Kesehatan

Siapa Sangka, Kulit Lidah Buaya Ternyata Menyimpan Partikel Nano Penyembuh Luka

Kulit lidah buaya selama ini sering dianggap sebagai limbah yang tidak memiliki banyak manfaat. Sebagian besar orang hanya mengambil gel bening di bagian tengah daun untuk dijadikan minuman, bahan kosmetik, atau obat tradisional, kemudian membuang kulitnya begitu saja. Namun, pandangan…

Bagikan artikel ini
WhatsApp Email

Kulit lidah buaya selama ini sering dianggap sebagai limbah yang tidak memiliki banyak manfaat. Sebagian besar orang hanya mengambil gel bening di bagian tengah daun untuk dijadikan minuman, bahan kosmetik, atau obat tradisional, kemudian membuang kulitnya begitu saja. Namun, pandangan tersebut mulai berubah setelah para ilmuwan menemukan bahwa kulit lidah buaya ternyata menyimpan partikel biologis berukuran nano yang mampu membantu mempercepat penyembuhan luka. Penemuan ini menjadi sangat penting karena luka pada penderita diabetes merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sulit ditangani dan sering kali berakhir dengan amputasi apabila tidak mendapatkan perawatan yang tepat.

Penelitian yang diterbitkan pada tahun 2026 dalam jurnal Frontiers in Bioengineering and Biotechnology menunjukkan bahwa partikel nano yang berasal dari kulit lidah buaya dapat dikombinasikan dengan hidrogel untuk menghasilkan pembalut luka yang jauh lebih efektif dibandingkan pemberian partikel tersebut secara langsung. Dalam penelitian menggunakan tikus diabetes, hidrogel ini mampu mempercepat penutupan luka, mengurangi peradangan, meningkatkan pembentukan kolagen, serta menghasilkan jaringan kulit baru yang lebih teratur. Hasil tersebut membuka peluang baru bagi pemanfaatan limbah pertanian menjadi teknologi medis bernilai tinggi.

Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada

Luka pada penderita diabetes berbeda dengan luka yang dialami oleh orang tanpa diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama mengganggu hampir seluruh proses penyembuhan. Aliran darah menuju jaringan yang rusak menjadi kurang optimal sehingga pasokan oksigen dan nutrisi ikut menurun. Pada saat yang sama, sel kulit kehilangan kemampuan untuk berkembang dan bergerak dengan cepat menuju area luka. Akibatnya, luka yang sebenarnya kecil dapat berubah menjadi luka kronis yang bertahan selama berbulan bulan bahkan bertahun tahun.

Peradangan yang berkepanjangan juga menjadi penyebab utama mengapa luka diabetes sulit sembuh. Tubuh memang memerlukan peradangan untuk membersihkan jaringan yang rusak dan melawan mikroorganisme. Namun, ketika proses tersebut berlangsung terlalu lama, jaringan sehat justru ikut mengalami kerusakan. Kondisi ini membuat pembentukan kulit baru menjadi sangat lambat. Tidak mengherankan apabila penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi berat hingga amputasi dibandingkan orang yang tidak menderita diabetes.

Selama bertahun tahun para peneliti berusaha mengembangkan berbagai jenis pembalut luka yang mampu mengatasi masalah tersebut. Salah satu pendekatan yang paling menjanjikan adalah penggunaan hidrogel. Hidrogel merupakan bahan lunak yang mengandung air dalam jumlah sangat tinggi sehingga mampu menjaga kelembapan luka pada tingkat yang ideal. Lingkungan yang lembap memungkinkan sel kulit bergerak lebih cepat untuk menutup permukaan luka sekaligus mengurangi rasa nyeri akibat jaringan yang mengering.

Namun, hidrogel tidak hanya berfungsi sebagai pembalut biasa. Material ini juga dapat menjadi tempat penyimpanan berbagai senyawa bioaktif yang dilepaskan secara perlahan selama proses penyembuhan berlangsung. Karena alasan inilah banyak ilmuwan mencoba menggabungkan hidrogel dengan berbagai bahan alami yang memiliki kemampuan mempercepat regenerasi jaringan.

Lidah buaya menjadi salah satu tanaman yang paling banyak dipelajari dalam bidang penyembuhan luka. Gel bening di bagian tengah daunnya diketahui mengandung polisakarida, vitamin, mineral, enzim, serta berbagai senyawa antioksidan yang membantu menjaga kelembapan kulit dan merangsang pembentukan jaringan baru. Akan tetapi, penelitian terbaru justru mengalihkan perhatian pada bagian kulitnya. Bagian ini selama ini hampir tidak pernah dimanfaatkan, padahal ternyata mengandung partikel biologis yang sangat menarik.

