Rahasia di Balik Demensia Usia Paruh Baya: Protein Otak yang Jadi Tanda Awal

Demensia sering kali dipahami sebagai penyakit yang menyerang orang tua di usia 70 tahun ke atas, tetapi sejumlah studi terbaru […]

Demensia sering kali dipahami sebagai penyakit yang menyerang orang tua di usia 70 tahun ke atas, tetapi sejumlah studi terbaru menunjukkan bahwa demensia juga bisa muncul pada usia yang jauh lebih muda, yaitu antara usia 40 hingga 60 tahun. Salah satu bentuk demensia yang paling sering terjadi pada kelompok usia paruh baya ini adalah Frontotemporal Dementia, yang disingkat sebagai FTD. Penelitian terbaru yang dipimpin oleh peneliti dari University of California, San Francisco (UCSF) dan didanai oleh National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat menemukan petunjuk penting tentang bagaimana FTD berkembang di otak dan bagaimana perubahan protein bisa menjadi tanda awal penyakit ini. Temuan tersebut membuka peluang besar untuk deteksi dini, diagnosis yang lebih tepat, dan bahkan potensi terapi baru di masa depan.

Demensia sendiri adalah istilah medis yang merujuk pada kondisi di mana kemampuan berpikir, mengingat, dan berperilaku seseorang semakin menurun secara progresif. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi memori, tetapi juga kemampuan berbicara, membuat keputusan, dan menjalani kehidupan sehari-hari secara mandiri. FTD berbeda dengan Alzheimer, bentuk demensia yang lebih umum pada orang tua, karena gejala FTD sering kali bermula dengan perubahan perilaku, kemampuan berbicara, atau kemampuan bahasa, bukan penurunan memori yang paling terlihat pada Alzheimer.

Penelitian UCSF yang dipublikasikan pada Mei 2025 di jurnal ilmiah Nature Aging menunjukkan bahwa perubahan pada sejumlah besar protein di dalam cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang bisa menjadi indikator awal dari FTD. Tim peneliti memperkirakan bahwa protein-protein ini berubah sebelum gejala klinis terlihat jelas, yang berarti deteksi dini bisa dilakukan jauh sebelum gangguan yang parah muncul.

Frontotemporal Dementia: Bukan Alzheimer, Bukan Depresi

FTD adalah jenis demensia yang terutama memengaruhi lobus frontal dan temporal di otak—bagian otak yang bertanggung jawab atas perilaku, kepribadian, bahasa, dan fungsi eksekutif seperti perencanaan dan penilaian. Ketika sel-sel di area otak ini mulai rusak, seseorang dapat mengalami perubahan besar dalam cara mereka bertindak dan berkomunikasi. Berbeda dengan bentuk demensia lain, terutama Alzheimer, pada FTD memori jangka pendek sering kali tetap utuh pada tahap awal penyakit, sementara bahasa dan kemampuan sosial menunjukkan gangguan yang lebih jelas.

Baca juga: Gejala Pikun yang Sering Terabaikan: Bingung Saat Berbelanja

Karena gejalanya yang sering tidak khas tersebut, FTD sering kali salah didiagnosis. Banyak pasien didiagnosis dengan gangguan psikiatri seperti depresi, skizofrenia, atau gangguan kepribadian sebelum akhirnya diketahui bahwa sebenarnya mereka mengalami demensia. Proses ini bisa memakan waktu bertahun-tahun sebelum diagnosis yang benar ditegakkan, karena gejala awalnya sering kali disalahartikan sebagai masalah lain. Rata-rata waktu antara munculnya gejala awal sampai diagnosis FTD yang benar bisa mencapai lebih dari tiga tahun, dan selama waktu ini, pasien belum mendapatkan penanganan yang tepat.

Berbeda dengan Alzheimer, FTD lebih sering terjadi pada orang yang masih berada di usia produktif—sekitar 45 hingga 65 tahun—dan jumlah kasusnya meningkat di antara mereka yang bahkan lebih muda lagi. Karena itu, meskipun prevalensinya lebih rendah daripada Alzheimer secara keseluruhan, FTD sering disebut sebagai demensia permulaan dini (early onset dementia).

Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan? Protein dan Cairan Otak

Untuk memahami apa yang terjadi di otak orang dengan FTD, timpeneliti menggunakan pendekatan yang disebut proteomik, yaitu analisis terhadap semua protein yang ada dalam suatu sampel. Dalam penelitian UCSF, tim peneliti mengambil sampel cairan serebrospinal (CSF)—cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang—dari lebih dari 116 pasien FTD yang sudah terkonfirmasi secara genetik dan membandingkannya dengan sampel dari 39 saudara kandung mereka yang sehat. Karena pasien yang terlibat memiliki FTD yang diwariskan secara keluarga, tim peneliti bisa memastikan bahwa perubahan yang mereka temukan berkaitan langsung dengan penyakit ini.

Cairan serebrospinal adalah cairan jernih yang mengalir di sekitar otak dan sumsum tulang belakang, bertindak sebagai penyangga dan pelindung biologis. Karena CSF langsung berinteraksi dengan jaringan otak, perubahan komposisinya sering mencerminkan apa yang terjadi di dalam otak itu sendiri. Dengan mengukur lebih dari 4.000 protein yang berbeda dalam cairan itu, tim peneliti menemukan bahwa komposisi protein pada pasien FTD berbeda secara signifikan dibandingkan dengan orang sehat.

Gambaran umum studi

Perubahan Protein Memberi Petunjuk tentang Penyebab FTD

Protein-protein yang berubah pada pasien FTD memberi petunjuk penting tentang mekanisme penyakit. Sebagian besar perubahan tersebut menunjukkan ada gangguan dalam cara sel mengatur RNA, yaitu molekul yang bertugas membawa dan menerjemahkan informasi genetik dari DNA menjadi protein yang diperlukan sel untuk berfungsi. Ketika proses RNA terganggu, sel-sel otak tidak lagi bisa menghasilkan protein dengan cara yang benar atau dalam jumlah yang tepat, dan ini dapat menyebabkan kerusakan sel.

Selain itu, pola perubahan protein juga mencerminkan adanya gangguan dalam cara sel-sel otak berkomunikasi satu sama lain. Sel-sel saraf di otak saling terhubung melalui jaringan komunikasi kompleks yang memungkinkan kita berpikir, berbicara, dan bertindak. Ketika koneksi ini terganggu, jaringan saraf menjadi tidak efisien dan itulah yang kemungkinan besar memicu gejala-gejala FTD, seperti perubahan perilaku, kesulitan berbicara, atau hilangnya kemampuan sosial yang normal.

Tim peneliti memperkirakan bahwa perubahan protein ini—yang bisa diukur di dalam cairan serebrospinal—dapat menjadi biomarker yang muncul lebih awal daripada gejala klinis, sehingga bisa menjadi alat diagnostik penting di masa depan. Biomarker adalah indikator biologis yang dapat diukur secara objektif dan yang menunjukkan adanya suatu proses penyakit di dalam tubuh. Misalnya, biomarker bisa berupa protein tertentu yang jumlahnya meningkat atau menurun ketika suatu penyakit mulai berkembang.

Mengapa Ini Penting untuk Deteksi dan Perawatan

Temuan bahwa protein-protein tertentu berubah pada tahap awal FTD memiliki implikasi yang sangat besar. Saat ini, belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan atau menghentikan FTD sepenuhnya, dan pengobatan yang tersedia hanya bersifat simptomatik—artinya hanya membantu meringankan gejala, bukan memperlambat atau menghentikan penyebaran penyakit. Dengan adanya biomarker protein yang akurat, dokter bisa mulai melakukan diagnosis dini bahkan sebelum gejala yang jelas muncul dan bisa mengarahkan pasien untuk mengikuti ujicoba klinis terapi baru lebih cepat.

Deteksi dini juga penting karena memungkinkan pasien dan keluarga mereka untuk merencanakan perawatan serta dukungan yang diperlukan lebih awal. Selain itu, penemuan protein sebagai biomarker membuka peluang bagi peneliti untuk mencari terapi yang menargetkan aspek molekuler dari penyakit ini, bukan hanya gejalanya. Pendekatan semacam itu dikenal sebagai precision medicine, yaitu pengobatan yang disesuaikan dengan karakteristik biologi individu pasien.

Masih Banyak yang Harus Dipelajari

Meskipun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, tantangan besar masih tersisa. Pertama, tim peneliti perlu memastikan apakah biomarker protein yang ditemukan juga berlaku untuk bentuk FTD yang tidak diturunkan secara genetik, karena kebanyakan kasus FTD di masyarakat tidak memiliki komponen genetik yang jelas. Kedua, tim peneliti harus mengembangkan tes diagnostik yang praktis, yang bisa digunakan di klinik sehari-hari tanpa harus mengambil sampel CSF melalui prosedur invasif seperti punksi lumbal. Ketiga, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menyelidiki bagaimana dan mengapa protein-protein ini berubah dalam proses penyakit.

Kesimpulan

Penelitian UCSF dan NIH mengungkap bahwa perubahan protein yang terjadi di otak orang paruh baya yang mengalami FTD muncul sebelum gejala klinis terlihat, dan protein-protein tersebut bisa menjadi penanda dini (biomarker) untuk demensia ini. Temuan tersebut tidak hanya memberi harapan baru bagi diagnosis dan perawatan, tetapi juga memperluas pemahaman kita tentang bagaimana demensia berkembang di usia yang relatif muda. Ke depan, penelitian lebih lanjut diharapkan dapat menghasilkan tes diagnostik yang lebih akurat, diagnosis yang lebih cepat, dan pada akhirnya, terapi yang lebih efektif untuk orang-orang yang terkena dampak penyakit demensia ini.

Referensi:

[1] https://www.ucsf.edu/news/2025/05/430001/how-do-middle-aged-folks-get-dementia-it-could-be-these-proteins, diakses pada 27 Desember 2025.

[2] Rowan Saloner, Adam M. Staffaroni, Eric B. Dammer, Erik C. B. Johnson, Emily W. Paolillo, Amy Wise, Hilary W. Heuer, Leah K. Forsberg, Argentina Lario-Lago, Julia D. Webb, Jacob W. Vogel, Alexander F. Santillo, Oskar Hansson, Joel H. Kramer, Bruce L. Miller, Jingyao Li, Joseph Loureiro, Rajeev Sivasankaran, Kathleen A. Worringer, Nicholas T. Seyfried, Jennifer S. Yokoyama, Salvatore Spina, Lea T. Grinberg, William W. Seeley, Lawren VandeVrede, Peter A. Ljubenkov, Ece Bayram, Andrea Bozoki, Danielle Brushaber, Ciaran M. Considine, Gregory S. Day, Bradford C. Dickerson, Kimiko Domoto-Reilly, Kelley Faber, Douglas R. Galasko, Tania Gendron, Daniel H. Geschwind, Nupur Ghoshal, Neill Graff-Radford, Chadwick M. Hales, Lawrence S. Honig, Ging-Yuek R. Hsiung, Edward D. Huey, John Kornak, Walter Kremers, Maria I. Lapid, Suzee E. Lee, Irene Litvan, Corey T. McMillan, Mario F. Mendez, Toji Miyagawa, Alexander Pantelyat, Belen Pascual, Joseph Masdeu, Henry L. Paulson, Leonard Petrucelli, Peter Pressman, Rosa Rademakers, Eliana Marisa Ramos, Katya Rascovsky, Erik D. Roberson, Rodolfo Savica, Allison Snyder, Anna Campbell Sullivan, M. Carmela Tartaglia, Marijne Vandebergh, Brad F. Boeve, Howie J. Rosen, Julio C. Rojas, Adam L. Boxer, Kaitlin B. Casaletto. Large-scale network analysis of the cerebrospinal fluid proteome identifies molecular signatures of frontotemporal lobar degenerationNature Aging, 2025; DOI: 10.1038/s43587-025-00878-2

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top