Orientasi Seksual, Genetik atau Norma

Ditulis oleh David Mafazi – Universitas Negeri Semarang Waw, alasan penelitian yang cukup menggelitik setiap pembaca, ini termasuk strategy “click […]

Ditulis oleh David Mafazi – Universitas Negeri Semarang

Waw, alasan penelitian yang cukup menggelitik setiap pembaca, ini termasuk strategy “click bait” disini saya tidak akan menulis ulang skripsi saya yang tebalnya mencapai 181 halaman, disini saya akan menceritakan perjuangan saya mendapatkan gelar sarjana Psikologi. Perjalanan membuat skripsi cukup panjang, pertama dimulai sejak mengambil mata kuliah “bimbingan menulis skripsi (BMS)” tertanggal 24 juni 2013 saat seminar proposal skripsi hingga 13 oktober 2016 saat ujian skripsi. Ini berarti saya mengerjakan skripsi selama 2 tahun 8 bulan, ditambah dengan pengambilan mata kuliah BMS selama 1 semester, aktif kuliah 4 bulan, genap 3 tahun.

Skripsi saya beberapa kali ganti judul, tepatnya 6 kali. BMS saya memiliki judul “keefektifan hypnoslimming dalam meningkatkan citra tubuh mahasiswi UNNES”. Judul ini diganti karena referensi hipnosis dinilai tidak memadai dan urgensi penelitian tidak kuat. Judul kedua adalah “keefektivitasan Daycare dalam meningkatkan konsep diri” apa itu Daycare? Daycare merupakan salah satu program di sebuah RSJ di kota Semarang. Programnya ngapain saja? Rahasia. Pada judul ini fenomena ada, namun tidak ada referensi yang mendukung, saat saya bertanya kepada penanggung jawab daycare, beliau tidak dapat memberikan literature karena tidak ada studi sebelumnya sebelum terkait program daycare ini, namun program ini di klaim efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri pasien. Bukankah saya sudah bagus mengajukan judul ini, membuat dukungan ilmiah atas perlakuan daycare. Mengapa daycare efektif dan berapa persen keefektivitasannya.

Judul saya yang ketiga adalah “kecenderungan heteroseksual pada mahasiswa di kota Semarang” judul yang cukup menarik ya teman-teman dosen saya kurang sepakat dengan penelitian saya karena memiliki social diserability yang tinggi, serta kan memang mayoritas manusia heteroseksual, kenapa di teliti? Sebenarnya judulnya mau saya buat menjadi kecenderungan homoseksual namun akan membuat judulnya menjadi tendensius. Akhirnya judul saya ditolak walaupun di masyarakat fenomenanya ada, referensinya juga sangat melimpah. Judul saya yang keempat adalah “perilaku seksual pada anak laki-laki pra-remaja di kota Semarang”. menurut Bem (1996), kecenderungan orientasi seksual bisa dilihat sejak masih anak-anak, bahkan dipengaruhi pada masa anak-anak. Namun dosen saya menolak dengan keras karena menurut mereka anak-anak tidak melakukan perilaku seksual. Padahal bergandengan tangan pun dapat dikategorikan sebagai perilaku seksual.

Saya kembali lagi kepada judul skripsi sebelumnya dengan sedikit perubahan judul menjadi “kecenderungan orientasi seksual pada laki-laki dewasa awal di kota Semarang”. Judul ini lebih netral, tidak menjurus ke salah satu jenis orientasi seksual. Namun dosen saya berkata “kok laki-laki saja? sekalian perempuannya”. Akhirnya saya mengganti judul untuk terakhir kalinya, yaitu “kecenderungan orientasi seksual pada dewasa awal di kota Semarang”. Alhamdulilah judul saya diterima, di jurusan saya memiliki keunikan, tepatnya pada angkatan saya, yaitu bila ganti judul tidak perlu seminar proposal dulu, sehingga tidak adanya kejelasan standar dan dosen juga ngoreksinya bila ada waktu, secara bukan termasuk tanggung jawabnya, sehingga di angkatan berikutnya bila ingin ganti judul wajib seminar proposal lagi. Mungkin ini yang menyebabkan angkatan saya masih pada menumpuk. Hahaha.

Mendapatkan judul barulah awal perjuangan. Saya tahu penelitian orientasi seksual di Indonesia masih sangat sedikit sekali, ditambah tidak adanya penggabung antara repository perpustakaan antara satu universitas ke universitas lainnya yang membuat kita harus membuka repository setiap universitas satu per satu. Untuk menguatkan latar belakang, tidak kurang dari 300 buku dan artikel ilmiah yang saya baca. Ya, ini tidak sebentar, saya membacanya kurang lebih 6 bulan, termasuk pergi ke Perpustakaan dan mengikuti berbagai seminar yang berkaitan dengan seksualitas di Indonesia. Sampai bertemu dengan dekan psikologi UIN Jakarta yang juga menaruh perhatian pada seksualitas. Ternyata beliau lebih condong ke perilaku seksual daripada orientasi seksual.

