Seorang ibu yang baru melahirkan menghadapi perubahan besar dalam hidupnya, baik secara fisik maupun emosional. Tubuh menyesuaikan diri setelah kehamilan, jam tidur berubah drastis, dan tanggung jawab merawat bayi hadir tanpa jeda. Di tengah kondisi ini, sebagian orang tua mengalami depresi atau kecemasan pascamelahirkan yang sering kali tidak terlihat dari luar. Sebuah penelitian ilmiah terbaru tahun 2025 mencoba memahami kondisi ini dari sudut pandang biologi tubuh, khususnya bagaimana sistem hormon stres bekerja pada orang tua yang menyusui dibandingkan dengan yang memberi susu botol.
Penelitian ini berfokus pada apa yang disebut sumbu HPA, singkatan dari hypothalamic pituitary adrenal axis. Sumbu HPA adalah sistem komunikasi hormon di dalam tubuh yang berperan penting dalam mengatur respons stres. Ketika seseorang menghadapi tekanan, otak akan mengirim sinyal yang akhirnya memicu pelepasan hormon kortisol, yang sering disebut hormon stres. Dalam kondisi normal, sistem ini bekerja dengan seimbang, naik saat stres dan turun kembali ketika tubuh mulai pulih.
Baca juga artikel tentang: Jangan-jangan Gorengan yang Anda Beli Mengandung Plastik
Para peneliti telah lama mengetahui bahwa kehamilan dan masa setelah melahirkan membawa perubahan besar pada sumbu HPA. Namun, hubungan antara sistem hormon ini, gejala depresi dan kecemasan pascamelahirkan, serta metode pemberian makan bayi masih belum sepenuhnya dipahami. Penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan penting: apakah cara memberi makan bayi, menyusui atau memberi susu botol, berhubungan dengan cara tubuh ibu merespons stres ketika mengalami depresi atau kecemasan.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti melibatkan lebih dari dua ratus orang tua yang berniat menyusui sejak masa kehamilan trimester ketiga. Sekitar dua bulan setelah melahirkan, para peserta mengikuti sesi penelitian di laboratorium. Pada tahap ini, peneliti menilai tingkat depresi dan kecemasan menggunakan kuesioner psikologis yang telah digunakan secara luas di dunia medis. Skor tertentu menunjukkan adanya gejala depresi atau kecemasan yang perlu diperhatikan.
Selanjutnya, para peserta diminta memberi makan bayinya seperti yang biasa mereka lakukan di rumah, baik dengan menyusui langsung maupun dengan botol. Setelah itu, mereka menjalani tes stres sosial yang cukup menantang, seperti berbicara di depan orang lain dan mengerjakan soal matematika di bawah tekanan waktu. Tes ini dirancang untuk memicu respons stres secara alami. Selama dan setelah tes, peneliti mengambil sampel darah untuk mengukur kadar hormon ACTH dan kortisol, dua komponen utama dalam sumbu HPA.

Hasil penelitian menunjukkan pola yang menarik. Orang tua yang mengalami gejala depresi atau kecemasan pascamelahirkan memperlihatkan respons stres yang lebih tumpul dibandingkan mereka yang tidak mengalami gejala tersebut. Artinya, tubuh mereka tidak menunjukkan lonjakan hormon stres yang biasanya muncul saat menghadapi tekanan. Kondisi ini dikenal sebagai disfungsi sumbu HPA dan sering ditemukan pada gangguan suasana hati.
Namun, temuan yang paling menarik muncul ketika peneliti membandingkan metode pemberian makan bayi. Pada kelompok yang menyusui, perbedaan respons stres antara mereka yang mengalami depresi atau kecemasan dan yang tidak, terlihat lebih jelas. Ibu menyusui dengan gejala depresi atau kecemasan menunjukkan respons hormon yang jauh lebih tumpul dibandingkan ibu menyusui tanpa gejala tersebut. Sebaliknya, pada kelompok yang memberi susu botol, pola respons stres relatif serupa, terlepas dari ada atau tidaknya gejala depresi dan kecemasan.
Temuan ini tidak berarti bahwa menyusui menyebabkan depresi atau memperburuk kondisi mental. Peneliti justru menekankan bahwa menyusui secara biologis memang menekan respons stres tubuh. Proses menyusui melibatkan hormon seperti oksitosin yang dikenal memberi efek menenangkan. Dalam kondisi normal, efek ini bermanfaat karena membantu ibu merasa lebih rileks dan terhubung dengan bayinya. Namun, pada ibu yang sudah mengalami depresi atau kecemasan, efek penekanan respons stres ini tampak menjadi lebih kuat dan terlihat jelas dalam pengukuran hormon.
Dari sudut pandang sains, temuan ini penting karena membantu menjelaskan mengapa depresi dan kecemasan pascamelahirkan bisa terasa berbeda pada setiap orang. Tubuh tidak hanya bereaksi secara psikologis, tetapi juga secara biologis. Sumbu HPA yang kurang responsif dapat memengaruhi energi, suasana hati, dan kemampuan seseorang untuk menghadapi tantangan sehari hari.
Penelitian ini juga membawa pesan penting bagi masyarakat dan tenaga kesehatan. Gejala depresi dan kecemasan pascamelahirkan bukan sekadar masalah perasaan lemah atau kurang bersyukur. Kondisi ini melibatkan perubahan nyata pada sistem hormon tubuh. Oleh karena itu, dukungan yang tepat sangat diperlukan, baik dalam bentuk dukungan emosional, konseling profesional, maupun kebijakan kesehatan yang peka terhadap kebutuhan orang tua baru.
Selain itu, hasil penelitian ini menegaskan bahwa pilihan memberi ASI atau susu botol sebaiknya tidak dinilai secara hitam putih. Setiap keluarga memiliki kondisi unik, dan kesehatan mental orang tua merupakan bagian penting dari kesejahteraan bayi. Jika seorang ibu menyusui sambil mengalami tekanan mental berat, dukungan tambahan menjadi sangat penting agar ia tidak merasa sendirian atau bersalah.
Para peneliti menyarankan agar studi lanjutan dilakukan untuk memahami mekanisme biologis ini lebih dalam. Penelitian di masa depan dapat membantu mengembangkan alat diagnosis yang lebih akurat dan strategi perawatan yang lebih efektif untuk depresi dan kecemasan pascamelahirkan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara hormon stres, kesehatan mental, dan praktik pengasuhan, dunia medis dapat memberikan perawatan yang lebih manusiawi dan berbasis bukti.
Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan kita bahwa masa setelah melahirkan adalah periode yang kompleks dan penuh tantangan. Tubuh dan pikiran bekerja bersama dalam cara yang rumit. Memahami sains di balik pengalaman ini membantu kita melihat orang tua baru dengan lebih empati, serta mendorong lingkungan yang lebih suportif bagi mereka yang sedang berjuang dalam diam.
Baca juga artikel tentang: Dari Jagung Jadi Plastik: Revolusi Material Ramah Lingkungan
REFERENSI:
Bruce, Katharine E dkk. 2025. HPA axis dysregulation and postpartum depression and anxiety symptoms in breastfeeding vs bottle-feeding parents. Psychoneuroendocrinology 172, 107253.

