Bayangkan sebuah kawasan di mana gedung-gedung tumbuh secepat pepohonan ditebang. Jalan-jalan baru membelah tanah yang dahulu hijau, dan cahaya lampu kota bersaing dengan bintang di langit. Inilah wajah baru kawasan West African Economic and Monetary Union atau WAEMU, yang meliputi delapan negara di Afrika Barat yaitu Benin, Burkina Faso, Guinea-Bissau, Mali, Niger, Senegal, Togo, dan Pantai Gading.
Dalam dua dekade terakhir, urbanisasi di kawasan ini meningkat pesat. Arus perpindahan penduduk dari desa ke kota terjadi karena dorongan ekonomi, peluang kerja, dan modernisasi. Kota menjadi pusat harapan bagi jutaan orang, namun di saat yang sama, muncul pula ancaman yang tidak kalah besar, yaitu degradasi lingkungan.
Sebuah studi terbaru berjudul WAEMU’s Urban Jungle: Can Good Governance Tame the Green Monster? yang diterbitkan pada tahun 2025 dalam jurnal Energy Research Letters menyoroti hubungan antara urbanisasi dan kerusakan lingkungan di kawasan tersebut. Penelitian ini dilakukan oleh tiga peneliti yaitu Usenobong Akpan, Seyi Saint Akadiri, dan Oladunni Adesanya. Mereka menelusuri data selama dua puluh tahun, dari 2002 hingga 2022, untuk memahami bagaimana pembangunan kota memengaruhi kondisi ekologis di wilayah Afrika Barat.
Baca juga artikel tentang: Antara Iritasi dan Racun: Sains Mengupas Efek Gas Air Mata Kedaluwarsa
Urbanisasi Bukan Musuh, Tetapi Bisa Jadi Pemicu
Hasil penelitian menunjukkan bahwa urbanisasi tidak secara langsung menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan. Namun urbanisasi dapat memperburuk dampak lingkungan apabila tidak diimbangi dengan tata kelola yang baik dan kebijakan yang berorientasi pada keberlanjutan.
Kota yang tumbuh tanpa perencanaan dapat menghadapi banyak masalah. Sampah menumpuk, udara dipenuhi polusi dari kendaraan tua, sungai menjadi tempat pembuangan limbah, dan ruang hijau menyusut dengan cepat. Apabila semua ini dibiarkan, maka kota yang seharusnya menjadi pusat kemajuan akan berubah menjadi hutan beton yang menyesakkan. Para peneliti menggambarkan fenomena ini sebagai “raksasa hijau”, simbol dari tantangan ekologis akibat pembangunan yang tak terkendali.
Dua Dekade Data dan Fakta
Penelitian ini menganalisis berbagai indikator lingkungan, seperti tingkat emisi karbon, laju deforestasi, dan kualitas udara. Temuannya cukup jelas. Negara-negara dengan tata kelola yang lemah cenderung mengalami kerusakan lingkungan yang lebih parah akibat urbanisasi. Sebaliknya, negara yang memiliki lembaga pemerintahan kuat dan kebijakan lingkungan yang tegas mampu menahan dampak negatif dari pertumbuhan kota.
Faktor kelembagaan ternyata menjadi kunci penting. Di banyak negara WAEMU, penegakan hukum lingkungan masih lemah. Peraturan sering diabaikan, dan proyek pembangunan berjalan tanpa memperhitungkan keberlanjutan ekosistem. Namun di negara yang memiliki sistem pemerintahan yang lebih transparan dan akuntabel, kebijakan lingkungan cenderung lebih efektif.
Arti Penting Tata Kelola yang Baik
Konsep tata kelola yang baik atau good governance menjadi pusat perhatian dalam penelitian ini. Tata kelola yang baik tidak hanya berarti pemerintah yang bersih dari korupsi, tetapi juga mencakup kekuatan institusi, efektivitas kebijakan, dan keterlibatan masyarakat.
Pertama, institusi yang kuat mampu menegakkan aturan secara adil dan transparan. Kedua, kebijakan lingkungan yang efektif dibutuhkan untuk mengatur tata ruang, pengelolaan sampah, transportasi publik, dan perlindungan ruang hijau. Ketiga, partisipasi publik serta kerja sama antarnegara menjadi faktor penting, karena masalah lingkungan tidak mengenal batas wilayah administratif. Polusi udara dan pencemaran air bisa melintasi batas negara, sehingga upaya penanganannya harus bersifat regional.
Pelajaran dari Lapangan
Beberapa kota di Afrika Barat mulai menunjukkan langkah positif. Dakar di Senegal telah mengembangkan sistem transportasi publik yang lebih ramah lingkungan untuk menekan emisi karbon. Abidjan di Pantai Gading mulai menanam kembali kawasan hijau yang dulu hilang akibat pembangunan pesat. Namun, sebagian besar kota lain masih menghadapi tantangan besar. Keterbatasan dana, lemahnya koordinasi antarwilayah, serta kurangnya kesadaran masyarakat menjadi penghambat utama.
Peneliti menegaskan bahwa kerja sama antarnegara dalam WAEMU sangat penting. Dengan membuat kebijakan lingkungan yang seragam dan saling mendukung, setiap negara dapat memperkuat perlindungan ekologis kawasan secara keseluruhan.
Menyeimbangkan Ekonomi dan Ekologi
Salah satu tantangan terbesar bagi negara berkembang adalah menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan. Banyak pemerintah menempatkan pembangunan fisik sebagai prioritas utama untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Namun, apabila pembangunan tersebut mengabaikan keberlanjutan, maka kemajuan itu akan menjadi bumerang di masa depan.
Studi ini menekankan bahwa pembangunan ekonomi tidak harus bertentangan dengan perlindungan lingkungan. Justru, ekosistem yang sehat dapat menjadi dasar bagi pertumbuhan ekonomi yang stabil. Air bersih, udara segar, dan tanah yang subur merupakan aset ekonomi jangka panjang yang tidak tergantikan.
Rekomendasi untuk Masa Depan
Dalam kesimpulannya, penelitian ini memberikan sejumlah rekomendasi. Pertama, memperkuat lembaga lingkungan di tingkat nasional dan regional agar setiap kebijakan pembangunan mempertimbangkan dampak ekologis. Kedua, meningkatkan penegakan hukum untuk memastikan bahwa peraturan tidak hanya tertulis di atas kertas. Ketiga, mendorong inovasi kota hijau melalui investasi di energi terbarukan, transportasi bersih, dan infrastruktur berkelanjutan. Keempat, melibatkan masyarakat dalam menjaga lingkungan melalui pendidikan, partisipasi, dan kebijakan insentif yang memotivasi perubahan perilaku.
Pesan bagi Dunia yang Lebih Luas
Walaupun penelitian ini berfokus pada Afrika Barat, pesannya berlaku secara universal. Banyak negara di dunia, termasuk Indonesia, menghadapi dilema serupa antara pembangunan dan pelestarian lingkungan. Urbanisasi dapat menjadi kekuatan yang membawa kesejahteraan, tetapi hanya jika dikelola dengan bijaksana.
Pemerintah, ilmuwan, dan masyarakat perlu bekerja sama agar pembangunan kota tidak merusak bumi. Kota yang sehat bukan hanya tempat tinggal yang nyaman, tetapi juga ruang hidup yang harmonis antara manusia dan alam. Seperti pepatah Afrika yang terkenal, “Jika ingin pergi cepat, pergilah sendiri. Jika ingin pergi jauh, pergilah bersama.”
Menatap Masa Depan WAEMU
Penelitian ini menutup dengan pandangan optimis. Kawasan WAEMU masih memiliki kesempatan besar untuk menata arah pembangunan kotanya. Dengan menggabungkan pertumbuhan ekonomi, inovasi hijau, dan tata kelola yang transparan, Afrika Barat bisa menjadi contoh bagi dunia tentang bagaimana menyeimbangkan kemajuan dan keberlanjutan.
Raksasa hijau mungkin tampak menakutkan, tetapi dengan tata kelola yang baik, raksasa itu bukan untuk dilawan, melainkan untuk dijinakkan.
Baca juga artikel tentang: Dari Pikiran ke Struktur: CBT dan Bukti Baru Neuroplastisitas
REFERENSI:
Akpan, Usenobong dkk. 2025. WAEMU’s Urban Jungle: Can Good Governance Tame the Green Monster?. Energy RESEARCH LETTERS 6 (Early View).