Pada awalnya, saya banyak membaca literature yang mendukung bahwa seksualitas merupakan faktor genetik seperti pada pernyataan Freud (Utama, 2013), Semium (2006), Ridley (2003), Kallman (Utama, 2013), Sanders (2014), LeVay (Morrow & Messinger, 2006), Lippa (2012), Kinsey (1948), Williams (2012), Bem (2008), dan Bogaert (2002), lalu saya berdebat (oke kita gunakan kata yang lebih sopan), berdiskusi dengan seorang dosen saya yang meyakinkan bahwa di luar juga banyak ilmuwan yang tidak setuju dengan pandangan bahwa orientasi seksual adalah bawaan lahir, pernyataan dari DSM 5 lebih merupakan pernyataan politik. Sehingga di DSM 5 terdapat catatan kaki untuk menyesuaikan dengan budaya sekitar. Akhirnya saya mulai mencari literatur yang tidak mendukung orientasi seksual merupakan genetik, saya mencarinya dengan malas-malasan. Ternyata banyak sekali penelitian yang menyatakan bahwa orientasi seksual sangat dipengaruhi oleh lingkungan.

Penelitian yang mendukung bahwa orientasi seksual merupakan dampak dari lingkungan sosial contohnya adalah penelitiannya Green dan Blanchard (Bennett, 2006), Skinner (Morrow & Messinger, 2006), Morrow dan Messinger (2006), Rowland and Incrocci (2008), Bem (1996), Bennett (2006), Kirk (2000), Zucker (Bennett, 2006), dan Hoffmann (2012). Kali ini saya mengalah, mengikuti apa keinginan dosen dimana melakukan penelitian yang lebih condong kepada norma yang berlaku. Toh keduanya sama-sama memiliki literature yang kuat, entah kenapa saya lebih senang meneliti yang bertentangan dengan norma yang berlaku. Hahahaha

Setelah menyusun ulang bab I, II dan III, saya baru menyadari bahwa penelitiannya Kinsey ternyata menggunakan teknik wawancara. Bagaimana tidak, saya sangat kaget dengan tekniknya mengingat subjeknya sebanyak 12.000 orang, 5.300 dari subjek laki-laki. Saya terperanjat seperti tersambar petir di siang bolong. Akhirnya saya memikirkan alternatif lain untuk pengambilan data, ini berarti saya butuh waktu untuk membaca buku lagi. Saya kembali mencari-cari di internet, ternyata mayoritas penelitian tidak mencantumkan alat ukurnya. Saya akhirnya mencari ilmuwan psikologi asli Indonesia yang sedang belajar di luar negeri, saya memanfaatkan PPI dunia, dan akhirnya mendapatkan kontak mbak Ajeng yang sedang belajar di Indiana University, Bloomington. Saya memberanikan diri bertanya kepada mbak Ajeng terkait perilaku profesor di luar negeri.

Mbak Ajeng memberikan pengertian bahwa profesor di luar lebih paham teknologi daripada profesor di Indonesia, lebih cepat menanggapi E-mail dan cenderung suka membantu. Saya mendapatkan pelajaran bahwa tidak semua mahasiswa yang kuliah di luar negeri mendaftarkan diri di PPI, PPI itu seperti BEM di kampus, ada yang ikut, ada yang tidak. Singkat cerita saya menghubungi beberapa ilmuwan di luar negeri, yaitu Brian A. Feinstein, Ph.D, Dr Gerulf Rieger, Jennifer Bass, M.P.H, Julia R. Heiman, Ph.D, Dr Qazi Rahman, dan DR. Kenneth M. Cohen. Dari konsultasi saya dengan mereka, akhirnya saya mendapatkan beberapa alat ukur orientasi dan perilaku seksual.

