Rahasia Baru Lidah Buaya, Ilmuwan Gunakannya untuk Membuat Nanopartikel Antikanker

Lidah buaya terus membuktikan bahwa tanaman ini memiliki manfaat yang jauh lebih luas daripada yang selama ini dikenal masyarakat. Selain […]

Lidah buaya terus membuktikan bahwa tanaman ini memiliki manfaat yang jauh lebih luas daripada yang selama ini dikenal masyarakat. Selain dimanfaatkan sebagai bahan perawatan kulit, penyembuhan luka, dan minuman kesehatan, lidah buaya kini juga menarik perhatian para ilmuwan dalam bidang nanoteknologi dan pengobatan kanker. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2026 menunjukkan bahwa gel lidah buaya dapat dimanfaatkan untuk membuat nanopartikel gabungan emas dan rutenium melalui proses yang ramah lingkungan. Nanopartikel tersebut menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam menghambat pertumbuhan sel kanker dibandingkan nanopartikel emas saja. Walaupun penelitian ini masih berada pada tahap laboratorium dan belum diuji pada manusia, hasilnya memberikan harapan baru bagi pengembangan terapi kanker yang lebih efektif sekaligus lebih ramah terhadap lingkungan.

Kanker masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Penyakit ini muncul ketika sel kehilangan kendali terhadap proses pembelahan sehingga terus berkembang tanpa henti dan membentuk jaringan abnormal. Berbagai metode pengobatan seperti operasi, kemoterapi, radioterapi, terapi target, dan imunoterapi telah berhasil meningkatkan angka harapan hidup banyak pasien. Namun setiap metode tetap memiliki keterbatasan. Kemoterapi misalnya sering menyerang sel sehat yang ikut membelah dengan cepat sehingga menimbulkan berbagai efek samping. Kondisi tersebut mendorong para ilmuwan untuk mencari pendekatan baru yang lebih selektif terhadap sel kanker sehingga kerusakan pada jaringan sehat dapat dikurangi.

Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada

Salah satu pendekatan yang berkembang sangat pesat adalah nanoteknologi. Teknologi ini memanfaatkan material yang berukuran antara satu hingga seratus nanometer. Sebagai perbandingan, satu nanometer sama dengan sepersejuta milimeter. Ukuran tersebut sangat kecil sehingga ribuan nanopartikel dapat berjajar di atas diameter sehelai rambut manusia. Pada ukuran sekecil ini, banyak material menunjukkan sifat yang berbeda dibandingkan bentuk biasanya. Logam seperti emas misalnya tidak hanya berfungsi sebagai logam mulia, tetapi juga memiliki sifat optik, kimia, dan biologis yang unik ketika dibuat dalam bentuk nanopartikel. Perubahan sifat tersebut membuka peluang besar untuk mengembangkan sistem penghantaran obat, pencitraan medis, hingga terapi kanker.

Sebagian besar penelitian sebelumnya menggunakan nanopartikel yang hanya terdiri atas satu jenis logam. Namun para ilmuwan mulai menemukan bahwa menggabungkan dua jenis logam dalam satu nanopartikel sering menghasilkan sifat yang lebih baik. Material seperti ini dikenal sebagai nanopartikel bimetalik. Kombinasi dua logam dapat menghasilkan efek sinergi, yaitu kondisi ketika kedua logam bekerja bersama sehingga menghasilkan kinerja yang lebih tinggi dibandingkan jika digunakan secara terpisah. Dalam penelitian ini, para ilmuwan memilih menggabungkan emas dan rutenium. Emas dikenal memiliki biokompatibilitas yang baik sehingga relatif aman digunakan dalam penelitian biomedis. Sementara itu, rutenium telah lama menarik perhatian karena memiliki aktivitas antikanker yang cukup menjanjikan. Kombinasi keduanya diharapkan mampu menghasilkan nanopartikel yang lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan sel kanker.

Selain memilih kombinasi logam yang tepat, para peneliti juga ingin mengembangkan metode sintesis yang lebih ramah lingkungan. Banyak proses pembuatan nanopartikel menggunakan bahan kimia sintetis yang bersifat toksik serta menghasilkan limbah yang berpotensi mencemari lingkungan. Untuk mengurangi masalah tersebut, berkembang konsep sintesis hijau. Pendekatan ini memanfaatkan senyawa alami dari tumbuhan sebagai pengganti bahan kimia sintetis. Gel lidah buaya menjadi salah satu bahan yang sangat menarik karena mengandung polisakarida, senyawa fenolik, flavonoid, protein, dan berbagai molekul bioaktif lain yang mampu berperan sebagai zat pereduksi sekaligus penstabil nanopartikel. Dengan demikian, pembentukan nanopartikel dapat berlangsung tanpa memerlukan bahan kimia berbahaya dalam jumlah besar.

Pada penelitian ini, para ilmuwan terlebih dahulu membuat nanopartikel rutenium menggunakan gel lidah buaya. Setelah proses tersebut selesai, larutan yang mengandung emas ditambahkan secara bertahap sehingga terbentuk nanopartikel gabungan emas dan rutenium. Selama proses berlangsung, perubahan warna larutan menjadi tanda awal bahwa nanopartikel mulai terbentuk. Para peneliti kemudian memastikan hasil tersebut menggunakan berbagai teknik karakterisasi modern seperti spektroskopi ultraviolet tampak, spektroskopi inframerah transformasi Fourier, mikroskop elektron transmisi resolusi tinggi, difraksi sinar X, mikroskop elektron emisi medan, dan spektroskopi sinar X. Seluruh hasil pengujian menunjukkan bahwa nanopartikel berhasil terbentuk dengan ukuran sekitar sembilan belas hingga tujuh puluh enam nanometer serta memiliki struktur heksagonal yang mengandung kedua logam secara bersamaan.

Setelah memastikan nanopartikel berhasil dibuat, para peneliti menguji kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan sel kanker. Mereka menggunakan sel limfoma Dalton sebagai model penelitian. Sel limfoma merupakan salah satu jenis sel kanker yang sering digunakan dalam penelitian laboratorium karena mampu memberikan gambaran awal mengenai efektivitas kandidat obat antikanker. Untuk mengetahui seberapa kuat kemampuan nanopartikel membunuh sel kanker, para ilmuwan menggunakan metode Trypan Blue. Metode ini memanfaatkan zat pewarna yang hanya dapat masuk ke dalam sel yang telah mati sehingga peneliti dapat menghitung jumlah sel hidup dan sel mati secara langsung menggunakan mikroskop.

Grafik ini menunjukkan bahwa cisplatin memiliki efek sitotoksik paling kuat terhadap sel kanker, diikuti nanopartikel emas–rutenium (Au–Ru), nanopartikel emas (AuNP), dan gel lidah buaya (ALV), dengan peningkatan dosis yang menghasilkan peningkatan toksisitas sel secara bertahap (Begum, dkk. 2026).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nanopartikel gabungan emas dan rutenium memiliki aktivitas antikanker yang jauh lebih baik dibandingkan nanopartikel emas saja. Hal tersebut terlihat dari nilai IC lima puluh yang jauh lebih rendah. Nilai IC lima puluh merupakan ukuran yang menunjukkan konsentrasi suatu zat yang diperlukan untuk menghambat lima puluh persen pertumbuhan sel. Semakin kecil nilainya, semakin kuat aktivitas biologisnya. Pada penelitian ini, nanopartikel bimetalik hanya memerlukan konsentrasi sekitar delapan belas mikromolar untuk menghasilkan efek penghambatan tersebut. Sebaliknya, nanopartikel emas memerlukan konsentrasi sekitar empat puluh tujuh mikromolar untuk mencapai hasil yang sama. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kombinasi emas dan rutenium memberikan efek yang jauh lebih efektif dibandingkan penggunaan emas saja.

Selain menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi terhadap sel kanker, nanopartikel tersebut juga memberikan hasil yang cukup menggembirakan ketika diuji pada sel darah putih normal. Para peneliti menemukan bahwa kerusakan pada sel normal kurang dari sepuluh persen. Hasil ini memberikan indikasi awal bahwa nanopartikel memiliki kecenderungan lebih selektif terhadap sel kanker dibandingkan sel sehat. Selektivitas seperti ini merupakan salah satu tujuan utama dalam pengembangan terapi kanker modern karena diharapkan mampu mengurangi efek samping yang sering muncul pada pengobatan konvensional. Walaupun demikian, hasil tersebut masih berasal dari percobaan di laboratorium sehingga belum dapat disimpulkan bahwa nanopartikel tersebut benar benar aman digunakan pada manusia.

Para ilmuwan menduga bahwa peningkatan efektivitas nanopartikel bimetalik berasal dari kerja sama antara emas dan rutenium. Kombinasi kedua logam kemungkinan meningkatkan pembentukan spesies oksigen reaktif di dalam sel kanker sehingga menyebabkan kerusakan pada berbagai komponen penting sel. Selain itu, nanopartikel juga diduga mengganggu fungsi mitokondria yang berperan sebagai pusat produksi energi. Gangguan tersebut akhirnya memicu apoptosis atau kematian sel terprogram sehingga sel kanker tidak lagi mampu bertahan hidup. Meskipun demikian, penelitian ini belum menjelaskan seluruh mekanisme molekuler yang terlibat sehingga masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami proses tersebut secara lebih mendalam.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa lidah buaya memiliki peran yang berbeda dari yang mungkin dibayangkan masyarakat. Dalam penelitian ini, lidah buaya bukan berfungsi sebagai obat antikanker yang langsung membunuh sel kanker. Tanaman tersebut justru berperan sebagai bahan alami untuk membantu membentuk nanopartikel melalui proses sintesis hijau. Dengan kata lain, lidah buaya menjadi bagian penting dalam menghasilkan material berteknologi tinggi yang kemudian memiliki potensi sebagai kandidat terapi kanker. Pendekatan seperti ini menunjukkan bagaimana bahan alami dapat mendukung perkembangan teknologi medis modern tanpa harus bergantung pada proses kimia yang lebih berisiko terhadap lingkungan.

Walaupun hasil penelitian ini terlihat sangat menjanjikan, masyarakat perlu memahami bahwa seluruh pengujian masih dilakukan pada kultur sel di laboratorium. Penelitian ini belum melibatkan hewan percobaan maupun manusia sehingga manfaatnya belum dapat diterapkan sebagai terapi kanker. Para ilmuwan masih harus melakukan berbagai penelitian lanjutan untuk mengetahui bagaimana nanopartikel bergerak di dalam tubuh, bagaimana proses pembuangannya, apakah terdapat efek samping jangka panjang, serta berapa dosis yang aman digunakan. Semua tahapan tersebut harus dilalui sebelum suatu teknologi dapat digunakan dalam praktik kedokteran.

Penelitian ini memperlihatkan bahwa inovasi sering muncul dari perpaduan antara pengetahuan mengenai tumbuhan dan perkembangan teknologi modern. Lidah buaya yang selama ini identik dengan dunia kesehatan tradisional ternyata juga mampu mendukung pengembangan material canggih untuk penelitian kanker. Jika penelitian lanjutan berhasil membuktikan keamanan dan efektivitasnya pada hewan maupun manusia, nanopartikel bimetalik berbasis lidah buaya berpotensi menjadi salah satu langkah penting menuju terapi kanker yang lebih efektif, lebih selektif terhadap sel kanker, dan lebih ramah terhadap lingkungan.

Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya

REFERENSI:

Begum, Tanjila dkk. 2026. Phytogenic synthesis of gold–ruthenium (Au–Ru) bimetallic nanoparticles using Aloe vera gel and evaluation of their anticancer potential. RSC advances 16 (1), 439-452.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top