Bulan selalu terlihat tenang dari Bumi. Permukaannya tampak membeku dalam kesunyian, seolah tidak pernah berubah selama miliaran tahun. Banyak orang membayangkan Bulan sebagai dunia mati yang tidak lagi mengalami aktivitas geologis. Namun penelitian baru menunjukkan cerita yang jauh lebih menarik. Para ilmuwan menemukan bahwa Bulan ternyata masih mengalami tanah longsor aktif, sebuah temuan yang mengubah cara kita memandang evolusi geologis satelit alami Bumi ini.
Penelitian tersebut berasal dari analisis gambar multitemporal, yaitu membandingkan foto permukaan Bulan yang diambil pada waktu berbeda. Teknik ini memberi ilmuwan kemampuan mendeteksi perubahan kecil sekalipun. Permukaan Bulan memang tidak mengalami cuaca seperti hujan dan angin seperti di Bumi, tetapi tetap mengalami proses yang membuat material permukaannya bergerak dan bergeser. Proses ini dikenal sebagai mass wasting dan tanah longsor menjadi salah satu bentuknya.
Peneliti menyoroti area yang sejak lama dianggap sebagai wilayah paling tidak stabil di Bulan. Ketika membandingkan citra yang diambil selama 15 tahun terakhir, mereka menemukan adanya tanah longsor baru yang sebelumnya tidak pernah tercatat. Temuan ini memberikan bukti kuat bahwa permukaan Bulan masih berubah hingga hari ini.
Baca juga artikel tentang: Inkathazo: Galaksi Radio Raksasa Berukuran 32 Kali Lebih Besar Dari Galaksi Bima Sakti
Tanah longsor yang ditemukan berukuran relatif kecil dan dangkal. Volume material yang berpindah jumlahnya jauh di bawah satu ratus ribu meter kubik. Meskipun begitu, kemunculannya menunjukkan bahwa Bulan tetap memiliki dinamika geologis yang aktif. Kejadian tanah longsor seperti ini kemungkinan tidak mengancam seluruh misi masa depan, tetapi dapat menimbulkan risiko bagi operasi yang dilakukan di area dekat lereng curam. Bagi penjelajah robotik atau fasilitas permanen yang nantinya akan dibangun manusia, informasi tentang lokasi tanah longsor menjadi sangat penting.
Ilmuwan kemudian mencoba memahami apa yang menyebabkan longsor tersebut terjadi. Pada Bumi, pemicu tanah longsor biasanya berkaitan dengan air, gempa bumi, atau erosi oleh angin dan hujan. Bulan tidak memiliki atmosfer dan air permukaan sehingga penyebabnya tentu berbeda. Dari penelusuran data, para peneliti menemukan bahwa sekitar dua puluh sembilan persen tanah longsor tampaknya dipicu oleh tumbukan meteorit baru. Bulan memang terus dibombardir oleh batuan kosmik berukuran kecil hingga besar. Ketika sebuah meteorit jatuh, energi tumbukan yang sangat besar dapat mengguncang area sekitar dan menggoyahkan material lereng hingga akhirnya meluncur turun.

Meskipun peran tumbukan cukup jelas, penelitian juga mengungkap bahwa sebagian besar tanah longsor bukan disebabkan oleh benturan dari luar. Mayoritas kejadian tampaknya dipicu oleh gempa Bulan atau yang disebut moonquake. Gempa Bulan bukan hal baru dalam dunia ilmiah. Sejak misi Apollo, para astronaut menempatkan seismometer yang merekam getaran di permukaan Bulan. Hasilnya cukup mengejutkan karena Bulan mengalami berbagai jenis gempa, mulai dari gempa akibat pemuaian termal hingga gempa tektonik dalam yang berasal dari pergerakan interior.
