Sembelit sering dianggap sebagai masalah sederhana. Kurang minum, kurang makan serat, terlalu lama duduk, atau gerakan usus yang lambat biasanya menjadi tersangka utama. Karena itu, ketika seseorang mengalami sembelit, solusi yang umum diberikan adalah memperbanyak air dan serat atau menggunakan obat pencahar. Namun, pada sebagian orang, masalah ini tidak kunjung selesai. Bahkan ada pasien yang mengalami sembelit kronis selama bertahun-tahun meskipun telah mencoba berbagai pengobatan.
Kini, penelitian dari Nagoya University menawarkan penjelasan lain yang cukup mengejutkan. Para ilmuwan menemukan bahwa pada sebagian kasus, masalahnya mungkin bukan semata-mata karena usus bergerak terlalu lambat. Dua jenis bakteri yang sebenarnya hidup secara alami di saluran pencernaan ternyata dapat bekerja sama menghancurkan lapisan lendir di usus besar. Akibatnya, feses kehilangan kelembapan, menjadi lebih keras, dan semakin sulit dikeluarkan. Para peneliti menyebut mekanisme yang mereka temukan ini sebagai “bacterial constipation” atau sembelit yang berkaitan dengan aktivitas bakteri. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Gut Microbes pada 2026.
Sembelit Tidak Selalu Hanya Karena Gerakan Usus yang Lambat
Secara umum, sembelit terjadi ketika seseorang kesulitan buang air besar, frekuensi buang air besar menurun, atau feses menjadi keras sehingga sulit dikeluarkan. Salah satu penjelasan klasik adalah transit usus yang lambat. Transit usus merupakan perjalanan sisa makanan melalui saluran pencernaan. Jika proses ini berlangsung terlalu lama, lebih banyak air dapat diserap dari feses sehingga feses menjadi semakin kering. Namun, penjelasan tersebut tidak dapat menjawab seluruh kasus. Ada kondisi yang disebut chronic idiopathic constipation atau CIC. Secara sederhana, istilah ini menggambarkan sembelit kronis yang penyebabnya tidak dapat dijelaskan secara jelas oleh penyakit tertentu. Sebagian pasien juga tidak memberikan respons yang memuaskan terhadap terapi konvensional.
Tim peneliti kemudian mencoba melihat persoalan sembelit dari sudut yang berbeda. Alih-alih hanya mengamati saraf dan otot yang menggerakkan usus, mereka memperhatikan sesuatu yang selama ini mungkin kurang mendapatkan perhatian, yaitu lapisan lendir di dalam usus besar. Lapisan ini ternyata bukan sekadar “lendir” yang tidak berguna. Justru keberadaannya sangat penting agar isi usus tetap lembap dan dapat bergerak dengan lancar.
Mengenal Mucin, Pelumas Alami di Dalam Usus
Salah satu komponen utama lendir usus adalah mucin. Mucin merupakan molekul berukuran besar yang sebagian besar tersusun dari protein yang terikat dengan rantai gula. Molekul seperti ini disebut glikoprotein, yaitu gabungan protein dan karbohidrat dalam satu struktur.
Cara paling sederhana membayangkan mucin adalah seperti gel pelindung sekaligus pelumas alami yang melapisi bagian dalam usus. Mucin mampu menahan banyak air sehingga membantu menjaga kelembapan lingkungan usus dan feses. Lapisan tersebut juga membuat feses lebih mudah bergerak serta membantu memisahkan bakteri dari permukaan jaringan usus.
Jika jumlah mucin berkurang secara berlebihan, situasinya berubah. Feses dapat kehilangan sebagian kemampuan mempertahankan air dan menjadi semakin kering. Permukaan usus pun kehilangan sebagian lapisan licinnya. Pertanyaannya kemudian adalah: apa yang dapat menyebabkan mucin tersebut menghilang? Jawabannya membawa para peneliti kepada dua penghuni normal saluran pencernaan manusia, yaitu Bacteroides thetaiotaomicron dan Akkermansia muciniphila.
Dua Bakteri yang Ternyata Bekerja sebagai Tim
Tubuh manusia dihuni oleh triliunan mikroorganisme, terutama bakteri. Kumpulan mikroorganisme yang hidup dalam lingkungan tertentu disebut mikrobiota. Sementara itu, istilah mikrobioma sering digunakan untuk menggambarkan komunitas mikroorganisme tersebut beserta materi genetik dan aktivitas biologisnya.
Banyak bakteri usus bersifat komensal. Bakteri komensal adalah mikroorganisme yang secara normal hidup bersama tubuh manusia tanpa selalu menyebabkan penyakit. Karena itu, keberadaan suatu spesies bakteri tidak otomatis berarti bakteri tersebut “jahat”. Dampaknya sangat bergantung pada jumlah, lingkungan, interaksi dengan bakteri lain, dan kondisi tubuh manusia. Dalam penelitian ini, Bacteroides thetaiotaomicron dan Akkermansia muciniphila menjadi menarik karena keduanya tampaknya dapat bekerja secara berurutan dalam menghancurkan mucin.
