Kesehatan

Mual Saat Kemoterapi Masih Mengganggu, Penelitian Ini Menawarkan Harapan Baru dari Jahe

Menjalani kemoterapi menjadi tantangan besar bagi banyak pasien kanker karena terapi ini tidak hanya menyerang sel kanker, tetapi juga dapat memengaruhi sel sehat yang tumbuh dengan cepat. Akibatnya, berbagai efek samping sering muncul selama proses pengobatan. Salah satu keluhan yang…

Bagikan artikel ini
WhatsApp Email

Menjalani kemoterapi menjadi tantangan besar bagi banyak pasien kanker karena terapi ini tidak hanya menyerang sel kanker, tetapi juga dapat memengaruhi sel sehat yang tumbuh dengan cepat. Akibatnya, berbagai efek samping sering muncul selama proses pengobatan. Salah satu keluhan yang paling sering dirasakan adalah mual dan muntah. Bagi sebagian orang, kondisi ini hanya berlangsung beberapa hari, tetapi bagi pasien lain rasa mual dapat bertahan lebih lama sehingga mengganggu aktivitas sehari hari. Mual yang berkepanjangan membuat pasien kehilangan nafsu makan, mengalami penurunan berat badan, kekurangan asupan protein dan energi, serta merasa semakin lemah. Dalam kondisi tertentu, efek samping tersebut bahkan dapat mengganggu kelancaran jadwal kemoterapi karena kondisi tubuh pasien tidak cukup kuat untuk menerima terapi berikutnya. Oleh karena itu, para peneliti terus mencari berbagai pendekatan baru yang mampu membantu mengurangi mual sekaligus menjaga status gizi pasien selama menjalani pengobatan. Salah satu penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 dalam jurnal Clinical Nutrition Open Science menunjukkan bahwa suplemen nutrisi oral bening tanpa lemak yang mengandung ekstrak jahe berpotensi membantu mengurangi mual sekaligus memperbaiki kondisi gizi pasien kanker. Walaupun hasil penelitian terlihat menjanjikan, penelitian ini masih merupakan uji klinis pendahuluan sehingga belum cukup untuk menjadikan produk tersebut sebagai terapi standar bagi seluruh pasien.

Kemoterapi bekerja dengan menghancurkan sel kanker yang membelah dengan cepat. Sayangnya, beberapa sel normal di dalam tubuh juga memiliki kemampuan membelah dengan cepat sehingga ikut terkena dampaknya. Sel pada saluran pencernaan termasuk salah satu jaringan yang cukup sensitif terhadap obat kemoterapi. Selain itu, obat kemoterapi juga dapat merangsang pusat pengendali mual di otak sehingga pasien merasakan mual bahkan sebelum muntah terjadi. Meskipun saat ini telah tersedia berbagai obat antimual yang efektif, tidak semua pasien memperoleh hasil yang sama. Sebagian pasien masih tetap mengalami mual yang cukup berat sehingga kualitas hidup mereka menurun selama menjalani pengobatan.

Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada

Mual yang berlangsung terus menerus tidak hanya menyebabkan rasa tidak nyaman. Kondisi tersebut juga membuat pasien sulit mengonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup. Ketika tubuh kekurangan energi dan protein, proses pemulihan menjadi lebih lambat. Massa otot dapat berkurang, berat badan menurun, serta daya tahan tubuh ikut melemah. Padahal pasien kanker membutuhkan asupan gizi yang baik agar mampu menjalani seluruh rangkaian terapi sesuai rencana. Karena alasan inilah para peneliti mulai mengembangkan strategi yang tidak hanya bertujuan mengurangi mual, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.

Jahe telah lama dikenal sebagai tanaman yang sering digunakan untuk membantu meredakan mual pada berbagai kondisi. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa senyawa aktif di dalam jahe dapat memengaruhi sistem saraf dan saluran pencernaan sehingga berpotensi mengurangi rasa mual. Namun hasil penelitian mengenai manfaat jahe pada pasien yang menjalani kemoterapi masih menunjukkan hasil yang beragam. Sebagian penelitian menemukan manfaat, sedangkan penelitian lain tidak menemukan perbedaan yang bermakna. Perbedaan tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh dosis, bentuk sediaan, karakteristik pasien, maupun jenis kemoterapi yang digunakan. Oleh karena itu, penelitian yang dirancang dengan metode yang lebih baik masih sangat diperlukan.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan tidak hanya memberikan ekstrak jahe secara sederhana. Mereka mengembangkan suplemen nutrisi oral berbentuk cair yang bening, tidak mengandung lemak, dan diperkaya dengan ekstrak jahe. Formulasi tersebut dirancang agar lebih mudah diminum oleh pasien yang sedang mengalami mual. Selain mengandung ekstrak jahe, suplemen tersebut juga menyediakan energi dan protein yang dibutuhkan tubuh selama menjalani kemoterapi.

Penelitian menggunakan metode uji acak terkontrol yang merupakan salah satu rancangan penelitian klinis terbaik untuk mengevaluasi efektivitas suatu intervensi. Sebanyak sembilan puluh delapan pasien dinilai kelayakannya untuk mengikuti penelitian dan tujuh puluh lima pasien akhirnya memenuhi kriteria. Selanjutnya para peserta dibagi secara acak menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama tidak menerima suplemen nutrisi oral. Kelompok kedua menerima suplemen nutrisi oral yang mengandung ekstrak jahe. Kelompok ketiga menerima suplemen nutrisi oral konvensional sebagai pembanding. Pembagian secara acak bertujuan mengurangi kemungkinan bias sehingga hasil penelitian menjadi lebih dapat dipercaya.

Selama penelitian berlangsung, para ilmuwan mengevaluasi berbagai aspek kesehatan pasien. Mereka mengukur tingkat mual menggunakan skala penilaian numerik, mencatat jumlah muntah, mengevaluasi penggunaan obat antimual, mengukur kadar substansi P dalam darah, menghitung asupan energi dan protein, serta menilai kualitas hidup setiap peserta. Peneliti juga mengamati perubahan berat badan dan massa tubuh tanpa lemak karena kedua parameter tersebut mencerminkan kondisi gizi pasien secara lebih menyeluruh.

Grafik menunjukkan bahwa suplementasi nutrisi oral berbasis jahe (Ginger ONS) membantu mempertahankan berat badan, massa bebas lemak, dan kualitas hidup pasien kemoterapi dengan hasil yang cenderung lebih baik dibandingkan kontrol maupun suplemen konvensional (Tsutsumi, dkk. 2026).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang menerima suplemen mengandung ekstrak jahe memiliki skor mual yang lebih rendah setelah siklus kemoterapi kedua dibandingkan kelompok lain. Peneliti juga menemukan penurunan kadar substansi P yang lebih besar pada kelompok tersebut. Substansi P merupakan salah satu molekul yang berperan dalam mekanisme timbulnya mual dan muntah. Penurunan kadar molekul ini diduga ikut berkontribusi terhadap berkurangnya keluhan mual, walaupun penelitian ini belum dapat memastikan hubungan sebab akibat secara langsung.

Selain membantu mengurangi mual, kelompok yang mengonsumsi suplemen mengandung ekstrak jahe juga menunjukkan peningkatan asupan energi dan protein dibandingkan kelompok pembanding. Temuan ini sangat penting karena pasien yang tidak lagi merasa sangat mual biasanya lebih mudah mengonsumsi makanan dan minuman. Asupan gizi yang lebih baik membantu tubuh mempertahankan berat badan dan massa otot selama menjalani kemoterapi. Penelitian ini juga menunjukkan adanya peningkatan berat badan, massa tubuh tanpa lemak, serta kualitas hidup pada kelompok yang menerima suplemen tersebut. Hasil tersebut memberikan gambaran bahwa perbaikan kondisi gizi dapat memberikan dampak positif terhadap kondisi fisik pasien secara keseluruhan.

Walaupun hasil penelitian terlihat menarik, para peneliti memberikan catatan penting yang tidak boleh diabaikan. Mereka menjelaskan bahwa manfaat yang diamati kemungkinan tidak hanya berasal dari ekstrak jahe. Suplemen yang digunakan memiliki komposisi nutrisi yang berbeda dibandingkan produk pembanding. Kandungan protein, karakteristik tanpa lemak, cita rasa, serta formulasi keseluruhan kemungkinan ikut memengaruhi hasil penelitian. Dengan demikian, penelitian ini belum dapat memastikan bahwa ekstrak jahe menjadi satu satunya komponen yang bertanggung jawab terhadap seluruh manfaat yang diamati.

