Perburuan Virus Hepatitis C: Strategi Dunia Menghapus Salah Satu Pembunuh Tersenyap

Upaya global untuk menghilangkan hepatitis C memasuki babak yang semakin menentukan. Para peneliti dan organisasi kesehatan internasional melihat peluang yang […]

Upaya global untuk menghilangkan hepatitis C memasuki babak yang semakin menentukan. Para peneliti dan organisasi kesehatan internasional melihat peluang yang belum pernah sebesar ini untuk mengakhiri salah satu infeksi virus paling mematikan di dunia. Hepatitis C selama beberapa dekade menjadi penyakit senyap yang berkembang melalui darah yang terinfeksi dan cairan tubuh, menyerang hati secara perlahan hingga menyebabkan sirosis, kanker hati, dan kematian. Namun kemajuan medis dan strategi kesehatan publik membuat dunia mulai membayangkan masa depan tanpa hepatitis C.

Untuk memahami mengapa eliminasi menjadi agenda besar dunia, kita perlu melihat gambaran global beberapa tahun terakhir. Pada 2019, sekitar 58 juta orang di seluruh dunia hidup dengan hepatitis C. Angka kematian mencapai 290 ribu jiwa setiap tahun akibat komplikasi terkait penyakit ini. Padahal hepatitis C sebenarnya dapat disembuhkan sepenuhnya dengan obat modern yang disebut Direct-Acting Antivirals atau DAA. Obat ini menawarkan tingkat kesembuhan lebih dari sembilan puluh lima persen dalam waktu pengobatan delapan hingga dua belas minggu. Artinya, dunia sebenarnya memiliki teknologi yang mampu menghapus penyakit ini. Tantangannya bukan pada kemampuan medis, melainkan pada bagaimana mengatasi hambatan sosial, ekonomi, dan sistem kesehatan yang menghalangi akses masyarakat terhadap diagnosis dan pengobatan.

Baca juga artikel tentang: Cahaya dan Kimia: Sinergi Baru dalam Perawatan Kanker Payudara

Salah satu hambatan terbesar muncul dari rendahnya tingkat diagnosis. Hepatitis C sering disebut sebagai silent killer karena tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Banyak orang baru mengetahui bahwa mereka terinfeksi setelah mengalami kerusakan hati yang parah. Negara dengan sistem kesehatan terbatas juga kerap tidak memiliki layanan skrining yang terjangkau dan mudah diakses. Tes hepatitis C sering kali dilakukan di rumah sakit yang jaraknya jauh, atau biayanya terlalu tinggi untuk masyarakat ekonomi rendah. Kondisi ini menciptakan lingkaran masalah: banyak orang tidak tahu bahwa mereka terinfeksi, sehingga mereka tidak mencari pengobatan dan tanpa sadar berpotensi menularkan virus kepada orang lain.

Selain akses tes yang terbatas, biaya pengobatan juga menjadi batu sandungan besar. Meskipun harga DAA sudah jauh menurun dibandingkan saat pertama kali diperkenalkan, banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah masih kesulitan menyediakan obat ini secara luas. Beberapa negara telah membuat program subsidi atau negosiasi harga dengan perusahaan farmasi, tetapi belum semuanya mampu melakukannya. Ketika obat tersedia namun tidak terjangkau, eliminasi hepatitis C hanya menjadi cita-cita di atas kertas.

Faktor sosial seperti stigma memperburuk persoalan. Hepatitis C sering dikaitkan dengan penggunaan narkoba suntik, padahal penularan juga bisa terjadi melalui alat medis yang tidak steril, tato yang tidak aman, serta transfusi darah di negara dengan sistem skrining yang lemah. Namun citra negatif terhadap penyakit ini membuat sebagian penderita enggan memeriksakan diri atau mengungkapkan status kesehatan mereka. Ketakutan akan diskriminasi membuat mereka menjauh dari layanan kesehatan dan menunda pengobatan.

Kelompok rentan seperti pengguna narkoba suntik menghadapi tantangan yang lebih berat. Banyak dari mereka hidup di lingkungan marginal, memiliki keterbatasan akses layanan kesehatan, dan sering kali berhadapan dengan penolakan sosial. Padahal kelompok ini termasuk yang paling berisiko menularkan dan tertular hepatitis C. Tanpa program kesehatan masyarakat yang ramah dan inklusif, upaya eliminasi global akan terus menemui hambatan.

Walau begitu, dunia tidak kekurangan alasan untuk optimis. Banyak negara mulai menunjukkan kemajuan signifikan. Beberapa negara seperti Australia, Islandia, Mesir, dan Georgia memimpin upaya global dengan strategi agresif berupa skrining massal dan pengobatan gratis. Mesir menjadi contoh paling fenomenal setelah berhasil melakukan tens of millions skrining nasional dan mengobati hampir seluruh pasien yang terdiagnosis. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa eliminasi hepatitis C bukan sekadar mimpi, melainkan target yang bisa dicapai dengan komitmen politik, pendanaan memadai, dan strategi kesehatan publik yang menyeluruh.

Strategi global saat ini berfokus pada tiga pilar utama. Pertama, memperluas akses skrining melalui tes cepat, layanan bergerak, dan integrasi ke fasilitas kesehatan primer. Pendekatan ini memberikan peluang diagnosis lebih dini sehingga pengobatan dapat segera dilakukan. Kedua, menyediakan obat harga terjangkau melalui negosiasi internasional, lisensi obat generik, dan program nasional. Ketiga, mengurangi stigma dengan edukasi publik serta memastikan kelompok berisiko tinggi mendapat layanan kesehatan yang non diskriminatif.

Teknologi baru juga memainkan peran penting. Tes cepat hepatitis C sudah semakin murah dan dapat dilakukan di fasilitas kecil tanpa laboratorium besar. Platform digital membantu melacak pasien, memastikan kepatuhan pengobatan, serta memantau keberhasilan terapi. Beberapa negara menggunakan telemedisin untuk menjangkau daerah terpencil, sehingga pasien tidak perlu bepergian jauh. Kemajuan ini mempercepat langkah menuju eliminasi di berbagai wilayah.

Namun eliminasi global tetap membutuhkan kerja sama internasional yang kuat. Negara dengan sumber daya besar perlu mendukung negara berpendapatan rendah, baik melalui pendanaan maupun transfer teknologi. Organisasi kesehatan dunia harus terus memperbarui panduan dan mendorong kebijakan yang adil. Tanpa solidaritas global, hepatitis C hanya akan berkurang di negara maju dan tetap menjadi masalah besar di negara berkembang.

Jika dunia berhasil menghilangkan hepatitis C, kita akan menyaksikan pencapaian bersejarah dalam kesehatan global. Jutaan nyawa akan terselamatkan, dan beban ekonomi akibat penyakit hati akan menurun drastis. Eliminasi hepatitis C juga akan menjadi bukti bahwa investasi pada teknologi medis, akses kesehatan, dan upaya sosial dapat mengubah wajah kesehatan dunia secara nyata.

Perjalanan menuju eliminasi memang tidak mudah, tetapi peluangnya terbuka lebar. Dengan komitmen kolektif, dunia dapat memasuki era baru di mana hepatitis C bukan lagi ancaman, melainkan catatan sejarah tentang penyakit yang dapat dikalahkan oleh pengetahuan, teknologi, dan empati manusia.

Baca juga artikel tentang: Tes Darah Biru: Revolusi Deteksi Kanker Pankreas dan Paru dengan PAC-MANN

REFERENSI:

Fleurence, Rachael L dkk. 2025. Global elimination of hepatitis C virus. Annual Review of Medicine 76.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top