NARKODAS (Narkotika Berupa Makanan Pedas)

Ditulis Oleh Feby Febrianti Narkoba kini tak lagi menjadi sesuatu yang asing didengar. Siapa yang tak tahu narkoba? Zat berbahaya […]

blank

Ditulis Oleh Feby Febrianti

Narkoba kini tak lagi menjadi sesuatu yang asing didengar. Siapa yang tak tahu narkoba? Zat berbahaya yang kini semakin marak baik dikalangan atas maupun kalangan bawah. Bahan candu ini yang bukannya berkhasiat namun justru mendatangkan mudarat. Bagi orang – orang yang sudah menyelami narkoba, zat ini akan sulit dilepas. Itulah ketergantungan. Butuh suatu rehabilitasi untuk menanganinya.

Begitupun dengan cabai”. Bagi orang-orang yang menyukai pedas, cabai ibaratkan sebuah narkoba. Meski bukan sesuatu yang berbahaya namun jika pedas dikonsumsi secara berlebih akan mendatangkan malapetaka bagi tubuh terutama kesehatan. Allah SWT bahkan melarang hamba-Nya dalam berlebih-lebihan seperti yang terdapat pada ayat suci Al-Qur’an :

وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al A`raaf : 31)

Rasa pedas pada cabai ini berasal dari senyawa kimia bernama capsaicin.

blank

Sumber : Qwika

Pedas sebenarnya bukan merupakan rasa yang dapat dirasakan oleh lidah tetapi  merupakan salah satu sensasi yang timbul dari capsaicin ini. Capsaicin memberikan sensasi pedas apabila diterima di papila lidah oleh reseptor saraf sensorik khusus panas tinggi kemudian informasi ini dibawa ke otak. Otak akan memberi sinyal yang menandakan bahwa kita merasakan pedas.

Cabai atau pedas itu sendiri memiliki manfaat luar biasa yang tak banyak diketahui orang, seperti dapat meningkatkan nafsu makan, obat anti kanker dengan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker, melancarkan peredaran darah dalam tubuh hingga tubuh akan cepat mengganti sel-sel yang rusak, melancarkan pencernaan dengan memudahkan proses pengeluaran sisa metabolisme, menjaga kekebalan tubuh dari kandungan vitamin C dan lainnya jika dikonsumsi sesuai dengan seharusnya. Tak dapat dipungkiri bahwa selain manfaat, adapun bahaya dari pedas.

Bagi sebagian orang, memakan makanan pedas menjadi salah satu jalan alternatif untuk meluapkan emosi mereka. Dalam emosi yang sedang meletup-letup, semakin banyak pedas yang dimakan maka semakin puas kita meluapkan emosi tersebut. Ibaratkan sebuah suntikan yang menjadi semangat seketika bagi penggunanya. Namun dampak yang dapat kita rasakan secara tidak cepat ialah sakit pada organ dalam baik itu refluks asam, gastritis atau magh akut, maupun ulkus gaster atau tukak lambung. Ketiga penyakit tersebut merupakan penyakit pada lambung dengan jalan sakit yang berbeda.

Refluks asam semacam pengaliran kembali isi lambung ke dalam kerongkongan dapat menyebabkan nyeri, peradangan, serta kerusakan kerongkongan. Gastritis disebabkan karena peradangan dari mukosa lambung atau membran yang melapisi perut yang ditandai dengan gejala seperti muntah, mual, demam, diare, serta sakit kepala. Sedangkan ulkus gaster atau tukak lambung merupakan luka pada lapisan mukosa yang sensitif atau pada usus kecil atau juga di esofagus. Sebab itu perlu diadakannya rehabilitasi bagi mereka yang sudah tercandu pedas

Menurut ahli gizi Wendy Bazilian, DrPH, seperti dikutip di laman Health, anggapan bahwa cabai dapat menimbulkan  kerusakan pada lidah dan/atau kerongkongan adalah mitos. Tetapi bukan berarti makanan pedas tidak memiliki dampak buruk. Faktanya, ketika makan makanan super pedas, otak menerima sinyal “rasa sakit” yang dapat mengakibatkan sakit perut, mual, atau muntah. Perut bereaksi seolah-olah tubuh memakan zat beracun, sehingga perut bekerja untuk mengeluarkan “racun” yang baru dimakan tersebut. Jika muntah terus berlanjut, asam yang keluar dari perut dapat mengakibatkan luka pada kerongkongan. Tetapi hal ini bergantung pada jenis cabai yang dimakan dan seberapa parah kerusakan yang dibuatnya.

Menurut info, pada tahun 2016 terdapat kasus dimana seorang pria mendapati kerongkongan berlubang karena “terbakar” akibat mengonsumsi cabai bhut jolokia atau juga dikenal dengan sebutan ghost pepper, dalam sebuah kontes makan. Reaksinya lalu berlanjut dengan berkali-kali muntah. Selain itu, reaksi yang bisa muncul termasuk mati rasa dan kesulitan untuk bernapas.

Dari pengamatan yang telah dilakukan terhadap orang-orang sekitar, didapati beberapa diantaranya terkena penyakit lambung dan bahkan memperparah penyakit lambung yang dimiliki akibat konsumsi pedas. Menurut dr. Mega Putri, pada penderita magh, pedas bisa menjadi musuh dalam selimut. Meski sudah ada peringatan dari dokter atau orang-orang terdekat untuk mengurangi bahkan memberhentikan pemakaian pedas namun tidak dapat dipungkiri bahwa hal ini sangat sulit dilakukan bagi mereka yang telah terkena candu. Rehabilitas tersebut ibarat pemutus semangat bagi si pecandu.

Memang belum banyak kasus yang ditemukan akibat pedas, namun diharapkan tetap adanya kebijakan dalam asumsi makanan pedas. Lebih baik mengurangi daripada harus rehabilitasi. Karena percayalah bahwa menahan sesuatu yang sudah menjadi candu lebih sulit dibandingkan dengan upaya mengurangi sebelum terjerat candu tersebut.

#SehatTanpaBerlebihan.

Daftar Pustaka

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *