Mengenal Jenis dan Sumber Karbohidrat pada Pangan Lokal

Waspada Ancaman Krisis Pangan akibat El-Nino di Indonesia Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) 2022, Indonesia […]

Waspada Ancaman Krisis Pangan akibat El-Nino di Indonesia

Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) 2022, Indonesia termasuk Negara yang akan mengalami krisis pangan dikarenakan adanya dampak El-Nino yang menyebabkan kekurangan air pada lahan pertanian. Hal ini terbukti dari akhir Juli hingga September 2023, dimana telah terjadi kekeringan pada lahan sawah dan penyusutan muka air pada berbagai waduk di daerah produsen beras Indonesia. Peristiwa ini terjadi karena proses evaporasi yang berlebih karena cuaca yang sangat panas.

Sejumlah upaya penanggulangan krisis air telah dilakukan seperti; 1) Melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau hujan buatan, dan 2) Melakukan pengairan dari waduk secara pergantian. Kementerian Pertanian sudah mengupayakan ‘Gerakan Nasional Penanganan Dampak El-Nino’ dalam rangka antisipasi potensi gagal panen di Indonesia, seperti; 1) Mengupayakan penambahan luas tanam 500.000 Ha di 10 Provinsi dan 10 Kabupaten, 2) Terus melakukan koordinasi dengan berbagai instansi pertanian di daerah, 3) Memperhatikan dan menyediakan sumber perairan, 4) Mendistribusikan benih dan pupuk, dan 5) Mengelola asuransi dan pembiayaan dalam masa panen dan pascapanen. 

Masyarakat Indonesia hanya kenal Beras sebagai Sumber Pangan Utama

Saat ini mayoritas masyarakat Indonesia hanya mengenal beras sebagai sumber pangan pokok. Padahal Indonesia kaya akan sumber daya alam yang juga mengandung karbohidrat. Namun, hal ini menjadi terlupakan saat masa penjajahan diperparah dengan kebijakan ketahanan pangan era orde baru.

Presiden Soeharto mengawali masa pemerintahannya pada 1966. Beliau memprioritaskan sektor agraria dan mengeluarkan berbagai kebijakan yang mengarah ke revolusi pangan. Hal ini disebabkan karena saat itu Indonesia mengalami kemiskinan dan kelangkaan pangan yang menjadi penyebab munculnya krisis politik di Indonesia. Berikut ini kebijakan yang dibuat;

  • Pembukaan lahan secara besar-besar untuk penanaman beras
  • Pembuatan waduk di berbagai daerah
  • Pembangunan pabrik pupuk kimia
  • Pembangunan instansi dalam bidang Pertanian (BPTP) dan instansi yange mengelola perekonomian pertanian (Koperasi/KUD, dan Bulog).
  • Memulai dan meningkatkan kegiatan penelitian di bidang pertanian
  • Membuat produk benih unggulan (Varietas Unggulan Tahan Wereng/VUTW)
  • Pembuatan sistem irigasi di seluruh nusantara

Kebijakan Presiden Soeharto ini menghasilkan prestasi bagi Negara Indonesia, seperti;

  • Tercukupinya kebutuhan pangan pokok beras pada tahun 1969 – 1990
  • Menjadikan Indonesia sebagai Negara pengekspor beras tahun 1984
  • Tahun 1969, Indonesia berhasil memproduksi 12.2 juta ton beras. Angka ini terus bertambah hingga 1984, Indonesia memproduksi 25.8 juta ton beras

Pada tanggal 14 November 1985, Presiden Soeharto menghadiri Konferensi ke-23 Food and Agriculture Organization (FAO) di Roma Italia. Beliau menyampaikan keberhasilan ketahanan pangan di Indonesia (‘Food is my last defence line’.)

Diversifikasi Pangan sebagai Solusi Krisis Pangan di Indonesia

Apabila dilihat dari tujuan Presiden Soeharto, sejatinya kebijakan swasembada beras hanya di tahap Ketahanan Pangan, belum menjadi Kemandirian Pangan. Mengingat yang di utamakan hanya komoditas beras. Kelemahan kebijakan Presiden Soeharto baru terasa menjelang akhir pemerintahannya. Dimana lahan gambut Sumatera dan Kalimantan mulai mengalami kerusakan akibat pembukaan lahan secara besar-besaran. Puncaknya tahun 1997, saat Indonesia dihantam El-Nino terjadi kabut asap tebal yang menutupi langit akibat karhutla berlebih di Riau. Selain itu, komoditas pangan sumber karbohidrat masyarakat adat pelan-pelan menjadi menghilang.

