Melawan Jamur dan Racun pada Bungkil Biji Niger Lewat Penyimpanan yang Tepat

Bahan pakan yang tampak sederhana bisa menyimpan risiko besar jika cara penyimpanannya salah. Itulah pesan utama dari penelitian tentang niger […]

Bahan pakan yang tampak sederhana bisa menyimpan risiko besar jika cara penyimpanannya salah. Itulah pesan utama dari penelitian tentang niger seed cake, bahan pakan ternak kaya protein dan energi yang berasal dari sisa ekstraksi minyak biji niger. Di banyak tempat, bahan ini punya nilai ekonomi penting karena bisa menjadi sumber nutrisi untuk ternak. Namun ada satu masalah besar yang kerap mengintai selama penyimpanan, yaitu pertumbuhan jamur dan terbentuknya mikotoksin. Dua hal ini bukan sekadar menurunkan mutu pakan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan hewan dan pada akhirnya ikut memengaruhi rantai pangan manusia.

Penelitian yang terbit pada 2026 di Journal of Stored Products Research mencoba menjawab pertanyaan yang sangat praktis. Kantong penyimpanan seperti apa yang paling efektif menjaga niger seed cake tetap aman selama disimpan. Tim peneliti membandingkan tiga jenis kantong penyimpanan untuk melihat kemampuannya menekan pertumbuhan jamur serta pembentukan total aflatoksin dan okratoksin A selama tiga bulan penyimpanan. Topik ini mungkin terdengar teknis, tetapi implikasinya sangat nyata. Dalam sistem pangan, keamanan sering kali tidak hanya ditentukan oleh apa yang diproduksi, tetapi juga oleh bagaimana bahan itu disimpan setelah panen atau setelah proses industri selesai.

Baca juga artikel tentang: Laut Cerdas, Bumi Berenergi: Revolusi Konversi Gelombang Menuju Energi Bersih

Untuk memahami pentingnya studi ini, kita perlu mengenal lebih dulu apa itu niger seed cake. Bahan ini merupakan produk samping dari pengambilan minyak biji niger. Setelah minyak dipisahkan, tersisa massa padat yang masih kaya protein dan energi, sehingga cocok dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dalam konteks efisiensi dan keberlanjutan, penggunaan produk samping seperti ini sangat masuk akal. Daripada terbuang, sisa pengolahan minyak dapat diubah menjadi sumber nutrisi yang bernilai. Namun bahan kaya nutrisi juga sering menjadi medium yang disukai mikroorganisme jika kondisi penyimpanannya tidak terkontrol.

Masalah utamanya ada pada jamur dan mikotoksin. Jamur dapat tumbuh pada bahan pakan yang lembap, hangat, atau tidak terlindungi dengan baik dari udara luar. Lebih berbahaya lagi, beberapa jenis jamur menghasilkan mikotoksin, yaitu senyawa beracun yang dapat mencemari bahan pakan bahkan ketika jamurnya tidak selalu terlihat jelas. Aflatoksin dan okratoksin A termasuk di antara mikotoksin yang paling dikhawatirkan. Pada hewan ternak, kontaminasi ini bisa menurunkan kesehatan, mengganggu pertumbuhan, merusak organ tertentu, dan mengurangi performa produksi. Dalam kondisi tertentu, residunya juga dapat menjadi isu bagi keamanan pangan manusia.

Karena itu, penyimpanan bukan urusan sepele. Banyak orang mungkin membayangkan bahwa cukup memasukkan bahan pakan ke dalam karung lalu menaruhnya di gudang. Padahal, jenis kantong penyimpanan dapat sangat memengaruhi kondisi mikro di dalam bahan. Perbedaan kemampuan menahan udara, uap air, dan pertukaran gas bisa menjadi faktor penentu apakah jamur akan berkembang atau tidak. Penelitian ini berangkat dari pemikiran sederhana tetapi sangat penting itu. Jika kantong yang tepat bisa mengurangi risiko jamur dan racun, maka solusi keamanan pangan dapat dimulai dari langkah yang relatif murah dan mudah diterapkan.

Dalam percobaan ini, peneliti menggunakan tiga jenis kantong penyimpanan. Dua di antaranya adalah Purdue Improved Crop Storage atau PICS dan Super GrainPro atau SGP. Keduanya dikenal sebagai teknologi penyimpanan hermetik, yaitu sistem yang dirancang untuk membatasi pertukaran udara dengan lingkungan luar. Satu jenis kantong lainnya berfungsi sebagai pembanding dari sistem penyimpanan yang lebih biasa. Dengan membandingkan ketiga jenis ini selama tiga bulan, peneliti ingin melihat mana yang paling efektif dalam menjaga mutu dan keamanan niger seed cake.

Grafik ini menunjukkan perubahan suhu dan kelembapan relatif selama beberapa hari, di mana suhu cenderung menurun sementara kelembapan berfluktuasi dan umumnya meningkat (Oshone & Worku, 2026).

Gagasan di balik kantong hermetik cukup mudah dipahami. Jika bahan disimpan dalam wadah yang sangat rapat, aliran oksigen dari luar menjadi terbatas dan kelembapan lebih terkendali. Lingkungan semacam ini biasanya kurang mendukung pertumbuhan jamur tertentu dibanding penyimpanan yang lebih terbuka. Selain itu, kestabilan kondisi di dalam kantong bisa membantu mengurangi perubahan yang memicu pembentukan mikotoksin. Dalam konteks bahan pakan yang rentan seperti niger seed cake, keunggulan kecil dalam pengendalian udara dan kelembapan dapat menghasilkan perbedaan besar dalam keamanan.

Yang membuat studi ini relevan adalah fokusnya pada hasil yang benar benar penting di lapangan. Peneliti tidak hanya menilai apakah bahan terlihat bagus atau tidak, tetapi mengukur pertumbuhan jamur dan perkembangan dua kelompok racun yang sangat diperhatikan, yaitu total aflatoksin dan okratoksin A. Ini penting karena penampilan luar bahan tidak selalu mencerminkan tingkat keamanannya. Sebuah bahan bisa tampak masih baik, tetapi sudah mengalami peningkatan kontaminasi yang berbahaya pada level kimia.

Secara umum, penelitian seperti ini biasanya menunjukkan bahwa kantong hermetik lebih unggul daripada kantong biasa dalam menjaga bahan tetap aman. Itu masuk akal karena jamur sangat dipengaruhi oleh keberadaan oksigen dan kelembapan. Ketika pertukaran dengan udara luar dibatasi, peluang jamur untuk tumbuh dan menghasilkan racun juga ikut ditekan. Dalam praktik pertanian dan peternakan, temuan seperti ini sangat berguna karena memberikan dasar ilmiah untuk memilih teknologi penyimpanan yang tepat. Pilihan karung ternyata bukan hanya soal harga atau kemudahan dibawa, tetapi bisa menjadi keputusan penting yang menyangkut kesehatan ternak dan keamanan rantai pangan.

Ada pelajaran yang lebih luas dari penelitian ini. Selama ini, banyak upaya peningkatan produksi pertanian berfokus pada tahap budidaya atau pemrosesan. Padahal, kerugian besar sering justru muncul setelah panen atau setelah bahan diproduksi, yakni pada tahap penyimpanan. Kehilangan mutu, serangan jamur, dan kontaminasi racun dapat merusak hasil kerja panjang petani dan pelaku usaha hanya dalam hitungan minggu atau bulan. Artinya, investasi kecil pada teknologi penyimpanan bisa memberi manfaat yang sangat besar dibanding biaya yang dikeluarkan.

Bagi peternak, keamanan bahan pakan sangat menentukan keberhasilan usaha. Jika pakan terkontaminasi mikotoksin, efeknya bisa muncul dalam bentuk penurunan konsumsi pakan, gangguan pertumbuhan, penurunan daya tahan tubuh, hingga masalah reproduksi atau produksi. Dampak ekonomi dari kondisi itu tidak selalu langsung terlihat dalam satu hari, tetapi bisa sangat besar dalam jangka panjang. Karena itu, memilih kantong penyimpanan yang lebih baik sesungguhnya merupakan bagian dari strategi manajemen risiko, bukan sekadar urusan logistik gudang.

Bagi sistem pangan yang lebih luas, studi ini juga menyoroti pentingnya pendekatan preventif. Mengatasi mikotoksin setelah kontaminasi terjadi jauh lebih sulit daripada mencegah terbentuknya sejak awal. Begitu bahan tercemar, pilihan penanganannya terbatas dan kerugiannya sering tidak kecil. Sebaliknya, jika risiko bisa ditekan dari tahap penyimpanan, maka perlindungan terjadi sebelum masalah membesar. Ini sejalan dengan prinsip dasar keamanan pangan modern, yaitu mencegah lebih baik daripada memperbaiki kerusakan di hilir.

Menariknya, penelitian tentang kantong penyimpanan juga memperlihatkan bahwa inovasi dalam sistem pangan tidak selalu harus berbentuk teknologi yang rumit. Terkadang kemajuan lahir dari benda yang sangat biasa, seperti karung. Yang membedakan hanyalah desain material, kemampuan menahan udara, dan pemahaman ilmiah tentang kondisi yang membuat mikroba berkembang. Ketika pengetahuan itu diterapkan dengan tepat, benda sesederhana kantong penyimpanan dapat berperan besar dalam melindungi bahan pakan bernilai tinggi.

Dalam konteks keberlanjutan, manfaatnya bahkan bertambah. Niger seed cake adalah produk samping yang seharusnya bisa dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan. Jika bahan ini rusak karena penyimpanan buruk, maka kita kehilangan sumber nutrisi, nilai ekonomi, dan efisiensi sistem produksi. Sebaliknya, penyimpanan yang baik membantu memastikan bahwa bahan samping tetap berguna dan tidak berubah menjadi sumber risiko. Ini berarti pendekatan penyimpanan yang tepat bukan hanya soal keamanan, tetapi juga soal pemanfaatan sumber daya secara lebih cerdas.

Studi ini mengingatkan kita bahwa keamanan pangan dan pakan sering ditentukan oleh detail yang mudah diremehkan. Niger seed cake memang kaya nutrisi dan menjanjikan sebagai bahan pakan ternak, tetapi sifat itu juga membuatnya rentan terhadap jamur dan mikotoksin jika tidak disimpan dengan benar. Dengan membandingkan jenis kantong penyimpanan, penelitian ini menegaskan bahwa perlindungan terhadap bahan pakan dimulai dari pengemasan yang tepat. Kadang perbedaan antara pakan yang aman dan pakan yang berisiko tidak terletak pada kandungannya, tetapi pada wadah yang menampungnya selama berbulan bulan. Dan di situlah sains memberi jawaban yang sangat praktis bagi dunia nyata.

Baca juga artikel tentang: Mesin Cahaya Tertua di Bumi: Bagaimana Cyanobacteria Mengonversi Cahaya Menjadi Energi

REFERENSI:

Oshone, Asrat Otoru & Worku, Admasu Fanta. 2026. Comparative evaluation of storage bags for mold and mycotoxins control in niger seed cake. Journal of Stored Products Research 116, 102936.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top