Astronomi terus membuka tabir misteri alam semesta, termasuk cara bintang dan planet terbentuk. Baru-baru ini, tim peneliti internasional membuat sebuah terobosan penting dengan menemukan banyak kandidat cakram protoplanet di wilayah pusat galaksi kita, Bima Sakti. Temuan ini dilaporkan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics dan membuka peluang baru untuk memahami bagaimana sistem seperti tata surya kita mungkin terbentuk bahkan di lingkungan ekstrem yang jauh berbeda dari lingkungan sekitar Matahari kita.
Apa Itu Cakram Protoplanet?
Istilah cakram protoplanet (protoplanetary disk) mungkin terdengar teknis, tetapi sebenarnya konsepnya sederhana: ini adalah struktur berbentuk piringan dari debu dan gas yang mengelilingi bintang muda. Piringan ini merupakan tempat di mana planet-planet lahir. Debu dan gas di dalamnya perlahan-lahan bergabung, bertumbuh dari partikel mikroskopis menjadi batu, kemudian menjadi planet kecil, dan akhirnya bisa menjadi dunia seperti Bumi atau Jupiter jika kondisinya tepat.
Selama beberapa dekade, astronom telah menemukan banyak cakram protoplanet di sekitar bintang yang relatif dekat dengan Bumi. Namun dalam banyak kasus, wilayah yang diamati itu berada di lingkungan yang tenang secara kosmik, seperti dekat dengan Tata Surya kita sendiri. Ini membuat kita bertanya: bagaimana proses pembentukan planet terjadi di lingkungan yang jauh lebih ekstrem, seperti di pusat galaksi?
Mengapa Pusat Galaksi Itu Menarik untuk Dipelajari?
Wilayah Zona Molekuler Pusat Bima Sakti (Central Molecular Zone, CMZ) atau adalah sebuah area di dekat inti galaksi yang penuh dengan gas dan debu yang sangat padat, sekaligus memiliki tekanan dan kondisi fisik yang jauh lebih ekstrem dibanding wilayah sekitar Matahari kita. Di sinilah bintang-bintang baru terbentuk dalam kondisi yang penuh turbulensi dan tekanan tinggi.
Studi tentang pembentukan bintang dan planet di wilayah seperti CMZ sangat penting karena lingkungan ini berbeda jauh dari lingkungan yang sudah banyak dipelajari sebelumnya. Jika proses yang sama bisa terjadi di sana, maka teori kita tentang bagaimana planet terbentuk bisa jauh lebih umum dan kuat. Jika prosesnya berbeda, itu juga memberikan wawasan baru yang menarik tentang beragam cara alam semesta bekerja.
Namun masalahnya, wilayah CMZ sangat sulit dipelajari karena letaknya sangat jauh dari kita, cahayanya sangat redup, dan tertutup oleh lapisan tebal debu antarbintang yang membuatnya hampir tersembunyi dari pandangan teleskop biasa. Mengatasi tantangan ini membutuhkan teknologi observasi paling mutakhir yang tersedia saat ini: teleskop ALMA di gurun Atacama, Chili.
ALMA: Mata Super di Gurun Chili
ALMA adalah singkatan dari Atacama Large Millimeter/submillimeter Array, sebuah jaringan teleskop radio canggih di gurun Atacama, Chili. Teleskop ini tidak berupa satu alat tunggal, melainkan puluhan antena yang bekerja bersama seperti sebuah teleskop raksasa. Kombinasi sinyal dari antena-antena ini memungkinkan tim menghasilkan gambar dengan resolusi sangat tinggi, layaknya melihat detail sebesar 1.000 unit astronomi (AU) dari jarak yang sangat jauh. (Unit astronomi atau AU adalah jarak rata-rata antara Bumi dan Matahari—kira-kira 150 juta kilometer.)
Dengan kemampuan ini, tim dapat merancang survei yang paling sensitif dan resolusi tertinggi dari tiga awan molekuler representative di CMZ. Awan molekuler adalah kumpulan gas dan debu antarbintang yang menjadi tempat kelahiran bintang-bintang baru. Dari observasi itu, tim berhasil mengidentifikasi lebih dari 500 inti padat—wilayah kecil yang menjadi tempat bintang lahir—di ketiga awan tersebut.
Menemukan ‘Titik Merah Kecil’ yang Menjadi Petunjuk
Hal yang paling mengejutkan adalah bahwa lebih dari 70% inti padat ini tampak lebih “merah” daripada yang diharapkan pada pengamatan spektrum ganda (dual-band). Ini berarti titik-titik merah tersebut memancarkan lebih banyak cahaya pada panjang gelombang yang lebih panjang, yang biasanya menunjukkan adanya struktur yang menyerap atau mempengaruhi cahaya dari dalam.
Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai penemuan “little red dots” atau titik merah kecil, yang tersebar di seluruh awan molekuler tersebut. Titik-titik ini menandakan sifat yang tidak biasa—titik-titik ini terlihat lebih merah bukan karena efek kosmik biasa, tetapi karena struktur internal yang mempengaruhi cahaya yang dipancarkan.

Ada dua kemungkinan penjelasan utama mengapa titik-titik ini tampak merah:
- Pertama, inti-inti tersebut mungkin bukan hanya bola gas sederhana yang homogen. Titik-titik tersebut mungkin memiliki struktur internal kecil dan kompak, yang menyerap gelombang pendek lebih banyak daripada gelombang panjang, sehingga tampak kemerahan pada hasil observasi. Struktur seperti ini sangat mungkin berupa cakram protoplanet yang masih padat dan berputar di sekitar bintang muda di dalam setiap inti.
- Kedua, kondisi dalam inti-inti tersebut mungkin mendukung pertumbuhan butiran debu yang jauh lebih besar dari biasanya. Di ruang antarbintang biasa, butiran debu hanya sebesar beberapa mikron (sekitar 1/100 dari diameter rambut manusia). Namun jika inti-inti ini memiliki butiran yang mencapai ukuran milimeter, itu hanya mungkin terjadi jika debu berada di dalam cakram protoplanet yang sedang berkembang, karena hanya di sana butiran bisa tumbuh dengan cepat, lalu ditiup keluar oleh aliran gas dan debu dari bintang yang baru terbentuk.
Lebih dari 300 Calon Cakram Protoplanet
Apa pun penjelasan yang benar di balik fenomena “titik merah kecil” ini, kedua skenario menjelaskan bahwa lebih dari 300 kandidat cakram protoplanet bisa jadi sedang terbentuk di dalam tiga awan molekuler CMZ yang diamati. Itu berarti mungkin lebih dari 300 sistem planet potensial lagi yang sedang lahir di pusat galaksi, di lingkungan yang jauh lebih keras daripada yang biasa kita pelajari.
Baca juga: Planet Cha 1107-7626: Ketika Planet Nakal Yang Menunjukkan Sifat Kebintangannya
Ini adalah temuan yang sangat penting bagi astronomi karena menunjukkan bahwa pembentukan sistem seperti tata surya—dan proses yang membentuk planet—tidak hanya terjadi di lingkungan yang “tenang” seperti dekat Matahari kita, tetapi juga di lingkungan ekstrem seperti inti galaksi. Hal ini memberi peluang besar untuk mengevaluasi dan memperluas teori pembentukan bintang dan planet yang selama ini banyak bergantung pada pengamatan lokal kita.
Tantangan dan Masa Depan Penelitian
Tentu saja, temuan ini bukanlah akhir dari cerita. Memastikan apakah setiap calon cakram protoplanet ini benar-benar akan berkembang menjadi sistem planet masih memerlukan observasi lebih lanjut. Tim akan menggunakan observasi multi-pita (multi-band) masa depan untuk mengukur sifat fisik dari cakram-cakram ini dengan lebih detail, termasuk suhu, komposisi debu, dan tahapan evolusinya.
Dengan data yang lebih kaya dan teleskop yang lebih kuat, tim bisa membentuk gambaran lebih jelas tentang bagaimana planet dapat terbentuk bahkan di tempat yang tampaknya paling tidak mungkin di galaksi kita.
Kesimpulan
Temuan bahwa ratusan kandidat cakram protoplanet mungkin sedang terbentuk di Central Molecular Zone (CMZ) di pusat Bima Sakti adalah sebuah lompatan besar dalam astronomi. Dengan menggunakan teleskop radio canggih ALMA, tim peneliti berhasil mendeteksi “titik merah kecil” yang menandai aktivitas pembentukan struktur mirip cakram yang kemungkinan adalah tempat lahirnya planet-planet masa depan. Temuan ini menunjukkan bahwa proses pembentukan planet bisa terjadi di lingkungan ekstrem yang jauh lebih keras daripada lingkungan sekitar Matahari kita, membuka jendela baru pemahaman akan berbagai kemungkinan terbentuknya tata surya di seluruh galaksi.
Referensi:
[1] https://www.uni-koeln.de/en/university/news/news/news-detail/a-multitude-of-protoplanetary-discs-detected-in-the-galactic-centre, diakses pada 1 Januari 2026.
[2] Xu, F., Lu, X., Wang, K., Liu, H. B., Ginsburg, A., Liu, T., Zhang, Q., Budaiev, N., Tang, X., Schilke, P., Zhang, S., Jiao, S., Jiao, W., Zheng, S., Jones, B., Kruijssen, J. M. D., Battersby, C., Walker, D. L., Mills, E. A. C., Kauffmann, J., Longmore, S. N., & Pillai, T. G. S. (2025). Dual-band Unified Exploration of three CMZ Clouds (DUET): Cloud-wide census of continuum sources showing low spectral indices. Astronomy & Astrophysics, 697, A164. https://doi.org/10.1051/0004-6361/202453601

