Pada bulan September 2023, alat pencatat getaran bumi yang disebut seismograf yang tersebar di berbagai belahan dunia mendeteksi sesuatu yang sangat tidak biasa. Setiap 90 detik sekali, selama sembilan hari berturut-turut, bumi seperti mengirimkan “denyut” atau getaran teratur yang misterius. Getaran ini terekam sebagai sinyal seismik, yaitu gelombang energi yang biasanya muncul saat terjadi gempa bumi. Namun kali ini, para ilmuwan bingung karena tidak ada gempa yang terjadi seperti biasa.
Biasanya, gempa bumi berlangsung sangat singkat hanya beberapa detik hingga beberapa menit dan disebabkan oleh pergerakan mendadak lempeng bumi. Tapi sinyal yang satu ini sangat berbeda. Ia muncul dengan pola yang sangat teratur dan terus-menerus selama lebih dari seminggu, tanpa jeda. Fenomena yang tidak lazim ini membuat para ahli geofisika (ilmuwan yang mempelajari struktur dan proses dalam bumi) terkejut dan kebingungan. Mereka belum dapat langsung menjelaskan apa penyebab getaran aneh ini. Apa yang sedang terjadi di dalam bumi? Itulah pertanyaan besar yang muncul dari kejadian ini.
Temuan Mengejutkan: Tsunami dari Langit dan Bumi
Setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, para ilmuwan akhirnya berhasil menelusuri sumber getaran misterius tersebut. Mereka menemukan bahwa penyebabnya berasal dari sebuah wilayah terpencil di Greenland Timur, tepatnya di Dickson Fjord (sebuah teluk sempit dan dalam yang dikelilingi oleh tebing curam, khas wilayah yang disebut fjord).
Di lokasi ini, terjadi dua kejadian longsor besar yang luar biasa. Sejumlah besar tanah, es, dan batuan longsor dari lereng curam dan jatuh langsung ke dalam air fjord. Peristiwa ini menimbulkan gelombang raksasa, yaitu tsunami setinggi antara 50 hingga 200 meter. Untuk memberi gambaran, ketinggian 200 meter itu setara dengan gedung pencakar langit berlantai 65, jauh lebih tinggi dari rata-rata tsunami yang kita kenal.
Namun, tsunami ini berbeda dari yang biasanya terjadi akibat gempa bumi bawah laut. Ini adalah jenis tsunami longsoran, yaitu gelombang besar yang tercipta saat material padat seperti tanah dan batu jatuh tiba-tiba ke dalam badan air, memindahkan volume air dalam jumlah besar dan menciptakan gelombang dahsyat. Meskipun jenis tsunami ini jarang terjadi dan biasanya hanya berdampak lokal, kekuatannya bisa sangat besar, cukup untuk mengguncang sensor seismik di seluruh dunia.
Seiche: Gelombang yang Tak Mau Berhenti
Ketika longsoran besar terjadi dan jatuh ke dalam fjord, yaitu sebuah teluk sempit dan dalam yang terbentuk dari erosi gletser selama ribuan tahun, massa tanah dan batu yang jatuh itu menciptakan gelombang raksasa. Karena fjord ini dikelilingi oleh tebing curam dan sempit, gelombang tersebut tidak bisa langsung menyebar ke laut lepas. Sebaliknya, gelombang itu memantul ke sana kemari di dalam ruang sempit fjord, menciptakan pola gerakan air yang disebut seiche (dibaca: sêysh).
Seiche adalah jenis gelombang berdiri yang terbentuk ketika air di suatu wadah tertutup atau setengah tertutup, seperti danau, teluk, atau bahkan kolam renang besar mulai berayun bolak-balik akibat gangguan besar, seperti angin kencang atau, dalam kasus ini, longsoran raksasa. Bayangkan air dalam baskom yang digoyangkan, gelombangnya terus berbalik arah hingga perlahan mereda.
Namun di Dickson Fjord, gelombang seiche ini sangat kuat dan bertahan lama. Gelombangnya terus berosilasi, bergerak naik turun secara teratur, selama sembilan hari penuh. Setiap kali gelombang besar ini menghantam dinding batu fjord, sebagian energinya tersalurkan ke dasar bumi dalam bentuk getaran. Getaran inilah yang kemudian menyebar sebagai sinyal seismik dan berhasil terdeteksi oleh alat pencatat gempa (seismograf) di berbagai penjuru dunia. Jadi, meskipun peristiwanya terjadi di tempat terpencil, dampaknya bisa terasa secara global.
Peran Satelit: Teknologi Membuka Tabir
Penemuan tentang gelombang misterius di fjord terpencil ini bukan hanya hasil dari pengamatan langsung di lapangan. Para ilmuwan juga sangat terbantu oleh teknologi satelit canggih yang dimiliki oleh NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat) dan CNES (Badan Antariksa Prancis). Satelit itu bernama SWOT, singkatan dari Surface Water and Ocean Topography, yang berarti “Topografi Permukaan Air dan Laut”.
Satelit SWOT dilengkapi dengan instrumen canggih yang disebut Ka-band Radar Interferometer (disingkat KaRIn). Alat ini menggunakan gelombang radar frekuensi tinggi untuk mengukur ketinggian permukaan air, baik di laut, danau, sungai, maupun fjord dengan akurasi yang luar biasa, bahkan hingga ke skala sentimeter.
Berkat teknologi ini, para ilmuwan bisa “melihat” pergerakan gelombang seiche di dalam fjord dari luar angkasa, hampir secara langsung (real-time). Artinya, meskipun kejadian ini berlangsung di wilayah yang sangat sulit dijangkau manusia, data dari satelit memungkinkan kita untuk memantau dan memahami apa yang sedang terjadi dengan sangat detail dan akurat. Ini adalah contoh luar biasa bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi bekerja sama untuk mengungkap misteri alam.
Apakah Ini Tanda Perubahan Iklim?
peristiwa ini adalah: mengapa hal seperti ini bisa terjadi sekarang, dan bukan bertahun-tahun lalu?
Jawaban paling sederhana dan paling penting adalah perubahan iklim.
Akibat pemanasan global, suhu rata-rata bumi meningkat, termasuk di daerah kutub seperti Greenland. Ini menyebabkan lapisan es dan gletser, massa es besar yang biasanya menutupi pegunungan, mencair lebih cepat dari sebelumnya. Es ini sebenarnya berfungsi seperti “lem alami” yang merekatkan tanah, batu, dan lereng pegunungan agar tetap stabil. Ketika es mencair, “lem” itu menghilang, membuat lereng-lereng gunung menjadi rapuh dan rentan runtuh.
Tanah dan batu yang tadinya tertahan oleh es kini bisa dengan mudah longsor, terutama di wilayah seperti Greenland yang memiliki banyak tebing curam dan fjord sempit. Saat longsor besar terjadi dan jatuh ke dalam air fjord, terciptalah tsunami besar, sebuah kombinasi kondisi yang bisa disebut sebagai “resep sempurna” untuk menghasilkan bencana seperti ini.
Dengan kata lain, kejadian longsor dan tsunami ini mungkin bukan peristiwa langka yang terjadi sekali seumur hidup. Jika tren pemanasan global terus berlanjut, ada kemungkinan peristiwa serupa akan semakin sering terjadi di masa depan. Ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan hanya soal suhu, tapi juga bisa memicu bencana alam yang luar biasa dahsyat.
Kenapa Kita Harus Peduli?
Mungkin kita bertanya-tanya, “Greenland itu kan jauh sekali dari Indonesia, jadi kenapa kita harus peduli?” Justru karena peristiwa ini menunjukkan bahwa bumi adalah sistem yang saling terhubung. Getaran besar yang berasal dari sebuah fjord terpencil di Greenland bisa menyebar dan terekam oleh alat pencatat gempa di berbagai belahan dunia, termasuk di Asia dan wilayah Pasifik. Ini terjadi karena permukaan bumi tersusun dari lapisan yang saling terhubung, seperti kerak dan mantel bumi, yang bisa mentransmisikan energi dalam bentuk gelombang seismik ke seluruh dunia.
Bayangkan bumi seperti lonceng raksasa, jika satu sisi diketuk dengan cukup kuat, getarannya bisa terasa hingga ke sisi lainnya. Maka, meskipun lokasinya jauh, peristiwa di Greenland adalah pengingat bahwa bencana geologi berskala besar bisa memberi dampak global.
Yang lebih penting, bagaimana jika kejadian serupa terjadi di tempat yang dekat dengan pemukiman manusia? Wilayah seperti Alaska, Norwegia, atau bahkan Indonesia memiliki kondisi geografis yang mirip: tebing curam, danau dalam, dan lembah sempit yang bisa menjadi tempat terbentuknya longsoran dan tsunami lokal jika kondisi yang tepat muncul.
Indonesia sendiri memiliki banyak danau kawah, danau yang terbentuk di puncak gunung berapi dan “fjord mini” yang terbentuk akibat aktivitas vulkanik dan pergerakan lempeng tektonik. Jika perubahan iklim menyebabkan tanah menjadi lebih tidak stabil, maka daerah-daerah ini bisa menjadi rawan longsor besar yang berpotensi memicu gelombang tsunami lokal. Meskipun skalanya tidak sebesar tsunami samudera, dampaknya tetap bisa sangat merusak bagi komunitas di sekitarnya.
Dengan kata lain, fenomena di Greenland bukan hanya kisah dari tempat yang jauh, ini adalah peringatan dini bagi seluruh dunia, termasuk kita di Indonesia.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Peristiwa tsunami yang dipicu oleh longsoran di Greenland menjadi pengingat kuat betapa pentingnya kita mempersiapkan diri terhadap bencana alam, bahkan yang tergolong tidak biasa. Ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita ambil:
- Pemantauan wilayah yang rentan bencana
Kita perlu secara rutin mengawasi area yang berpotensi mengalami longsor, seperti lereng gunung yang curam, fjord (teluk sempit dan dalam), dan danau, terutama yang terbentuk dari aktivitas gunung berapi. Tempat-tempat ini bisa tampak tenang, namun sebenarnya menyimpan potensi bahaya besar jika terjadi gangguan geologis atau perubahan iklim. - Pemanfaatan teknologi pemetaan dan satelit
Dengan bantuan teknologi canggih seperti satelit pemantau dan radar pengukur permukaan bumi, kita bisa mendeteksi perubahan kecil pada permukaan tanah dan air yang mungkin tidak terlihat oleh mata manusia. Teknologi ini memungkinkan para ilmuwan untuk melihat tanda-tanda awal bencana secara lebih akurat dan jauh lebih dini. - Pendidikan masyarakat tentang jenis bencana yang tidak umum
Selama ini kita lebih sering mendengar tentang gempa, banjir, atau letusan gunung berapi. Namun, penting juga bagi masyarakat untuk mengenal bentuk-bentuk bencana lain yang kurang dikenal, seperti tsunami akibat longsoran. Dengan pemahaman yang lebih luas, masyarakat bisa lebih siap dan tahu apa yang harus dilakukan jika kejadian serupa terjadi di dekat mereka. - Sistem peringatan dini berbasis data real-time
Untuk menyelamatkan nyawa, waktu sangat penting. Sistem peringatan dini yang menggabungkan data dari sensor di darat (seperti seismograf) dan satelit di luar angkasa dapat memberi informasi cepat dan akurat tentang potensi bahaya. Dengan sistem seperti ini, peringatan bisa dikirim ke masyarakat sesegera mungkin agar mereka bisa segera mengungsi atau bersiap menghadapi bencana.
Peristiwa aneh yang terjadi di Dickson Fjord, sebuah teluk sempit di ujung timur Greenland, bukan sekadar cerita dramatis dari tempat yang jauh dan dingin. Peristiwa ini sebenarnya adalah “alarm” dari alam yang menyampaikan pesan penting: perubahan iklim bukan hanya isu lingkungan yang jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Ia bukan sekadar angka-angka kenaikan suhu global yang sulit dipahami. Sebaliknya, perubahan iklim sudah nyata terjadi dan mulai memengaruhi sistem bumi dalam skala besar, bahkan sampai menyebabkan bumi bergetar dan menciptakan gelombang laut raksasa.
Untungnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini memungkinkan para ilmuwan untuk mengungkap misteri ini. Dengan bantuan satelit canggih dan alat-alat pemantau gempa super sensitif, para ahli bisa menelusuri jejak peristiwa luar biasa ini dan memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ini membuktikan betapa pentingnya peran sains dalam mengungkap kejadian alam yang sebelumnya tak terbayangkan.
Namun, memahami apa yang terjadi hanyalah langkah awal. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita, sebagai masyarakat global, menyiapkan diri. Kita perlu membangun sistem peringatan dini, memperkuat pemantauan di wilayah rawan bencana, dan meningkatkan kesadaran publik bahwa bencana besar bisa saja berasal dari hal-hal yang tak terduga, seperti longsoran di tempat terpencil yang kemudian mengguncang seluruh planet. Kesiapan, pengetahuan, dan kerja sama adalah kunci untuk menghadapi masa depan yang semakin penuh tantangan.
Referensi:
Dickson, ME dkk. 2023. Sea-level rise may not uniformly accelerate cliff erosion rates. Nature communications 14 (1), 8485.
Hansen, Karina dkk. 2025. Winter subglacial meltwater detected in a Greenland fjord. Nature Geoscience, 1-7.
Svennevig, Kristian dkk. 2024. A rockslide-generated tsunami in a Greenland fjord rang Earth for 9 days. Science 385 (6714), 1196-1205.

