Hayli Gubbi: Gunung Berapi Ethiopia yang Meletus Setelah 12.000 Tahun

Pada Minggu lalu, dunia dikejutkan oleh letusan gunung berapi Hayli Gubbi di Ethiopia. Gunung ini, yang dikenal sebagai salah satu […]

Pada Minggu lalu, dunia dikejutkan oleh letusan gunung berapi Hayli Gubbi di Ethiopia. Gunung ini, yang dikenal sebagai salah satu gunung berapi yang tidak aktif selama ribuan tahun, meletus untuk pertama kalinya dalam lebih dari 12.000 tahun. Peristiwa ini tidak hanya mengejutkan para ilmuwan, tetapi juga membawa dampak signifikan ke berbagai wilayah, termasuk negara-negara seperti Oman, Yaman, India, dan Pakistan. Letusan ini mengirimkan kolom abu vulkanik setinggi 14 kilometer ke udara, menciptakan gangguan besar pada penerbangan dan kehidupan masyarakat lokal.

Letusan Bersejarah Setelah Ribuan Tahun

Hayli Gubbi terletak di wilayah timur laut Ethiopia yang terpencil, sebuah daerah yang selama ini kurang mendapat perhatian ilmiah. Menurut laporan Scientific American, letusan ini adalah yang pertama sejak periode Holosen, sekitar 12.000 tahun yang lalu. Pada 23 November 2025, gunung ini memuntahkan abu hingga mencapai ketinggian sembilan mil di atmosfer.

Meskipun demikian, para peneliti masih mempertanyakan apakah benar gunung ini telah “tidur” selama 12.000 tahun atau ada letusan kecil sebelumnya yang tidak tercatat. Juliet Biggs, seorang ilmuwan geologi dari Universitas Bristol, Inggris, menyatakan bahwa gambar satelit menunjukkan adanya aktivitas lava baru-baru ini di sekitar Hayli Gubbi. Hal ini mengindikasikan bahwa gunung tersebut mungkin tidak sepenuhnya mati seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Tanda-Tanda Awal Sebelum Letusan

Sebelum letusan besar ini terjadi, para ilmuwan telah menemukan beberapa petunjuk tentang kemungkinan aktivitas vulkanik di Hayli Gubbi. Salah satu petunjuk utama datang dari gunung berapi aktif terdekat, Erta Ale, yang meletus pada Juli 2025 dan mengirimkan abu vulkanik ke atmosfer. Data satelit kemudian mengungkapkan bahwa magma dari Erta Ale bergerak hingga 18 mil di bawah permukaan Hayli Gubbi.

Selain itu, tim peneliti juga mendeteksi adanya awan putih di puncak Hayli Gubbi serta peningkatan ketinggian permukaan gunung tersebut beberapa inci. Semua indikasi ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik sedang berlangsung jauh sebelum letusan besar terjadi.

Keunikan Letusan Hayli Gubbi

Hayli Gubbi merupakan jenis gunung berapi perisai (shield volcano), yang biasanya dikenal dengan aliran lava yang lambat dan tidak menghasilkan kolom abu besar. Namun, letusan kali ini sangat berbeda. Kolom abu besar seperti “payung raksasa” yang muncul dari Hayli Gubbi adalah fenomena langka untuk jenis gunung berapi seperti ini.

Menurut Arianna Soldati, seorang ahli vulkanologi dari North Carolina State University, letusan ini terjadi karena lokasi Hayli Gubbi berada di zona Rift Afrika Timur. Di zona ini, lempeng Afrika dan Arab terus bergerak menjauh dengan kecepatan 0,4 hingga 0,6 inci per tahun. Gerakan ini memungkinkan batuan panas dari dalam bumi naik ke permukaan dan menciptakan magma. Selama magma terus terbentuk, potensi letusan gunung berapi tetap ada, bahkan jika gunung tersebut tidak menunjukkan aktivitas selama ribuan tahun.

Dampak Letusan bagi Masyarakat dan Lingkungan

Meskipun letusan Hayli Gubbi terjadi di lokasi terpencil, dampaknya cukup signifikan bagi masyarakat setempat dan kawasan sekitarnya. Banyak desa di wilayah Afar tertutup abu vulkanik, yang merusak sumber makanan bagi hewan ternak. Hal ini menjadi ancaman serius bagi komunitas penggembala lokal yang bergantung pada ternak untuk mata pencaharian mereka.

Selain itu, abu vulkanik juga menyebar hingga ke negara-negara seperti Yaman, Oman, India, dan Pakistan. Ahmed Abdela, seorang penduduk wilayah Afar, menggambarkan kejadian tersebut sebagai “seperti bom tiba-tiba dengan asap dan abu.” Gangguan pada penerbangan juga menjadi perhatian utama karena kolom abu tinggi dapat membahayakan mesin pesawat.

Namun, para peneliti percaya bahwa secara keseluruhan letusan ini tidak menimbulkan ancaman besar bagi populasi manusia karena lokasinya yang jauh dari pusat pemukiman padat penduduk.

Peluang Penelitian Baru

Letusan Hayli Gubbi membuka peluang besar bagi para ilmuwan untuk mempelajari lebih lanjut tentang aktivitas vulkanik di wilayah tersebut. Derek Keir dari Universitas Southampton telah mengumpulkan sampel abu baru dari letusan ini untuk menganalisis jenis magma yang terlibat. Penemuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru tentang sejarah geologi kawasan tersebut.

Juliet Biggs juga menjelaskan bahwa aliran lava dari letusan ini dapat membantu menentukan apakah gunung tersebut benar-benar tidak aktif selama ribuan tahun atau hanya kurang diperhatikan oleh penelitian sebelumnya. “Ini menunjukkan betapa kurangnya studi tentang wilayah ini,” kata Biggs.

Masa Depan Zona Rift Afrika Timur

Zona Rift Afrika Timur adalah salah satu wilayah geologi paling aktif di dunia. Dengan lempeng Afrika dan Arab yang terus bergerak menjauh, para ilmuwan memperkirakan bahwa dalam jutaan tahun mendatang, Laut Arab dan lembah Rift akan berubah menjadi samudra baru. Proses pemisahan lempeng ini juga memungkinkan terbentuknya lebih banyak magma di permukaan bumi, meningkatkan potensi letusan gunung berapi di masa depan.

Arianna Soldati menekankan bahwa meskipun gunung berapi seperti Hayli Gubbi tidak menunjukkan aktivitas selama ribuan tahun, potensi letusan tetap ada selama magma terus terbentuk di bawah permukaan.

Kesimpulan

Letusan Hayli Gubbi adalah pengingat bahwa bumi adalah planet yang dinamis dan terus berubah. Peristiwa ini tidak hanya menjadi momen bersejarah bagi Ethiopia tetapi juga membuka peluang besar untuk penelitian ilmiah di masa depan. Dengan mempelajari lebih lanjut tentang aktivitas vulkanik di zona Rift Afrika Timur, para ilmuwan dapat memahami lebih baik bagaimana proses geologi memengaruhi planet kita dan bagaimana kita dapat mempersiapkan diri menghadapi potensi bencana alam di masa depan.

Hayli Gubbi telah membuktikan bahwa meskipun sebuah gunung berapi tampak “tidur” selama ribuan tahun, kekuatan alamnya tetap ada dan dapat bangkit kapan saja.

Referensi

  1. Scientific American. Ethiopia’s “Sleeping” Volcano Erupts After 12,000 Years, Sending Ash Miles Into the Sky. Diakses 1 Januari 2026.
  2. Live Science. Ancient Volcano in Ethiopia Erupts for the First Time in 12,000 Years. Diakses 1 Januari 2026.
  3. NASA Earth Observatory. Volcanic Ash Plume From Hayli Gubbi Volcano, Ethiopia. Diakses 1 Januari 2026.
  4. United States Geological Survey (USGS). Volcanism in the East African Rift System. Diakses 1 Januari 2026.
  5. British Geological Survey (BGS). Rift Volcanism and Plate Tectonics in East Africa. Diakses 1 Januari 2026.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top