Kognisi Sosial 101: Mengapa Saling Memahami Bisa Sulit pada Autisme dan ADHD

Kognisi sosial adalah kemampuan otak untuk “membaca” dunia sosial: menebak apa yang orang lain pikirkan, memahami emosi di wajah mereka, […]

Kognisi sosial adalah kemampuan otak untuk “membaca” dunia sosial: menebak apa yang orang lain pikirkan, memahami emosi di wajah mereka, menangkap isyarat halus seperti nada suara atau sarkasme, lalu menyesuaikan perilaku kita. Kemampuan ini tidak tunggal, tetapi payung besar yang mencakup beberapa subketerampilan seperti Theory of Mind/mentalizing (menebak pikiran dan niat orang), pengenalan emosi, dan persepsi sosial (menilai situasi, norma, dan konteks).

Sebuah tinjauan ilmiah terbaru merangkum puluhan tahun riset mengenai kognisi sosial pada autism spectrum disorder (ASD) dan, dalam porsi lebih kecil, attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD). Hasil utamanya menarik: perbedaan kognisi sosial memang ada, namun rata-rata besarnya kecil, meski konsisten dan sangat bervariasi antarindividu. Artinya, tidak semua autistik atau individu dengan ADHD akan menunjukkan pola yang sama.

Baca juga artikel tentang: Pengembangan Bahasa dan Literasi di antara Anak-anak Penderita Autism Spectrum Disorder (ASD)

Kognisi sosial: implisit vs eksplisit, kognitif vs afektif

Kognisi sosial bekerja lewat dua “jalur”:

  1. Implisit (otomatis)
    Ibarat mode “autopilot”. Kita menangkap isyarat sosial tanpa sadar, misalnya refleks tersenyum saat orang lain tersenyum. Ini cepat, ekonomis, dan biasanya terjadi tanpa kita pikirkan.
  2. Eksplisit (disengaja)
    Kita sengaja menganalisis situasi: “Mengapa dia terlihat diam? Apakah marah atau capek?” Jalur ini lebih lambat dan butuh memori kerja serta perhatian.

Keterampilan ini juga punya dua nuansa:

  • Kognitif: menalar isi pikiran orang lain (keyakinan, niat, pengetahuan).
  • Afektif: beresonansi dengan emosi orang lain, empati, iba, ikut senang.

Pada banyak studi, autisme lebih sering menunjukkan perbedaan pada pemrosesan implisit ketimbang eksplisit. Artinya, saat isyarat sosial harus ditangkap “sekilas” atau tanpa aba-aba yang jelas, performanya cenderung berbeda dari kelompok neurotipikal. Namun ketika diberi waktu dan instruksi yang jelas (mode eksplisit), banyak orang autistik bisa menyusun strategi dan tampil baik. ADHD umumnya berada di tingkat menengah: bukan sekadar soal “membaca orang”, tetapi fungsi eksekutif (fokus, memori kerja, kontrol impuls) sering mengganggu bagaimana informasi sosial diproses dan dipraktikkan.

Hyper–hypo social processing: terlalu banyak vs terlalu sedikit

Riset juga menggambarkan dua kecenderungan:

  • Hypo-social: isyarat sosial kurang ditangkap; tatapan mata lebih sedikit; detail konteks terlewat.
  • Hyper-social: justru terlalu peka sehingga mudah kewalahan, misalnya kebanjiran informasi dari ekspresi, suara, dan keramaian sekaligus.

Kedua pola ini dapat terjadi pada autisme maupun ADHD (dengan spektrum dan pemicu yang berbeda), dan dapat berubah sesuai usia, situasi, serta kelelahan sensorik.

Seberapa besar perbedaannya?

Dibanding kelompok neurotipikal, rata-rata performa pada tes kognisi sosial memang berbeda, tetapi efeknya kecil. Ini dua makna penting:

  1. Kisah rata-rata bukan kisah setiap orang. Ada autistik/ADHD yang sangat lihai bersosialisasi, sering dengan strategi unik.
  2. Konteks mengubah hasil. Lingkungan yang bising, aturan sosial tak tertulis, atau instruksi yang abu-abu bisa menurunkan kinerja siapa pun, lebih terasa bagi yang fungsi eksekutifnya rapuh.

Kemampuan kognisi sosial juga berkaitan dengan bahasa dan kecerdasan, serta cenderung membaik seiring bertambahnya usia, baik pada autisme maupun ADHD. Pengalaman, latihan, dan dukungan yang tepat berperan besar.

Intervensi: apa yang diketahui sains?

