Selama beberapa tahun terakhir, kata metaverse menjadi pusat perhatian dunia teknologi. Banyak yang membayangkannya sebagai dunia virtual seperti dalam film fiksi ilmiah, tempat orang bisa bekerja, bermain, belanja, dan bersosialisasi melalui avatar digital. Namun setelah hype besar pada 2021–2022, banyak perusahaan menjadi ragu. Apakah metaverse benar-benar berguna? Apakah hanya sekadar tren sesaat?
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam The International Journal of Entrepreneurship and Innovation pada tahun 2025 membantu menjawab keraguan tersebut. Penelitian ini menggali bagaimana perusahaan dapat memanfaatkan metaverse untuk mengembangkan model bisnis yang lebih kuat, kompetitif, dan inovatif.
Baca juga artikel tentang: Masa Depan Ilmu Material: Cavity Elektro-Optik dan Pengaruhnya terhadap Teknologi Kuantum
Metaverse: Dari Gagasan Abstrak ke Alat Bisnis
Awalnya, banyak perusahaan terjun ke metaverse hanya karena takut tertinggal tren. Mereka membeli lahan digital di platform seperti Decentraland atau membuka toko virtual di dunia 3D. Tapi sering kali investasi ini tidak menghasilkan dampak nyata bagi bisnis.
Penelitian dari Tomini dan rekan-rekannya menegaskan bahwa masalah utamanya adalah integrasi. Metaverse tidak akan memberikan manfaat berarti jika hanya digunakan sebagai tambahan yang terpisah dari strategi bisnis utama perusahaan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, para peneliti melakukan wawancara dengan 20 profesional dan pakar industri. Dari sana, mereka mengembangkan sebuah kerangka yang menjelaskan lima cara utama perusahaan dapat memanfaatkan metaverse untuk menciptakan nilai bisnis.
1. Menciptakan Pengalaman Pelanggan yang Lebih Personal dan Imersif
Jika sebelumnya belanja online hanya berupa klik dan scroll, metaverse menghadirkan interaksi lebih nyata:
- Konsumen dapat mencoba pakaian pada avatar dirinya
- Melihat perabot langsung dalam bentuk 3D di ruangan virtual
- Mengikuti konser atau peluncuran produk secara interaktif
Perusahaan yang mampu menciptakan pengalaman menyenangkan akan memiliki keunggulan dalam menarik dan mempertahankan pelanggan.
Contoh nyata: brand fashion yang mengizinkan pelanggan membeli pakaian digital sekaligus fisik untuk avatar dan tubuh mereka di dunia nyata.
2. Transformasi Tempat Kerja dan Kolaborasi Digital
Metaverse dapat menjadi ruang kerja virtual yang lebih hidup daripada video meeting biasa. Bayangkan:
- Bertemu kolega dalam ruang rapat digital 3D
- Melihat prototipe produk dalam bentuk visual
- Pelatihan operator mesin menggunakan simulasi yang aman
Hasilnya: efisiensi, kreativitas, dan produktivitas meningkat tanpa batasan lokasi.
Ini sangat relevan setelah pandemi COVID-19 yang menjadikan kerja jarak jauh sebagai norma baru.
3. Inovasi dalam Produk dan Layanan
Metaverse membuka ruang bagi perusahaan untuk menghadirkan produk sepenuhnya baru yang tidak mungkin ada di dunia fisik.
Misalnya:
- Koleksi NFT yang memiliki nilai eksklusif
- Aset digital yang bisa dipakai dalam banyak platform
- Layanan konsultasi, pendidikan, dan kesehatan berbasis avatar
Dengan melakukan eksperimen di dunia virtual, perusahaan bisa menguji pasar dengan biaya lebih rendah sebelum membawa inovasi ke dunia nyata.
4. Mengoptimalkan Proses Operasional Internal
Metaverse juga bisa dipakai untuk:
- Simulasi rantai pasok sebelum implementasi nyata
- Melatih pekerja industri berisiko tinggi (misalnya tambang atau pabrik)
- Perawatan mesin dari jarak jauh menggunakan avatar operator
Ini membantu perusahaan mengurangi biaya, meningkatkan akurasi, dan meminimalkan risiko kerja.
5. Membangun Komunitas dan Ekosistem Bisnis Baru
“Loyalitas pelanggan” kini berubah menjadi “keterlibatan komunitas.”
Metaverse memfasilitasi komunitas digital yang kuat, misalnya:
- Fans brand dapat berkumpul dan saling berinteraksi
- Konsumen ikut terlibat dalam desain produk
- Kolaborasi antarbisnis dalam ruang virtual baru
Semakin terlibat konsumen, semakin besar nilai yang bisa diciptakan perusahaan.
Tidak Semua Mulus: Tantangan Integrasi Metaverse
Walaupun potensinya besar, perusahaan tetap menghadapi sejumlah hambatan:
| Tantangan | Penjelasan |
|---|---|
| Kesiapan teknologi | Tidak semua perusahaan memiliki infrastruktur digital yang memadai |
| Biaya implementasi | Pengembangan dunia virtual dan avatar tidak murah |
| Minimnya keahlian khusus | Sumber daya manusia yang paham metaverse masih terbatas |
| Persepsi pasar yang fluktuatif | Banyak konsumen masih bingung fungsi metaverse |
| Regulasi belum matang | Hak kepemilikan aset digital dan keamanan data masih menjadi isu |
Karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya strategi yang matang, bukan sekadar ikut-ikutan tren.
Arah Baru Dunia Bisnis
Penelitian ini memberikan pesan utama bahwa Metaverse tidak akan mematikan dunia nyata, tapi melengkapinya.
Perusahaan yang ingin bertahan dalam persaingan global perlu melakukan tiga langkah strategis:
- Evaluasi kebutuhan bisnis
Bukan semua sektor cocok menggunakan metaverse; pilih proses yang paling diuntungkan. - Integrasi, bukan duplikasi
Metaverse harus selaras dengan model bisnis yang sudah ada. - Mulai kecil, berkembang bertahap
Proyek percontohan (pilot project) dapat membantu mengukur efektivitas sebelum investasi besar.
Metaverse mungkin sempat terlihat seperti janji kosong setelah hype mereda. Namun penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa apabila digunakan secara strategis, metaverse dapat menjadi motor inovasi bisnis yang kuat.
Dalam beberapa tahun mendatang, kita mungkin akan melihat:
- Perusahaan yang hanya beroperasi di dunia virtual
- Pekerja yang menghabiskan hari kerja dalam kantor 3D
- Belanja yang memadukan keseruan game dengan transaksi nyata
- Pendidikan dan pelatihan yang membawa pengalaman real-time immersive
Metaverse bukan lagi sekadar konsep futuristik. Ia adalah bagian dari evolusi bisnis—membawa perusahaan menuju cara baru dalam menciptakan nilai, menjalin relasi, dan merancang masa depan.
Dan perubahan itu sudah dimulai sekarang.
Baca juga artikel tentang: Kabut Pintar dan Kelembapan Terkontrol: Teknologi Baru Menjaga Buah dan Sayur Segar dari Ladang ke Meja Makan
REFERENSI:
Tomini, Nino dkk. 2025. From hype to impact: How companies can leverage the metaverse technology for business models. The international journal of entrepreneurship and innovation 26 (1), 12-22.