Berikut ini adalah alat ukur yang berhasil saya dapatkan hasil dari diskusi serta pencarian pribadi saya. Pertama alat ukur yang berupa pertanyaan langsung, atau lebih dikenal dengan Angket: Kinsey Scale (Kinsey & Et Al, 1948), Klein Sexual Orientation Grip (Klein & et al, 1985), Shively Scale of sexual orientation (Shively & DeCecco, 1977), Sell Assesment of sexual orientation (Sell, 1996), Friedman Measure of Adolescent Sexual Orientation (Friedman, n.d), Sociosexual Orientation Inventory (Penke & Asendorpf, 2008), About the Lives of Gays, Lesbians, & Bisexuals in the USSR Questionnaire (Schluter, 2002). Kedua adalah jenis skala berdasarkan perilaku subjek penelitian, skala ini memiliki social diserability tinggi bila dilakukan di Indonesia, karena berhubungan seksual sebelum menikah merupakan perbuatan yang melanggar norma masyarakat. Skala ini melihat perilaku berdasarkan gendernya. Contohnya adalah Bem Sex Role Inventory (Bem & Watson, 1976), Personal Attributes Questionnaire (Spence, 1975), Chinese Short Form of the Personal Attributes Questionnaire (Moneta, 2010), Childhood Gender Nonconformity (Rahman & et al, 2012), Childhood Sex-Atypical Behavior Questionnaire (Cohen, 2002), dan Strengths Questionnaire (Rieger & Savin-Williams, 2012). Akhirnya saya memilih skala yang dikembangkan oleh Feinstein, yaitu Attractions Questionnaire (Feinstein & et al, 2015).

Kenapa saya memilih skala ini? Ada beberapa alasan kenapa memilih skala ini, yang pertama adalah pertanyaannya hanya 6, tiap pertanyaan memiliki pilihan jawaban skala likert sebanyak 7 bulir. Tidak mudah meyakinkan dosen saya dengan sebuah skala yang pertanyaannya hanya 6, biasanya skala mengandung 40 sampai ratusan pertanyaan. Namun dengan konsultasi saya dengan para profesor maka argumentasi saya dapat diterima (entah argumen saya mulai masuk akal atau dosen sudah sebal melihat saya. Hahaha).

Cobaan sudah berakhir? Belum, Tuhan tidak akan kehabisan akal membuat masalah kepada hambanya. Pertengahan bulan Maret 2016 saya mendapat kabar bahwa dosen saya berhasil mendapatkan beasiswa S3 di luar negeri. Ini berarti saya harus menyelesaikan skripsi saya secepatnya atau saya harus ganti dosen pembimbing. Ganti dosen pembimbing berarti saya harus menjelaskan dari awal beserta argumentasi yang sudah saya keluarkan dan mayoritas saya sudah lupa ngomong apa saja. Akhirnya mengebut mengerjakannya.

Pengambilan data hanya berlangsung selama 6 hari, dari tanggal 4 – 10 agustus 2016 dengan cara daring. Tidak mudah menyakinkan dosen bahwa cara pengambilan data melalui internet sangat efektifdan modern, karena mayoritas teman-teman saya menyebar skala dengan hardcopy, ditambah pertanyaan saya yang cuman 6 buah. Namun akhirnya saya berhasil memenangkan argumentasi. Skala saya diisi oleh 507 subjek, namun yang valid hanya 449 subjek.

Perjuangan sudah berakhir? Ternyata belum bung, setelah saya menyebar skala, dosen saya mempertanyakan penerjemahan saya dari Feinstein yang berbahasa inggris, dosen dan saya memiliki pemahaman yang berbeda terhadap beberapa kalimat. Kembalilah kami beradu argumentasi. Dirumah saya berpikir bagaimana memenangkan argumentasi ini, akhirnya saya mendapatkan ide untuk meminta pernyataan pengalih bahasakan dari teman saya yang sudah S2 bernama Choerul Anwar S.S. M.Ikom. dengan ini saya kembali memenangkan pertarungan ini, yeeee. Bila saya kalah dalam diskusi ini, saya harus mengulangi mengambil data dengan perubahan menurut persepsi dosen saya. Dengan adanya surat pernyataan yang menyatakan bahwa terjemahan saya sudah sesuai, maka selamatlah saya dari pengambilan ulang data.

It’s over? Not yet. Hahahaha. Tuhan memang suka sekali bermain-main dengan saya, 26 agustus 2016 ayah saya meninggal dunia. Tidak ada cerita yang istimewa saat ayah meninggal, cerita yang menarik ada di kalimat selanjutnya. kemarin akhir agustus saya sudah sidang dengan dosen saya yang akan pergi ke Taiwan, ternyata secara Teknis, dosen saya tidak dapat memasukkan nilai karena sudah non-aktif. Jadi terpaksa saya sidang ulang dengan dosen pengganti, dengan sebelumnya mengajukan surat permohonan ganti dosen pembimbing. Dan penggantian ini membutuhkan waktu serta tenaga yang banyak.

Akhirnya saya sidang kembali pada tanggal 13 oktober 2016. Menyelesaikan revisi dan mendapatkan Surat keterangan lulus 4 November 2016. Saya wisuda 7 Maret 2017 yang tidak saya hadiri karena sudah berada di bogor.

References

  • Bem, D. J. (1996). Exotic Becomes Erotic: A Developmental Theory of Sexual Orientation. Psychological Review, 103(02), 320-335.
  • Bem, D. J. (2008). Is there a causal link between childhood gender nonconformity and adult homosexuality? Journal of Gay & Lesbian Mental Health, 12, pp. 61-79.
  • Bem, S. L., & Watson, C. (1976). Scoring packet: Bem Sex Role Inventory. Unpublished Manuscript.
  • Bennett, P. (2006). Abnormal and Clinical Psychology. England: McGraw-Hill Education.
  • Bogaert, A. F., & et al. (2002). Age of Puberty and Sexual Orientation in a National Probability Sample. Journal Archives of Sexual Behavior, 31, pp. 73–81.
  • Cohen, K. M. (2002). Relationships Among Childhood Sex Atypical Behavior, Spatial Ability, Handedness, and Sexual Orientation in Men. Journal Archives of Sexual Behavior, 31, pp. 129-143.
  • Feinstein, B. A., & et al. (2015). Sexual Orientation Prototypicality and Well-Being Among Heterosexual and Sexual Minority Adults. Journal Arch Sex Behav, 44, pp. 1415–1422.
  • Friedman, M. (n.d). Friedman Measure of Adolescent Sexual Orientation. n.p.
  • Hoffmann, H. (2012). Considering the Role of Conditioning in Sexual Orientation. Journal Arch Sex Behav, 41, pp. 63-71.
  • Kinsey, A. C., & Et Al. (1948). Sexual Behavior In The Human Male. Philadelphia: W.B. Saunders.
  • Kirk, K.M, K. M., & et al. (2000). Measurement Models for Sexual Orientation in a Community Twin Sample. Journal Behavior Genetics, 30.
  • Klein, F., & et al. (1985). Sexual orientation: A multi-variable dynamic process. Journal Homosexuality, 11, pp. 35-49.
  • Lippa, R. A. (2012). Effects of Sex and Sexual Orientation on Self-Reported Attraction and Viewing Times to Images of Men and Women: Testing for Category Specificity. 41, pp. 149–160.
  • Moneta, G. B. (2010). Chinese Short Form of the Personal Attributes Questionnaire: Construct and Concurrent Validity. Journal Sex Roles, 62, pp. 334-346.
  • Morrow, D. F., & Messinger, L. (2006). Sexual Orientation and Gender Expression in social Work Practice. New York: Columbia University Press.
  • Penke, L., & Asendorpf, J. B. (2008). Beyond Global Sociosexual Orientations: A More Differentiated Look at So ciosexuality and its Effects on Courtship and Romantic Relationships. Journal of Personality and Social Psychology, 5, pp. 1113-1135.
  • Rahman, Q., & et al. (2012). Gender Nonconformity, Intelligence, and Sexual Orientation. Journal Arch Sex Behav, 41, pp. 623–630.
  • Ridley, M. (2003). Red Queen: Sex And Evolution of human Nature. New York: Harper Collins.
  • Rieger, G., & Savin-Williams, R. C. (2012). Gender Nonconformity, Sexual Orientation, and Psychological Well-Being. Journal Arch Sex Behav, 41, pp. 611–621.
  • Rowland, D. L., & Incrocci, L. (2008). Handbook of Sexual and Gender Identity Disorders. New Jersey: John Wiley & Sons Inc.
  • S Williams, R. C., & et al. (2012). Prevalence and Stability of Self-Reported Sexual Orientation Identity During Young Adulthood. Arch Sex Behav, 41, pp. 103-110.
  • Sanders, A. R., & et al. (2014). Genome-Wide Scan Demonstrates Significant Linkage for Male Sexual Orientation. Journal Psychological Medicine, 1-10.
  • Schluter, D. P. (2002). Gay Life in the Former USSR. Fraternity without Community.
  • Sell, R. L. (1996). The Sell Assessment of Sexual Orientation: Background and Scoring. Journal of Lesbian, Gay and Bisexual Identity, 1, pp. 295-310.
  • Semium, Y. (2006). Kesehatan mental 2. Yogyakarta: Kanisius.
  • Shively, M. G., & DeCecco, J. P. (1977). Components of sexual identity. Journal Homosexuality, 3, pp. 41-48.
  • Spence, J. T. (1975). Ratings of Self and Peers on Sex Role Attributes and Their Relations to Self-Esteem and Conceptions of Masculinity and Femininity. Journal of Personality and Social Psychology, 32, pp. 29-39.
  • Utama, T. L. (2013). Seksualitas Rasa Rainbow Cake. Yogyakarta: PKBI DIY.

 

 

1 komentar untuk “Orientasi Seksual, Genetik atau Norma”

  1. saya sedang mengerjakan penelitian tentang orientasi seksual juga.. apakah saya bisa meminta norma dana alat ukur yang anda gunakan?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *