Ketika mendengar kata “litium”, mungkin yang terbayang adalah baterai ponsel atau mobil listrik. Logam ringan ini memang menjadi tulang punggung revolusi energi hijau dunia. Namun, di balik setiap baterai yang kita gunakan, ada proses rumit untuk mengekstraksi litium dari sumber alamnya, salah satunya adalah danau garam atau salt-lake brine, air asin alami yang mengandung campuran berbagai mineral penting.
Masalahnya, litium tidak sendirian di sana. Ia bercampur dengan magnesium, natrium, kalsium, dan ion-ion lain yang sulit dipisahkan. Hubungan antara magnesium (Mg²⁺) dan litium (Li⁺) sangat rumit karena keduanya memiliki ukuran atom dan sifat kimia yang mirip. Memisahkan keduanya adalah tantangan besar yang telah lama membingungkan para ilmuwan.
Namun, penelitian terbaru yang diterbitkan pada tahun 2025 oleh Lei Zhang dan rekan-rekannya membawa harapan baru. Mereka meninjau berbagai inovasi dalam teknologi membran nanofiltrasi (NF) selembar bahan ultra tipis yang mampu menyaring ion-ion berdasarkan ukuran dan muatannya untuk meningkatkan efisiensi pemisahan litium dan magnesium dari air garam alami.
Baca juga artikel tentang: Danau Natron: Laboratorium Alam Ekstrem yang Membatu dan Menghidupi
Permintaan Global yang Meningkat
Permintaan terhadap litium meningkat tajam seiring berkembangnya kendaraan listrik dan penyimpanan energi terbarukan. Menurut data global, konsumsi litium dunia telah melonjak lebih dari tiga kali lipat dalam satu dekade terakhir. Sumber litium yang paling melimpah adalah danau garam di dataran tinggi Amerika Selatan, Tibet, dan Cina bagian barat, yang disebut salt-lake brine.
Namun, air garam ini bukan hanya mengandung litium, tetapi juga memiliki kadar magnesium yang jauh lebih tinggi. Dalam beberapa kasus, rasio magnesium terhadap litium bisa mencapai 20:1. Artinya, setiap gram litium di air garam disertai dua puluh gram magnesium yang tidak diinginkan. Jika proses pemisahannya tidak efisien, hasil akhir menjadi mahal dan tidak ramah lingkungan.
Teknologi Nanofiltrasi: Menyaring di Skala Atom
Untuk memahami bagaimana membran nanofiltrasi (NF) bekerja, bayangkan saringan superhalus yang bisa membedakan partikel berdasarkan ukuran dan muatan listriknya. Jika saringan biasa hanya bisa menyaring pasir dari air, maka NF mampu memisahkan ion-ion logam yang ukurannya jutaan kali lebih kecil dari rambut manusia.
Dalam konteks air garam, membran NF dirancang agar litium bisa melewati pori-porinya, sementara magnesium tertahan. Namun karena ukuran keduanya sangat mirip, desain membran harus sangat cermat. Penelitian Zhang dkk. mengulas lima jenis utama membran NF berdasarkan sifat kelistrikannya:
- Membran bermuatan negatif – menolak ion bermuatan negatif dan menarik ion positif seperti litium.
- Membran bermuatan positif – menolak ion bermuatan positif, termasuk magnesium.
- Membran bermuatan campuran – menggabungkan kedua sifat untuk meningkatkan selektivitas.
- Membran penyaring ukuran (size-sieving) – memanfaatkan perbedaan halus dalam ukuran ion.
- Membran bionik – meniru struktur biologis, seperti saluran ion pada sel hidup, untuk penyaringan cerdas.
Setiap jenis memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing, dan para peneliti sedang mencari kombinasi ideal antara ukuran pori, muatan listrik, serta daya tahan kimia agar proses ini bisa berjalan efisien di skala industri.
Menemukan Keseimbangan yang Tepat
Salah satu tantangan utama dalam pemisahan magnesium dan litium adalah keseimbangan antara efisiensi dan selektivitas. Jika membran terlalu “ketat”, litium pun ikut tertahan dan tidak bisa lewat. Sebaliknya, jika pori-porinya terlalu besar, magnesium ikut lolos.
Zhang dan timnya menemukan bahwa membran bermuatan negatif dengan ukuran pori yang sedikit lebih besar dari diameter ion litium memiliki kinerja paling menjanjikan. Jenis ini mampu menolak magnesium secara efektif sambil tetap membiarkan litium melewati lapisan penyaring.
Namun, mereka juga mencatat kelemahan pada membran bermuatan positif. Walau efektif menolak magnesium, jenis ini cenderung “tersumbat” oleh senyawa organik alami dalam air garam, seperti asam humat, yang membawa muatan negatif. Akibatnya, efisiensi filtrasi menurun dan umur pakai membran menjadi pendek.
Untuk mengatasi hal ini, para peneliti merekomendasikan pengembangan membran serat berongga (hollow fiber NF) yang dirakit dengan teknik layer-by-layer. Metode ini memungkinkan pelapisan berlapis dari bahan polielektrolit untuk membentuk membran yang lebih kuat, tahan terhadap korosi kimia, dan memiliki kapasitas pemisahan tinggi.
Dari Laboratorium Menuju Industri
Meskipun teknologi nanofiltrasi sudah terbukti di laboratorium, tantangan sebenarnya adalah menerapkannya secara efisien di skala industri. Salah satu fokus penelitian Zhang dkk. adalah bagaimana membuat membran yang tidak hanya efektif, tetapi juga tahan terhadap kondisi ekstrem air garam, yang sangat korosif dan mengandung berbagai zat kimia agresif.
Selain itu, efisiensi energi juga menjadi pertimbangan penting. Proses pemisahan tradisional seperti penguapan atau presipitasi kimia membutuhkan waktu lama dan banyak energi. Sebaliknya, sistem membran NF dapat bekerja dengan tekanan rendah dan tanpa bahan kimia tambahan, sehingga lebih ramah lingkungan dan berpotensi mengurangi biaya produksi.
Teknologi ini juga bisa digabungkan dengan metode lain, seperti reverse osmosis (RO) atau elektrodialisis, untuk menciptakan sistem hibrida yang mampu mengekstraksi litium dengan kemurnian tinggi.

Masa Depan Energi dan Lingkungan
Penelitian ini tidak hanya penting untuk industri baterai, tetapi juga bagi masa depan energi bersih. Dengan meningkatnya permintaan kendaraan listrik, kebutuhan litium global diperkirakan akan melampaui pasokan pada tahun 2035 jika tidak ada inovasi dalam teknologi ekstraksi.
Nanofiltrasi menawarkan solusi berkelanjutan: proses cepat, hemat energi, dan dapat diterapkan pada sumber alam yang sebelumnya dianggap tidak ekonomis. Dengan teknologi ini, danau garam yang selama ini hanya dilihat sebagai bentang alam eksotik bisa menjadi “tambang cair” masa depan.
Namun, para ilmuwan juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Eksploitasi berlebihan terhadap danau garam dapat mengganggu ekosistem halofitik (tumbuhan dan hewan yang hidup di lingkungan asin). Oleh karena itu, teknologi pemisahan canggih seperti NF harus diiringi kebijakan konservasi yang memastikan pemanfaatan sumber daya litium dilakukan secara bertanggung jawab.
Sains yang Membuka Peluang Baru
Riset oleh Zhang dan koleganya menandai langkah penting dalam perjalanan panjang menuju ekonomi energi hijau. Dengan menggabungkan prinsip kimia, fisika, dan rekayasa material, mereka memperlihatkan bagaimana sains dapat menjawab tantangan global dengan solusi konkret.
Dari laboratorium kecil di universitas hingga fasilitas pemrosesan air garam di dataran tinggi, kerja keras para peneliti ini membantu dunia beralih menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan. Di balik setiap baterai yang menggerakkan mobil listrik atau menyimpan energi surya, tersimpan kisah perjuangan ilmuwan untuk memisahkan dua ion kecil di tengah lautan garam (magnesium dan litium) demi energi yang lebih hijau bagi bumi.
Baca juga artikel tentang: Depresi Danakil, Neraka di Bumi? Danau Beracun yang Bisa Membunuh Seketika
REFERENSI:
Zhang, Lei dkk. 2025. A review of the nanofiltration membrane for magnesium and lithium separation from salt-lake brine. Separation and Purification Technology 354, 129169.

