Menjaga bunga potong tetap bebas dari hama menjadi salah satu tantangan terbesar dalam perdagangan internasional tanaman hias. Keindahan bunga saja tidak cukup untuk memastikan sebuah produk dapat diterima di negara tujuan. Petugas karantina akan memeriksa setiap kiriman dengan sangat teliti untuk memastikan tidak ada serangga, telur hama, ataupun organisme lain yang berpotensi mengganggu pertanian setempat. Apabila ditemukan seekor hama saja, seluruh pengiriman dapat ditolak, dikembalikan, bahkan dimusnahkan. Kondisi tersebut tentu menimbulkan kerugian yang besar bagi petani, eksportir, dan negara penghasil. Untuk mengatasi masalah tersebut, para peneliti mengembangkan strategi pengendalian hama yang dilakukan sejak tanaman masih berada di kebun hingga setelah bunga dipanen. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2026 dalam Journal of Economic Entomology menunjukkan bahwa gabungan beberapa langkah pengendalian mampu menghilangkan infestasi hama yang terdeteksi pada bunga jahe dan heliconia yang dibudidayakan di Hawaii. Penelitian ini memberikan gambaran bahwa keberhasilan ekspor tidak hanya bergantung pada kualitas bunga, tetapi juga pada pengelolaan hama yang dilakukan secara menyeluruh dari awal hingga akhir proses produksi.
Industri florikultura merupakan salah satu sektor penting bagi perekonomian Hawaii. Berbagai jenis bunga tropis seperti jahe hias, heliconia, dan anggrek memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena banyak diminati oleh pasar internasional. Bunga potong dari Hawaii dikirim ke berbagai wilayah di Amerika Serikat maupun ke negara lain sebagai bunga hias untuk dekorasi, acara resmi, dan kebutuhan industri bunga. Namun, perdagangan tanaman hidup maupun bunga potong selalu menghadapi aturan karantina yang sangat ketat. Negara tujuan ingin melindungi sektor pertanian mereka dari masuknya hama asing yang dapat berkembang biak, menyerang tanaman lokal, dan menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Oleh karena itu, setiap produk yang masuk harus memenuhi persyaratan fitosanitari yang membuktikan bahwa komoditas tersebut bebas dari organisme pengganggu tumbuhan.
Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada
Masalah utama muncul ketika hama berukuran sangat kecil ikut terbawa bersama bunga. Beberapa serangga mampu bersembunyi di sela kelopak, batang, maupun daun sehingga sulit terlihat selama proses panen maupun pengemasan. Bahkan telur atau larva yang berukuran sangat kecil sering kali luput dari pemeriksaan awal. Ketika bunga tiba di negara tujuan, petugas karantina menggunakan prosedur pemeriksaan yang jauh lebih rinci. Jika ditemukan organisme pengganggu, seluruh pengiriman dapat dianggap tidak memenuhi persyaratan keamanan hayati. Akibatnya, bunga tidak dapat dipasarkan meskipun kualitas fisiknya masih sangat baik.
Untuk memahami besarnya masalah tersebut, para peneliti menganalisis data pemeriksaan karantina di California selama periode tahun 2012 hingga 2016. Hasil analisis menunjukkan terdapat lima ratus delapan puluh dua kasus penemuan hama pada pengiriman bunga potong yang berasal dari sembilan puluh dua petani dan perusahaan pengirim di Hawaii. Pada bunga jahe dan heliconia, hama yang paling sering ditemukan meliputi semut, kutu daun, kutu putih, dan kutu sisik. Sementara itu, pada bunga anggrek jenis Dendrobium, hama utama yang paling sering menyebabkan penolakan adalah thrips. Serangga kecil tersebut dikenal sangat sulit dikendalikan karena mampu bersembunyi di bagian bunga yang sempit dan sulit dijangkau.
Selama ini banyak petani menggunakan satu metode pengendalian hama saja. Sebagian mengandalkan penyemprotan insektisida sebelum panen, sedangkan sebagian lainnya lebih memilih mencuci bunga setelah dipanen. Pendekatan tersebut memang mampu mengurangi jumlah hama, tetapi sering kali belum cukup untuk memenuhi standar karantina internasional. Masih terdapat serangga yang berhasil bertahan karena terlindungi oleh struktur bunga atau berada pada tahap perkembangan yang tidak mudah dipengaruhi oleh satu jenis perlakuan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu metode yang benar benar mampu menyelesaikan seluruh permasalahan.
Berdasarkan kenyataan tersebut, para peneliti mengembangkan pendekatan yang disebut sebagai pendekatan sistem. Pendekatan ini menggabungkan berbagai tindakan pengendalian yang dilakukan secara berurutan sehingga setiap langkah saling melengkapi. Sebelum panen, petani melakukan penyemprotan insektisida sistemik dan memasang umpan semut di sekitar area budidaya. Setelah bunga dipanen, pekerja mencuci bunga menggunakan air, kemudian memberikan perlakuan air panas dengan suhu tertentu, lalu melakukan pencucian kembali sebelum bunga dikemas untuk dikirim. Setiap langkah memiliki tujuan yang berbeda. Penyemprotan mengurangi populasi hama di kebun, umpan menekan jumlah semut, pencucian menghilangkan hama yang menempel di permukaan, sedangkan perlakuan air panas membantu membunuh organisme yang masih tersisa.
Para peneliti melaksanakan seluruh pengujian pada kondisi budidaya komersial sehingga hasil penelitian mencerminkan situasi yang benar benar dihadapi petani. Pengamatan dilakukan selama dua tahun agar efektivitas metode dapat dievaluasi dalam berbagai musim panen. Pendekatan seperti ini memberikan gambaran yang lebih realistis dibandingkan penelitian yang hanya dilakukan dalam kondisi laboratorium karena seluruh faktor lingkungan tetap memengaruhi hasil pengujian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap perlakuan apabila dilakukan secara terpisah memang belum mampu menghilangkan seluruh infestasi hama pada bunga jahe maupun heliconia. Namun, hasilnya berubah secara signifikan ketika seluruh langkah digabungkan dalam satu sistem pengendalian. Selama delapan kali masa panen pada tahun kedua penelitian, para peneliti tidak lagi menemukan infestasi hama yang dapat dideteksi pada bunga jahe maupun heliconia. Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan bukan berasal dari satu perlakuan yang sangat kuat, melainkan dari kombinasi beberapa tindakan yang saling mendukung sehingga peluang hama bertahan menjadi sangat kecil.
Sayangnya, hasil tersebut tidak berlaku untuk semua jenis bunga. Ketika pendekatan yang sama diterapkan pada anggrek Dendrobium, efektivitasnya jauh lebih rendah. Thrips tetap menjadi masalah utama karena sebagian serangga masih mampu bertahan setelah perlakuan sebelum panen maupun setelah panen. Sekitar tiga puluh persen bunga dan sekitar tujuh puluh persen semprotan bunga masih menunjukkan adanya infestasi thrips. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa setiap komoditas memiliki tantangan yang berbeda sehingga strategi pengendalian juga perlu disesuaikan dengan karakteristik hama yang menyerangnya. Para peneliti menyarankan penambahan metode lain seperti fumigasi setelah panen agar pengendalian thrips menjadi lebih efektif.
Penelitian ini memberikan pelajaran penting mengenai konsep pengelolaan hama modern. Pendekatan yang digunakan tidak bergantung pada satu jenis pestisida atau satu perlakuan saja, tetapi memanfaatkan beberapa langkah yang bekerja secara berlapis. Konsep tersebut mirip dengan sistem keamanan yang memiliki beberapa pintu pengaman. Apabila satu lapisan masih dapat ditembus, lapisan berikutnya akan membantu mengurangi risiko hingga mencapai tingkat yang dapat diterima. Cara berpikir seperti ini semakin banyak digunakan dalam pertanian modern karena mampu meningkatkan efektivitas pengendalian sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pestisida secara berlebihan.
Bagi petani dan eksportir, penelitian ini memiliki nilai yang sangat penting. Penolakan satu pengiriman bunga tidak hanya menyebabkan kerugian akibat hilangnya hasil penjualan, tetapi juga meningkatkan biaya logistik, transportasi, dan penanganan produk yang gagal dipasarkan. Selain itu, penolakan yang terus berulang dapat menurunkan kepercayaan pembeli terhadap daerah penghasil bunga. Dengan menerapkan sistem pengendalian yang lebih efektif, peluang produk diterima oleh negara tujuan menjadi lebih besar sehingga daya saing komoditas juga meningkat.
Walaupun hasil penelitian terlihat menjanjikan, masyarakat perlu memahami beberapa keterbatasan penting. Penelitian ini dilakukan pada bunga potong yang dibudidayakan di Hawaii dengan jenis hama, kondisi lingkungan, dan prosedur karantina tertentu. Hasil tersebut belum tentu memberikan hasil yang sama apabila diterapkan pada daerah lain yang memiliki iklim, spesies hama, atau teknik budidaya yang berbeda. Selain itu, penelitian ini hanya mengevaluasi strategi pengendalian hama untuk kepentingan ekspor bunga potong dan tidak membahas budidaya jahe sebagai tanaman pangan maupun tanaman obat. Oleh karena itu, setiap wilayah tetap memerlukan penelitian lanjutan sebelum menerapkan pendekatan yang sama dalam skala yang lebih luas.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan ekspor bunga tidak hanya ditentukan oleh keindahan produk, tetapi juga oleh kemampuan menjaga komoditas tetap bebas dari organisme pengganggu. Kombinasi pengendalian sebelum panen dan setelah panen terbukti mampu menghilangkan infestasi hama yang terdeteksi pada bunga jahe dan heliconia selama penelitian berlangsung. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan sistem dapat menjadi strategi yang lebih efektif dibandingkan mengandalkan satu metode pengendalian saja. Meskipun masih memerlukan penyesuaian untuk komoditas lain seperti anggrek, penelitian ini memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi pengembangan sistem karantina dan pengelolaan hama yang lebih baik guna mendukung perdagangan bunga potong di pasar internasional.
Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya
REFERENSI:
Kim, Kyeongnam dkk. 2026. A systems approach to mitigate pest risk for market access of cut flowers exported from Hawaii. Journal of Economic Entomology, toaf284.






