Beberapa bulan lalu, para astronom dikejutkan dengan munculnya sebuah tamu misterius dari luar tata surya: objek antarbintang bernama 3I/ATLAS. Ketika pertama kali terdeteksi, benda ini terlihat berwarna kemerahan. Namun, tak lama kemudian laporan baru menunjukkan hal mengejutkan, 3I/ATLAS tampak bersinar hijau terang, seperti lampu lalu lintas kosmik.
Fenomena ini segera memunculkan banyak pertanyaan. Bagaimana mungkin sebuah objek di luar angkasa bisa berganti warna dengan cara yang begitu mencolok? Apakah ini hanya ilusi optik, atau ada penjelasan ilmiah di balik cahaya hijau itu?
Jawabannya, seperti biasa dalam sains, tidak sederhana. Tapi kuncinya ada pada kimia kosmik interaksi antara cahaya Matahari, gas, dan molekul di sekitar objek tersebut.
Baca juga artikel tentang: Terkuat ke-6 di Dunia: Gempa Besar Kamchatka Guncang Bumi dan Laut
Apa itu 3I/ATLAS?
Mari kita mulai dari dasar. Nama 3I/ATLAS berarti ia adalah objek antarbintang ketiga (3I) yang pernah ditemukan, setelah ‘Oumuamua pada 2017 dan 2I/Borisov pada 2019. Huruf ATLAS berasal dari teleskop survei di Hawaii yang pertama kali menemukannya.
Objek ini diduga sejenis komet. Bedanya, komet biasanya berasal dari awan es di pinggiran tata surya kita, sementara 3I/ATLAS datang dari luar tata surya, kemungkinan terbentuk di sistem bintang yang sangat jauh. Karena itu, ia membawa “sidik jari kimia” dari tempat asalnya.
Warna merah: jejak debu kosmik
Saat pertama kali terlihat, 3I/ATLAS bersinar kemerahan. Warna merah pada komet biasanya disebabkan oleh lapisan debu organik di permukaannya. Debu ini terbentuk dari molekul karbon kompleks yang sudah lama membeku dalam es. Ketika objek mendekat ke Matahari, panas membuat es menguap dan partikel debu itu ikut terlepas, menciptakan cahaya merah kecokelatan.
Fenomena ini mirip dengan bagaimana langit senja di Bumi tampak merah karena debu dan partikel di atmosfer yang menyebarkan cahaya Matahari.
Warna hijau: tanda dari molekul karbon
Namun, bulan lalu para astronom melaporkan sesuatu yang lain: 3I/ATLAS memancarkan cahaya hijau terang. Ini bukan sekadar perubahan kecil dalam kecerahan, tapi pergeseran warna yang dramatis.
Di sinilah kimia kosmik memainkan peran penting. Cahaya hijau pada komet sering kali muncul ketika ada banyak molekul karbon diatomik (C₂) yaitu molekul yang terdiri dari dua atom karbon.
Bagaimana molekul ini bersinar hijau? Caranya cukup menarik:
- Sinar ultraviolet dari Matahari menumbuk molekul karbon diatomik.
- Energi dari cahaya ini membuat molekul “tereksitasi” (seperti bergetar ke tingkat energi lebih tinggi).
- Ketika energi itu dilepaskan kembali, molekul memancarkan cahaya hijau khas.
Proses ini disebut fluoresensi, dan hasilnya adalah komet yang tampak bercahaya hijau menyala di angkasa.
Mengapa bisa berubah dari merah ke hijau?
Pertanyaan besar: kalau begitu, mengapa 3I/ATLAS awalnya merah lalu tiba-tiba hijau?
Ada beberapa kemungkinan:
- Perbedaan jarak dari Matahari. Saat objek masih jauh, hanya lapisan debu merah yang terlihat. Tetapi ketika mendekat, panas Matahari menguapkan lebih banyak es, sehingga gas karbon diatomik mulai dilepaskan dan menghasilkan cahaya hijau.
