Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu bentuk AI yang paling banyak diperbincangkan adalah generative AI, yaitu teknologi yang mampu menghasilkan tulisan, gambar, musik, bahkan solusi untuk tugas akademik hanya melalui instruksi sederhana dari pengguna. Di kampus dan lingkungan pendidikan tinggi, penggunaan generative AI sudah menjadi bagian dari keseharian mahasiswa dalam belajar dan menyelesaikan tugas.
Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal The Internet and Higher Education pada tahun 2025 menunjukkan bahwa fenomena ini tidak sepenuhnya membawa dampak positif tanpa risiko. Penelitian yang dilakukan oleh Ling Zhang dan Junzhou Xu mengungkap sebuah paradoks menarik. Penggunaan generative AI memang dapat meningkatkan percaya diri mahasiswa dalam belajar, tetapi pada saat yang sama membuat mereka semakin bergantung pada teknologi tersebut.
Baca juga artikel tentang: Masa Depan Ilmu Material: Cavity Elektro-Optik dan Pengaruhnya terhadap Teknologi Kuantum
Penelitian ini dilakukan terhadap 348 mahasiswa universitas dengan 200 respons valid yang dianalisis. Tujuan utama penelitian ini adalah menilai bagaimana penggunaan alat berbasis generative AI, seperti ChatGPT dan aplikasi serupa, mempengaruhi proses belajar mahasiswa, khususnya dalam penyelesaian tugas dan perkembangan kemampuan belajar mereka secara mandiri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin sering mahasiswa menggunakan generative AI, semakin tinggi rasa percaya diri yang muncul dalam proses belajar. Mereka merasa lebih mampu memahami materi, lebih cepat menyelesaikan tugas, dan lebih yakin terhadap jawaban yang diberikan karena memperoleh dukungan kecerdasan buatan. AI dianggap sebagai pemandu yang membantu mereka menembus kesulitan-kesulitan yang sebelumnya menghambat pemahaman.
Namun, peningkatan rasa percaya diri ini ternyata memiliki sisi lain yang cukup mengkhawatirkan. Para peneliti menemukan bahwa peningkatan penggunaan AI juga secara signifikan meningkatkan ketergantungan mahasiswa terhadap teknologi tersebut. Mahasiswa yang awalnya menggunakan AI hanya sebagai alat bantu, perlahan menjadikannya sumber utama dalam menyelesaikan masalah akademik. Mereka cenderung langsung bergantung pada jawaban dari AI dibandingkan mencoba berpikir atau mencari solusi secara mandiri terlebih dahulu.
Paradoks ini menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan. Teknologi hadir sebagai alat yang dirancang untuk mempermudah proses belajar, tetapi apabila terlalu diandalkan, teknologi itu berpotensi menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kepercayaan diri yang berbasis pada kemampuan diri sendiri. Dalam konteks pendidikan tinggi, di mana tujuan utamanya adalah membentuk individu yang mandiri dan mampu memecahkan masalah kompleks, ketergantungan berlebihan pada alat otomatis seperti generative AI dapat menjadi tantangan besar.
Penelitian ini juga memberikan wawasan mengenai peran AI dalam menciptakan inklusivitas pendidikan. Dengan bantuan AI, mahasiswa yang sebelumnya mengalami hambatan dalam memahami materi akademik dapat merasakan peningkatan yang signifikan. Teknologi mampu menjembatani kesenjangan akses terhadap sumber belajar, terutama bagi mahasiswa dengan gaya belajar yang berbeda atau yang tidak memiliki jaringan dukungan belajar yang kuat. Ini berarti bahwa generative AI memiliki potensi untuk memperluas akses pendidikan berkualitas dan memperkuat sistem pendidikan yang lebih adil.
Namun, inklusivitas ini hanya dapat tercapai apabila penggunaan AI dilakukan dengan pengawasan dan arahan yang tepat. Tanpa kebijakan yang jelas, ada risiko bahwa mahasiswa dengan kemampuan literasi teknologi yang rendah justru akan menghadapi kesulitan baru. Teknologi hanya akan menguntungkan mereka yang sudah lebih siap dan mahir memanfaatkannya, sehingga ketimpangan pendidikan dapat semakin melebar.
Peneliti menekankan bahwa institusi pendidikan perlu menyusun strategi penggunaan AI dalam pembelajaran dengan sangat bijaksana. Kampus perlu menciptakan lingkungan belajar yang memanfaatkan teknologi untuk memperkuat proses pembelajaran, namun tetap menjaga kemampuan belajar mandiri mahasiswa. Generative AI hendaknya dilihat sebagai alat pendukung, bukan sebagai pengganti kemampuan intelektual mahasiswa itu sendiri.
Para peneliti juga menyarankan agar kurikulum pendidikan tinggi mulai memasukkan literasi AI sebagai kompetensi dasar yang harus dikuasai mahasiswa. Mahasiswa perlu memahami cara kerja teknologi yang mereka gunakan, memahami batasan keakuratannya, serta memiliki kemampuan untuk memverifikasi dan mengolah informasi yang dihasilkan AI. Dengan demikian, mereka tidak akan menerima setiap hasil keluaran AI begitu saja, tetapi tetap mengolahnya dengan pemikiran kritis.
Selain itu, penting bagi pendidik untuk mengembangkan metode evaluasi pendidikan yang adil dan tetap mencerminkan kemampuan asli mahasiswa. Dengan semakin maraknya penggunaan AI, evaluasi yang hanya mengandalkan tugas tertulis atau tes terbuka dapat menjadi kurang relevan. Kampus bisa memperkuat pendekatan pembelajaran berbasis diskusi, studi kasus, presentasi, atau penilaian yang memerlukan refleksi pribadi, di mana kontribusi autentik mahasiswa tetap menjadi fokus utama.
Pada akhirnya, teknologi generative AI tidak dapat dipungkiri telah menjadi bagian dari masa depan pendidikan. Dunia pendidikan justru akan semakin tertinggal jika mencoba menolak perkembangan ini. Namun, penelitian ini mengingatkan bahwa setiap inovasi memiliki dua sisi yang harus dikelola. AI dapat memicu lahirnya generasi mahasiswa yang lebih percaya diri dan efisien dalam belajar. Tetapi, tanpa perhatian khusus, ketergantungan pada teknologi dapat mengurangi kemampuan dasar yang esensial untuk bertahan di dunia nyata.
Universitas dan para pendidik memegang peran penting dalam menavigasi keseimbangan tersebut. Penggunaan AI harus diarahkan agar mahasiswa tetap memiliki kesempatan untuk mengembangkan kompetensi diri secara utuh. Hasil penelitian ini dapat menjadi panduan penting dalam menyusun kebijakan pendidikan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Generative AI telah membuka peluang baru dalam pembelajaran. Tantangannya kini adalah bagaimana kita memastikan bahwa teknologi tersebut memperkaya proses edukasi dan bukan menggantikannya. Dunia pendidikan perlu melangkah maju dan berinovasi, tetapi tetap menjaga prinsip utama pendidikan yang sejati, yaitu membentuk manusia yang berpikir mandiri, kritis, dan mampu berkembang tanpa batas.
Baca juga artikel tentang: Kabut Pintar dan Kelembapan Terkontrol: Teknologi Baru Menjaga Buah dan Sayur Segar dari Ladang ke Meja Makan
REFERENSI:
Zhang, Ling & Xu, Junzhou. 2025. The paradox of self-efficacy and technological dependence: Unraveling generative AI’s impact on university students’ task completion. The Internet and Higher Education 65, 100978.

