Kita sering membayangkan bahaya pada makanan datang dari hal yang terlihat jelas, seperti busuk, berjamur, atau berbau tidak sedap. Padahal, ada ancaman lain yang jauh lebih licik karena tidak selalu tampak oleh mata. Salah satunya adalah aflatoksin B1, racun yang dapat muncul pada bahan pangan seperti jagung dan kacang tanah. Zat ini dihasilkan oleh jamur tertentu dan dikenal sangat berbahaya karena bersifat karsinogenik, atau dapat memicu kanker, terutama jika masuk ke tubuh dalam jangka panjang.
Masalahnya, aflatoksin bukan persoalan kecil. Jagung dan kacang tanah merupakan bahan pangan penting di banyak negara. Keduanya dipakai untuk makanan sehari hari, pakan ternak, bahan baku industri, sampai camilan. Jika terkontaminasi, dampaknya tidak hanya mengenai kesehatan manusia, tetapi juga keamanan rantai pangan secara keseluruhan. Karena itu, ilmuwan terus mencari cara yang efektif untuk menurunkan kadar racun ini tanpa merusak mutu bahan pangan.
Baca juga artikel tentang: Laut Cerdas, Bumi Berenergi: Revolusi Konversi Gelombang Menuju Energi Bersih
Sebuah penelitian terbaru menawarkan jalan yang sangat menarik. Para peneliti menguji penggunaan nonthermal plasma atau plasma non termal untuk membantu menguraikan aflatoksin B1 pada jagung dan kacang tanah. Meski terdengar rumit, idenya cukup sederhana. Teknologi ini memanfaatkan gas yang diberi energi tinggi hingga menghasilkan partikel aktif yang sangat reaktif. Partikel inilah yang kemudian menyerang dan memecah senyawa berbahaya, termasuk aflatoksin.
Plasma sering disebut sebagai wujud materi keempat setelah padat, cair, dan gas. Namun dalam konteks ini, kita tidak perlu membayangkan sesuatu yang ekstrem seperti matahari atau petir. Plasma non termal bekerja pada kondisi yang tidak membuat bahan pangan menjadi panas berlebihan. Itu sebabnya teknologi ini menarik. Berbeda dari pemanasan biasa yang bisa merusak tekstur, rasa, atau kandungan gizi, plasma non termal berusaha menekan racun tanpa memasak bahan pangan itu sendiri.

Dalam penelitian ini, ilmuwan memberi perlakuan plasma non termal pada jagung dan kacang tanah selama satu sampai lima menit. Mereka menggunakan tegangan tinggi dan frekuensi tertentu untuk menghasilkan kondisi yang cukup kuat dalam membentuk senyawa reaktif. Hasilnya cukup menjanjikan. Kadar aflatoksin B1 turun secara nyata setelah perlakuan. Menariknya, jagung tampak lebih mudah mengalami penurunan aflatoksin dibandingkan kacang tanah. Dengan kata lain, teknologi yang sama memberi hasil berbeda pada bahan pangan yang berbeda.
Kenapa hal itu bisa terjadi. Jawabannya berkaitan dengan sifat permukaan dan struktur bahan. Jagung dan kacang tanah tidak memiliki tekstur, komposisi, dan susunan permukaan yang sama. Kacang tanah mengandung lebih banyak lemak, sementara jagung memiliki karakter permukaan yang berbeda. Perbedaan ini memengaruhi bagaimana partikel reaktif dari plasma menjangkau dan menyerang racun yang menempel atau berada di dekat permukaan bahan. Jadi, keberhasilan teknologi ini tidak hanya ditentukan oleh alatnya, tetapi juga oleh sifat alami bahan yang diolah.
Penelitian ini juga mencoba memahami bagaimana proses penguraian itu berlangsung. Para peneliti menemukan bahwa reaksi penurunan aflatoksin mengikuti model kinetika orde nol. Bagi orang awam, istilah ini memang terdengar teknis. Namun maknanya cukup mudah dipahami. Model itu menunjukkan bahwa laju penurunan racun berlangsung relatif tetap dan tidak terlalu bergantung pada banyak sedikitnya konsentrasi racun yang tersisa. Artinya, selama kondisi perlakuan sama, proses penguraian berjalan dengan ritme yang cenderung stabil.
Lalu, siapa aktor utama yang bekerja dalam proses ini. Peneliti menunjuk beberapa spesies reaktif sebagai kunci, terutama ozon, hidrogen peroksida, dan radikal hidroksil. Ketiganya merupakan senyawa yang sangat aktif secara kimia. Saat plasma non termal dihasilkan, senyawa senyawa ini muncul dan bertindak seperti pasukan kecil yang menyerang struktur kimia aflatoksin. Mereka memutus ikatan tertentu pada molekul racun, lalu mengubahnya menjadi bentuk lain yang lebih sederhana dan diharapkan jauh kurang berbahaya.