Perlu diperhatikan, menanam komoditas padi memerlukan sumber air yang sangat besar. Saat Indonesia mengalami El-Nina maupun musim hujan biasa, hal ini tidak menjadi masalah sebab sumber air terjamin. Namun, saat mengalami El-Nino itu menjadi masalah, karena suhu yang meningkat akibatnya air permukaan akan menguap secara berlebih. Berbeda dengan beberapa komoditas pangan masyarakat adat, seperti palawija yang dapat tumbuh dengan baik bahkan saat sumber air sangat sedikit.

Sejatinya diversifikasi pangan dapat dilakukan untuk mengatasi krisis pangan akibat fenomena El-Nino. Diversifikasi pangan merupakan langkah dalam mengganti makanan pokok nasi dengan sumber lainnya yang juga sehat dan memenuhi gizi dengan baik. Namun, program diversifikasi pangan tidak bisa digarap asal-asalan. Perlu dilakukan perencanaan yang matang, seperti mengenalkan sumber-sumber karbohidrat pangan lokal, dan mensosialisasikan cara konsumsi dan nutrisi yang diperoleh dari bahan pangan tersebut. Program ini juga harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.

Diversifikasi Pangan Tidak Mengubah Karbohidrat Glukosa

Diversifikasi pangan tidak berarti mengganti nutrisi karbohidrat. Diversifikasi pangan hanya mengganti sumber karbohidrat. Karbohidrat merupakan salah satu makro-molekul yang berfungsi sebagai sumber energi utama bagi tubuh. Karbohidrat dalam makanan berbentuk pati, selulosa, oligosakarida, dan disakarida. Sumber karbohidrat pengganti beras yang ada di Indonesia seperti; ubi jalar, singkong, talas, kentang, jagung, sorgum, dan sagu. Karbohidrat yang terkandung pada tanaman tersebut tidak hanya pati, tetapi terdapat nutrisi lain seperti serat, vitamin, dan mineral. Berbeda dengan beras yang hanya tinggi dengan karbohidrat pati.

Makro-molekul merupakan bentuk molekul dengan ukuran dan berat yang sangat besar, serta penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan manusia. Makro-molekul terdiri dari karbohidrat, protein, lemak dan asam amino. Kerangka makro-molekul ini terdiri dari atom karbon yang terikat pada sesama atom karbon (C), atau atom oksigen (O), nitrogen (N), sulfur (S) dan hidrogen (H). Atom karbon memiliki empat elektron valensi, sehingga dapat membentuk empat ikatan kovalen, molekul yang mengandung karbon dapat membentuk rantai lurus, cabang, atau bahkan cincin.

Mengenal Jenis Karbohidrat

Karbohidrat merupakan biomolekul yang terdiri dari atom karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Karbohidrat disebut juga sebagai makronutrien, karena dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang relatif besar. Karbohidrat dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah sakarida, gugus fungsi, dan jumlah atom karbon.

Sakarida adalah istilah dalam unit pembangun karbohidrat. Berdasarkan unit sakarida, karbohidrat terbagi menjadi;

  1. Monosakarida yang disebut juga sebagai gula sederhana, merupakan bentuk karbohidrat dengan unit sakarida sebanyak satu. Contoh; 1) Glukosa, yang terdapat pada beras, ubi, singkong, talas, sorgum, dan sagu. 2) Fruktosa merupakan gula yang ada pada jagung (sayur) dan pisang, tebu (buah).
  2. Disakarida, merupakan bentuk karbohidrat dengan dua unit sakarida. Contoh; 1) Sukrosa, yang terdiri dari subunit glukosa dan fruktosa. Sukrosa ditemukan pada gula tebu dan bit. 2) Maltosa, yang terdiri dari dua unit glukosa. Maltosa ditemukan pada biji sereal.
  3. Oligosakarida, merupakan polimer sakarida yang terdiri dari tiga hingga sepuluh glukosa.
  4. Polisakarida atau polikarbohidrat, merupakan karbohidrat yang paling banyak ditemukan pada makanan. Polisakaria adalah polimer rantai panjang yang terdiri dari unit monosakarida yang diikat bersama oleh hubungan glikosidik.