  • Pelatihan keterampilan sosial (social skills training) pada autisme
    Secara keseluruhan, pelatihan terstruktur, terutama yang praktik langsung dan berbasis situasi nyata dapat memperbaiki performa pada tes kognisi sosial dan perilaku sosial sehari-hari. Pendekatan yang efektif biasanya mencakup role-play, umpan balik konkrit, visual cue, dan generalization (membawa keterampilan dari ruang terapi ke dunia nyata).
  • Obat stimulan pada ADHD
    Stimulansia yang diresepkan dokter dapat meningkatkan perhatian dan kontrol impuls, sehingga memperbaiki penerapan keterampilan sosial (misalnya menunggu giliran berbicara, menangkap isyarat berhenti). Efeknya berbeda-beda, dan evaluasi medis tetap wajib.
  • Pelatihan mentalizing/ToM
    Hasilnya bercampur. Latihan yang hanya menekankan “menebak pikiran” di atas kertas sering tidak otomatis berpindah ke situasi riil. Program yang kontekstual dan multimodal (memadukan emosi, bahasa, eksekutif, dan praktik sosial) cenderung lebih menjanjikan.

Catatan penting: ini bukan saran medis. Semua intervensi harus dibicarakan dengan profesional kesehatan.

Bukan sekadar “defisit”: masalah komunikasi dua arah

Banyak studi kognisi sosial berangkat dari pendekatan nativis, menganggap kemampuan sosial terutama bawaan dan terukur sebagai “kekurangan” individu. Kritik terbaru mendorong sudut pandang konstruktivis dan relasional: kemampuan sosial dibentuk juga oleh lingkungan, aturan main bersama, dan pengalaman belajar.

Konsep yang sering disebut adalah “double empathy problem”: kesalahpahaman tidak hanya terjadi karena orang autistik/ADHD “kurang memahami” orang neurotipikal, melainkan juga karena orang neurotipikal kesulitan memahami cara pikir/komunikasi neurodivergen. Jadi, solusi efektif jarang berupa “perbaiki orangnya saja”, melainkan perbaiki jembatannya cara kita bertemu di tengah.

Implikasinya besar: kita perlu alat ukur yang lebih jelas definisinya, tes yang lebih “alami” (misalnya percakapan nyata, bukan sekadar menebak foto emosi), dan program intervensi yang melatih kedua pihak untuk saling memahami.

Tips praktis untuk rumah, kelas, dan tempat kerja

Berikut strategi sederhana, bisa membantu siapa pun, tetapi sangat relevan untuk autisme dan ADHD:

  1. Jelaskan aturan sosial secara eksplisit. Alih-alih “pokoknya peka”, tuliskan contoh: “Tunggu jeda 2–3 detik sebelum menanggapi.”
  2. Gunakan isyarat visual & struktur. Agenda rapat, giliran bicara, atau “kartu sinyal” (mis. hijau = lanjut, merah = jeda) mengurangi tebak-tebakan.
  3. Kurangi beban eksekutif. Pecah tugas sosial panjang menjadi langkah kecil; beri waktu persiapan; ringkas poin penting.
  4. Validasi kelelahan sensorik. Sediakan ruang tenang, izinkan kacamata hitam/headset, batasi rapat maraton.
  5. Latihan situasional. Role-play skenario yang benar-benar terjadi (misalnya menerima umpan balik), lalu refleksi bersama, apa yang berhasil, apa yang membuat bingung.
  6. Bahasa yang lugas. Kurangi metafora berlapis, sarkasme halus, atau petunjuk ganda, kecuali Anda pastikan lawan bicara paham.
  7. Umpan balik konkrit, bukan “intuisi”. “Tadi kamu memotong tiga kali saat orang lain bicara; coba catat poinmu dan angkat tangan.”
  8. Untuk ADHD: minimalkan distraksi saat percakapan penting; gunakan pertanyaan singkat; izinkan gerak kecil (fidget) agar fokus stabil.

Mengapa semua ini penting?

  • Menghormati keragaman otak. Alih-alih berburu “kekurangan”, kita mencari kecocokan antara gaya kognitif dan tuntutan lingkungan.
  • Dampak seumur hidup. Kognisi sosial memengaruhi pertemanan, pekerjaan, dan kesehatan mental. Dukungan yang tepat (sejak dini dan berkelanjutan) membuat perbedaan besar.
  • Ilmu yang lebih adil. Saat riset beralih dari mengukur “defisit” ke merancang interaksi yang inklusif, hasilnya lebih berguna bagi dunia nyata.

Kognisi sosial pada autisme dan ADHD itu kompleks, bertingkat, dan sangat individual. Perbedaan paling nyata sering muncul pada pemrosesan implisit dan saat fungsi eksekutif sedang kewalahan. Kabar baiknya, kemampuan ini bisa dilatih dan membaik dengan usia, apalagi jika lingkungan ikut membantu: aturan yang jelas, isyarat yang ramah otak, dan komunikasi dua arah. Ketika kita berhenti menuntut orang lain “membaca pikiran”, dan mulai membaca situasi bersama, jembatan pengertian akan jauh lebih kokoh.

Baca juga artikel tentang: Misteri DNA Terpecahkan: Kode Tak Terlihat yang Mengatur Hidup Kita

REFERENSI:

Bölte, Sven. 2025. Social cognition in autism and ADHD. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 106022.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top