Bayangkan aflatoksin sebagai rantai rumit yang tersusun dari kait kait halus. Plasma non termal tidak membakar rantai itu, melainkan mengirimkan penyerang kimia yang memotong bagian penting dari susunannya. Begitu struktur kuncinya rusak, racun itu kehilangan bentuk awalnya. Dari sudut pandang keamanan pangan, inilah inti yang sangat penting. Tujuannya bukan sekadar menghilangkan secara kasat mata, tetapi benar benar merusak struktur kimia yang membuat racun itu berbahaya.
Namun satu pertanyaan besar selalu muncul dalam penelitian pangan. Jika racunnya turun, apakah kualitas makanannya tetap baik. Peneliti juga memeriksa hal ini. Mereka menemukan bahwa plasma non termal memang menimbulkan perubahan pada sifat fisik dan kimia bahan, tetapi perubahan itu tergolong ringan. Meski begitu, efeknya lebih terasa pada jagung dibandingkan pada kacang tanah. Pada jagung, ada perubahan yang lebih nyata pada komposisi nutrisi, tekstur, dan mikrostruktur.
Mikrostruktur adalah susunan sangat kecil pada permukaan atau bagian dalam bahan yang hanya bisa dilihat dengan alat khusus. Ketika mikrostruktur berubah, tekstur bahan juga bisa ikut berubah. Dalam penelitian ini, perlakuan plasma meningkatkan kesan kasar dan lengket pada kedua bahan, terutama pada jagung. Ini berarti teknologi tersebut sangat menjanjikan untuk menurunkan racun, tetapi tetap perlu diatur dengan cermat agar kualitas produk akhir tidak terganggu terlalu jauh.
Di sinilah tantangan besar dalam inovasi pangan muncul. Teknologi terbaik bukanlah teknologi yang paling kuat menghancurkan kontaminan, melainkan yang mampu menjaga keseimbangan antara keamanan dan mutu. Konsumen tentu ingin makanan yang aman, tetapi mereka juga tetap peduli pada rasa, tekstur, warna, dan nilai gizi. Industri pangan juga membutuhkan metode yang cepat, hemat energi, dan mudah diterapkan dalam skala besar. Plasma non termal tampaknya mulai mendekati titik temu itu, walau belum menjadi jawaban akhir.
Keunggulan lain dari pendekatan ini adalah sifatnya yang relatif ramah lingkungan. Metode ini tidak bergantung pada pemanasan tinggi dalam waktu lama dan tidak selalu memerlukan bahan kimia tambahan dalam jumlah besar. Karena itu, plasma non termal mulai menarik perhatian sebagai salah satu teknologi masa depan dalam pengolahan pangan. Jika riset lanjutan berhasil menyempurnakan pengaturannya, teknologi ini berpeluang dipakai untuk berbagai bahan pangan lain yang rentan terhadap kontaminasi racun jamur.
Bagi masyarakat umum, pesan terpenting dari penelitian ini sangat jelas. Keamanan pangan modern tidak hanya bergantung pada kebersihan di dapur atau kemasan yang rapi di rak toko. Ilmuwan kini bekerja jauh sampai ke tingkat molekul untuk memastikan makanan yang kita konsumsi benar benar lebih aman. Mereka tidak hanya memikirkan cara memproduksi makanan lebih banyak, tetapi juga cara membersihkan ancaman yang tak kasat mata.
Penelitian tentang plasma non termal untuk mengatasi aflatoksin B1 memberi gambaran bahwa masa depan pengolahan pangan bisa menjadi lebih cerdas, lebih presisi, dan lebih aman. Jagung dan kacang tanah mungkin tampak sederhana di meja makan, tetapi di baliknya ada pertarungan ilmiah yang serius melawan racun mikroskopis. Ketika teknologi seperti ini terus berkembang, kita bisa berharap bahwa pangan masa depan tidak hanya cukup dan terjangkau, tetapi juga semakin aman untuk dikonsumsi semua orang.
Baca juga artikel tentang: Mesin Cahaya Tertua di Bumi: Bagaimana Cyanobacteria Mengonversi Cahaya Menjadi Energi
REFERENSI:
Nasiru, Mustapha Muhammad dkk. 2026. Mechanistic elucidation of aflatoxin B1 degradation in corn and peanuts via nonthermal plasma: Reactive species and kinetic insights. Food Control, 112021.

