Di atas pegunungan Afrika yang hijau dan berkabut, kehidupan bergantung pada keseimbangan yang rapuh antara hujan, suhu, dan tanah. Para petani di daerah tinggi ini hidup dari tanah yang mereka garap sendiri, menanam jagung, kentang, kopi, dan sayuran yang menjadi sumber pangan sekaligus pendapatan. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, keseimbangan itu mulai goyah.
Musim hujan datang terlambat atau berhenti terlalu cepat. Gelombang panas membuat tanah retak. Sungai yang dulu mengalir sepanjang tahun kini kering di musim kemarau. Di banyak tempat, pepohonan di lereng gunung kehilangan hijaunya lebih cepat dari biasanya. Perubahan ini mungkin terasa perlahan, tetapi dampaknya nyata bagi jutaan orang yang hidup di dataran tinggi Afrika.
Inilah yang menjadi perhatian utama dalam penelitian besar yang dilakukan oleh Aida Cuni-Sanchez dan tim internasionalnya pada tahun 2025, yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change. Tim ini berusaha menjawab satu pertanyaan penting: bagaimana para petani gunung di Afrika merasakan perubahan iklim, dan bagaimana mereka beradaptasi untuk bertahan hidup?
Baca juga artikel tentang: Snowball Earth: Tragedi Iklim Terbesar yang Membentuk Kehidupan
Mendengarkan Suara dari Lereng Gunung
Untuk menjawab pertanyaan itu, para peneliti melakukan wawancara dengan 1.500 petani di sepuluh wilayah pegunungan Afrika, mulai dari Ethiopia dan Kenya di Timur hingga Kamerun dan Rwanda di Tengah dan Barat. Pendekatan ini berbeda dari banyak studi sebelumnya, karena mereka tidak hanya mengandalkan data cuaca atau citra satelit, tetapi juga mendengarkan pengalaman dan persepsi langsung dari masyarakat lokal.
Hasilnya menunjukkan bahwa hampir semua petani menyadari adanya perubahan iklim di daerah mereka. Mereka menyebutkan bahwa suhu kini terasa lebih panas, musim hujan lebih pendek, dan cuaca menjadi tidak menentu. Banyak petani yang mengatakan panen mereka menurun dibandingkan sepuluh tahun lalu, sementara hama dan penyakit tanaman semakin sering muncul.
Di beberapa wilayah, seperti di lereng Gunung Kilimanjaro dan Pegunungan Rwenzori, para petani bahkan menyebut bahwa salju abadi yang dulu menutupi puncak gunung telah surut jauh, mempengaruhi aliran air ke ladang-ladang mereka di bawahnya. Bagi banyak masyarakat adat, perubahan ini tidak hanya mengancam pangan, tetapi juga mengusik hubungan spiritual mereka dengan alam.

Bertahan dengan Cara Sendiri
Penelitian ini menemukan bahwa para petani gunung tidak pasif menghadapi perubahan iklim. Sebaliknya, mereka berusaha menyesuaikan diri dengan berbagai cara. Sebagian mulai menanam varietas tanaman yang lebih tahan panas dan kering, seperti sorgum menggantikan jagung. Yang lain mencoba mengatur ulang waktu tanam sesuai perubahan musim, atau memperluas lahan ke area yang lebih lembap.
Namun, sebagian besar adaptasi ini masih bersifat inkremental, artinya hanya perubahan kecil dalam praktik yang sudah ada. Misalnya, petani menanam lebih awal, memperdalam sumur, atau menggunakan pupuk organik untuk menjaga kesuburan tanah. Adaptasi jenis ini memang membantu, tetapi sering kali tidak cukup untuk menghadapi perubahan iklim yang semakin ekstrem.
Di tiga wilayah di Afrika Timur, seperti Kenya dan Ethiopia, para peneliti menemukan sesuatu yang lebih menjanjikan. Di sana, komunitas petani berhasil melakukan adaptasi yang lebih transformatif. Mereka tidak hanya menyesuaikan diri, tetapi juga mengubah sistem pertanian dan sosial mereka secara mendasar.
Contohnya, di beberapa desa, petani bekerja sama membentuk kelompok koperasi untuk mengelola irigasi dan berbagi pengetahuan. Ada juga yang memanfaatkan teknologi sederhana seperti sensor hujan atau pesan singkat cuaca dari ponsel untuk menentukan waktu tanam yang tepat. Faktor yang membuat perbedaan besar di wilayah ini adalah modal sosial, kepercayaan, solidaritas, dan kebersamaan antarwarga yang kuat.
