan usia lapisan sedimen tempat fosil polen ditemukan dilakukan dengan analisis isotop strontium dari fosil laut seperti kerang yang ditemukan pada lapisan yang sama. Teknik ini memungkinkan peneliti menentukan waktu pengendapan sedimen secara akurat.
Metode lain yang digunakan adalah mikroskop laser pemindai konfokal, teknologi yang mampu memindai permukaan objek mikroskopis secara tiga dimensi. Dengan alat ini, peneliti bisa melihat struktur permukaan polen kuno secara detail, termasuk jumlah dan posisi alur yang menjadi petunjuk identifikasi jenisnya.
Mengapa Ini Penting dalam Evolusi?
Kemunculan bunga di Bumi menandai revolusi besar dalam ekosistem darat. Tanaman berbunga memicu:
- Evolusi serangga penyerbuk seperti lebah dan kupu-kupu.
- Perubahan dalam struktur hutan dan ekosistem daratan.
- Diversifikasi besar-besaran dalam spesies tanaman dan hewan.
Bunga memungkinkan penyerbukan silang yang lebih efisien, mempercepat laju evolusi dan spesiasi. Ini menjelaskan mengapa tanaman berbunga begitu beragam dan mendominasi biosfer saat ini.
Charles Darwin pernah menyebut munculnya tanaman berbunga secara tiba-tiba dalam catatan fosil sebagai “abominable mystery” (misteri yang menjijikkan). Hal ini karena angiospermae muncul dalam waktu geologis yang sangat singkat dan langsung menyebar luas, berbeda dengan pola evolusi bertahap yang biasanya diamati.
Penemuan polen trikolpat yang lebih tua memberikan petunjuk bahwa sebenarnya evolusi angiospermae berlangsung lebih lama dan bertahap.
Kemajuan teknologi menjadi kunci utama dalam penemuan ini. Tanpa mikroskop konfokal dan analisis isotop modern, butiran polen mikroskopis berumur ratusan juta tahun ini bisa saja terlewat.
Penelitian seperti ini juga menunjukkan bahwa peningkatan resolusi pengamatan ilmiah bisa mengubah teori evolusi yang sudah mapan. Sains tidak statis; ia selalu berkembang seiring kemajuan metode dan data baru.
Meskipun topik ini terdengar sangat jauh dari kehidupan sehari-hari, pemahaman tentang sejarah tanaman berbunga sangat penting. Tanaman berbunga adalah:
- Penyokong utama pertanian dan pangan dunia.
- Penopang keanekaragaman hayati.
- Komponen kunci dalam mitigasi perubahan iklim (melalui fotosintesis dan penyimpanan karbon).
Dengan mengetahui asal-usul dan evolusinya, kita bisa lebih memahami bagaimana menjaga, memanfaatkan, dan melestarikan tanaman-tanaman ini dalam menghadapi tantangan ekologi masa kini.
Penemuan polen berusia 123 juta tahun dari Portugal memberi kita gambaran bahwa Bumi sudah dipenuhi tanaman berbunga lebih awal dari yang selama ini kita pikirkan. Evolusi bunga bukanlah peristiwa mendadak, tetapi proses panjang dan bertahap yang mengubah wajah planet ini secara dramatis.
Dengan terus menggali masa lalu melalui sains dan teknologi, kita tidak hanya belajar tentang sejarah Bumi, tetapi juga mendapatkan inspirasi dan informasi penting untuk masa depan kehidupan di planet ini.
REFERENSI:
Luntz, Stephen. 2025. Flowers Have Been Blooming On Earth For 2 Million Years Longer Than We Thought. IFL Science: https://www.iflscience.com/flowers-have-been-blooming-on-earth-for-2-million-years-longer-than-we-thought-79311 diakses pada tanggal 30 Mei 2025.