Mucin sebenarnya tidak sepenuhnya tanpa perlindungan. Pada bagian tertentu dari molekul mucin terdapat gugus sulfat. Gugus ini dapat dibayangkan seperti lapisan pengaman kimia yang membuat mucin lebih sulit dihancurkan oleh mikroorganisme. Di sinilah Bacteroides thetaiotaomicron memainkan peran pertama. Bakteri ini mempunyai aktivitas enzim yang dapat melepaskan gugus sulfat tersebut. Enzim adalah molekul biologis yang mempercepat reaksi kimia tertentu. Salah satu enzim penting dalam proses ini disebut sulfatase, karena mampu melepaskan gugus sulfat.
Setelah “pelindung” sulfat dilepaskan, bagian mucin yang sebelumnya lebih sulit dijangkau menjadi terbuka. Akkermansia muciniphila kemudian dapat melanjutkan proses tersebut dengan memecah dan menggunakan mucin yang telah terbuka sebagai sumber nutrisi. Dengan kata lain, bakteri pertama seperti membuka kunci, sementara bakteri kedua masuk dan menghabiskan materi yang sebelumnya terlindungi.
Jika proses ini berlangsung berlebihan, lapisan mucin dapat menipis. Feses kemudian kehilangan kelembapan dan menjadi lebih keras. Inilah mekanisme yang mendasari istilah “bacterial constipation” yang diajukan para peneliti.
Peneliti Membandingkan Ratusan Sampel Manusia
Temuan tersebut tidak hanya berasal dari percobaan pada hewan. Peneliti juga menganalisis sampel feses dari manusia. Dalam studi tersebut terdapat 147 orang sehat sebagai kelompok kontrol, 54 pasien dengan chronic idiopathic constipation, dan 231 pasien Parkinson’s disease.
Analisis terhadap komunitas bakteri menunjukkan peningkatan Bacteroides thetaiotaomicron dan Akkermansia muciniphila pada kelompok pasien tertentu yang mengalami sembelit. Peneliti juga memeriksa kandungan mucin di dalam feses. Analisis statistik mereka menunjukkan bahwa keadaan sembelit berhubungan secara signifikan dengan kandungan mucin feses, sementara pengaruh kategori penyakit itu sendiri—apakah seseorang termasuk kelompok kontrol, Parkinson’s disease, atau CIC—tidak menunjukkan pola yang sama kuatnya terhadap kandungan mucin.
Hasil ini menarik karena mengarah pada kemungkinan bahwa berkurangnya mucin lebih berkaitan dengan kondisi sembelit daripada sekadar label penyakit yang dimiliki pasien. Meski demikian, hubungan pada manusia saja belum cukup untuk membuktikan bahwa kedua bakteri benar-benar menyebabkan sembelit. Banyak penelitian mikrobioma hanya menemukan korelasi. Korelasi berarti dua hal muncul bersamaan, tetapi belum tentu yang satu secara langsung menyebabkan yang lainnya. Karena itu, peneliti melanjutkan penyelidikan menggunakan model hewan.
Percobaan pada Tikus Membantu Membuktikan Mekanismenya
Tim menggunakan germ-free mice, yaitu tikus yang dipelihara dalam lingkungan sangat terkontrol sehingga tubuhnya tidak memiliki mikroorganisme seperti tikus biasa. Kondisi ini memungkinkan ilmuwan memasukkan bakteri tertentu dan melihat dampaknya secara lebih terarah.
Ketika Bacteroides thetaiotaomicron atau Akkermansia muciniphila diberikan secara terpisah, keberadaan masing-masing bakteri saja tidak cukup untuk menghasilkan pola sembelit yang sama. Namun, ketika kedua spesies ditempatkan bersama-sama, tikus mengalami perubahan yang konsisten dengan sembelit, termasuk feses yang lebih keras dan penurunan frekuensi pengeluaran feses. Percobaan ini mendukung gagasan bahwa kerja sama keduanya, bukan sekadar keberadaan salah satu spesies, merupakan bagian penting dari mekanisme tersebut.
Peneliti juga menemukan peningkatan permeabilitas usus ketika kedua bakteri hadir bersama. Permeabilitas usus menggambarkan seberapa mudah berbagai molekul dapat melewati penghalang dinding usus. Jika penghalang tersebut menjadi terlalu mudah ditembus, kondisi ini sering disebut sebagai peningkatan permeabilitas intestinal. Hasil tersebut menunjukkan bahwa degradasi lapisan mucin bukan hanya berpotensi memengaruhi kelembapan feses, tetapi juga dapat mengganggu fungsi penghalang usus.