Penelitian ini juga memiliki sejumlah keterbatasan. Jumlah peserta relatif sedikit sehingga hasilnya belum tentu mewakili seluruh pasien kanker. Penelitian berlangsung dalam waktu yang terbatas sehingga manfaat jangka panjang belum dapat dievaluasi. Selain itu, pasien memiliki jenis kanker, jenis obat kemoterapi, kondisi kesehatan, dan status gizi yang berbeda sehingga respons terhadap suplemen juga dapat bervariasi. Penelitian ini juga hanya mengevaluasi satu formulasi suplemen tertentu sehingga hasilnya tidak dapat disamakan dengan mengonsumsi jahe segar, minuman jahe, atau suplemen jahe lain yang memiliki komposisi berbeda.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa hasil penelitian ini tidak berarti pasien dapat mengganti obat antimual yang diresepkan dokter dengan produk berbahan jahe. Obat antimual tetap menjadi bagian penting dalam penanganan efek samping kemoterapi karena telah melalui berbagai uji klinis yang lebih luas. Jika pasien ingin menggunakan suplemen berbahan jahe sebagai pendamping terapi, keputusan tersebut sebaiknya selalu didiskusikan dengan dokter atau ahli gizi. Pendampingan tenaga kesehatan sangat penting agar penggunaan suplemen tidak mengganggu efektivitas pengobatan utama maupun kondisi kesehatan pasien.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan harapan baru bahwa suplemen nutrisi oral yang mengandung ekstrak jahe dapat membantu mengurangi mual akibat kemoterapi sekaligus meningkatkan asupan energi, protein, berat badan, massa tubuh tanpa lemak, dan kualitas hidup pasien kanker. Namun hasil tersebut masih berasal dari uji klinis pendahuluan dengan jumlah peserta yang terbatas serta menggunakan satu formulasi suplemen tertentu. Oleh karena itu, penelitian yang melibatkan lebih banyak pasien, berbagai jenis kanker, serta periode pengamatan yang lebih panjang masih diperlukan untuk memastikan manfaat dan keamanannya. Sampai bukti ilmiah yang lebih kuat tersedia, temuan ini sebaiknya dipandang sebagai langkah awal yang menjanjikan dalam pengembangan terapi pendukung selama kemoterapi, bukan sebagai pengganti pengobatan medis yang telah terbukti efektif.

Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya

REFERENSI:

Tsutsumi, Rie dkk. 2026. A Preliminary Randomized Controlled Trial of a Ginger-Containing, Clear, Fat-Free Oral Nutritional Supplement for Chemotherapy-Induced Nausea and Nutritional Outcomes. Clinical Nutrition Open Science.

Maratus Sholikah
TENTANG PENULIS

Maratus Sholikah

Green-Tech Writer dengan 7 tahun pengalaman dan 3.000+ artikel Science & Sustainability yang sudah dipublikasikan. Spesialis mengubah riset kompleks menjadi narasi jernih berbasis data. Karyanya menjangkau topik Green Technology, Biodiversity, hingga Climate Science untuk media sains dan platform digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

✳ SAINS DALAM GAMBAR

Warstek di Instagram

@warstek_com ↗
Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign

Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign

Paper ke 7 JOKOWI telah terbit! Abstrak: ndonesia memiliki batas administrasi yang digunakan untuk menentukan kewenangan pemerintahan, anggaran, pelayanan publik, dan tanggung…▧ Carousel

Paper ke 7 JOKOWI telah terbit! Abstrak: ndonesia memiliki batas administrasi yang digunakan untuk menentukan kewenangan pemerintahan, anggaran, pelayanan publik, dan tanggung jawab antarwilayah.…

Congratulations! JOKOWI sudah terindeks Google! Scopus nggak sih habis ini? #jurnal #jokowi

Congratulations! JOKOWI sudah terindeks Google! Scopus nggak sih habis ini? #jurnal #jokowi