Selama beberapa dekade terakhir, Tiongkok mengalami kemajuan luar biasa di bidang pertanian dan pembangunan. Namun, di balik keberhasilan itu, ada sisi gelap yang semakin mencemaskan: kualitas air di sungai dan danau terus menurun. Polusi nitrogen dari pupuk pertanian, limbah industri, dan pertumbuhan penduduk menyebabkan banyak perairan berubah menjadi hijau keruh, berbau busuk, dan bahkan beracun bagi kehidupan air.
Sebuah penelitian baru yang diterbitkan di jurnal Nature Communications tahun 2025 memberikan pandangan segar tentang masalah ini. Tim peneliti yang dipimpin oleh Wangzheng Shen dan Nandita Basu menemukan bahwa solusi untuk memperbaiki kualitas air tidak selalu harus berfokus pada danau besar atau proyek infrastruktur raksasa. Terkadang, jawabannya justru ada pada sesuatu yang kecil—kolam, rawa, dan genangan air yang tampak sepele di pedesaan.
Mereka menyebutnya “small water bodies”, atau perairan kecil, dan penelitian ini menunjukkan bahwa memulihkan keberadaan perairan kecil bisa menjadi langkah kunci untuk mengurangi polusi nitrogen dan memperbaiki kesehatan ekosistem air di seluruh Tiongkok.
Baca juga artikel tentang: Danau Natron: Laboratorium Alam Ekstrem yang Membatu dan Menghidupi
Air Kecil yang Mengubah Cerita Besar
Penelitian ini menganalisis data dari seluruh Tiongkok antara tahun 1995 hingga 2015. Dalam rentang dua puluh tahun itu, para ilmuwan menemukan fakta yang mengejutkan: luas perairan kecil menyusut hingga 71 persen, terutama di wilayah pertanian dengan penggunaan pupuk nitrogen yang tinggi.
Artinya, tujuh dari sepuluh kolam, rawa, atau genangan alami yang dulu ada kini telah menghilang. Banyak di antaranya dikeringkan untuk lahan pertanian, pembangunan perumahan, atau jalan. Ironisnya, perairan kecil inilah yang paling efisien dalam menyaring kelebihan nutrien seperti nitrogen (N) dan fosfor (P) sebelum zat itu mengalir ke sungai besar.
Ketika kolam-kolam kecil ini hilang, fungsi alamiah mereka sebagai “filter alami” juga ikut lenyap. Akibatnya, pupuk dan limbah pertanian langsung masuk ke sungai dan danau tanpa sempat disaring, menyebabkan ledakan ganggang (algal bloom) dan kekurangan oksigen yang mematikan ikan serta organisme air lainnya.
Nitrogen: Unsur Kecil dengan Dampak Besar
Nitrogen adalah unsur penting bagi tumbuhan. Namun, ketika terlalu banyak nitrogen masuk ke dalam air, ia bisa menjadi racun bagi ekosistem. Pupuk nitrogen yang digunakan untuk meningkatkan hasil pertanian sering kali tidak seluruhnya diserap tanaman; sebagian larut dalam air hujan dan terbawa menuju sungai, danau, atau laut.
Masalahnya, di air, nitrogen berperan sebagai “bahan bakar” bagi pertumbuhan alga dan cyanobacteria. Saat jumlahnya berlebihan, air berubah menjadi hijau pekat, sinar matahari tidak bisa menembus, dan oksigen terpakai habis oleh proses pembusukan. Fenomena ini disebut eutrofikasi, dan inilah yang menyebabkan banyak danau di dunia—termasuk di Tiongkok, Indonesia, dan Eropa—mengalami “kematian biologis.”
Tim Shen memperkirakan bahwa saat ini perairan di Tiongkok menghilangkan sekitar 986 kiloton nitrogen per tahun. Tapi dengan terus berkurangnya kolam dan rawa kecil, kemampuan alam untuk menyerap nitrogen juga ikut menurun.
Solusi Tak Terduga: Pulihkan Kolam Kecil
Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah bahwa memulihkan perairan kecil bisa memberi dampak besar dengan biaya relatif kecil. Model perhitungan tim menunjukkan bahwa jika Tiongkok mampu memulihkan sekitar 2,3 juta hektare perairan kecil, maka kapasitas penyaringan nitrogen akan meningkat hingga 21 persen.
