Ketika hewan besar meninggal di laut dalam, mereka meninggalkan lebih dari sekadar tubuh yang membusuk. Di dasar laut, sisa-sisa mereka menjadi sumber kehidupan bagi komunitas makhluk yang luar biasa. Salah satu penghuni misterius ini adalah cacing pemakan tulang, yang telah memainkan peran penting dalam ekosistem laut selama lebih dari 100 juta tahun.

Ichthyosaurus dan plesiosaurus adalah bagian utama dari kehidupan di lautan antara Periode Trias dan Kapur.

Ketika hewan besar meninggal di laut dalam, mereka meninggalkan lebih dari sekadar tubuh yang membusuk. Di dasar laut, sisa-sisa mereka menjadi sumber kehidupan bagi komunitas makhluk yang luar biasa. Salah satu penghuni misterius ini adalah cacing pemakan tulang, yang telah memainkan peran penting dalam ekosistem laut selama lebih dari 100 juta tahun.

Jejak Kehidupan Setelah Kematian

Ketika hewan laut besar seperti paus mati, tubuh mereka tenggelam ke dasar laut. Setelah dagingnya dilahap oleh pemakan bangkai dan mikroba, tulang-tulangnya menjadi rumah bagi berbagai invertebrata khusus yang memanfaatkan lemak dan protein yang terkunci di dalam kerangka tersebut. Salah satu makhluk yang paling menonjol dalam proses ini adalah cacing pemakan tulang dari genus Osedax.

Cacing ini pertama kali ditemukan pada awal tahun 2000-an, tetapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa mereka telah ada jauh sebelum paus pertama kali muncul di Bumi. Fosil menunjukkan bahwa cacing pemakan tulang telah menggali kerangka reptil laut purba seperti mosasaurus, ichthyosaurus, dan plesiosaurus selama periode Kapur. Jejak burrow atau lubang kecil yang mereka tinggalkan di tulang-tulang fosil menjadi bukti nyata keberadaan mereka.

Penelitian Baru Mengungkapkan Sejarah Purba

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal PLOS One telah mengidentifikasi tujuh tipe burrow baru yang dibuat oleh cacing pemakan tulang purba. Sarah Jamison-Todd, seorang mahasiswa PhD yang memimpin penelitian ini, menjelaskan bahwa meskipun sulit untuk memastikan spesies mana yang membuat lubang-lubang ini, bentuknya sangat mirip dengan burrow yang dibuat oleh Osedax modern.

“Kami belum menemukan makhluk lain yang membuat burrow serupa,” kata Sarah. “Karena burrow purba ini sangat mirip dengan burrow yang dibuat oleh spesies Osedax modern, kami berasumsi bahwa mereka dibuat oleh organisme yang sama atau serupa.”

Penelitian ini menunjukkan bahwa cacing pemakan tulang adalah bagian dari garis evolusi yang telah ada setidaknya sejak periode Kapur, dan mungkin lebih lama lagi. Selain itu, studi ini juga memberikan wawasan tentang bagaimana keragaman cacing pemakan tulang berkembang selama jutaan tahun.

Peran Vital dalam Ekosistem Laut

Cacing Osedax memiliki cara hidup yang unik. Mereka tidak memiliki mulut atau anus seperti kebanyakan makhluk lainnya. Sebagai gantinya, mereka bergantung pada bakteri simbiotik untuk memecah kerangka hewan yang telah mati. Nutrisi yang dilepaskan oleh bakteri kemudian diserap melalui struktur mirip akar pada tubuh cacing.

Cacing ini ditemukan di berbagai bagian dunia, mulai dari Samudra Arktik hingga Antarktik, dan dapat hidup di kedalaman mulai dari 20 meter hingga lebih dari empat kilometer di bawah permukaan laut. Dengan kemampuan mereka untuk mendaur ulang nutrisi dari kerangka hewan besar, cacing Osedax memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Berburu Jejak Burrow Purba

Untuk memahami sejarah purba cacing pemakan tulang, tim peneliti memulai pencarian mereka dengan mempelajari koleksi fosil reptil laut di Museum Sejarah Alam di Inggris. Dr. Marc Jones, kurator koleksi tersebut, menjelaskan bahwa langkah pertama adalah menentukan usia fosil dengan akurat.

“Beberapa spesimen ini dikumpulkan pada tahun 1800-an, dan informasi mengenai asal-usulnya sering kali sangat terbatas,” jelas Marc. “Kami fokus pada fosil dari lapisan kapur di Inggris karena kolega kami telah bekerja untuk memahami ekosistem Kapur menggunakan koleksi museum.”

Tim kemudian mencari tanda-tanda burrow pada fosil tersebut, termasuk lubang kecil seukuran ujung jarum. Untuk memastikan bahwa lubang tersebut memang dibuat oleh cacing pemakan tulang, tim menggunakan pemindaian CT untuk membuat rekonstruksi 3D dari struktur dalam tulang.

Penemuan Spesies Baru

Dari penelitian ini, para peneliti berhasil mengidentifikasi enam tipe burrow baru dalam fosil tulang dan gigi yang mewakili spesies ichnospecies cacing pemakan tulang purba. Mereka juga memasukkan satu fosil yang sebelumnya dipelajari dari Institut Ilmu Pengetahuan Alam Kerajaan Belgia, sehingga total jumlah spesies baru menjadi tujuh.

Nama-nama spesies baru ini terinspirasi dari berbagai sumber. Salah satunya adalah Osspecus arboreum, dinamai karena bentuk burrow-nya menyerupai pohon. Osspecus morsus, di sisi lain, dinamai dari kata Latin untuk “gigitan” karena sebagian besar ditemukan pada gigi fosil.

Menariknya, salah satu spesies baru diberi nama Osspecus eunicefooteae untuk menghormati Eunice Newton Foote, seorang ilmuwan yang penelitiannya tentang efek rumah kaca sempat diabaikan selama lebih dari satu abad.

Masa Depan Penelitian

Para peneliti berharap bahwa penamaan burrow ini akan mempermudah ilmuwan lain untuk menemukan jejak serupa dalam fosil lain dan mendokumentasikan keragaman cacing pemakan tulang secara lebih lengkap. Sarah Jamison-Todd menambahkan bahwa masih banyak burrow lain yang belum dinamai, baik dari cacing purba maupun modern.

“Beberapa burrow dari periode Kapur tampaknya mirip dengan burrow yang masih dibuat hingga hari ini,” kata Sarah. “Mengetahui apakah burrow ini dibuat oleh spesies yang sama atau merupakan contoh evolusi konvergen akan memberikan wawasan lebih mendalam tentang bagaimana makhluk ini berevolusi dan bagaimana mereka membentuk ekosistem laut selama jutaan tahun.”

Kesimpulan

Cacing pemakan tulang bukan hanya makhluk misterius yang hidup di kedalaman laut; mereka adalah penjaga ekosistem yang telah ada selama lebih dari 100 juta tahun. Dengan kemampuan unik mereka untuk mendaur ulang nutrisi dari kerangka hewan besar, mereka memainkan peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Penelitian terbaru tentang jejak fosil cacing ini tidak hanya mengungkap sejarah panjang mereka tetapi juga membuka pintu bagi studi lebih lanjut tentang evolusi dan dampak ekologis mereka. Seiring waktu, kita mungkin akan menemukan lebih banyak rahasia tentang makhluk luar biasa ini dan peran mereka dalam dunia bawah laut yang penuh misteri.

Referensi

  • Jamison-Todd, S., Witts, J. D., Jones, M. E. H., Tangunan, D., Chandler, K., Bown, P., & Twitchett, R. J. (2025, 3 April). The evolution of bone-eating worm diversity in the Upper Cretaceous Chalk Group of the United Kingdom. PLOS ONE, 20(4): e0320945. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0320945 PLOS+1
  • Ashworth, J. (2025, 8 Juli). Ancient bone-eating worms ate mosasaur, ichthyosaur and plesiosaur skeletons. Natural History Museum. Natural History Museum
  • ScienceAlert (2025). Bone-Eating Worms Have Lurked in The Ocean For 100 Million Years. ScienceAlert
  • Earth.com (2025). Ancient worms feasted on the bones of giant marine animals. Earth.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top