Rempah dan herbal selalu memegang peran penting dalam kehidupan manusia. Banyak budaya di seluruh dunia mengandalkan keduanya untuk memperkaya rasa makanan, menjaga kesehatan, dan bahkan mengobati penyakit tertentu. Setiap daerah memiliki kombinasi rempah yang khas, menciptakan identitas kuliner yang unik. Namun penelitian modern menunjukkan bahwa peran rempah dan herbal jauh lebih luas dari yang selama ini kita bayangkan. Di balik aromanya yang kuat, terdapat ribuan senyawa kimia alami yang menyimpan potensi besar bagi kesehatan.
Riset terbaru dari para ilmuwan dalam jurnal npj Science of Food mengungkap gambaran baru mengenai hubungan antara kandungan kimia pada rempah dan manfaat kesehatannya. Penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan yang sering muncul tetapi jarang terjawab secara sistematis, yaitu mengapa rempah tertentu dianggap menyehatkan dan bagaimana kaitannya dengan senyawa yang dikandungnya. Jawaban ini sangat penting karena dunia kuliner dan dunia kesehatan sering berjalan beriringan namun tidak selalu saling terhubung melalui data ilmiah yang jelas.
Baca juga artikel tentang: Makanan Sehat dari Negeri Sakura: Rahasia Panjang Umur yang Bisa Kita Tirukan
Rempah dan herbal rata rata mengandung sekitar tiga ribu fitokimia atau senyawa kimia alami yang diproduksi tanaman. Banyak dari senyawa ini telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional, tetapi hanya sebagian kecil yang telah dipelajari secara mendalam. Penelitian baru ini berupaya menyusun peta hubungan antara fitokimia, rempah, dan manfaat kesehatan dengan pendekatan yang jauh lebih terstruktur. Para peneliti membangun jaringan data besar yang menghubungkan ribuan senyawa dengan berbagai kondisi kesehatan dan pola penggunaan rempah di berbagai wilayah.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa rempah yang sering kita gunakan sehari hari mengandung kombinasi senyawa yang saling melengkapi dalam memberikan manfaat bagi tubuh. Misalnya, kunyit yang dikenal luas karena kandungan kurkuminnya ternyata memiliki puluhan senyawa lain yang mungkin ikut berperan dalam aktivitas anti peradangan. Ketumbar, kayu manis, jahe, lada hitam, dan daun salam juga menunjukkan hubungan kuat dengan manfaat kesehatan tertentu yang selama ini sudah dikenal dalam pengobatan tradisional.

Para peneliti kemudian menyusun daftar seratus hubungan terbaik antara fitokimia dan manfaat kesehatan yang paling mungkin terjadi. Menariknya, empat puluh persen dari hubungan tersebut telah dikenal sebelumnya melalui literatur pengobatan tradisional maupun penelitian modern. Dua puluh persen lainnya merupakan hubungan baru yang telah divalidasi melalui data genetika dan kimia dengan tingkat keyakinan tinggi. Sisanya merupakan hipotesis biologis yang sangat menjanjikan sehingga layak diuji melalui penelitian lanjutan.
Temuan ini memperlihatkan bahwa kebijaksanaan kuno dalam menggunakan rempah sering kali memiliki dasar ilmiah yang kuat. Pengetahuan tradisional yang diwariskan turun temurun ternyata banyak mengarah pada kombinasi rempah yang secara kimiawi memang mendukung kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa dunia modern dapat mempelajari banyak hal dari hubungan historis antara kuliner dan kesehatan.
Penelitian ini juga mengevaluasi kebiasaan penggunaan rempah dalam berbagai masakan khas India. Setiap wilayah di India memiliki beberapa rempah yang menjadi ciri khas. Kombinasi tersebut bukan hanya menciptakan cita rasa, tetapi juga berpotensi memberikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat setempat. Para ilmuwan menggunakan model evolusi kuliner untuk mempelajari bagaimana kombinasi rempah berkembang dari waktu ke waktu. Model ini menunjukkan bahwa pergeseran budaya kuliner kemungkinan turut memengaruhi spektrum manfaat kesehatan yang tersedia dalam suatu komunitas.
Salah satu kontribusi menarik dari penelitian ini adalah pembuatan algoritma yang dapat menentukan jumlah minimum rempah yang dibutuhkan untuk mencakup kelompok kondisi kesehatan tertentu. Dengan kata lain, algoritma ini dapat membantu menyusun kombinasi rempah yang efektif sebagai bagian dari pola makan sehat. Pendekatan seperti ini dapat membuka jalan bagi inovasi dalam perencanaan makanan fungsional, yaitu makanan yang dirancang untuk memberikan manfaat kesehatan tambahan selain nutrisi dasar.
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa globalisasi kuliner dapat memperluas spektrum manfaat kesehatan dalam masyarakat. Ketika suatu negara mulai mengadopsi rempah dari berbagai belahan dunia, pola makan masyarakatnya menjadi lebih beragam. Keragaman ini berpotensi menyediakan fitokimia tambahan yang sebelumnya tidak ditemukan dalam makanan tradisional setempat. Dengan demikian, pertukaran budaya kuliner tidak hanya memperkaya rasa tetapi juga dapat meningkatkan kualitas kesehatan populasi.
Walaupun penelitian ini membuka banyak pintu baru, para ilmuwan menekankan bahwa masih banyak yang harus dipelajari. Hubungan antara fitokimia dan kesehatan sangat kompleks. Banyak faktor lain seperti genetika, lingkungan, gaya hidup, serta cara memasak juga memengaruhi dampak akhir terhadap tubuh. Namun penelitian ini memberikan dasar penting menuju pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai rempah dan kesehatan.
Bagi masyarakat umum, temuan ini memberikan pesan sederhana namun penting. Menggunakan lebih banyak jenis rempah dalam masakan dapat menjadi langkah mudah untuk menjaga kesehatan. Rempah tidak hanya meningkatkan rasa tetapi juga menyediakan senyawa aktif yang dapat membantu tubuh melawan peradangan, meningkatkan sistem kekebalan, dan mengurangi risiko penyakit kronis. Rempah seperti kunyit, jahe, bawang putih, kayu manis, dan lada hitam telah lama dikenal memiliki manfaat kesehatan dan penelitian ini semakin menguatkan bukti tersebut.
Rempah dan herbal adalah contoh bagaimana makanan sehari hari memiliki potensi besar untuk mendukung kesehatan. Dengan memahami kandungan kimia dan manfaatnya, kita dapat membuat pilihan yang lebih bijak dalam kehidupan sehari hari. Dunia sains dan dunia kuliner ternyata semakin dekat, dan keduanya saling memperkaya untuk menciptakan masa depan yang lebih sehat.
Baca juga artikel tentang: Wangi yang Menyelamatkan: Bagaimana Minyak Rempah Bisa Menggantikan Pengawet Kimia
REFERENSI:
Kaur, Rishemjit dkk. 2025. From phytochemicals to recipes: health indications and culinary uses of herbs and spices. npj Science of Food 9 (1), 89.

