Ternyata Kembang Api Menyebabkan Terjadinya Polusi Udara

blank

Perayaan tahun baru biasanya tak lepas dari kembang api. Masyarakat berlomba-lomba memeriahkan tahun baru dengan kembang api. Namun tahukah sobat warstek bahwa dibalik keindahannya, kembang api ternyata menyebabkan pencemaran udara yang berbahaya? Simak penjelasannya berikut ini.

Logam Berat

Kembang api mengandung campuran bahan-bahan kimia seperti Arsenik, Sulfur, Mangan, Natrium Oksalat, Aluminium, Serbuk Besi, Kalium perklorat, Strontium nitrat, Barium nitrat, serta arang (Nasir dan Brahmaiah, 2015). Kembang api juga menggunakan bahan logam berat untuk menghasilkan warna-warna yang indah. Logam berat tersebut adalah sebagai berikut

  1. Strontium (Sr) untuk menghasilkan warna merah.
  2. Barium (Ba) untuk menghasilkan warna hijau
  3. Cuprium (Cu) untuk menghasilkan warna biru
  4. Calcium (Ca) untuk menghasilkan warna orange
  5. Natrium ( Na) untuk menghasilkan warna kuning
  6. Magnesium (Mg) untuk menghasilkan warna silver.

Polusi Udara

Ketika kembang api menyala, kembang api menghasilkan banyak zat polutan seperti sulfur dioksida, karbon dioksida, karbon monoksida dan partikel tersuspensi lainnya. Partikel tersuspensi ini merupakan partikel kimia yang sangat halus yang biasa disebut Particulate Matter (PM). Kembang api mengandung jenis Particulate Matter berukuran 10 mikrometer atau kurang (PM10) dan ukuran 2,5 mikrometer atau kurang (PM 2,5). Jenis PM 2.5 dan PM 10 ini sangat berbahaya bagi kesehatan makhluk hidup terutama manusia karena dapat menyumbat saluran pernapasan dan kardiovaskuler. Bahkan penelitian WHO menunjukkan bahwa PM menyebabkan 6,7% kematian pada tahun 2012 (Sasetyaningtyas, 2019).

blank

Salah satu penelitian menunjukkan pengaruh pembakaran kembang api dalam perayaan Diwali di India terhadap pencemaran udara. Perayaan ini memang identik dengan pertunjukkan kembang api di berbagai tempat di India. Penelitian menunjukkan bahwa selama 24 jam, jumlah konsentrasi PM10 meningkat 2,49 hingga 5,67 kali, Sulfur Dioksida (SO2) meningkat 1,95 hingga 6,59 kali lebih tinggi dan Nitrogen Oksida (NOx) meningkat sekitar 1,79 hingga 2,69 kali dibanding kondisi normal (Nasir dan Brahmaiah, 2015). Padahal SO2 dapat menyebabkan iritasi pada selaput lendir saluran pernapasan dan iritasi mata serta menjadi penyebab utama terjadinya hujan asam (Alchamdani, 2019). Sementara itu, konsentrasi NOx terutama NO2 yang berkisar antara 50-100 ppm dapat menyebabkan peradangan paru-paru bila manusia terpapar selama beberapa menit saja (Darmayasa, 2013).

Penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh Taiwan Association for Aerosol Research dalam Aerosol and Air Quality Research menemukan pengaruh antara Kembang api, Tahun Baru Cina dan Lockdown COVID-19 yang terjadi selama 2020 terhadap polusi Udara. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengurangan polusi udara akibat cemaran polutan dari kembang api akibat Lockdown tahun 2020 (Brimblecombe dan Lai, 2020). Namun keadaan ini bisa saja berubah kembali apabila Lockdown COVID-19 tidak lagi diberlakukan. Maka tetap saja pencemaran udara penting untuk dipertimbangkan ketika menyangkut perayaan menggunakan kembang api.

Kembang Api Ramah Lingkungan

Lalu, bisakah kembang api dikembangkan sehingga menjadi ramah lingkungan?

Beberapa negara sudah mulai memberlakukan alternatif pengganti kembang api. Misalnya Korea Selatan mengadakan show drone di udara untuk menyambut tahun baru. Solusi ini cukup menarik perhatian warga Korea karena menghasilkan tampilan yang cantik dan lebih cemerlang dibandingkan pertunjukan kembang api. Bahkan di Kota Landshut, Jerman, pembakaran kembang api saat pergantian tahun sudah dilarang sejak beberapa tahun yang lalu. Sebagai gantinya, mereka menggunakan show laser yang tak kalah menarik.

blank

Sementara itu, pengembangan kembang api ramah lingkungan masih belum pesat. Hal ini karena perlu adanya kajian yang mendalam mengenai keamanan material organik yang akan digunakan untuk kembang api. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mengurangi pencemaran udara akibat kembang api adalah dengan mengurangi pembakaran kembang api saat perayaan demi menjaga kelangsungan makhluk hidup di muka bumi.

Referensi

  • Alchamdani, A. (2019). NO2 and SO2 Exposure to Gas Station Workers Health Risk in Kendari City. JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN11(4), 319-330
  • Brimblecombe, P., dan Lai, Y. 2020. Effect of Fireworks, Chinese New Year and the COVID-19 Lockdown on Air
    Pollution and Public Attitudes. Aerosol and Air Quality Research, 20: 2318–2331
  • Darmayasa, I. G. O. (2013). Dampak NOX Terhadap Lingkungan. Kurva Teknik2(1), 98-107.
  • Nasir, U.P dan Brahmaiah, D. 2015. Impact of Fireworks on Ambient Air Quality: A case Study. Int. J. Environ. Sci. Technol. 12:1379–1386
  • Sasetyaningtyas, D. 2019. Bahaya Kembang Api Terhadap Lingkungan. URL: https://sustaination.id/kembang-api/. Diakses tanggal 1 Januari 2021
  • Solusi Kembang Api Tahun Baru Ramah Lingkungan, Pertunjukan Drone dan Laser? URL: https://www.liputan6.com/global/read/4446279/solusi-kembang-api-tahun-baru-ramah-lingkungan-pertunjukan-drone-dan-laser. Diakses tanggal 2 Januari 2021

Sumber Gambar: https://www.hollywooddaytonraceway.com/entertainment/free-fireworks-fridays

Enna Hasna Ainun Nuurul Ma'rifah
Baca juga:
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar