Mengenal Macam-macam Logical Fallacy atau Cacat Logika – Bagian 1

Seringkali saat kita melakukan diskusi atau perdebatan, kita akan sering mengalami yang namanya kebuntuan dalam berargumen. Entah itu pada kita atau lawan bicara kita. Dalam kondisi begitu, biasanya orang akan melakukan beberapa alibi dan cara agar ia tidak merasa kalah. Namun, masalahnya tidak semua orang benar-benar bisa murni membalikkan opini atau argumen yang sesuai dengan topik atau konteks pembicaraan. Nah hal inilah maksud dari Logical Fallacy atau kecacatan dalam berlogika.

Logical Fallacy atau kecacatan dalam berlogika adalah kesalahan menyusun logika pada sebuah ujaran yang terlontar oleh manusia. Sehingga terdapat ketidaksinambungan antara premis dan kesimpulan. Premis sendiri berarti kalimat yang mengandung ide pokok dan dalam argumen. Premis adalah hal yang penting dalam suatu argumen karena ia yang menentukan bagaimana kesimpulan itu terbentuk baik oleh kita sendiri, lawan bicara, dan orang atau audiens yang mendengarkan.

Jadi apa saja macam-macam logical fallacy tersebut?

Strawman/strawman fallacy

Strawman fallacy memiliki pengertian sebagai salah satu bentuk kecacatan logika dalam memahami argumen seseorang. Kesalahan dalam menyerap informasi yang terlontar oleh lawan bicara dan menggambarkan kembali dan memberikan interpretasi atau pandangan yang berlebihan menjadi dasar dalam kecacatan logika yang satu ini.

Contoh: Amir berpendapat bahwa memberikan santunan akan lebih baik kepada panti jompo dibandingkan panti asuhan. Wanda berargumen bahwa Amir tidak memiliki rasa kemanusiaan terhadap anak-anak di dunia dengan tidak memberikan donasi kepada anak terlantar yang berada dalam panti asuhan.

The Fallacy-fallacy

The Fallacy-fallacy adalah suatu bentuk kecacatan logika yang terjadi saat ada orang membuat klaim yang salah dan menarik kesimpulan secara salah juga, sehingga orang menginterpretasikannya secara salah juga. Atau seperti orang yang membuat premis suatu hal itu benar namun mengambil kesimpulan secara keliru, maka klaim dari suatu hal kesatuan tersebut menjadi salah.

Contoh: Pemerintah berkata bahwa kita harus mencegah korupsi karena itu keren. Sehingga rakyat berasumsi bahwa lebih baik korupsi saja karena tidak peduli mau keren atau tidak yang penting kita kaya. Pernyataan pemerintah tidak fundamental dan tak berdasar. Kecuali pemerintah memberi alasan demi menjaga keuangan negara sehingga rakyat bisa tergugah untuk tidak korupsi.

Tu quoque

Tu quoque adalah bentuk kecacatan logika yang sangat mungkin dan paling banyak tidak kita sadari. Bentuk kecacatan logikanya adalah ketika anda memilih untuk tidak terpojokkan oleh lawan bicara atau debat anda dengan menyalahkan lawan bicara atau debat anda. Atau nama lainnya adalah balik menuduh lawan dan membuka kesalahan lawan bicara/debat anda.

Contoh:

“Maaf sebelumya, anda tidak menjelaskan tentang maksud hak setiap negara tentang zona ekonomi eksklusif. Anda lebih fokus berputar pada zona laut teritorial antar negara saja.”

“Iyakah? Maaf anda tadi tidak jelas dalam menyebutnya sehingga tidak saya bahas.”

Loaded Question

Logical fallacy yang ini bisa menyerang secara langsung atau tidak langsung lawan bicara atau debat anda. Kecacatan logika yang satu ini ibarat bom. Dimana suatu pertanyaan terbuat untuk dapat membuat lawan anda terkena mental dan terpaksa untuk melakukan hal defensif dan membela dirinya yang mana itu tidak ada dalam konteks hal yang didebatkan. Cacat logika yang ini sekilas mirip dengan argumentum ad hominem, namun memiliki alur dan premis yang berbeda.

Contoh:

“Oh iya bung tadi anda menyebutkan bahwa zat adiktif sangat berbahaya bagi tubuh. Namun, bagaimana dengan di hari Senin tanggal 12 Desember 2020 saya melihat anda sedang menghirup lem. Itu bagaimana ya bung tanggapannya?”

Referensi:

https://yourlogicalfallacyis.com/

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 5 / 5. Banyaknya vote: 2

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Mohammad Indar Malik Ibrahim
Artikel Berhubungan:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *