Menemukan pengobatan yang efektif untuk penyakit hati akibat obesitas menjadi salah satu tantangan besar dalam dunia kesehatan modern. Gaya hidup yang kurang aktif, konsumsi makanan tinggi kalori, dan meningkatnya angka obesitas menyebabkan semakin banyak orang mengalami penumpukan lemak di hati. Pada tahap awal, kondisi ini dikenal sebagai perlemakan hati non alkohol dan sering tidak menimbulkan gejala. Namun jika terus berlanjut, penumpukan lemak dapat memicu peradangan sehingga berkembang menjadi nonalcoholic steatohepatitis atau NASH. Penyakit ini mampu menyebabkan kerusakan sel hati, pembentukan jaringan parut, sirosis, hingga gagal hati dan kanker hati. Sampai sekarang belum tersedia terapi yang benar benar mampu mengatasi seluruh proses penyakit tersebut secara optimal. Karena itu, para ilmuwan terus mencari teknologi baru yang dapat mengantarkan obat langsung menuju hati sehingga pengobatan menjadi lebih efektif.
Salah satu penelitian yang diterbitkan pada tahun 2026 dalam jurnal Advanced Healthcare Materials memperkenalkan teknologi penghantar obat yang menggabungkan eksosom dari jahe dengan liposom yang dirancang khusus untuk menargetkan hati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi ini mampu mengurangi penumpukan lemak, menekan peradangan, memperbaiki sensitivitas insulin, serta mengurangi kerusakan hati pada model tikus dengan NASH akibat obesitas. Meskipun hasilnya sangat menjanjikan, penelitian ini masih berada pada tahap praklinis sehingga belum membuktikan manfaatnya pada manusia.
NASH merupakan bentuk penyakit hati yang lebih berat dibandingkan perlemakan hati biasa. Penyakit ini berkembang ketika lemak yang menumpuk di dalam sel hati memicu peradangan kronis dan kerusakan jaringan. Seiring waktu, kerusakan tersebut dapat berkembang menjadi fibrosis atau pembentukan jaringan parut yang akhirnya mengganggu fungsi hati. Risiko NASH meningkat pada orang yang mengalami obesitas, diabetes tipe dua, resistensi insulin, kadar kolesterol tinggi, dan pola makan yang mengandung kalori berlebihan. Yang menjadi tantangan adalah banyak penderita tidak menyadari keberadaan penyakit ini karena gejalanya sering tidak jelas pada tahap awal. Ketika gejala mulai muncul, kerusakan hati sering kali sudah berlangsung cukup lama.
Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada
Salah satu kesulitan utama dalam mengobati NASH adalah mengantarkan obat secara tepat ke organ hati. Banyak obat yang diminum harus melewati lambung dan usus sebelum masuk ke aliran darah. Selama perjalanan tersebut sebagian obat mengalami kerusakan, sementara sebagian lainnya tersebar ke berbagai organ sehingga hanya sedikit yang benar benar mencapai hati. Akibatnya efektivitas terapi menjadi berkurang dan risiko efek samping dapat meningkat. Oleh karena itu, para peneliti mulai mengembangkan teknologi penghantar obat yang mampu membawa senyawa aktif langsung menuju organ sasaran.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan memanfaatkan eksosom yang berasal dari jahe. Eksosom merupakan kantong biologis berukuran sangat kecil yang secara alami dilepaskan oleh sel. Kantong ini membawa berbagai molekul seperti protein, lemak, dan materi genetik yang berfungsi sebagai sarana komunikasi antarsel. Selama beberapa tahun terakhir para ilmuwan menemukan bahwa tumbuhan juga menghasilkan eksosom dengan karakteristik yang sangat menarik. Eksosom dari jahe memiliki keunggulan karena berasal dari bahan alami, relatif stabil ketika melewati saluran pencernaan, serta memiliki kemampuan memasuki berbagai jenis sel di dalam tubuh.
Para peneliti kemudian meningkatkan kemampuan eksosom tersebut dengan menggabungkannya bersama liposom. Liposom merupakan partikel kecil yang tersusun dari lapisan lemak dan telah lama digunakan sebagai penghantar obat. Pada penelitian ini liposom dimodifikasi menggunakan asam ursodeoksikolat agar lebih mudah menuju jaringan hati. Selain itu para peneliti memasukkan berberin ke dalam sistem penghantar tersebut. Berberin merupakan senyawa alami yang telah banyak diteliti karena memiliki kemampuan membantu mengurangi peradangan dan memperbaiki gangguan metabolisme. Kombinasi eksosom jahe, liposom, dan berberin diharapkan mampu memberikan efek terapi yang lebih kuat dibandingkan masing masing komponen secara terpisah.

Sistem penghantar baru tersebut mampu melewati hambatan di saluran pencernaan dengan lebih baik dibandingkan eksosom jahe tanpa modifikasi. Setelah masuk ke dalam tubuh, partikel tersebut juga lebih efektif mencapai organ hati. Para peneliti menemukan bahwa jumlah partikel yang berhasil terkumpul di hati meningkat sekitar dua koma tiga sembilan kali dibandingkan penggunaan eksosom jahe saja. Temuan ini sangat penting karena semakin banyak obat yang mencapai organ sasaran, semakin besar pula peluang memperoleh efek terapi yang optimal.
Setelah mencapai hati, sistem penghantar tersebut mulai memberikan berbagai manfaat biologis. Tikus yang menerima terapi menunjukkan penurunan stres oksidatif secara nyata. Stres oksidatif merupakan kondisi ketika jumlah radikal bebas melebihi kemampuan tubuh untuk menetralisirnya sehingga menyebabkan kerusakan sel. Pada penderita NASH, stres oksidatif menjadi salah satu penyebab utama kerusakan jaringan hati. Penurunan stres oksidatif diikuti dengan berkurangnya penumpukan lemak di dalam sel hati sehingga kondisi jaringan hati menjadi lebih baik dibandingkan kelompok yang tidak memperoleh perlakuan.
Penelitian juga menunjukkan bahwa terapi ini mampu memengaruhi aktivitas sel kekebalan tubuh yang disebut makrofag. Dalam kondisi NASH, sebagian besar makrofag berada dalam keadaan yang memicu peradangan sehingga kerusakan hati terus berlangsung. Terapi berbasis eksosom jahe membantu mengubah makrofag menuju keadaan yang lebih bersifat antiradang. Selain itu aktivitas kompleks protein yang dikenal sebagai NLRP3 inflammasom juga mengalami penurunan. Kompleks protein ini memiliki peran penting dalam memicu peradangan kronis. Penurunan aktivitasnya membantu mengurangi jumlah sel radang di hati sekaligus memperlambat perkembangan penyakit.
Selain mengurangi peradangan, penelitian ini juga menemukan adanya perbaikan sensitivitas insulin. Pada penderita obesitas dan NASH, tubuh sering mengalami resistensi insulin sehingga gula darah sulit dikendalikan dan penumpukan lemak di hati semakin meningkat. Terapi ini memperkuat aktivitas beberapa jalur pensinyalan yang mengatur penggunaan glukosa dan metabolisme lemak, yaitu AMPK, AKT, dan IRS satu, sekaligus menghambat aktivitas GSK tiga beta. Perubahan tersebut membantu tubuh menggunakan energi dengan lebih baik sehingga gangguan metabolisme menjadi berkurang. Walaupun mekanisme biologinya cukup rumit, makna sederhananya adalah terapi ini tidak hanya mengurangi peradangan, tetapi juga membantu memperbaiki gangguan metabolisme yang menjadi penyebab utama NASH.
Menariknya, para peneliti menemukan bahwa manfaat terbesar muncul karena adanya kerja sama antara eksosom jahe dan berberin. Berberin membantu menekan stres oksidatif, sedangkan eksosom jahe meningkatkan kemampuan penghantaran obat menuju hati sekaligus membantu mengatur respons peradangan. Kerja sama tersebut menghasilkan efek yang lebih baik dibandingkan apabila salah satu komponen digunakan secara terpisah. Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi penghantar obat modern tidak hanya berfungsi membawa obat menuju organ sasaran, tetapi juga dapat ikut berkontribusi dalam proses penyembuhan.
Walaupun hasil penelitian terlihat sangat menjanjikan, masyarakat perlu memahami beberapa keterbatasan penting. Penelitian ini dilakukan pada model tikus dengan NASH akibat obesitas. Keberhasilan suatu terapi pada hewan tidak selalu menghasilkan manfaat yang sama ketika diuji pada manusia. Selain itu, teknologi yang digunakan merupakan hasil rekayasa laboratorium yang sangat kompleks dan berbeda jauh dengan mengonsumsi jahe segar, minuman jahe, ataupun suplemen jahe yang tersedia di pasaran. Oleh karena itu, penelitian ini tidak membuktikan bahwa konsumsi jahe dapat menyembuhkan perlemakan hati ataupun NASH pada manusia. Para ilmuwan masih harus melakukan penelitian lanjutan untuk memastikan keamanan, menentukan dosis yang tepat, serta melaksanakan uji klinis pada manusia sebelum teknologi ini dapat digunakan dalam pelayanan kesehatan.
Secara keseluruhan, penelitian ini membuka arah baru dalam pengembangan terapi penyakit hati berbasis nanoteknologi dan bahan alami. Eksosom yang berasal dari jahe berhasil berfungsi sebagai kendaraan biologis yang membantu mengantarkan obat menuju hati secara lebih efisien. Teknologi tersebut mampu mengurangi penumpukan lemak, menekan peradangan, memperbaiki metabolisme, dan mengurangi kerusakan hati pada model tikus dengan NASH akibat obesitas. Meskipun seluruh temuan ini masih terbatas pada penelitian praklinis, hasilnya menunjukkan bahwa pemanfaatan eksosom tumbuhan dapat menjadi salah satu inovasi penting dalam pengembangan terapi penyakit hati pada masa depan. Penelitian lanjutan terutama uji klinis pada manusia tetap menjadi langkah yang sangat penting sebelum teknologi ini dapat diterapkan secara luas dalam dunia kedokteran.
Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya
REFERENSI:
Ma, Yuhong dkk. 2026. Hepatic‐Targeted Liposomes‐Ginger‐Derived Exosomes Hybrid Nanocarrier for Synergistic Alleviation of Obesity‐Induced Nonalcoholic Steatohepatitis. Advanced Healthcare Materials 15 (4), e03076.