Polisakarida merupakan bentuk karbohidrat yang paling banyak dijumpai pada tumbuhan seperti; pati atau amilum, dan serat (selulosa). Pati dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis sebagai cadangan makanan. Serat atau selulosa merupakan komponen penting dari dinding sel tanaman. Selulosa tidak dapat dicerna oleh manusia. Selulosa akan mengikis dinding saluran pencernaan sehingga mengeluarkan lendir yang membantu sisa makanan lainnya untuk melewati saluran pencernaan. Manusia juga tersusun dari polisakarida berjenis glikogen yang tersimpan di sel hati dan otot rangka.

Glukosa; monosakarida sumber energi bagi tubuh

Di dalam tubuh, makanan seperti nasi, jagung, ubi, singkong, talas, sorgum, dan sagu yang mengandung pati akan mengalami pemecahan secara mekanik dan enzimatik menghasilkan glukosa. Glukosa akan mengalir dalam aliran darah sehingga tersedia bagi seluruh sel tubuh. Melalui proses respirasi selular, sel-sel tubuh akan menyerap glukosa dan mengubahnya menjadi energi. Kemudian energi diambil untuk menjalankan kinerja yang terdapat dalam tubuh. Kerangka karbon dalam glukosa yang dikonsumsi, juga digunakan untuk membangun massa tubuh dengan mengikat lemak dan asam amino.  

Proses Respirasi Seluler : Mengubah Glukosa menjadi Energi atau ATP

Tubuh manusia menyimpan polisakarida dalam bentuk glikogen, yang berfungsi sebagai cadangan energi. Glikogen dapat diuraikan menjadi glukosa, yang nantinya dikembalikan ke aliran darah. Namun, glikogen tidak dapat diandalkan sebagai sumber energi terus menerus, karena dapat terkuras habis dalam sehari. Akibatnya bila tidak dipulihkan kembali dengan mengkonsumsi makanan, tubuh akan mengalami kekurangan karbohidrat. Walaupun demikian, penting untuk mengatur konsumsi karbohidrat jika terlalu banyak dapat berisiko obesitas, diabetes hingga kematian.

Berdasarkan uraian tersebut, tidak ada alasan untuk menunda diversifikasi pangan dengan mengganti beras menjadi pangan lokal seperti; singkong, jagung, sorgum, dan sagu. Kandungan karbohidrat yang sama, bahkan pangan lokal mengandung nutrisi tambahan seperti serat, vitamin dan mineral. Selain itu, dengan memulai mengganti sumber karbohidrat beras juga menyelamatkan Indonesia dari krisis pangan saat fenomena El-Nino berlangsung.

Referensi

Arif, A., 2021, Masyarakat Adat & Kedaulatan Pangan, Jakarta: PT. Gramedia

CNBC Indonesia, 2023, Ini Rahasia Swasembada Pangan Era Soeharto yang Dicuri India, Diakses pada 19-09-2023 melalui: https://www.cnbcindonesia.com/research/20230910085227-128-471060/ini-rahasia-swasembada-pangan-era-soeharto-yang-dicuri-india

Kompas.id, 2023, Antisipasi Potensi Gagal Panen, Diakses pada 19-09-2023 melalui: https://epaper.kompas.id/pdf/show/20230919

Kompas.id, 2023, Sedikitnya 1000 Hektar Sawah di Sidoarjo Terancam Gagal Panen, Diakses pada 19-09-2023 melalui: https://www.kompas.id/baca/nusantara/2023/08/24/lebih-dari-1000-hektar-padi-di-sidoarjo-terancam-gagal-panen-sistem-pembagian-air-diatur-ulang

Kompas.id, 2023, Sumber Air di Sejumlah Daerah Produsen Beras dekati Titik Kritis, Diakses pada 19-09-2023 melalui: https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2023/09/14/sumber-air-sejumlah-daerah-produsen-beras-dekati-titik-kritis

Sumbono, A., 2016, Biokimia Pangan Dasar, Yogyakarta: Penerbit Deepublish

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top