Partikel tersebut dikenal sebagai extracellular vesicle mimetics, yaitu partikel buatan yang memiliki karakteristik menyerupai vesikel ekstraseluler alami. Vesikel ekstraseluler merupakan kantong kecil yang digunakan sel untuk saling berkomunikasi. Kantong tersebut membawa protein, lipid, serta berbagai molekul biologis lain yang dapat memengaruhi perilaku sel penerimanya. Para ilmuwan berhasil menghasilkan partikel peniru vesikel ekstraseluler dari kulit lidah buaya melalui proses homogenisasi bertekanan tinggi dan ultrasentrifugasi sehingga partikel tersebut dapat diproduksi dalam jumlah yang lebih besar.

Langkah pertama dalam penelitian ini adalah memastikan bahwa partikel nano tersebut aman bagi sel. Para peneliti menguji partikel pada sel keratinosit manusia, yaitu sel utama penyusun lapisan terluar kulit. Hasil pengujian menunjukkan bahwa partikel dari kulit lidah buaya memiliki biokompatibilitas yang baik sehingga tidak menimbulkan efek toksik terhadap sel. Bahkan, partikel tersebut mampu meningkatkan pertumbuhan dan pergerakan keratinosit. Kedua proses ini sangat penting karena keratinosit bertugas menutup permukaan luka yang terbuka.

Selain membantu pertumbuhan sel kulit, partikel nano juga menunjukkan kemampuan yang kuat dalam mengurangi peradangan. Para peneliti menemukan bahwa partikel dari kulit lidah buaya mampu menghambat aktivasi jalur NF kappa B. Jalur ini merupakan salah satu pengendali utama proses inflamasi di dalam tubuh. Ketika aktivitasnya ditekan, produksi berbagai molekul pemicu peradangan seperti TNF alfa, interleukin satu beta, dan interleukin enam ikut menurun. Penurunan molekul molekul tersebut menciptakan lingkungan yang jauh lebih kondusif bagi proses regenerasi jaringan.

Gambar ini menunjukkan bahwa hidrogel HG-EVM secara signifikan mempercepat penyembuhan luka diabetes dengan mempercepat penutupan luka, meningkatkan pembentukan kolagen dan regenerasi jaringan, serta menurunkan ekspresi sitokin inflamasi TNF-α dan IL-1β dibandingkan kelompok kontrol (Wang, dkk. 2026).

Meskipun hasil tersebut sangat baik, para peneliti menyadari bahwa partikel nano tidak dapat bekerja secara optimal apabila langsung diberikan pada permukaan luka. Sebagian partikel dapat cepat hilang atau mengalami kerusakan sebelum sempat masuk ke dalam jaringan. Oleh karena itu mereka mengembangkan hidrogel khusus sebagai media penghantar.

Tim peneliti membandingkan dua jenis hidrogel yang berbeda. Salah satunya menggunakan bahan berbasis Sangelose, sedangkan yang lainnya menggunakan Carbomer. Setelah melalui berbagai pengujian, hidrogel berbasis Sangelose terbukti lebih mampu mempertahankan struktur partikel nano sehingga dipilih sebagai formulasi terbaik. Hidrogel ini menjaga partikel tetap stabil sekaligus melepaskannya secara perlahan pada permukaan luka.

Tahap berikutnya menjadi bagian yang paling penting dalam penelitian ini. Para ilmuwan menguji efektivitas hidrogel pada tikus yang menderita diabetes dan memiliki luka pada kulit. Hewan percobaan dibagi menjadi beberapa kelompok sehingga hasil setiap perlakuan dapat dibandingkan secara objektif. Selama proses penyembuhan, para peneliti mengamati luas luka, perubahan jaringan, serta berbagai penanda biologis yang berkaitan dengan regenerasi kulit.

Hasilnya menunjukkan bahwa hidrogel yang mengandung partikel nano dari kulit lidah buaya memberikan hasil paling baik. Tingkat penutupan luka mencapai sekitar 97,2 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pemberian partikel nano secara langsung yang mencapai sekitar 94,9 persen. Walaupun selisihnya terlihat kecil, perbedaan tersebut menunjukkan bahwa cara penghantaran bahan aktif sangat menentukan keberhasilan terapi.

