Perubahan iklim tidak hanya berbicara soal cuaca yang makin sulit ditebak, suhu yang terasa lebih panas, atau musim yang bergeser. Di balik semua itu, ada ancaman yang jauh lebih diam namun berbahaya, yaitu meningkatnya risiko racun pada bahan pangan. Salah satu contoh penting datang dari kacang tanah. Penelitian terbaru di China menunjukkan bahwa perubahan iklim ikut mendorong peningkatan kontaminasi aflatoksin B1 pada kacang tanah, sebuah zat beracun yang bisa membahayakan kesehatan manusia jika masuk ke rantai makanan dalam jumlah tinggi.
Aflatoksin B1 adalah racun yang dihasilkan oleh jamur tertentu, terutama dari kelompok Aspergillus. Jamur ini mudah tumbuh pada bahan pangan yang disimpan atau diproduksi dalam kondisi panas dan lembap. Kacang tanah menjadi salah satu komoditas yang sangat rentan karena tumbuh dekat tanah, dipanen dalam kondisi yang tidak selalu ideal, lalu sering disimpan dalam lingkungan yang memungkinkan jamur berkembang. Masalahnya, racun ini bukan sekadar membuat makanan cepat rusak. Aflatoksin B1 dikenal sebagai salah satu senyawa paling berbahaya bagi kesehatan hati dan telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker hati, terutama jika paparan terjadi terus menerus dalam jangka panjang.
Baca juga artikel tentang: Laut Cerdas, Bumi Berenergi: Revolusi Konversi Gelombang Menuju Energi Bersih
Di sinilah perubahan iklim mulai terlihat sebagai faktor yang tidak bisa diabaikan. Selama ini banyak orang mengira kontaminasi jamur pada pangan hanya soal kebersihan gudang, kualitas penyimpanan, atau manajemen pascapanen. Semua itu memang penting, tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi iklim skala besar juga memainkan peran besar. Para peneliti menganalisis data nasional di China yang mencakup 17.263 catatan kontaminasi aflatoksin B1 pada kacang tanah dari tahun 2009 sampai 2022. Dari kumpulan data besar itu, mereka mencoba membaca pola perubahan dari waktu ke waktu dan menghubungkannya dengan faktor iklim.

Hasilnya cukup mengkhawatirkan. Tingkat kontaminasi aflatoksin B1 pada kacang tanah meningkat secara nyata pada tahun 2017 dan 2021 dibandingkan dengan 2009. Artinya, ancaman ini bukan dugaan abstrak, melainkan sesuatu yang sudah mulai terlihat dalam data nyata. Peneliti kemudian mengidentifikasi beberapa faktor iklim utama yang paling berpengaruh, yaitu suhu malam hari, kecepatan angin, dan curah hujan. Dari ketiganya, variasi suhu muncul sebagai faktor dominan yang menjelaskan hampir setengah dari peningkatan kontaminasi yang diamati.
Temuan ini menarik karena memperlihatkan bahwa jamur tidak hanya merespons suhu rata rata harian yang tinggi. Perubahan suhu malam juga penting. Malam yang lebih hangat dapat menciptakan lingkungan yang lebih stabil bagi pertumbuhan jamur dan produksi racun. Curah hujan juga berperan karena kelembapan tinggi mendukung perkembangan mikroorganisme. Sementara itu, kecepatan angin dapat memengaruhi mikroiklim di lahan pertanian maupun selama proses pengeringan hasil panen. Dengan kata lain, kombinasi antara panas, lembap, dan dinamika cuaca tertentu bisa menciptakan kondisi ideal bagi aflatoksin untuk muncul lebih banyak.
Penelitian ini tidak berhenti pada melihat masa lalu. Para peneliti juga membuat proyeksi ke masa depan dengan menggunakan skenario emisi tinggi. Dalam skenario itu, kadar aflatoksin B1 pada kacang tanah diperkirakan mencapai 15,06 mikrogram per kilogram pada akhir abad ini. Angka itu tampak kecil, tetapi dalam konteks keamanan pangan, sedikit kenaikan bisa berarti sangat besar. Batas aman untuk racun pangan biasanya sangat ketat karena dampaknya bisa serius. Penelitian ini juga memperkirakan bahwa pada tahun 2022, sekitar 478.400 ton kacang tanah di China sudah melampaui batas regulasi untuk aflatoksin B1. Jika tren perubahan iklim terus berlanjut, jumlah itu diproyeksikan melonjak menjadi 1,16 juta ton pada tahun 2100.
Bagi orang awam, angka jutaan ton mungkin terasa jauh. Namun dampaknya sebenarnya dekat sekali dengan kehidupan sehari hari. Kacang tanah tidak hanya dimakan langsung sebagai camilan. Ia masuk ke banyak produk makanan, minyak, saus, pakan ternak, bahkan bisa memengaruhi rantai pasok pangan secara luas. Jika kontaminasi meningkat, maka risiko kesehatan masyarakat ikut meningkat, kerugian ekonomi petani bertambah, industri pangan menanggung biaya pengawasan lebih besar, dan harga produk juga bisa terdampak. Ini bukan sekadar isu laboratorium. Ini adalah isu kesehatan publik, pertanian, dan ketahanan pangan sekaligus.
Hal penting lain dari penelitian ini adalah gagasan tentang sistem peringatan dini. Jika ilmuwan bisa mengidentifikasi pola cuaca yang berhubungan erat dengan lonjakan aflatoksin, maka pemerintah dan pelaku industri pangan dapat membangun sistem pemantauan yang lebih cerdas. Misalnya, ketika suhu malam meningkat dalam pola tertentu, curah hujan berada di atas ambang tertentu, dan kondisi angin mendukung pertumbuhan jamur, maka peringatan dini bisa dikeluarkan untuk wilayah penghasil kacang tanah. Petani dapat mempercepat panen, meningkatkan pengeringan, atau memperbaiki sistem penyimpanan. Pengawas pangan juga bisa memprioritaskan pengujian pada wilayah berisiko tinggi.
Pendekatan ini jauh lebih efektif daripada hanya bereaksi setelah masalah muncul. Selama ini, penanganan aflatoksin sering berfokus pada pemeriksaan produk akhir. Padahal, ketika racun sudah terbentuk, pilihan penanganannya menjadi jauh lebih sulit. Karena itu, strategi terbaik adalah mencegah sejak awal. Penelitian ini memberi dasar ilmiah untuk bergerak dari sistem yang reaktif menjadi sistem yang antisipatif.
Meski studi ini berfokus pada China, pesannya relevan untuk banyak negara lain, termasuk negara negara tropis dan subtropis yang memiliki suhu hangat serta kelembapan tinggi. Indonesia, misalnya, juga memiliki tantangan serupa dalam penyimpanan hasil pertanian dan keamanan pangan. Dalam konteks perubahan iklim global, risiko seperti ini sangat mungkin menjadi semakin umum. Karena itu, temuan ini seharusnya mendorong perhatian lebih besar pada hubungan antara iklim dan kualitas pangan, bukan hanya pada hasil panen atau produktivitas semata.
Kita sering membayangkan perubahan iklim sebagai krisis yang terlihat di permukaan, seperti banjir, kekeringan, atau gelombang panas. Namun penelitian tentang aflatoksin pada kacang tanah ini mengingatkan bahwa krisis iklim juga bekerja diam diam di dalam sistem pangan kita. Ia mengubah kondisi biologis yang menentukan apakah makanan tetap aman atau justru menjadi sumber bahaya.
Pada akhirnya, studi ini menyampaikan pesan yang sangat jelas. Menjaga keamanan pangan di era perubahan iklim membutuhkan cara pandang baru. Kita tidak cukup hanya menanam lebih banyak atau memanen lebih cepat. Kita juga harus memahami bagaimana cuaca yang berubah dapat memengaruhi jamur, racun, penyimpanan, distribusi, dan kesehatan manusia. Dari sana, ilmu pengetahuan bisa membantu membangun sistem peringatan dini, kebijakan pengawasan yang lebih tepat, dan praktik pertanian yang lebih adaptif.
Kacang tanah mungkin terlihat sederhana. Namun dari komoditas kecil ini, kita belajar satu hal besar. Masa depan pangan tidak hanya bergantung pada seberapa banyak yang bisa kita hasilkan, tetapi juga pada seberapa aman kita bisa menjaganya di tengah dunia yang terus memanas.
Baca juga artikel tentang: Mesin Cahaya Tertua di Bumi: Bagaimana Cyanobacteria Mengonversi Cahaya Menjadi Energi
REFERENSI:
Guo, Can dkk. 2026. Dynamic changes and early warning of peanuts aflatoxin B1 contamination in China in the context of climate change. npj Science of Food.