Sebagai perbandingan, efek yang sama hanya bisa dicapai dengan memulihkan 5 persen dari luas danau besar—yang jelas jauh lebih sulit, mahal, dan membutuhkan waktu lama.
Dengan kata lain, memperbanyak dan melindungi kolam kecil adalah strategi yang jauh lebih efisien untuk memperbaiki kualitas air dibanding hanya fokus pada proyek besar. “Kolam-kolam kecil ini bekerja seperti ginjal bagi lanskap pertanian,” tulis Shen dalam laporannya. “Mereka mungkin kecil, tapi perannya sangat vital dalam menjaga sistem air tetap bersih.”
Dampak Hilangnya Perairan Kecil
Hilangnya perairan kecil bukan hanya masalah ekologi, tetapi juga sosial. Banyak masyarakat pedesaan dulu mengandalkan kolam dan rawa kecil untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari air ternak, irigasi, hingga penampungan air hujan. Kini, banyak wilayah kehilangan sumber air lokal mereka.
Selain itu, penurunan keanekaragaman hayati juga menjadi konsekuensi serius. Banyak spesies amfibi, burung air, dan serangga bergantung pada ekosistem air kecil untuk berkembang biak. Ketika kolam dan rawa hilang, mereka ikut menghilang. Dalam jangka panjang, efeknya bisa merambat ke rantai makanan dan mengubah struktur ekosistem secara menyeluruh.

Dari Masalah Lokal ke Solusi Global
Meskipun penelitian ini berfokus di Tiongkok, temuan ini relevan untuk seluruh dunia. Di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Tenggara, jutaan kolam dan rawa telah hilang dalam 50 tahun terakhir akibat pembangunan dan perluasan pertanian. Padahal, menurut banyak penelitian lain, perairan kecil menyumbang hingga 40 persen dari total kemampuan alam untuk menyaring polutan air secara global.
Dengan perubahan iklim yang memperburuk kekeringan dan banjir, keberadaan perairan kecil menjadi semakin penting. Mereka membantu menahan air saat hujan lebat dan menyimpannya saat musim kering. Dalam konteks adaptasi terhadap perubahan iklim, pemulihan kolam kecil adalah strategi “dua arah”: memperbaiki kualitas air sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap cuaca ekstrem.
Bagaimana Cara Memulihkan Kolam Kecil?
Pemulihan perairan kecil tidak selalu memerlukan teknologi canggih. Banyak yang bisa dilakukan dengan pendekatan berbasis alam, seperti:
- Menggali ulang kolam-kolam lama yang tertutup tanah pertanian.
- Mengembalikan aliran alami air hujan dan irigasi menuju lahan basah.
- Menanami vegetasi tepi air untuk memperlambat erosi dan memperkuat kemampuan penyaringan.
- Melibatkan masyarakat lokal dalam menjaga dan merawat kolam alami di wilayah mereka.
Pendekatan semacam ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberdayakan masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi.
Pesan Akhir: Kembali pada Alam
Penelitian Shen dan timnya memberikan pesan sederhana namun kuat: dalam menghadapi krisis air dan polusi, solusi tidak selalu besar dan mahal—kadang justru sederhana dan alami.
Kolam-kolam kecil yang dulu dianggap tak penting kini terbukti sebagai pahlawan yang terlupakan. Mereka menyaring racun, menampung air, menjaga kehidupan, dan mendukung ekosistem yang lebih luas.
Dalam dunia yang terus berjuang melawan krisis iklim dan degradasi lingkungan, mungkin sudah waktunya kita kembali memandang alam bukan sebagai sesuatu yang harus dikontrol, tetapi sebagai mitra yang bisa membantu kita bertahan, mulai dari setetes air di kolam terkecil.
Baca juga artikel tentang: Depresi Danakil, Neraka di Bumi? Danau Beracun yang Bisa Membunuh Seketika
REFERENSI:
Shen, Wangzheng dkk. 2025. Restoring small water bodies to improve lake and river water quality in China. Nature Communications 16 (1), 294.