Tantangan yang Tak Kecil
Meski demikian, studi ini menegaskan bahwa tantangan adaptasi di pegunungan Afrika sangat berat. Banyak petani yang tidak memiliki akses terhadap teknologi, modal, atau informasi cuaca yang akurat. Infrastruktur di daerah pegunungan sering terbatas, membuat distribusi air dan pupuk menjadi sulit.
Selain itu, perubahan iklim sering kali memperparah masalah sosial yang sudah ada. Kemiskinan, ketimpangan gender, dan konflik lahan membuat beberapa kelompok masyarakat lebih rentan dibandingkan yang lain. Misalnya, perempuan petani, yang menjadi tulang punggung pertanian di banyak daerah Afrika, kerap tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan tentang adaptasi.
Para peneliti juga menemukan bahwa sebagian besar adaptasi yang dilakukan petani masih bergantung pada tenaga kerja keluarga dan kerja tambahan di luar pertanian. Banyak keluarga yang mengirim anggota muda mereka ke kota untuk mencari pekerjaan agar bisa mengirim uang pulang. Pola ini menunjukkan bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim tidak hanya soal teknik bertani, tetapi juga strategi sosial dan ekonomi keluarga.
Gunung yang Semakin Panas
Daerah pegunungan biasanya dianggap lebih sejuk dan stabil, namun penelitian menunjukkan bahwa wilayah ini justru memanas lebih cepat dibandingkan dataran rendah. Hal ini disebabkan oleh perubahan aliran udara dan penurunan kelembapan di ketinggian. Akibatnya, banyak ekosistem gunung kini kehilangan keanekaragaman hayati.
Tanaman yang dulu hanya bisa tumbuh di puncak kini harus turun ke dataran yang lebih rendah untuk bertahan hidup. Sebaliknya, beberapa spesies invasif mulai naik ke ketinggian, mengancam tanaman asli dan memperburuk ketidakseimbangan ekologi.
Bagi masyarakat gunung, perubahan ini berarti kehilangan dua hal sekaligus: sumber pangan dan identitas budaya. Ladang, hutan, dan sumber air yang dulu menopang kehidupan mereka kini berubah secara perlahan tapi pasti.
Pelajaran dari Afrika untuk Dunia
Salah satu pelajaran penting dari penelitian ini adalah bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim tidak bisa diseragamkan. Setiap komunitas memiliki kondisi sosial, budaya, dan lingkungan yang berbeda. Pendekatan yang berhasil di Kenya belum tentu bisa diterapkan di Kamerun atau Malawi.
Itulah sebabnya para peneliti menekankan pentingnya pendekatan lokal berbasis pengetahuan masyarakat. Para petani gunung memiliki kearifan tradisional yang sudah teruji selama ratusan tahun dalam menghadapi musim dan bencana alam. Pengetahuan itu perlu dipadukan dengan sains modern agar solusi yang lahir tidak hanya efektif, tetapi juga berkelanjutan.
Penelitian ini juga menjadi peringatan bagi dunia bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan global, tetapi kenyataan yang dirasakan di dapur, di ladang, dan di setiap tetes keringat manusia yang berjuang menanam makanan. Di balik data dan grafik, ada wajah-wajah petani yang setiap hari menatap langit dan berharap cuaca bersahabat.
Menatap Masa Depan
Meski tantangan besar masih menghadang, kisah para petani di pegunungan Afrika juga membawa harapan. Mereka menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi, belajar, dan bekerja sama.
Selama ada dukungan, kepercayaan, dan kemauan untuk berubah, kehidupan di lereng gunung Afrika tidak harus berakhir dalam keputusasaan. Sebaliknya, ia bisa menjadi contoh bagi dunia tentang bagaimana ketahanan dan kebersamaan dapat tumbuh bahkan di tengah krisis iklim yang paling berat.
Baca juga artikel tentang: Peñico: Kota Perdagangan 3.500 Tahun Lalu yang Hancur oleh Perubahan Iklim
REFERENSI:
Cuni-Sanchez, Aida dkk. 2025. Perceived climate change impacts and adaptation responses in ten African mountain regions. Nature Climate Change 15 (2), 153-161.

