Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini sudah menjadi bagian dari dunia kedokteran modern. Mulai dari sistem diagnosis otomatis, robot bedah presisi, hingga aplikasi konsultasi virtual, semuanya dirancang untuk membantu dokter bekerja lebih cepat dan akurat.
Namun, kemajuan ini tidak selalu disambut dengan tangan terbuka. Banyak pasien justru merasa cemas, tidak percaya, bahkan menolak ketika diberitahu bahwa hasil diagnosis mereka dihasilkan oleh sistem AI, bukan oleh manusia.
Fenomena ini dikenal sebagai resistensi pasien terhadap AI (patient resistance to AI).
Sebuah studi terbaru oleh Abu Elnasr E. Sobaih dan rekan-rekannya (2025) mencoba mengungkap mengapa pasien sulit menerima kehadiran AI di dunia medis, dan bagaimana sains psikologi bisa membantu menjembatani kesenjangan ini.
Baca juga artikel tentang: Kombinasi Superfood dan Obat: Potensi dan Tantangannya dalam Dunia Kesehatan
Antara Logika Mesin dan Emosi Manusia
Menurut Sobaih dkk., perlawanan terhadap AI bukan disebabkan oleh kurangnya teknologi, tetapi oleh faktor psikologis manusia itu sendiri.
Melalui kerangka teori yang disebut Innovation Resistance Theory (IRT), peneliti mencoba memahami mengapa sebagian orang menolak teknologi baru, bahkan ketika teknologi tersebut jelas-jelas bermanfaat.
Dalam konteks kesehatan, resistensi pasien terhadap AI muncul karena benturan antara logika mesin dan emosi manusia. AI mungkin bisa mengenali pola penyakit dengan akurasi tinggi, tetapi bagi banyak pasien, kepercayaan, empati, dan sentuhan manusia jauh lebih penting daripada kecepatan atau presisi algoritma.
Untuk memahami fenomena ini secara ilmiah, tim peneliti menggunakan pendekatan campuran (mixed-method) menggabungkan wawancara semi-terstruktur dengan survei kuantitatif.
- Tahap pertama:
Mereka mewawancarai sejumlah pasien dari berbagai latar belakang untuk menggali persepsi dan kekhawatiran mereka terhadap teknologi AI di layanan kesehatan. - Tahap kedua:
Hasil wawancara ini kemudian diuji secara statistik menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan perangkat lunak AMOS versi 24.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengukur hubungan antar variabel psikologis yang berkontribusi pada resistensi pasien.
Melalui analisis tersebut, tiga faktor utama ditemukan sebagai penyebab utama ketidaknyamanan pasien terhadap AI medis.
Tiga Faktor Psikologis di Balik Resistensi Pasien
a. Need for Personal Contact (NPC) — Kebutuhan akan Kontak Pribadi
Sebagian besar pasien masih menganggap interaksi dengan dokter sebagai proses emosional, bukan hanya teknis. Mereka ingin didengarkan, ditatap, dan diberi empati, hal yang tidak bisa diberikan oleh mesin.
Dalam psikologi, kebutuhan ini dikenal sebagai affiliative trust, yaitu rasa percaya yang dibangun dari hubungan manusia ke manusia. Ketika AI menggantikan peran interaksi itu, banyak pasien merasa “diperlakukan seperti objek,” bukan individu.
“Pasien tidak hanya ingin sembuh, mereka ingin dipahami.”
Abu Elnasr E. Sobaih, 2025
b. Perceived Technological Dependence (PTD) — Ketergantungan pada Teknologi
Pasien juga khawatir bahwa sistem kesehatan yang terlalu bergantung pada AI akan membuat dokter kehilangan intuisi dan empati klinis. Mereka takut bahwa keputusan medis akan diambil sepenuhnya oleh algoritma, tanpa ruang bagi pertimbangan manusia.
Fenomena ini disebut technological determinism, keyakinan bahwa teknologi memegang kendali atas manusia, bukan sebaliknya. Dalam konteks kesehatan, hal ini bisa menimbulkan rasa tidak aman:
“Bagaimana jika AI salah membaca hasil tes saya, dan dokter tidak memeriksanya lagi?”
c. General Skepticism toward AI (GSAI) — Skeptisisme Umum terhadap AI
Terakhir, banyak pasien menunjukkan keraguan mendalam terhadap kemampuan AI secara umum. Sebagian besar skeptisisme ini berasal dari kurangnya pemahaman tentang cara kerja AI.
Ketika pasien tidak tahu bagaimana sistem membuat keputusan, mereka sulit mempercayainya. Dalam ilmu psikologi teknologi, hal ini disebut algorithmic opacity “kabut algoritmik” yang membuat pengguna merasa buta terhadap proses internal AI.
Temuan Ilmiah: Pola Psikologis yang Terukur
Dengan menggunakan pemodelan SEM, peneliti menemukan bahwa ketiga faktor ini (NPC, PTD, dan GSAI) secara signifikan berkontribusi terhadap resistensi pasien terhadap penerapan AI medis.
Artinya, semakin tinggi kebutuhan seseorang akan kontak manusiawi, semakin besar rasa ketergantungannya pada dokter, dan semakin skeptis ia terhadap teknologi, maka semakin kuat pula penolakannya terhadap sistem berbasis AI.
Namun, hasil penelitian ini juga menunjukkan sisi positif: resistensi ini bukanlah bentuk kebodohan atau ketakutan buta, melainkan reaksi psikologis yang rasional. Pasien hanya ingin memastikan bahwa kemanusiaan tetap hadir di tengah kemajuan teknologi.
Implikasi Praktis: Menyatukan Empati dan Efisiensi
Berdasarkan temuan ini, para peneliti menyarankan strategi berbasis psikologi untuk meningkatkan penerimaan pasien terhadap AI:
- Hybrid Approach (Kombinasi Manusia dan Mesin)
Dokter dan AI sebaiknya bekerja sebagai tim kolaboratif, bukan pengganti satu sama lain. Dokter bisa memanfaatkan AI untuk analisis cepat, lalu memberikan interpretasi dengan sentuhan manusiawi. - Education & Transparency (Edukasi dan Keterbukaan)
Pasien perlu memahami bagaimana AI bekerja dan di mana batasannya. Semakin transparan prosesnya, semakin tinggi kepercayaan mereka. - Technological Empathy (Empati dalam Desain Teknologi)
Desain antarmuka AI di rumah sakit sebaiknya dibuat lebih “hangat” menggunakan bahasa alami, nada ramah, dan visual yang tidak intimidatif. - Patient-Centered Innovation (Inovasi yang Berfokus pada Pasien)
Inovasi medis sebaiknya mempertimbangkan faktor psikologis pasien sejak tahap perancangan, bukan setelah teknologi diluncurkan.
Refleksi Ilmiah: Antara Rasionalitas dan Kemanusiaan
Penelitian ini menegaskan satu hal penting:
“Masalah terbesar AI dalam dunia medis bukan pada kecerdasannya, tapi pada kemampuannya untuk dimengerti dan dipercaya oleh manusia.”
AI mungkin memiliki kekuatan komputasi yang jauh melampaui otak manusia, tetapi kepercayaan tetap dibangun lewat komunikasi dan empati, dua hal yang menjadi inti dari psikologi sosial.
Dengan memahami dinamika ini, dunia medis dapat menciptakan ekosistem yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga manusiawi secara emosional.
AI memang membawa masa depan medis yang lebih cepat, presisi, dan efisien. Namun, tanpa pendekatan psikologis yang tepat, kemajuan itu bisa berujung pada penolakan publik.
Penelitian Sobaih dan rekan-rekannya mengingatkan kita bahwa revolusi digital tidak boleh menghapus sentuhan manusia. Teknologi hanya akan berhasil jika bisa memahami kebutuhan emosional penggunanya, termasuk rasa takut, harapan, dan keinginan untuk tetap merasa diperlakukan sebagai manusia.
Dengan sains psikologi sebagai panduannya, kita dapat benar-benar mengunci potensi AI dan sekaligus membuka hati manusia terhadapnya.
Baca juga artikel tentang: Infiltrasi Mikroplastik dalam Makanan: Disrupsi Sistem Farmakologi dan Kesehatan Manusia
REFERENSI:
Sobaih, Abu Elnasr E dkk. 2025. Unlocking patient resistance to AI in healthcare: a psychological exploration. European Journal of Investigation in Health, Psychology and Education 15 (1), 6.