Mematikan Satu “Kunci” Berhasil Mencegah Sembelit pada Tikus
Bagian yang paling kuat dari penelitian ini muncul ketika ilmuwan mengubah Bacteroides thetaiotaomicron secara genetik agar tidak lagi dapat menjalankan aktivitas sulfatase yang dibutuhkan untuk membuka perlindungan mucin. Bakteri hasil modifikasi tersebut kemudian dimasukkan ke tikus bebas kuman bersama Akkermansia muciniphila. Hasilnya berbeda drastis. Tikus tidak menunjukkan pola sembelit seperti sebelumnya dan lapisan mucin tetap terlindungi. Eksperimen ini memberikan bukti bahwa aktivitas sulfatase dari bakteri merupakan bagian penting dalam rangkaian penyebab yang sedang diteliti. Jika tahap awal penghilangan gugus sulfat dihentikan, Akkermansia muciniphila tidak dapat melanjutkan penghancuran mucin dengan cara yang sama.
Temuan ini sekaligus membuka kemungkinan baru dalam pengembangan obat. Alih-alih hanya memberikan obat pencahar atau obat yang merangsang gerakan usus, suatu saat mungkin dapat dikembangkan terapi yang secara khusus menghambat aktivitas sulfatase mikroba. Tim juga menyebut penargetan aktivitas microbial sulfatase sebagai salah satu pendekatan terapi yang menjanjikan untuk bacterial constipation. Namun, perlu digarisbawahi bahwa pendekatan tersebut masih merupakan arah penelitian. Keberhasilan mencegah sembelit pada model tikus belum berarti obat penghambat sulfatase telah terbukti aman dan efektif pada manusia.
Hubungan Menarik dengan Parkinson’s Disease
Penelitian ini menjadi semakin menarik karena melibatkan pasien Parkinson’s disease. Penyakit ini selama ini dikenal terutama melalui gejala gangguan gerak seperti tremor, kekakuan tubuh, dan perlambatan gerakan. Namun, gangguan saluran pencernaan juga sangat umum terjadi.
Pada sebagian pasien, sembelit bahkan dapat muncul bertahun-tahun atau puluhan tahun sebelum gangguan gerak menjadi jelas. Selama ini salah satu penjelasannya adalah perubahan pada sistem saraf yang juga memengaruhi fungsi saluran pencernaan.
Temuan baru dari Nagoya University tidak berarti teori mengenai gangguan saraf tersebut salah. Sebaliknya, penelitian ini menunjukkan bahwa mungkin ada mekanisme tambahan yang berasal dari aktivitas mikrobiota usus.
Pasien Parkinson’s disease dalam penelitian ditemukan memiliki tingkat bakteri penghancur mucin yang lebih tinggi. Hal itu memunculkan kemungkinan bahwa sembelit yang dialami sebagian pasien tidak hanya berkaitan dengan perubahan saraf, tetapi juga dengan perubahan ekosistem mikroorganisme di saluran pencernaan.
Temuan ini penting karena dapat mengubah cara ilmuwan memandang hubungan antara sistem saraf dan saluran pencernaan. Usus bukan sekadar saluran pasif yang menerima perintah dari otak. Di dalamnya terdapat ekosistem mikroba dengan aktivitas kimia yang dapat memengaruhi kondisi lingkungan usus.
Apakah Semua Sembelit Sekarang Bisa Disalahkan pada Bakteri?
Jawabannya tidak.
Istilah bacterial constipation sebaiknya tidak dipahami seolah-olah para ilmuwan telah menemukan bahwa dua bakteri tersebut adalah penyebab semua kasus sembelit. Sembelit dapat muncul melalui berbagai mekanisme, mulai dari pola makan, kurangnya aktivitas fisik, obat-obatan tertentu, gangguan gerakan usus, gangguan koordinasi otot dasar panggul, penyakit tertentu, hingga berbagai faktor lainnya.
Penelitian ini lebih tepat dipandang sebagai penemuan mekanisme baru yang mungkin menjelaskan sebagian kasus sembelit kronis, terutama ketika penyebabnya selama ini sulit ditemukan atau ketika terapi konvensional tidak memberikan hasil yang memuaskan. Penelitian aslinya menyebut kerja sama dua bakteri pendegradasi mucin sebagai mekanisme yang dapat menginduksi sembelit dan mengusulkan bacterial constipation sebagai konsep berdasarkan mekanisme tersebut.
