Ketika sebuah kehidupan baru mulai terbentuk, segalanya dimulai dari sesuatu yang amat kecil: embrio satu sel. Di dalam sel mungil itu, terdapat inti sel (nukleus) yang menyimpan seluruh cetak biru kehidupan, DNA. Namun, DNA bukan sekadar kumpulan huruf yang acak; ia harus dilipat, diatur, dan diorkestrasi dengan sangat rapi agar bisa bekerja dengan baik.
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Cell tahun 2025 memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana embrio tikus mengatur DNA mereka sejak tahap paling awal kehidupan. Para ilmuwan menemukan bahwa “arsitektur nukleus” atau susunan ruang dalam inti sel diatur oleh berbagai jalur epigenetik, mekanisme kimia yang bisa menghidupkan atau mematikan gen tanpa mengubah kode DNA itu sendiri.
Penemuan ini tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang biologi perkembangan, tetapi juga membuka pintu baru bagi pemahaman penyakit genetik, infertilitas, hingga rekayasa biologi di masa depan.
Baca juga artikel tentang: AI dan Keamanan Nuklir: OpenAI Terapkan Kecerdasan Buatan untuk Mengurangi Risiko Bencana Nuklir
DNA Bukan Sekadar Teks, Tapi Struktur 3D
Banyak orang mungkin membayangkan DNA seperti buku petunjuk panjang yang tinggal dibaca. Faktanya lebih rumit: DNA berfungsi bukan hanya karena urutannya, tetapi juga karena bagaimana ia dilipat dan ditempatkan di dalam ruang tiga dimensi nukleus.
Jika DNA sepanjang dua meter harus masuk ke dalam inti sel yang diameternya hanya sekitar 10 mikrometer, jelas ia butuh cara melipat yang sangat efisien. Tapi lipatan itu bukan acak. Posisi sebuah gen di dalam nukleus bisa memengaruhi apakah ia akan aktif atau diam.
Penelitian ini menyoroti sebuah struktur penting bernama Lamina-Associated Domains (LADs). LADs adalah bagian DNA yang menempel pada “dinding” nukleus. Bagian ini sering berisi gen-gen yang tidak aktif, seperti buku yang disimpan di rak tertutup. Organisasi ini ternyata sudah terbentuk sangat dini dalam embrio, bahkan sejak tahap zigot (satu sel).
Eksperimen: Mengutak-atik Jalur Epigenetik
Untuk memahami mekanisme ini, para ilmuwan melakukan eksperimen pada embrio tikus. Mereka menggunakan teknik “gain-of-function screen” semacam cara untuk memperkuat atau mengganggu jalur tertentu, lalu melihat efeknya pada embrio.
Hasilnya? Ternyata banyak faktor yang memengaruhi bagaimana nukleus mengatur DNA:
- Modifikasi histon H3: Histon adalah protein tempat DNA melilit. Menambahkan atau mengurangi tanda kimia pada histon bisa mengubah seberapa erat DNA terikat.
- Heterokromatin: Bagian DNA yang sangat rapat dan biasanya tidak aktif.
- Jumlah histon: Tidak hanya kualitas, kuantitas protein ini juga penting.
Jika mekanisme-mekanisme ini terganggu, organisasi nukleus menjadi kacau. Misalnya, DNA yang seharusnya diam di LADs bisa “lepas” dan malah menimbulkan masalah dalam ekspresi gen.
Zigot vs. Embrio Dua Sel: Perbedaan Penting
Salah satu temuan menarik adalah bahwa efek gangguan ini bisa berbeda antara tahap zigot (embrio satu sel) dan tahap dua sel.
Pada zigot, beberapa gangguan masih bisa ditoleransi. Tetapi ketika embrio berkembang menjadi dua sel, arsitektur nukleus harus lebih stabil. Jika LADs tidak terbentuk dengan baik, susunan DNA jadi berantakan. Artinya, tahap dua sel adalah fase kritis dalam pembentukan “peta ruang” DNA.
Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa perkembangan awal bukan hanya soal membelah diri, tetapi juga soal bagaimana sel mengatur informasi genetiknya secara spasial.
Mengapa Penelitian Ini Penting?
- Memahami Awal Kehidupan
Setiap organisme multisel dimulai dari satu sel. Mengetahui bagaimana DNA diatur sejak tahap awal membantu kita memahami dasar-dasar kehidupan. - Implikasi untuk Infertilitas dan Keguguran
Banyak kasus kegagalan embrio berkembang mungkin disebabkan oleh masalah dalam organisasi nukleus. Dengan memahami mekanismenya, mungkin suatu hari kita bisa membantu memperbaiki atau mencegah kegagalan tersebut. - Penyakit Genetik dan Kanker
Gangguan dalam arsitektur nukleus juga terjadi pada banyak penyakit, termasuk kanker. Penelitian ini memberi gambaran bagaimana sel sehat membangun strukturnya, sehingga kita bisa membandingkan dengan kondisi sakit. - Inspirasi untuk Bioteknologi
Bayangkan jika kita bisa “mengatur ulang” cara DNA dilipat untuk menghidupkan atau mematikan gen tertentu. Itu bisa membuka jalan untuk terapi baru dalam bidang genetika dan biomedis.
DNA dan Musik: Sebuah Analogi
Untuk memudahkan pemahaman, bayangkan DNA seperti sebuah orkestra besar. Semua instrumen ada di sana: biola, piano, drum, klarinet. Tapi musik yang indah tidak akan muncul jika para musisi duduk sembarangan. Harus ada konduktor yang mengatur siapa yang main, kapan, dan seberapa keras.
Dalam hal ini, epigenetik adalah konduktor. Ia tidak menulis ulang not balok (kode DNA), tetapi mengatur bagaimana not-not itu dimainkan. LADs adalah seperti barisan pemain yang duduk di belakang, mereka tidak selalu bermain, tetapi penting untuk keseimbangan musik.
Masa Depan Penelitian
Penelitian ini baru langkah awal. Para ilmuwan kini ingin tahu lebih detail jalur epigenetik mana saja yang paling penting, bagaimana mereka saling bekerja sama, dan apakah mekanisme ini serupa pada manusia.
Jika hasil ini juga berlaku pada embrio manusia, maka penemuan ini bisa menjadi revolusi dalam bidang kedokteran reproduksi. Kita bisa mempelajari mengapa beberapa embrio gagal berkembang dalam proses bayi tabung (IVF), atau bahkan mengoptimalkan cara membantu embrio bertahan di tahap awal.
Penelitian tentang embrio tikus ini memperlihatkan bahwa pengaturan DNA di dalam nukleus sejak tahap paling awal kehidupan bukanlah hal acak, melainkan hasil kerja sama banyak mekanisme epigenetik. Arsitektur ini menentukan apakah gen bisa bekerja dengan benar atau tidak, yang pada akhirnya menentukan apakah kehidupan bisa berkembang dengan sehat.
Kehidupan, ternyata, bukan hanya tentang memiliki kode genetik, tetapi juga tentang bagaimana kode itu dilipat, disusun, dan dimainkan dalam simfoni sel.
Dan mungkin, memahami “musik kehidupan” ini akan membantu kita membuka rahasia awal mula manusia, sekaligus memberi kunci untuk mengatasi penyakit di masa depan.
Baca juga artikel tentang: Temuan Reaktor Nuklir Alami Tertua di Dunia Bisa Menjadi Kunci Untuk Energi Masa Depan
REFERENSI:
Pal, Mrinmoy dkk. 2025. The establishment of nuclear organization in mouse embryos is orchestrated by multiple epigenetic pathways. Cell.