Ciri menarik lain dari tanah longsor baru adalah pola penyebarannya yang tidak merata. Para ilmuwan menemukan bahwa longsor banyak terjadi di wilayah timur cekungan Imbrium. Konsentrasi ini menunjukkan bahwa interior Bulan memiliki zona seismik yang tidak seragam. Dengan kata lain, ada area tertentu di bawah permukaan Bulan yang lebih sering bergetar dibanding tempat lain. Penemuan ini memberi petunjuk penting tentang struktur dalam Bulan yang selama ini sulit dipelajari.
Pemahaman tentang aktivitas geologis Bulan bukan sekadar pengetahuan ilmiah. Seluruh informasi ini memiliki dampak langsung pada rencana eksplorasi masa depan. NASA dan berbagai badan antariksa dunia sedang mempersiapkan misi jangka panjang menuju Bulan. Program Artemis berencana membangun pangkalan manusia di permukaan Bulan. Sementara itu, China dan negara lain juga berambisi mengembangkan laboratorium permanen. Semua proyek tersebut bergantung pada pemilihan lokasi yang aman. Tanah longsor, gempa Bulan dan aktivitas permukaan lain menjadi faktor penting dalam menentukan apakah suatu wilayah cukup stabil untuk dibangun fasilitas vital.
Para ilmuwan juga berusaha memprediksi bagaimana aktivitas ini berkembang dalam jangka panjang. Bulan mengalami penyusutan seiring mendinginnya inti. Penyusutan ini dapat memicu retakan dan tekanan baru di kerak Bulan yang pada akhirnya menyebabkan moonquake. Jika aktivitas ini meningkat, maka frekuensi tanah longsor juga berpotensi bertambah. Memahami proses ini membuat para perencana misi dapat memperkirakan risiko masa depan dan merancang struktur yang mampu bertahan dalam kondisi tersebut.
Meskipun tanah longsor yang ditemukan berukuran kecil, keberadaannya menegaskan bahwa Bulan tidak seniscaya yang terlihat. Sampai sekarang, banyak model geologi Bulan mengandalkan asumsi bahwa perubahan besar hanya terjadi akibat tumbukan purba miliaran tahun lalu. Namun temuan longsor aktif membuktikan bahwa Bulan tetap hidup dalam cara yang halus tetapi berarti. Aktivitas kecil ini membantu membentuk permukaan Bulan dari waktu ke waktu. Setiap guncangan kecil, setiap material yang bergeser, meninggalkan jejak dalam sejarah geologinya.
Penelitian ini juga mendorong pengembangan instrumen lebih canggih untuk memantau kondisi permukaan Bulan. Kamera beresolusi tinggi, pengamatan radar serta alat pemantau getaran menjadi kunci untuk memahami perubahan kecil yang mungkin terjadi setiap tahun. Semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin rinci gambaran geologi Bulan yang dapat kita bangun.
Aktivitas tanah longsor juga memberi peluang ilmiah. Setiap longsor membuka permukaan baru yang sebelumnya tertutup, memungkinkan para ilmuwan mempelajari lapisan geologi yang lebih muda maupun lebih tua. Lapisan tersebut dapat memberikan informasi tambahan tentang sejarah tumbukan, pelapukan permukaan dan dinamika interior Bulan.
Ketika manusia semakin dekat pada era kolonisasi Bulan, pemahaman mendalam tentang perilaku permukaannya tidak lagi menjadi sekadar rasa ingin tahu ilmiah. Informasi ini menjadi fondasi bagi keselamatan dan keberhasilan misi jangka panjang. Tanah longsor kecil yang terjadi diam diam di permukaan Bulan kini menjadi pesan penting yang membantu manusia merancang masa depan di luar Bumi.
Baca juga artikel tentang: NASA Mengungkap Prototipe Teleskop Canggih untuk Deteksi Gelombang Gravitasi
REFERENSI:
Xiao, Zhiyong dkk. 2025. Active landslides on the Moon. National Science Review 12 (11), nwaf384.

