Kacang tanah tampak sederhana, tetapi perjalanan bahan pangan ini dari lahan panen hingga siap disimpan menyimpan tantangan yang sangat penting. Salah satu tantangan terbesar muncul sesaat setelah panen, ketika kadar air di dalam kacang masih tinggi. Dalam kondisi itu, kacang tanah mudah rusak, cepat mengalami penurunan mutu, dan lebih rentan ditumbuhi jamur. Jika proses pengeringan berjalan lambat atau tidak efisien, petani dan pelaku industri bisa kehilangan kualitas produk, nilai jual, bahkan keamanan pangan. Karena itu, pengeringan bukan sekadar tahap teknis setelah panen. Pengeringan adalah penentu umur simpan, mutu, dan efisiensi dalam seluruh rantai produksi kacang tanah.
Sebuah penelitian terbaru menyoroti satu pertanyaan yang sangat praktis tetapi penting, yaitu bagaimana panjang gelombang infrared memengaruhi kecepatan pengeringan dan efisiensi energi pada kacang tanah. Sekilas, topik ini terdengar rumit karena melibatkan istilah fisika dan teknik. Namun gagasan utamanya sebenarnya mudah dipahami. Peneliti ingin mengetahui jenis panas infrared mana yang paling cepat mengeringkan kacang tanah, paling hemat energi, dan paling baik dalam menjaga kualitas hasil akhir.
Baca juga artikel tentang: Laut Cerdas, Bumi Berenergi: Revolusi Konversi Gelombang Menuju Energi Bersih
Kacang tanah yang baru dipanen mengandung kelembapan tinggi. Dalam keadaan seperti itu, biji masih menjalankan aktivitas biologis yang membuatnya terus bernapas. Aktivitas ini menghasilkan panas dan mempercepat perubahan di dalam bahan. Ketika kadar air tetap tinggi, lingkungan di sekitar biji menjadi semakin cocok bagi mikroorganisme, termasuk jamur. Jika proses ini dibiarkan terlalu lama, maka kualitas kacang bisa turun drastis. Warna dapat berubah, aroma bisa terganggu, tekstur menurun, dan risiko kerusakan meningkat. Inilah alasan mengapa pengeringan harus berlangsung cepat, tepat, dan terkontrol.
Selama ini banyak orang mengandalkan penjemuran alami atau pengeringan dengan udara panas. Penjemuran memang murah, tetapi sangat bergantung pada cuaca. Ketika hujan turun atau kelembapan udara tinggi, proses menjadi lambat dan hasilnya tidak konsisten. Pengeringan dengan udara panas memberi kontrol yang lebih baik, tetapi sering memakan waktu lebih lama dan membutuhkan energi yang besar. Di sinilah teknologi infrared menjadi menarik. Berbeda dari udara panas biasa, infrared mengirimkan energi panas langsung ke bahan. Cara ini dapat mempercepat perpindahan panas dan membantu air di dalam kacang keluar lebih cepat.
Penelitian ini membandingkan tiga jenis infrared, yaitu gelombang pendek, gelombang menengah, dan gelombang panjang. Para peneliti menguji ketiganya pada suhu 45 hingga 55 derajat Celsius. Mereka juga mengatur beberapa kondisi lain seperti jarak sumber radiasi ke bahan dan jumlah kacang dalam satu kali proses. Tujuannya sangat jelas, yaitu mencari kombinasi yang paling efisien untuk mengeringkan kacang tanah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa infrared gelombang pendek memberikan performa terbaik. Jenis ini mampu mempercepat pengeringan secara signifikan dan menurunkan konsumsi energi. Dalam penelitian tersebut, gelombang pendek mempersingkat waktu pengeringan sekitar 58,8 persen dan menurunkan konsumsi energi spesifik sekitar 17,6 persen. Temuan ini sangat penting karena waktu dan energi merupakan dua faktor utama dalam biaya pengolahan pascapanen. Jika industri dapat mengeringkan bahan lebih cepat dengan energi lebih sedikit, maka biaya operasional turun dan produktivitas meningkat.
Mengapa gelombang pendek bekerja lebih baik. Jawabannya berkaitan dengan bagaimana energi infrared berinteraksi dengan bahan. Gelombang pendek membawa energi yang lebih efektif dalam mendorong keluarnya air dari dalam kacang. Energi ini membantu memanaskan bahan secara lebih cepat sehingga air bergerak dari bagian dalam ke permukaan lalu menguap. Ketika proses itu berlangsung lebih efisien, kacang tanah mencapai kondisi kering dalam waktu yang lebih singkat. Karena waktu proses lebih pendek, energi total yang dibutuhkan juga ikut menurun. Dengan kata lain, keunggulan gelombang pendek bukan hanya soal panas yang lebih kuat, tetapi juga soal perpindahan energi yang lebih tepat sasaran.
Selain jenis gelombang, penelitian ini juga menunjukkan bahwa suhu yang lebih tinggi, jarak radiasi yang lebih dekat, dan jumlah bahan yang lebih sedikit dapat meningkatkan hasil pengeringan. Ini berarti performa terbaik tidak hanya ditentukan oleh alat, tetapi juga oleh cara alat itu digunakan. Jika sumber panas terlalu jauh, energi yang diterima kacang menjadi lebih kecil. Jika jumlah bahan terlalu banyak, panas tidak merata dan proses menjadi kurang efisien. Jadi, pengeringan yang baik menuntut pengaturan parameter yang tepat, bukan sekadar menaikkan suhu setinggi mungkin.
Namun kecepatan bukan satu satunya ukuran keberhasilan. Pengeringan yang terlalu agresif dapat menimbulkan perubahan mutu. Penelitian ini menemukan bahwa gelombang yang lebih panjang cenderung menyebabkan perubahan warna yang lebih besar. Temuan ini penting karena warna merupakan salah satu indikator mutu yang paling mudah dikenali oleh konsumen dan pelaku usaha. Produk dengan perubahan warna berlebihan bisa dianggap kurang menarik atau kurang segar. Jadi, teknologi pengeringan harus menyeimbangkan tiga hal sekaligus, yaitu kecepatan, efisiensi energi, dan mutu produk.
Untuk memahami jalannya proses secara lebih rinci, para peneliti menggunakan model matematika guna menggambarkan perubahan kadar air selama pengeringan. Model logaritmik terbukti paling akurat dalam menjelaskan perilaku kacang tanah saat dikeringkan dengan infrared gelombang pendek. Bagi orang awam, model ini dapat dibayangkan sebagai alat prediksi yang membantu operator mengetahui seberapa cepat air keluar dari bahan dan kapan proses sebaiknya dihentikan. Kehadiran model seperti ini sangat penting dalam dunia industri karena proses yang baik tidak bisa bergantung pada perkiraan kasar. Industri membutuhkan perhitungan yang akurat agar kualitas selalu konsisten dari satu batch ke batch berikutnya.
Penelitian ini juga membandingkan infrared gelombang pendek dengan metode lain, yaitu pengeringan udara panas dan infrared konvektif. Hasilnya kembali menegaskan keunggulan gelombang pendek. Pada suhu yang sama, metode ini memberikan waktu pengeringan paling singkat, penggunaan energi paling rendah, emisi karbon dioksida paling kecil, serta efisiensi pengeringan dan efisiensi energi paling tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi pengeringan yang lebih baik tidak hanya menguntungkan dari sisi produksi, tetapi juga mendukung upaya pengurangan dampak lingkungan.
Dari sudut pandang keberlanjutan, hasil studi ini sangat menjanjikan. Industri pangan modern menghadapi tekanan untuk menghasilkan produk dalam jumlah besar dengan mutu tinggi sambil menekan penggunaan energi. Teknologi yang mampu menghemat listrik atau bahan bakar akan membantu perusahaan mengurangi biaya sekaligus jejak karbon. Jika infrared gelombang pendek diterapkan lebih luas dalam pengolahan kacang tanah, maka manfaatnya bisa terasa di banyak tingkat, mulai dari pengolahan pascapanen hingga distribusi produk jadi.
Bagi petani dan pelaku usaha kecil, teknologi seperti ini memang mungkin belum langsung mudah diterapkan karena memerlukan investasi alat dan infrastruktur. Namun riset ini memberikan arah yang sangat jelas bagi masa depan. Sistem pengeringan dapat dirancang menjadi lebih cerdas dengan pengaturan otomatis terhadap panjang gelombang, suhu, jarak radiasi, dan beban bahan. Dengan sistem seperti itu, kerugian pascapanen bisa ditekan dan hasil panen dapat dipertahankan mutunya dengan lebih baik.
Bagi konsumen, manfaat penelitian ini mungkin tidak terlihat secara langsung, tetapi dampaknya sangat nyata. Kacang tanah yang dikeringkan secara efisien dan tepat cenderung lebih awet, lebih aman, dan lebih stabil kualitasnya ketika diolah menjadi berbagai produk. Produk pangan yang baik sering kali berawal dari penanganan pascapanen yang baik pula. Dalam hal ini, teknologi infrared gelombang pendek membuka peluang untuk memperbaiki kualitas sejak tahap paling awal.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa proses pengeringan bukan sekadar menghilangkan air dari bahan pangan. Proses ini melibatkan ilmu tentang panas, energi, mutu, biaya, dan keberlanjutan. Panjang gelombang infrared yang tepat ternyata mampu membuat perbedaan besar dalam kecepatan pengeringan, efisiensi energi, dan kualitas akhir kacang tanah. Temuan ini memberi dasar ilmiah yang kuat bagi pengembangan teknologi pascapanen yang lebih modern, lebih hemat, dan lebih ramah lingkungan. Dari luar, kacang tanah mungkin terlihat sederhana. Namun di balik upaya mengeringkannya, sains bekerja dengan sangat rinci untuk menjaga mutu pangan yang sampai ke tangan kita.
Baca juga artikel tentang: Mesin Cahaya Tertua di Bumi: Bagaimana Cyanobacteria Mengonversi Cahaya Menjadi Energi
REFERENSI:
Zhang, Dongyan dkk. 2026. The influence of infrared wavelength on drying kinetics and energy efficiency of peanuts. International Communications in Heat and Mass Transfer 172, 110571.

