Mikrobiota Usus dapat Mempengaruhi Pengambilan Keputusan

Komposisi mikrobiota usus yang terdiri dari bakteri, virus, dan jamur di saluran pencernaan ternyata juga mempengaruhi perilaku manusia. Penelitian pada […]

Komposisi mikrobiota usus yang terdiri dari bakteri, virus, dan jamur di saluran pencernaan ternyata juga mempengaruhi perilaku manusia. Penelitian pada manusia dan hewan menunjukkan bahwa bakteri di usus kita dapat berkomunikasi dengan otak melalui berbagai jalur. Jalur ini mencakup saraf dan sinyal kimia seperti yang dikirim melalui sistem kekebalan tubuh, hormon usus, dan bahan kimia di otak yang disebut neurotransmiter.

blank
Ilustrasi mikrobiota usus

Salah satu contoh jaringan komunikasi ini adalah hubungan antara bakteri di usus kita, sistem pencernaan, dan otak kita. Hubungan mempengaruhi cara otak memproduksi dan memproses bahan kimia tertentu seperti dopamin dan serotonin, yang memengaruhi suasana hati dan pemikiran. Bahan kimia ini terbuat dari bahan penyusun tertentu yang ditemukan dalam makanan, seperti tirosin dan triptofan.

Unsur-unsur ini juga dapat memengaruhi perilaku sosial dan pengambilan keputusan kita. Misalnya, ketika orang diberi lebih banyak triptofan, mereka cenderung menilai perilaku tidak bermoral dengan lebih keras. Demikian pula, ketika diberi zat yang meningkatkan dopamin, seorang menjadi kurang bermurah hati terutama terhadap orang yang mereka kenal baik.

Para peneliti menemukan bahwa perubahan kimiawi otak yang disebabkan oleh perubahan kadar tirosin atau triptofan melalui pola makan, dapat memengaruhi cara orang merespons perlakuan tidak adil. Misalnya, penurunan kadar tirosin menyebabkan lebih banyak penolakan terhadap tawaran yang tidak adil. Ini menunjukkan bahwa apa yang kita makan dapat memengaruhi cara kita berinteraksi dengan orang lain secara sosial.

Observasi Intervensi Suplemen

Beragam penelitian menyoroti pengaruh microbiota usus terhadap kognisi, stres, kecemasan, dan gejala depresi. Namun masih sedikit diketahui bagaimana pengaruh microbiota usus terhadap perilaku pengambilan keputusan. Tim peneliti mendalami bagaimana pengaruh intervensi suplemen pada konsumsi seorang dapat mempengaruhi enzim dan neurotransmitter pada otak manusia. Lebih jauh, bagaimana pengaruh intervensi suplemen terhadap pengambilan keputusan.

blank
Skema Observasi

Untuk mengetahuinya, peneliti merekrut 101 partisipan untuk mengikuti tes selama 7 pekan. 51 orang mengonsumsi suplemen makanan yang mengandung probiotik (bakteri bermanfaat) dan prebiotik (nutrisi yang mendorong kolonisasi bakteri di usus), sementara 50 lainnya menerima plasebo. Mereka semua mengikuti permainan ultimatum selama dua sesi di awal dan akhir periode suplementasi untuk mengetahui perilaku altruistic punnishment.  

Altruistic punishment adalah tindakan seseorang yang mengorbankan keuntungannya sendiri untuk memberikan hukuman kepada individu lain yang dianggap melanggar norma sosial atau aturan yang adil. Dalam konteks penelitian sosial, altruistic punishment sering kali terjadi dalam eksperimen seperti permainan ultimatum. Permainan ultimatum merupakan tes di mana seorang sering menolak imbalan uang ketika menerima tawaran yang tidak adil meskipun dengan menolak penawaran tersebut dia juga mengurangi keuntungannya sendiri. Altruistic punishment menunjukkan bahwa seseorang bersedia mengorbankan keuntungannya sendiri untuk menegakkan norma sosial atau keadilan.

Pada permainan ini, salah satu peserta diberikan sejumlah uang dan menawarkan sebagian uang itu ke peserta kedua (responden). Jika peserta kedua menolak jumlah uang yang ditawarkan, uang akan ditarik dan tidak satupun peserta mendapatkan bagian. Permainan ini digunakan sebagai cara eksperimental untuk mengukur kepekaan terhadap keadilan. Pada penelitian selama 7 pekan ini, peneliti mengubah komposisi mikrobioma usus pada manusia dewasa melalui intervensi pola makan, tanpa mengubah komposisi makronutrien (yaitu karbohidrat, protein, dan lemak) dari makanan para partisipan.

Hasil dan Temuan

Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa peserta yang menerima suplemen menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam menolak tawaran dibandingkan dengan mereka yang menerima plasebo. Tren penolakan ini terjadi khususnya terhadap penawaran yang tidak adil (30% – 40% pembagian). Hal ini menunjukkan kecenderungan peningkatan perilaku altruistic punishment pada penerima suplemen.

Selain itu, perubahan perilaku pada kelompok yang diberi suplemen juga disertai dengan perubahan biologis. Peserta yang mulanya memiliki ketidakseimbangan antara dua jenis bakteri yang mendominasi flora usus (Firmicutes dan Bacteroidetes) mengalami perubahan komposisi mikrobiota usus paling signifikan. Selain itu, mereka juga menunjukkan kepekaan terbesar terhadap keadilan selama pengujian.

Analisis lebih lanjut menyelidiki mekanisme di balik perubahan perilaku ini dan menghubungkannya dengan peran prekursor dopamin dan serotonin. Para peneliti mengamati penurunan tajam kadar tirosin, prekursor dopamin, setelah intervensi tujuh minggu. Yang menunjukkan komposisi mikrobiota usus dapat memengaruhi perilaku sosial melalui prekursor dopamin, suatu neurotransmitter yang terlibat dalam mekanisme penghargaan otak.

Singkatnya, temuan ini menunjukkan bahwa intervensi suplemen memengaruhi proses pengambilan keputusan sosial, khususnya perilaku altruistic punishment, melalui dampaknya terhadap komposisi mikrobioma usus dan modulasi prekursor neurotransmitter. Peserta dengan mikrobioma usus yang tidak seimbang menunjukkan perubahan yang lebih nyata, yang menunjukkan adanya potensi intervensi perilaku sosial.

Referensi : Marie Falkenstein, Marie-Christine Simon, Aakash Mantri, Bernd Weber, Leonie Koban, Hilke Plassmann, Impact of the gut microbiome composition on social decision-making, PNAS Nexus, Volume 3, Issue 5, May 2024, pgae166, https://doi.org/10.1093/pnasnexus/pgae166

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *