Tinggalan Budaya Megalitik Unik di Pasemah, Sumatera Selatan

Megalitik adalah zaman dimana manusia menggunakan batu-batu sebagai monumen untuk pemujaan dan penghormatan kepada nenek moyang. Kebudayaan megalitik hampir tersebar […]

blank

Megalitik adalah zaman dimana manusia menggunakan batu-batu sebagai monumen untuk pemujaan dan penghormatan kepada nenek moyang. Kebudayaan megalitik hampir tersebar luas di seluruh dunia. Inggris dengan stonehenge-nya, Perancis dengan Carnac -nya, Laos dengan guci batunya (plain of jars) serta Indonesia dengan Gunung Padang di Jawa Barat, Pugung Raharjo di Lampung, dan Pasemah di Sumatera Selatan.

Riwayat penelitian awal di Pasemah dibahas oleh L. Ullimann (1850), Westenenk yang menyebutkan pahatan yang ada di Pasemah merupakan tinggalan masa Hindu. Penelitian tentang Pasemah dilanjutkan oleh Van Der Hoop tahun 1931 yang membantah pendapat L. Ullimann dalam bukunya yang berjudul Megalithic Remains in South Sumatera (1932). Setelah Van Der Hoop penelitian kemudian dilanjutkan oleh H.W. Vonk (1934). Setelah perang kemerdekaan mulailah penelitian arkeologi di Pasemah dilakukan oleh orang-orang Indonesia, antara lain oleh R.P Soejono, Teguh Asmar, Haris Sukendar, Bagyo Prasetyo, dan peneliti-peneliti dari Balai Arkeologi Palembang serta dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Sukendar 2003).

Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Detail van een megalitisch beeld bij Tegoerwangi TMnr 10025809.jpg
Kepala Arca di Tegur Wangi
(sumber : https://collectie.wereldculturen.nl/?query=search=*=TM-10025809)

Untuk memahami kebudayaan megalitik diperlukan pengetahuan dan cara berpikir yang ilmiah dan selalu mengikuti perkembangan terbaru dalam penemuan-penemuan di bidang kearkeologian. Dengan cara ini diharapkan tidak akan terjadi kesalahan pengambilan simpulan dari data yang ada. Berdasarkan hasil-hasil penelitian arkeologi di dataran tinggi Pasemah yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Palembang dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengindikasikan bahwa adanya pengaruh dari luar Pasemah yang mempengaruhi pahatan arca-arca megalitik Pasemah, artinya kita tidak dapat melepaskan fakta bahwa masyarakat Pasemah telah berinteraksi dengan masyarakat lain di Nusantara dan membawa budaya masyarakat lain tersebut kedalam budaya Pasemah. Dalam arkeologi kearifan lokal ini disebut local genius. Contoh bahwa masyarakat Pasemah mengadopsi budaya lain adalah adanya pemahatan patung manusia membawa nekara. Berdasarkan hasil penelitian arkeologi nekara berasal dari utara Vietnam yang menyebar ke seluruh Asia Tenggara yang disebut para ahli arkeologis sebagai kebudayaan Dong Soon yang berkembang sekitar 1500 Sebelum Masehi berdasarkan penelitian terbaru dari situs Dong Dau, Vietnam (Guillaud 2006). Sehingga diperkirakan bahwa budaya megalitik yang berciri Dong Soon lebih muda pertanggalannya di luar Vietnam.

Di Indonesia tinggalan-tinggalan megalitik tersebar di hampir seluruh Indonesia mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, Sumba, Flores dan Sulawesi. Tinggalan-tinggalan megalitik ini ada yang masih dipertahankan masyarakat pendukungnya (living momunent) seperti di Nias, Sumba, dan Maluku Utara namun adapula yang telah ditinggalakan masyarakat pendukungnya (death monumen) seperti di Pasemah, Kerinci, dan Pugung Raharjo, Lampung.

Menurut Sukendar (2003), tinggalan megalitik Pasemah muncul dalam bentuk yang unik, yaitu pahatan yang dinamis, tampak hidup dan memiliki simbol-simbol yang dalam.  Hal ini tidak ditemukan di situs-situs megalitik di daerah lain di Indonesia, di mana di pahat dalam bentuk yang kaku seperti budaya megalitik di Nias. Hal ini menjadikan megalitik Pasemah menjadi budaya megalitik yang unik yang di temukan di Indonesia.

Referensi

  • Guillaud, Dominique, ed. 2006. Menyelusuri Sungai, Merunut Waktu: Penelitian Arkeologi Di Sumatera Selatan. Translated by Ida Budipranoto and Tara Thuraya. Hasil Kerjasama 2001-2001 Puslitbang Arkeologi Nasional-IRD-EFEO. Jakarta: Puslitbang Arkeologi Nasional-IRD-EFEO.
  • Sukendar, Haris. 2003. Megalitik Bumi Pasemah Peranan Serta Fungsinya. Jakarta: Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *