Rahasia di Balik Nanas Busuk: Pertahanan Biokimia Sang Ratu Queen Victoria

Nanas sering kita anggap sebagai simbol tropis yang sempurna, manis, segar, dan menggoda. Tapi siapa sangka, di balik kulit berduri […]

Nanas sering kita anggap sebagai simbol tropis yang sempurna, manis, segar, dan menggoda. Tapi siapa sangka, di balik kulit berduri dan daging kuning keemasannya, tersembunyi ancaman yang membuat petani pusing dan industri ekspor kelimpungan.
Namanya Fruitlet Core Rot (FCR) penyakit busuk inti buah yang diam-diam merusak kualitas nanas, bahkan sebelum buah itu sampai ke meja makan.

Penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Postharvest Biology and Technology (2025) oleh Lorraine Latchoumane, Bastien Barral, Olivier Chevallier, Jérôme Minier, dan Fabrice Davrieux menelusuri penyakit ini secara mendalam pada varietas terkenal: ‘Queen Victoria’ pineapple. Hasilnya membuka mata kita bahwa busuk ini bukan sekadar masalah jamur biasa, melainkan juga perang biokimia di dalam buah.

Baca juga artikel tentang: Pengaruh dan Nilai H/CO Pada Proses Gasifikasi Biomassa (Kulit Nanas) Jika Steam atau Udara Bertambah atau Berkurang

Sang “Ratu” Nanas yang Terancam

Varietas Queen Victoria dikenal sebagai nanas premium dengan rasa manis yang khas dan ukuran kecil elegan, sering disebut “si ratu nanas”. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, petani di berbagai negara tropis seperti Mauritius, Afrika Selatan, dan Filipina melaporkan peningkatan kasus Fruitlet Core Rot.

Gejalanya tidak selalu terlihat dari luar.
Buah tampak normal, kulitnya berwarna cerah, namun ketika dipotong, bagian tengahnya berwarna cokelat kehitaman dan berbau tidak sedap. Dalam kasus berat, bagian dalam nanas bisa lembek dan asam, membuatnya tak layak jual.

Apa Penyebabnya?

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi jamur, terutama dari genus Fusarium dan Penicillium. Jamur ini menyerang bagian tengah nanas (core) atau buah-buah kecil penyusunnya (fruitlets) melalui luka kecil atau celah bunga. Dalam kondisi lembap dan hangat (khas iklim tropis) jamur tumbuh cepat, menginfeksi jaringan buah, dan menghasilkan racun yang mengubah komposisi kimia di dalamnya.

Yang membuatnya sulit dikendalikan adalah sifatnya yang “diam-diam mematikan.”
Buah bisa tampak sehat dari luar tetapi sudah rusak di dalam. Hal ini menyebabkan kerugian besar bagi industri karena banyak buah baru ketahuan busuk setelah dikupas atau diekspor.

Bagaimana Peneliti Menyelidikinya

Tim ilmuwan menggunakan pendekatan metabolomik teknik canggih yang menganalisis ribuan molekul kecil (metabolit) di dalam jaringan tanaman. Tujuannya: memahami bagaimana tubuh buah bereaksi terhadap infeksi jamur, baik secara lokal (di area terinfeksi) maupun sistemik (menyeluruh di seluruh buah).

Mereka mengambil tiga jenis sampel:

  1. Buah sehat – tanpa tanda infeksi.
  2. Buah terinfeksi – dengan bercak hitam atau jaringan busuk.
  3. Buah tanpa gejala (asimptomatik) – tampak sehat tapi mungkin sudah mengandung jamur di tahap awal.

Analisis dilakukan pada daging buah (pulp) dan kulit luar (skin) untuk membandingkan reaksi kimia di dua lapisan berbeda.

Hasil Mengejutkan: Buah Melawan Balik

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pulp (bagian dalam nanas) mengalami perubahan kimia yang jauh lebih besar dan kompleks dibandingkan kulitnya.

Begitu jamur menyerang, buah Queen Victoria tidak tinggal diam. Ia “melawan” dengan cara memodifikasi metabolitnya yaitu senyawa kimia kecil yang terlibat dalam proses fisiologis seperti pertahanan, rasa, dan aroma.

Beberapa perubahan utama yang ditemukan antara lain:

  • Peningkatan senyawa fenolik dan flavonoid, zat yang berperan sebagai antioksidan alami. Ini seperti “senjata kimia” yang dikeluarkan buah untuk menetralkan racun jamur.
  • Perubahan kadar asam organik (seperti asam sitrat dan malat), yang mempengaruhi rasa serta keasaman buah.
  • Gangguan pada jalur metabolisme gula dan asam amino, membuat rasa manis alami berkurang dan aroma menjadi lebih tajam.
Perubahan metabolik signifikan pada pulp dan kulit buah nanas ‘Queen Victoria’ akibat infeksi FCR, dengan metabolit yang meningkat ditandai merah dan yang menurun ditandai biru.

Dengan kata lain, ketika jamur menyerang, buah nanas mengubah “resep biokimianya” untuk bertahan hidup, tapi efek sampingnya adalah perubahan rasa, warna, dan tekstur.

Perang di Dua Lapisan: Kulit vs Daging Buah

Menariknya, kulit nanas ternyata jauh lebih “tenang” dibanding pulp-nya. Reaksi biokimia di lapisan luar lebih stabil dan terbatas, kemungkinan karena kulit memiliki struktur lebih keras dan kaya lilin yang menghambat penyebaran jamur.

Sebaliknya, daging buah adalah medan perang utama. Disinilah jamur berkembang biak, dan di sinilah pula nanas memobilisasi pertahanannya. Sayangnya, proses pertahanan ini justru sering mempercepat kerusakan rasa dan warna buah.

Implikasi untuk Industri Nanas Dunia

Penemuan ini penting karena memberikan gambaran baru tentang bagaimana penyakit FCR bekerja dari dalam. Sebelumnya, para ahli hanya menilai dari sisi luar, apakah buah memiliki bintik hitam atau tidak. Namun penelitian ini membuktikan bahwa perubahan kimia sudah terjadi jauh sebelum gejala terlihat.

Dengan pemahaman ini, industri bisa:

  • Mengembangkan alat deteksi dini berbasis kimia atau sensor metabolit, untuk mendeteksi infeksi sebelum buah rusak total.
  • Merancang perlakuan pascapanen yang lebih efektif, seperti penyimpanan suhu tertentu atau penggunaan agen antijamur alami.
  • Mengarahkan pemuliaan varietas baru yang memiliki metabolisme pertahanan lebih kuat.

Pengetahuan tentang “peta metabolik” ini juga membuka peluang bagi peneliti untuk menciptakan nanas tahan jamur tanpa mengorbankan rasa manisnya.

Nanas Bukan Sekadar Buah, Tapi Organisme Cerdas

Mungkin terdengar aneh membayangkan buah “melawan penyakit”, tapi sebenarnya, semua tumbuhan memiliki mekanisme pertahanan diri yang kompleks. Mereka tidak bisa bergerak atau berteriak, tapi mereka bisa mengubah komposisi kimianya untuk menahan serangan mikroba.

Dalam kasus Queen Victoria, respons metabolik yang ditemukan peneliti menunjukkan kecerdasan biologis alami:
buah mengenali ancaman, memicu reaksi kimia pertahanan, lalu berusaha menstabilkan dirinya meski akhirnya kalah oleh infeksi yang terlalu kuat.

Dampak Lebih Luas: Dari Kebun Hingga Dapur

Masalah FCR bukan hanya urusan petani atau ilmuwan. Tapi juga berdampak pada:

  • Konsumen, karena kualitas rasa dan aroma nanas menurun.
  • Eksportir, karena buah bisa rusak dalam perjalanan jauh.
  • Lingkungan, karena penggunaan pestisida berlebihan untuk mencegah jamur sering mencemari tanah.

Dengan pemahaman baru tentang mekanisme penyakit ini, langkah pencegahan bisa lebih tepat sasaran lebih ilmiah, lebih ramah lingkungan, dan lebih efisien.

Penelitian oleh Lorraine Latchoumane dan rekan-rekannya mengajarkan kita bahwa nanas, terutama varietas Queen Victoria bukan hanya buah manis yang pas untuk jus atau rujak. Tapi juga organisme hidup yang punya sistem pertahanan kompleks, yang berjuang mempertahankan kualitas dirinya melawan serangan jamur.

Dengan analisis metabolomik, ilmuwan kini bisa “mengintip” reaksi-reaksi kecil di dalam buah yang selama ini tersembunyi dari mata manusia. Dan lewat pemahaman ini, kita semakin dekat pada masa depan di mana buah tropis bisa lebih tahan penyakit, lebih sehat, dan lebih berkelanjutan.

Jadi, ketika kamu menikmati potongan nanas segar, ingatlah ada kisah biologis luar biasa di balik rasa manis itu: kisah perjuangan kecil dari sang Queen Victoria melawan musuh tak kasat mata.

Baca juga artikel tentang: 5 Kelompok Pengidap Penyakit yang Harus Hati-Hati Mengonsumsi Nanas

REFERENSI:

Latchoumane, Lorraine dkk. 2025. Fruitlet Core Rot disease in ‘Queen Victoria’pineapple infructescence triggers local and systemic metabolome reconfigurations. Postharvest Biology and Technology 226, 113561.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top