Misteri Kehidupan Tanpa Sinar Matahari: Mengungkap Kehidupan Mikroba di Laut Dalam

.Studi baru membalikkan pandangan bahwa mayoritas kehidupan di laut didukung oleh fotosintesis melalui cahaya matahari. Terungkap bahwa banyak mikroba laut […]

blank

.Studi baru membalikkan pandangan bahwa mayoritas kehidupan di laut didukung oleh fotosintesis melalui cahaya matahari. Terungkap bahwa banyak mikroba laut sebenarnya mendapatkan energi mereka dari hidrogen dan karbon monoksida. Telah menjadi misteri bagaimana mikroba yang tumbuh di bagian paling dalam laut bisa bertahan hidup tanpa sinar matahari. Studi baru menunjukkan bahwa proses khas yang disebut kimiosintesis – pertumbuhan menggunakan senyawa anorganik – membekali mikroba di kedalaman paling gelap ini. Yuk mari kita bahas bersama-sama

.

Mikroba Laut Dalam Terlebih Dahulu Diterangi Oleh Chemosynthesis Bukan Photosynthesis

Sebuah studi baru dari peneliti di Monash University yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Microbiology, membuktikan bahwa ada proses yang berbeda yang disebut chemosynthesis. Proses tersebut adalah pertumbuhan menggunakan senyawa inorganik yang membuat mikroba dalam kedalaman laut terselubung terus hidup. Studi lima tahun ini dipimpin oleh Dr. Rachael Lappan dan Professor Chris Greening dari Biomedicine Discovery Institute.

Photosynthesis Vs Chemosynthesis Process Chain Description Outline Diagram Stock Vector - Illustration of learning, botany: 224321773

Foto: photosynthesis dan chemosynthesis (sumber: dreamstime.com)

Menurut Professor Greening, selama ini kebanyakan ilmuwan berpikir bahwa kehidupan mikroba laut didorong terutama oleh photosynthesis. Fotosintesis sendiri adalah pertumbuhan dengan menggunakan energi cahaya. “Tapi bagaimana dengan wilayah yang sangat dalam sehingga cahaya tidak dapat menembus atau sangat kekurangan nutrisi sehingga alga tidak dapat berkembang?”. Studi ini membuktikan bahwa chemosynthesis adalah dominan di wilayah-wilayah tersebut,” katanya.

Hydrogen dan carbon monoxide sebenarnya “memakan” mikroba di semua wilayah yang kami lihat. Dari teluk perkotaan hingga sekitar pulau-pulau tropis hingga ratusan meter di bawah permukaan”. Beberapa bahkan dapat ditemukan di bawah lapisan es Antartika.”

.

Riset yang Dilakukan oleh Tim Riset dari Monash University

Riset yang dilakukan oleh Dr. Rachael Lappan dan Professor Chris Greening dari Institut Penemuan Biomedis, memadukan pengukuran kimia saat pelayaran oseanik dengan karakterisasi kultur mikroba di laboratorium. Tim riset juga menggunakan sequencing metagenomik, “yang memberi tahu kita rencana genetik dari semua mikroba yang ada di wilayah osean tertentu,” kata Dr. Lappan. “Kami menemukan gen yang memungkinkan konsumsi hidrogen melalui delapan jenis mikroba yang berbeda jauh, dikenal sebagai phylum, dan strategi bertahan hidup ini semakin umum terjadi pada kedalaman hidup mereka.

Untuk proyek ini, para peneliti terinspirasi oleh pekerjaan sebelumnya pada bakteri tanah. Professor Greening dan rekan-rekannya sebelumnya telah menunjukkan bahwa sebagian besar bakteri tanah dapat hidup dengan mengonsumsi hidrogen dan karbon monoksida dari atmosfer.

Lapisan permukaan samudera dunia pada umumnya memiliki tingkat hidrogen dan karbon monoksida yang tinggi yang terdisolusi karena berbagai proses geologi dan biologi. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa bakteri laut menggunakan gas yang sama dengan saudara mereka yang berada di darat” kata Dr. Lappan.

Temuan ini memberikan wawasan tentang bagaimana kehidupan berkembang. Professor Greening menyimpulkan bahwaKehidupan pertama mungkin muncul di sumber-sumber air hangat laut dalam menggunakan hidrogen, bukan cahaya matahari, sebagai sumber energi. Sungguh menakjubkan bahwa, 3,7 miliar tahun kemudian, banyak mikroba di laut masih menggunakan gas ini yang memiliki energi tinggi dan kita benar-benar telah melewatkan hal ini sampai sekarang.”

.

Kesimpulan

Cukup menarik bukan pembahasan kali ini, dimana penelitian telah melakukan riset mengenai fenomena tersebut. Dan membuktikan bahwa mikroba didalam laut mampu hidupdalam kegelapan” yang menjadikannya menarik. Bisa kita pahami bahwa semua alam semesta dan isinya ini memiliki cara tersendiri untuk bisa bertahan hidup dan menciptakan keseimbangan ekosistem bagi Bumi.

.

Referensi

Quora : https://www.quora.com/How-do-organisms-in-deep-ocean-obtain-energy-without-sunlight diakses pada tanggal 7 Februari 2023.

Science Daily: https://www.sciencedaily.com/releases/2023/02/230206130626.htm diakses pada tanggal 7 Februari 2023.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *