Manusia belajar bahasa dengan cara yang rumit, penuh kesalahan kecil, lompatan besar, serta proses yang sering tidak terlihat. Selama puluhan tahun, para guru dan peneliti bahasa menilai kemampuan menulis siswa dengan membaca satu per satu hasil tugas secara manual. Cara ini tentu melelahkan, memakan waktu, dan sering menghasilkan penilaian yang berbeda antara satu pengajar dan pengajar lainnya. Kini, kecerdasan buatan atau AI mulai ikut masuk ke ruang kelas sebagai alat bantu untuk memahami bagaimana manusia belajar bahasa kedua.
Sebuah riset terbaru yang dipublikasikan pada tahun 2025 membahas secara khusus bagaimana model bahasa besar atau large language models dapat membantu meneliti perkembangan bahasa kedua secara lebih objektif dan konsisten. Bahasa kedua adalah bahasa yang dipelajari setelah bahasa ibu, seperti bahasa Inggris bagi penutur bahasa Indonesia. Penelitian ini mencoba menjelaskan dengan cara sederhana bagaimana AI bisa membaca tulisan siswa, memahami keragamannya, mengukur tingkat kerumitannya, lalu memberi gambaran tentang kemampuan bahasa seseorang secara lebih adil.
Baca juga artikel tentang: Bahasa Rahasia Alam: Infrasound, Gelombang Suara yang Tak Bisa Kita Dengar
Selama ini, penilaian tulisan sering bergantung pada pengalaman guru. Ada guru yang fokus pada tata bahasa, ada yang lebih memperhatikan isi, ada pula yang menilai dari gaya bahasa dan kelancaran. Akibatnya, dua siswa dengan kemampuan yang mirip bisa mendapat nilai yang berbeda di kelas yang berbeda. AI mencoba mengurangi ketimpangan ini dengan cara menganalisis teks secara sistematis menggunakan data dalam jumlah sangat besar.
Model bahasa besar bekerja dengan mempelajari miliaran kalimat dari berbagai sumber. Dari proses ini, AI belajar mengenali pola kata, struktur kalimat, hingga kebiasaan penggunaan bahasa dalam berbagai konteks. Dengan bekal itu, AI dapat membaca tulisan siswa dan menghitung tingkat keanekaragaman kata serta kerumitan susunan kalimatnya. Dua hal ini menjadi petunjuk utama dalam menilai sejauh mana seseorang menguasai bahasa kedua.
Konsep penting dalam penelitian ini adalah sesuatu yang disebut sebagai kejutan bahasa atau surprisal. Dalam istilah sederhana, surprisal berarti seberapa mengejutkan sebuah kata muncul dalam suatu kalimat menurut pola yang biasa. Jika sebuah kalimat mengikuti pola umum, maka kejutan rendah. Jika kalimat menyimpang dari pola yang sering muncul, maka kejutan meningkat. Kejutan ini ternyata berkaitan dengan tingkat kemahiran seseorang berbahasa. Pelajar yang semakin mahir cenderung menghasilkan kalimat yang lebih bervariasi dan lebih tidak terduga.

Dengan bantuan AI, kejutan bahasa ini bisa dihitung secara otomatis. Mesin menganalisis setiap kata dalam sebuah teks lalu memperkirakan seberapa besar peluang kemunculannya. Semakin tidak terduga sebuah susunan kata, semakin tinggi nilainya. Dari sini, peneliti memperoleh gambaran tentang keseimbangan antara keberagaman kosakata dan kompleksitas struktur kalimat yang digunakan siswa.
Penelitian ini menunjukkan bahwa AI mampu menangkap perubahan kemampuan bahasa siswa secara bertahap, bahkan sebelum guru menyadari perkembangannya. Misalnya, seorang siswa yang awalnya hanya menulis kalimat sederhana mulai berani menggunakan struktur yang lebih panjang dan lebih bervariasi. AI dapat mendeteksi pergeseran ini melalui perubahan pola kejutan bahasanya.
Manfaat besar dari pendekatan ini terletak pada konsistensinya. Mesin tidak lelah, tidak bias suasana hati, dan tidak terpengaruh oleh hubungan personal dengan siswa. Setiap teks dinilai dengan standar yang sama. Hal ini memberi peluang besar untuk menciptakan sistem evaluasi yang lebih adil, terutama dalam skala besar seperti ujian nasional atau pembelajaran daring internasional.
Namun para peneliti juga menekankan bahwa AI tidak menggantikan peran guru. Mesin hanya menjadi alat bantu. Guru tetap memegang peran utama dalam membimbing, memberi motivasi, serta memahami konteks emosional dan budaya siswa. AI tidak mampu merasakan perjuangan pribadi seorang pelajar, kegugupan saat menulis, atau keterbatasan lingkungan belajar yang memengaruhi hasil tulisannya.
AI juga memiliki keterbatasan penting. Model bahasa besar belajar dari data yang tersedia di internet. Jika data itu tidak mewakili variasi budaya dan bahasa tertentu, maka hasil analisis bisa kurang akurat bagi sebagian kelompok. Selain itu, AI tidak sepenuhnya memahami makna seperti manusia. Mesin hanya menghitung pola, bukan merasakan isi pikiran penulisnya.
Penelitian ini juga membuka jalan bagi penggunaan AI sebagai alat latihan mandiri. Siswa dapat menulis esai, lalu menerima umpan balik instan tentang tingkat kompleksitas bahasa yang mereka gunakan. Mereka bisa melihat apakah tulisan mereka masih terlalu sederhana atau mulai mendekati tingkat penutur mahir. Dengan cara ini, siswa belajar secara lebih aktif dan mandiri.
Di sisi lain, guru dapat memanfaatkan data dari AI untuk melihat perkembangan kelas secara menyeluruh. Guru bisa mengetahui apakah sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan pada jenis struktur kalimat tertentu. Dengan informasi itu, pengajar dapat menyesuaikan metode pembelajarannya secara lebih tepat sasaran.
Dunia pendidikan bahasa kini berada di persimpangan baru antara teknologi dan kemanusiaan. AI membawa kemampuan analisis yang luar biasa cepat dan detail. Manusia membawa empati, intuisi, serta pemahaman konteks yang tidak bisa digantikan oleh mesin. Keduanya perlu berjalan bersama agar pendidikan bahasa berkembang secara sehat.
Penelitian ini juga mengingatkan bahwa kita tidak boleh terpesona buta oleh kecanggihan teknologi. Transparansi dalam penggunaan AI di kelas sangat penting. Siswa perlu tahu bagaimana tulisan mereka dianalisis, untuk apa data itu digunakan, dan bagaimana privasi mereka dilindungi. Tanpa kejelasan ini, kepercayaan terhadap teknologi dapat runtuh.
Dalam jangka panjang, pemanfaatan AI dalam riset perkembangan bahasa bisa membantu kita memahami cara otak manusia membangun bahasa baru. Kita tidak hanya menilai hasil akhir berupa nilai atau skor, tetapi juga melihat proses kecil yang terjadi dari waktu ke waktu. Perubahan kecil dalam pilihan kata, keberanian menyusun kalimat panjang, hingga kemampuan mengaitkan ide secara lebih runtut.
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa membentuk cara manusia berpikir, memahami dunia, dan membangun hubungan sosial. Dengan meneliti bagaimana bahasa dipelajari, kita sebenarnya sedang meneliti bagaimana manusia tumbuh.
Kehadiran AI dalam dunia pendidikan bahasa tidak berarti akhir dari peran manusia. Justru teknologi ini memberi kesempatan bagi guru untuk lebih fokus pada hal yang paling penting, yaitu membimbing manusia sebagai manusia, bukan sekadar sebagai penghasil nilai. Ketika mesin membantu membaca data dalam jumlah besar, guru bisa lebih leluasa mendampingi sisi emosional dan kreatif siswa.
Penelitian tahun 2025 ini menegaskan satu hal penting. Kecerdasan buatan tidak hanya mengubah cara kita bekerja dan berkomunikasi, tetapi juga mengubah cara kita memahami proses belajar itu sendiri. Bahasa yang dulu dinilai dengan rasa dan intuisi, kini bisa dipetakan dengan angka dan pola. Namun makna sejatinya tetap hidup di dalam pengalaman manusia yang belajar dengan jatuh bangun penuh harapan.
Baca juga artikel tentang: Bahasa Kimia Lumut Purba: Bagaimana Tanaman Mengatur Stresnya
REFERENSI:
Cong, Yan. 2025. Demystifying large language models in second language development research. Computer Speech & Language 89, 101700.

