Kayu jati dikenal sebagai salah satu jenis kayu paling berharga di dunia. Seratnya yang indah, kekuatannya yang luar biasa, dan ketahanannya terhadap cuaca membuat kayu ini menjadi favorit untuk furnitur mewah, konstruksi bangunan, dan berbagai produk bernilai tinggi. Di India, jati atau Tectona grandis memiliki peran ekonomi yang sangat penting. Namun, nilai ekonominya yang tinggi pula yang membuat jati menjadi sasaran pembalakan liar. Banyak pohon ditebang tanpa izin, dan kayunya diperdagangkan tanpa dokumen resmi. Masalah ini semakin sulit diatasi karena kayu jati yang diperdagangkan biasanya sudah berupa papan atau balok sehingga tidak mudah dikenali dari penampilannya saja.
Para peneliti kemudian mencari cara untuk menelusuri asal usul kayu jati secara ilmiah. Mereka memanfaatkan penanda genetik yang disebut SSR atau Simple Sequence Repeat untuk mengidentifikasi kayu berdasarkan profil DNA. Teknologi ini mirip seperti pemeriksaan sidik jari pada manusia, tetapi yang diperiksa adalah pola DNA dalam jaringan kayu. Pendekatan ilmiah ini memungkinkan pihak berwenang memastikan apakah kayu yang beredar berasal dari sumber resmi atau hasil penebangan ilegal.
Baca juga artikel tentang: Polandia Terendam, Dunia Terancam: Pelajaran dari Riset Sungai Warta tentang Krisis Iklim
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Forestry pada tahun dua ribu dua puluh lima menjelaskan bagaimana penanda SSR digunakan untuk mengembangkan sistem identifikasi individu kayu jati di India. Tujuan utama penelitian ini adalah menciptakan teknik forensik kehutanan yang dapat memverifikasi asal geografis suatu sampel kayu. Verifikasi ini sangat penting karena berbagai daerah memiliki populasi jati dengan karakter genetik yang berbeda. Dengan mengetahui pola tersebut, penyidik dapat menyesuaikan sampel kayu selundupan dengan hutan asalnya.
Para peneliti mulai dengan mengumpulkan berbagai sampel kayu jati dari banyak lokasi berbeda. Mereka kemudian menggunakan penanda SSR untuk memetakan profil genetik setiap sampel. Profil genetik ini mencerminkan urutan DNA tertentu yang dapat digunakan sebagai identitas. Semakin banyak penanda yang digunakan, semakin akurat identifikasi yang diperoleh. Setelah profil tersusun, para peneliti mengembangkan sebuah basis data rujukan berisi informasi genetik populasi kayu jati dari berbagai daerah di India.
Penelitian ini juga memeriksa kecocokan antara sampel kayu selundupan dan sampel pembanding di basis data. Hasilnya menunjukkan kecocokan sempurna antara sampel kayu yang disita dan sampel kayu pembanding dari populasi asal. Temuan ini memastikan bahwa penanda SSR dapat digunakan sebagai alat forensik yang sangat efektif. Dengan data genetik, penyidik dapat menunjukkan bahwa kayu tertentu benar benar berasal dari daerah tertentu dan dipanen tanpa izin. Bukti ilmiah seperti ini memberikan kekuatan hukum yang besar bagi pihak berwenang.
Para peneliti kemudian mengevaluasi berbagai metode untuk menugaskan atau mengelompokkan sampel kayu berdasarkan asal usulnya. Mereka menguji pendekatan jarak genetik, model statistika, serta algoritma machine learning. Dari semua metode yang diuji, algoritma bernama Mycorrhiza dianggap paling efektif. Algoritma ini mampu memproses data genetik dengan lebih baik dan memberikan hasil klasifikasi yang lebih akurat. Namun, penelitian juga mencatat bahwa penggunaan metode ini masih terbatas untuk beberapa populasi jati tertentu yang tingkat variasi genetiknya rendah. Ketika populasi memiliki pencampuran genetik yang luas, identifikasi asal geografis menjadi lebih menantang.
Walaupun demikian, algoritma ini tetap terbukti mampu mengidentifikasi asal usul dua perkebunan jati di India. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua perkebunan tersebut memiliki asal genetik yang sama. Kedua perkebunan tersebut menggunakan benih dari banyak populasi alam melalui kebun benih dan pusat produksi benih. Informasi ini penting untuk memetakan jalur distribusi benih dan memahami bagaimana variasi genetik terbentuk dalam populasi jati yang dikelola secara komersial.
Teknik SSR yang digunakan dalam penelitian ini memiliki nilai besar dalam upaya pelestarian hutan. Dengan kemampuan untuk membedakan kayu sah dan kayu ilegal, pemerintah dapat memperbaiki pengawasan rantai pasokan kayu. Sistem ini membantu memastikan bahwa kayu yang diperdagangkan benar benar memiliki sertifikasi resmi. Ketika kemampuan identifikasi ini tersedia, risiko terjadinya pemalsuan dokumen berkurang drastis. Pengusaha yang mencoba menyamarkan kayu ilegal sebagai kayu sah dapat terdeteksi dengan mudah melalui pemeriksaan DNA.
Para peneliti juga menekankan pentingnya membangun basis data global yang berisi informasi genetik kayu dari berbagai negara. Basis data semacam ini akan sangat membantu perdagangan internasional dan meningkatkan kemampuan penegakan hukum di tingkat global. Banyak negara mengekspor kayu jati, dan perdagangan lintas batas sering kali menjadi celah bagi pelaku pembalakan liar. Dengan adanya basis data bersama, setiap negara dapat memverifikasi kayu yang masuk dan keluar wilayahnya dengan cara yang konsisten.
Penelitian ini memberikan harapan bagi masa depan konservasi hutan. Ketika teknologi semakin berkembang, alat identifikasi genetik dapat menjadi bagian penting dari pengawasan hutan modern. Cara ini jauh lebih akurat dibandingkan cara tradisional yang mengandalkan pengamatan fisik atau dokumen. Teknologi DNA membuka jalan bagi sistem penelusuran kayu yang transparan. Perdagangan kayu dapat dipantau dengan lebih ketat sehingga pelaku yang melanggar aturan dapat ditindak secara tegas.
Keberhasilan penerapan teknologi SSR di India dapat menjadi contoh bagi negara negara lain yang menghadapi masalah pembalakan liar. Teknologi ini memberikan bukti bahwa sains dapat berperan langsung dalam melindungi lingkungan. Ketika kayu dapat ditelusuri asalnya, hutan yang menjadi sumber kehidupan bagi jutaan makhluk hidup juga ikut terlindungi. Masyarakat pun memperoleh manfaat ketika sumber daya alam dikelola secara berkelanjutan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi genetik bukan hanya milik laboratorium, tetapi juga alat penting dalam menyelamatkan hutan. Dengan menggabungkan keilmuan, basis data, dan algoritma pintar, pelacakan kayu jati dapat dilakukan dengan sangat akurat. Ketika teknologi ini diterapkan secara luas, pembalakan liar akan semakin sulit dilakukan. Hutan jati yang selama ini terancam dapat kembali mendapatkan perlindungan yang layak untuk keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat.
Baca juga artikel tentang: Dari Zaman Es ke Era Pemanasan Global: Pelajaran Berharga bagi Keanekaragaman Flora
REFERENSI:
Balakrishnan, Swathi dkk. 2025. SSR marker-based individual identification system to trace illegal logging and geographic origin of teak (Tectona grandis L.f.) wood in India. Forestry: An International Journal of Forest Research 98 (2), 204-219.