- Struktur berlapis. Permukaan luar mungkin dilapisi debu merah, sementara lapisan dalam menyimpan es kaya karbon. Ketika lapisan luar terkikis, lapisan dalam mulai terekspos.
- Kondisi sementara. Bisa jadi cahaya hijau hanya muncul pada fase tertentu, misalnya ketika intensitas sinar Matahari tepat untuk membangkitkan molekul karbon, tapi belum cukup untuk menghancurkannya.
Dengan kata lain, perubahan warna ini bukan hal ajaib, tapi hasil dari interaksi kompleks antara cahaya Matahari dan komposisi kimia unik dari objek antarbintang ini.
Mengapa hal ini penting?
Mungkin kita bertanya-tanya: mengapa para ilmuwan begitu bersemangat hanya karena sebuah komet berubah warna?
Jawabannya, karena setiap objek antarbintang seperti 3I/ATLAS adalah kapsul waktu kosmik. Mereka membawa informasi tentang bagaimana planet dan bintang terbentuk di sistem lain, jutaan tahun cahaya dari Bumi.
Dengan mempelajari cahaya yang dipancarkan, para ilmuwan bisa mengetahui:
- Jenis molekul apa yang ada di objek tersebut.
- Bagaimana kimianya berbeda dari komet dalam tata surya kita.
- Petunjuk asal-usulnya, apakah ia lahir di sekitar bintang mirip Matahari, atau di sistem yang sangat berbeda.
Singkatnya, perubahan warna dari merah ke hijau memberi kita “jendela” untuk mengintip kimia antarbintang yang jarang sekali bisa kita amati.
Apa yang bisa kita pelajari dari sini?
Fenomena 3I/ATLAS menunjukkan bahwa alam semesta penuh dengan kejutan. Komet ini pada dasarnya sedang memberi tahu kita sebuah cerita tentang asal-usulnya melalui cahaya yang dipancarkan.
Bagi para ilmuwan, ini juga mengingatkan bahwa tidak semua aturan dari tata surya kita berlaku secara universal. Objek dari sistem lain mungkin memiliki komposisi, perilaku, dan bahkan tampilan yang sangat berbeda.
Hal ini bisa membantu menjawab pertanyaan besar: apakah bahan kimia dasar kehidupan, seperti karbon dan air, tersebar luas di seluruh galaksi? Jika iya, berarti kemungkinan adanya kehidupan di luar Bumi semakin besar.
Ketika kita menatap langit dan melihat cahaya samar dari komet hijau, kita sebenarnya sedang menyaksikan kimia antarbintang bekerja di depan mata. 3I/ATLAS mungkin hanyalah tamu singkat yang melintas sebelum menghilang kembali ke kegelapan kosmos, tapi ia membawa pesan penting: bahwa alam semesta jauh lebih berwarna, secara harfiah daripada yang kita bayangkan.
Jadi, lain kali jika mendengar tentang objek antarbintang baru, ingatlah bahwa setiap cahaya, setiap warna, adalah petunjuk kecil tentang bagaimana planet, bintang, bahkan kehidupan bisa muncul di sudut-sudut galaksi lain.
Baca juga artikel tentang: Ketika Satelit Mati Mengirim Sinyal: Misteri Fisika di Orbit Bumi
REFERENSI:
Hale, Tom. 2025. Interstellar Object 3I/ATLAS Appeared To Turn From Red To Green. Why?. IFLScience: https://www.iflscience.com/interstellar-object-3iatlas-appeared-to-turn-from-red-to-green-why-80962 diakses pada tanggal 02 Oktober 2025.
Seligman, Darryl Z dkk. 2025. Discovery and preliminary characterization of a third interstellar object: 3i/atlas. The Astrophysical Journal Letters 989 (2), L36.
Yang, Bin dkk. 2025. Spectroscopic Characterization of Interstellar Object 3I/ATLAS: Water Ice in the Coma. arXiv preprint arXiv:2507.14916.