Pengamatan menggunakan mikroskop memberikan bukti yang semakin kuat. Luka yang mendapatkan hidrogel menunjukkan pembentukan lapisan epidermis yang lebih sempurna. Kolagen juga terbentuk dalam jumlah lebih banyak dengan susunan serat yang lebih teratur. Kolagen merupakan protein utama penyusun kulit sehingga kualitas pembentukannya sangat menentukan kekuatan jaringan baru setelah luka sembuh. Selain itu, jumlah sel radang pada area luka juga berkurang secara nyata sehingga proses penyembuhan berlangsung lebih cepat.

Keunggulan lain dari penelitian ini adalah pemanfaatan limbah yang selama ini kurang bernilai. Industri pengolahan lidah buaya menghasilkan kulit dalam jumlah besar yang umumnya dibuang begitu saja. Penelitian ini menunjukkan bahwa limbah tersebut ternyata masih menyimpan komponen biologis yang sangat berharga. Apabila teknologi ini berhasil dikembangkan dalam skala industri, kulit lidah buaya dapat berubah dari limbah pertanian menjadi bahan baku produk medis dengan nilai ekonomi yang tinggi.

Meskipun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, para ilmuwan mengingatkan bahwa seluruh pengujian masih dilakukan pada kultur sel dan hewan percobaan. Penelitian lanjutan pada manusia tetap diperlukan untuk memastikan keamanan, efektivitas, dosis yang paling sesuai, serta manfaat jangka panjangnya. Proses tersebut memerlukan waktu karena setiap teknologi medis harus melalui serangkaian uji yang ketat sebelum dapat digunakan secara luas.

Penelitian ini menunjukkan bahwa inovasi besar sering muncul dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak berguna. Kulit lidah buaya yang biasanya berakhir sebagai limbah ternyata menyimpan partikel nano yang mampu mempercepat pertumbuhan sel kulit, mengurangi peradangan, meningkatkan pembentukan kolagen, dan mempercepat penyembuhan luka diabetes. Jika penelitian selanjutnya berhasil membuktikan manfaat yang sama pada manusia, limbah sederhana ini berpotensi menjadi bahan utama pembalut luka generasi baru yang lebih efektif, lebih ramah lingkungan, sekaligus memberikan harapan baru bagi jutaan penderita diabetes di seluruh dunia.

Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya

REFERENSI:

Wang, Jiatong dkk. 2026. Hydroxypropyl methylcellulose stearoxy ether hydrogel loaded with aloe vera peel-derived extracellular vesicle mimetics promotes wound healing in diabetic mice. Frontiers in Bioengineering and Biotechnology 14, 1768930.

Maratus Sholikah
TENTANG PENULIS

Maratus Sholikah

Green-Tech Writer dengan 7 tahun pengalaman dan 3.000+ artikel Science & Sustainability yang sudah dipublikasikan. Spesialis mengubah riset kompleks menjadi narasi jernih berbasis data. Karyanya menjangkau topik Green Technology, Biodiversity, hingga Climate Science untuk media sains dan platform digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

✳ SAINS DALAM GAMBAR

Warstek di Instagram

@warstek_com ↗
Robot beli? Mana paten, bikin lah. Sebuah robot kecil bersiap di tanah. Bentuknya menyerupai rangka melengkung yang dilengkapi karet, jauh dari gambaran…▧ Carousel

Robot beli? Mana paten, bikin lah. Sebuah robot kecil bersiap di tanah. Bentuknya menyerupai rangka melengkung yang dilengkapi karet, jauh dari gambaran robot berkaki…

Segumpal lendir hitam bergerak mendekati baterai kancing. Tubuhnya melebar, melingkar, lalu membungkus benda itu sampai tertutup. Setelah dipotong, bagian tubuhnya bahkan bisa…▧ Carousel

Segumpal lendir hitam bergerak mendekati baterai kancing. Tubuhnya melebar, melingkar, lalu membungkus benda itu sampai tertutup. Setelah dipotong, bagian tubuhnya bahkan bisa disatukan kembali.

Pesulap merah nggak bisa mendemonstrasikan sulap ini. Sebuah figur kecil menyerupai manusia berdiri di balik jeruji. Tubuhnya terlalu besar untuk melewati celah.…▧ Carousel

Pesulap merah nggak bisa mendemonstrasikan sulap ini. Sebuah figur kecil menyerupai manusia berdiri di balik jeruji. Tubuhnya terlalu besar untuk melewati celah. Namun, alih-alih…