Karena eksperimen mekanistik utamanya dilakukan pada tikus, masih diperlukan penelitian manusia lebih lanjut. Peneliti perlu mengetahui seberapa banyak pasien sembelit yang benar-benar memiliki pola mikrobiota semacam ini, bagaimana cara terbaik mendeteksinya, apakah jumlah kedua bakteri saja cukup sebagai penanda, serta apakah terapi yang menargetkan sulfatase dapat diberikan tanpa mengganggu fungsi mikrobiota lain yang bermanfaat.
Masa Depan Pengobatan Sembelit Bisa Menjadi Lebih Personal
Temuan ini menggambarkan perubahan besar yang sedang terjadi dalam ilmu kedokteran. Dua orang dapat mengalami gejala yang tampaknya sama, tetapi penyebab biologisnya belum tentu sama. Jika konsep bacterial constipation nantinya terkonfirmasi melalui penelitian klinis yang lebih luas, dokter pada masa depan mungkin tidak hanya bertanya apakah seseorang mengalami sembelit, tetapi juga mencoba mengetahui mekanisme apa yang menyebabkan sembelit tersebut.
Pada seseorang, masalah utamanya mungkin gerakan usus yang lambat. Pada orang lain, masalahnya mungkin koordinasi otot saat buang air besar. Sementara pada kelompok tertentu, degradasi mucin oleh mikrobiota mungkin menjadi faktor dominan.
Pendekatan semacam ini dikenal sebagai precision medicine atau pengobatan presisi. Secara sederhana, pengobatan presisi berarti memilih diagnosis dan terapi berdasarkan karakteristik biologis pasien, bukan memberikan pendekatan yang sama kepada semua orang.
Penemuan aktivitas sulfatase sebagai bagian penting dari mekanisme bacterial constipation menjadi salah satu kandidat sasaran tersebut. Jika kelak tersedia cara yang aman untuk menghambat aktivitas enzim bakteri tertentu tanpa merusak keseluruhan ekosistem mikrobiota, pengobatan dapat diarahkan lebih dekat kepada akar masalah.
Kesimpulan
Penelitian dari Nagoya University memperlihatkan bahwa sembelit kronis ternyata dapat jauh lebih kompleks daripada sekadar usus yang bergerak lambat atau tubuh yang kekurangan air. Dua bakteri penghuni normal usus, Bacteroides thetaiotaomicron dan Akkermansia muciniphila, ditemukan mampu bekerja sama dalam menghancurkan mucin, yaitu lapisan gel pelindung yang membantu mempertahankan kelembapan dan kelancaran pergerakan feses. Bacteroides thetaiotaomicron terlebih dahulu menghilangkan gugus sulfat yang melindungi mucin, kemudian Akkermansia muciniphila dapat melanjutkan degradasinya. Ketika proses ini berlangsung berlebihan, feses dapat menjadi lebih kering dan sulit dikeluarkan.
Eksperimen menggunakan tikus bebas kuman semakin menguatkan mekanisme tersebut. Ketika aktivitas sulfatase pada Bacteroides thetaiotaomicron dinonaktifkan, mucin tetap terlindungi dan tikus tidak mengalami pola sembelit yang sebelumnya muncul ketika kedua bakteri bekerja bersama. Penelitian pada manusia juga menemukan hubungan antara sembelit, berkurangnya mucin, dan peningkatan kedua bakteri tersebut, termasuk pada sebagian pasien Parkinson’s disease.
Temuan ini belum berarti bahwa semua sembelit disebabkan oleh bakteri atau bahwa terapi baru sudah siap digunakan. Namun, penelitian tersebut membuka kemungkinan bahwa terdapat subtipe sembelit yang selama ini tersembunyi di dalam ekosistem mikrobiota usus. Jika penelitian selanjutnya berhasil mengonfirmasi mekanisme ini pada kelompok pasien yang lebih luas, pengobatan sembelit di masa depan mungkin tidak lagi hanya berusaha membuat usus bergerak lebih cepat, tetapi juga menjaga lapisan pelindung usus dan menargetkan aktivitas mikroba yang menjadi penyebab masalah.
Referensi:
[1] https://en.nagoya-u.ac.jp/news/articles/scientists-discover-bacterial-constipation-a-new-disease-caused-by-gut-drying-bacteria/, diakses pada 17 Agustus 2026.
[2] Tomonari Hamaguchi, Noriaki Gibo, Misuzu Ohara, Mikako Ito, Tomoyuki Ogura, Jun-Ichi Takeda, Hiroshi Nishiwaki, Fei Zhao, Ryo Kinoshita-Daitoku, Masashi Hattori, Koji Nonogaki, Tetsuya Maeda, Kenichi Kashihara, Yoshio Tsuboi, Masaaki Hirayama, Mitsuhiro Fujishiro, Hiroki Kawashima, Kinji Ohno. Bacterial constipation: Mucin-degrading intestinal commensal bacteria cause constipation. Gut Microbes, 2026; 18 (1) DOI: 10.1080/19490976.2025.2596809

