Nama J.G. Ballard dikenal luas di dunia sastra modern sebagai penulis yang piawai menggambarkan dunia-dunia yang sedang runtuh. Melalui karya-karyanya yang menggabungkan unsur psikologi, bencana ekologis, dan eksperimen estetika, Ballard menjadi salah satu suara penting dalam fiksi ilmiah abad ke-20. Namun di balik narasi-narasi tentang kehancuran dan perubahan dunia, terdapat dimensi lain yang selama ini jarang disorot, yaitu bagaimana pandangannya terhadap dunia non-Barat, khususnya Afrika, mencerminkan cara berpikir kolonial yang masih mengakar dalam imajinasi sastra Barat.
Peneliti sastra Nicole Devarenne dalam artikelnya mengajak pembaca untuk meninjau kembali dua karya awal Ballard yang berpengaruh, yaitu The Drowned World (1962) dan The Crystal World (1966). Menurutnya, kedua novel ini bukan hanya kisah bencana atau transformasi alam, tetapi juga teks yang sarat dengan bayangan kolonial. Ia berpendapat bahwa penting untuk membaca ulang Ballard dengan pendekatan dekolonial, yaitu cara pandang yang berusaha membongkar warisan kolonial yang tertanam dalam cara berpikir dan representasi sastra Barat.
Baca juga artikel tentang: Antara Iritasi dan Racun: Sains Mengupas Efek Gas Air Mata Kedaluwarsa
Afrika dalam Imajinasi Barat
Dalam banyak karya Ballard, Afrika hadir sebagai latar yang misterius, jauh, dan penuh simbol. Ia menggambarkan benua itu sebagai ruang tempat peradaban Barat berhadapan dengan batas-batasnya sendiri. Dalam novel-novel tersebut, alam Afrika tampak buas dan tak terkendali, sementara tokoh-tokohnya yang kebanyakan orang Eropa digambarkan kehilangan arah, kewarasan, atau bahkan identitas.
Bagi Devarenne, cara penggambaran semacam ini memperlihatkan bentuk subjektivitas Erosentris, yaitu cara pandang yang menempatkan pengalaman dan nilai-nilai Eropa sebagai pusat dunia. Afrika bukan digambarkan sebagai tempat yang nyata dengan sejarah dan masyarakatnya sendiri, melainkan sebagai ruang simbolis untuk krisis moral dan spiritual manusia Barat. Dalam konteks inilah Devarenne mengajak pembaca untuk melihat bahwa karya Ballard tidak lepas dari warisan cara berpikir kolonial yang masih memengaruhi imajinasi budaya hingga hari ini.
Dekolonisasi dalam Kajian Sastra
Kajian Devarenne tidak hanya mengkritik isi karya Ballard, tetapi juga mengulas bagaimana penelitian tentang Ballard selama ini cenderung mengabaikan suara dan sejarah Afrika yang menjadi latar kisahnya. Ia menilai bahwa dunia akademik sendiri sering kali masih melihat karya Ballard semata-mata dari perspektif Eropa, tanpa mempertanyakan bagaimana representasi Afrika muncul dan apa maknanya bagi pembaca dari dunia non-Barat.
Melalui pendekatan dekolonial, Devarenne berusaha mengembalikan konteks Afrika yang terlupakan dalam pembacaan karya Ballard. Dalam The Crystal World, yang berlatar di Kamerun, Ballard menggambarkan sebuah dunia yang perlahan membeku menjadi kristal. Devarenne membaca proses pembekuan ini sebagai metafora tentang kolonialisme yang berusaha membekukan dunia sesuai kehendaknya, menjadikannya statis, indah, tetapi kehilangan kehidupan.
Sementara itu, dalam The Drowned World, dunia yang tenggelam oleh air dan tumbuhnya hutan tropis yang menelan kota-kota modern dapat dibaca sebagai simbol dekolonisasi. Alam dan manusia non-Barat kembali mengambil alih ruang yang selama ini dikendalikan oleh peradaban Eropa. Kedua novel ini, bagi Devarenne, menghadirkan kemungkinan untuk membaca hubungan antara manusia, kekuasaan, dan lingkungan dalam konteks yang lebih luas daripada sekadar kisah fiksi ilmiah.
Meminjam Suara Pemikir Afrika
Untuk memperkuat analisisnya, Devarenne mengacu pada pemikiran dua tokoh penting dalam filsafat Afrika, yaitu V.Y. Mudimbe dan Achille Mbembe. Kedua pemikir ini berperan besar dalam mengembangkan teori dekolonial, yang menyoroti bagaimana kolonialisme tidak hanya menaklukkan wilayah, tetapi juga menciptakan cara berpikir dan melihat dunia.
Mudimbe dalam karyanya The Invention of Africa menunjukkan bahwa konsep “Afrika” seperti yang dikenal di dunia Barat adalah hasil konstruksi kolonial, bukan refleksi dari kenyataan sosial dan budaya benua itu sendiri. Mbembe, melalui gagasan postcolony, menjelaskan bahwa warisan kolonial masih terus hidup dalam kehidupan politik dan budaya masyarakat modern. Dengan menggunakan pandangan kedua tokoh ini, Devarenne mencoba membuka kembali cara kita membaca Ballard, bukan hanya sebagai penulis Eropa, tetapi sebagai bagian dari warisan global yang sarat dengan jejak kolonialisme.
Simbol Satelit dan Kesadaran Baru
Dalam penutup tulisannya, Devarenne menyoroti simbol satelit Echo dalam novel The Crystal World. Bagi Ballard, satelit tersebut menjadi tanda tentang cara manusia modern memandang dunia dari jarak jauh, seperti pandangan ilmiah atau kolonial yang memetakan bumi dari atas untuk kemudian mengendalikannya. Namun Devarenne menafsirkan simbol ini secara berbeda. Menurutnya, satelit Echo juga bisa dipahami sebagai lambang kesadaran baru, sebuah upaya untuk melihat kembali dunia dari perspektif yang lebih adil dan beragam.
Satelit itu, dalam pandangan Devarenne, menandai masuknya waktu dekolonial, yaitu masa di mana pembacaan dan pengetahuan tidak lagi berpusat pada Eropa, melainkan terbuka bagi berbagai pengalaman dan sejarah manusia dari seluruh penjuru dunia.
Membaca Ulang Dunia Ballard
Artikel ini tidak sekadar mengkritik karya J.G. Ballard, tetapi juga mengajak pembaca untuk memahami bahwa setiap teks sastra selalu lahir dari konteks sosial dan sejarah tertentu. Karya sastra bukan hanya hasil imajinasi, melainkan juga cerminan cara berpikir masyarakatnya. Dengan membaca kembali karya-karya Ballard dari sudut pandang dekolonial, kita diajak untuk mengenali kembali bagaimana kolonialisme masih hidup dalam bentuk yang lebih halus, melalui simbol, karakter, dan cara pandang terhadap dunia.
Devarenne menunjukkan bahwa hutan, laut, dan dunia yang hancur dalam cerita-cerita Ballard bukan sekadar latar kisah bencana, tetapi juga ruang tempat berlangsungnya pertempuran ideologis antara kekuasaan dan kebebasan. Ia mengingatkan bahwa membaca ulang karya sastra dengan kesadaran dekolonial bukanlah upaya menghapus masa lalu, melainkan cara untuk memahaminya dengan lebih jujur, agar kita dapat menulis masa depan yang lebih setara.
Baca juga artikel tentang: Dari Pikiran ke Struktur: CBT dan Bukti Baru Neuroplastisitas
REFERENSI:
Devarenne, Nicole. 2025. “Jungle Dreams” Decolonizing the Study of JG Ballard’s Early Catastrophe Fiction. Science Fiction Studies 52 (3), 431-460.

