Berbagai Macam Rumah Tradisional Tahan Gempa

Ditulis Oleh: Zahrotul Ula Irma 1.Rumah Tradisional Suku Besemah, Pagaralam, Sumatra Selatan Secara keseluruhan, konstruksi Rumah Besemah telah memenuhi semua […]

blank

Ditulis Oleh: Zahrotul Ula Irma

1.Rumah Tradisional Suku Besemah, Pagaralam, Sumatra Selatan

Secara keseluruhan, konstruksi Rumah Besemah telah memenuhi semua prinsip rumah tahan gempa. Ukuran rumah sebesar 6×6, 7×7, dan 8×8, memenuhi prinsip denah simetris pada rumah tahan gempa. Prinsip bahan bangunan yang ringan juga terpenuhi. Rumah Besemah menggunakan kayu dan membagi struktur rumah menjadi tiga bagian, yaitu bawah, tengah, dan atas untuk mendapatkan keseimbangan yang baik dalam mengalirkan gaya atau beban pada bangunan. Struktur Bawah memiliki beban paling besar berupa kayu berdiameter besar sebagai penumpu dan penyeimbang struktur diatasnya sekaligus menyalurkan beban bangunan ke tanah. Pada struktur tengah terdapat beban hidup (manusia) dan beban mati (perabot dan struktur itu sendiri). Struktur atas merupakan struktur paling ringan, yang didominasi oleh bambu dan rotan. Struktur kuda-kuda atap terbuat dari kayu Entaman dan Gelam.

blank

blank

blank

Struktur bawah

Struktur tengah

Struktur atas

Pada Rumah Besemah, gaya yang ditimbulkan gempa direduksi oleh umpak batu dan kitau sebagai tumpuan rol yang terletak pada struktur bawah. Rumah Besemah tidak menggunakan pondasi umpak berbentuk solid melainkan batu pecah yang disusun dan sedikit dibenamkan ke tanah sebagai dasar pondasi rumah. Suku Besemah juga telah mengenal sistem tumpuan rol yang berfungsi sebagai reduktor gaya gempa.

blank

blank

Prinsip kerja umpak batu

Prinsip kerja kitau

Terkait dengan elastisitas sambungan, Rumah Besemah menggunakan sistem bongkar pasang dan jepit, tidak menggunakan pasak atau paku. Pada bagian atap hanya menggunakan sistem ikatan yang terbuat dari bahan Rotan. Hal ini membuat rumah memiliki elastisitas yang baik pada tiap-tiap sambungan.

.

2.Rumah Panggung Desa Mbawa, Bima, Sumbawa

Ketahanan terhadap gempa pada rumah panggung Kabupaten Bima dicapai melalui sistem struktur yang stabil pada setiap bagian. Ada dua tipologi rumah panggung yang masih digunakan sampai saat ini adalah uma mbolo dan uma ruka. Uma mbolo memiliki 4 tiang dengan bentuk denah bujur sangkar. Uma ruka memiliki 6, 9, 12 atau 16 tiang dengan bentuk denah persegi panjang. Kedua tipologi ini memililki persamaan pada bagian struktur atas (rangka atap). Perbedaannya terletak pada struktur bawah dan tengah.

Struktur bawah uma mbolo dan uma ruka berupa pondasi dan panggung. Pondasi uma mbolo berupa tiang kayu yang diletakkan pada batu datar, berfungsi sebagai friction damper atau base isolation. Pada uma ruka, terdapat papan kayu seukuran dasar tiang sebagai alas pertemuan tiang kayu dan batu pondasi. Fungsi papan ini untuk meratakan beban dari tiang ke batu. Dengan model pondasi seperti ini, saat terjadi gempa, pergeseran yang terjadi antara tiang dengan batu dapat mengurangi internal forces. Luas permukaan batu datar yang lebih besar daripada luas penampang tiang membuat tiang tetap berada di atas batu, sehingga posisi rumah panggung tetap pada ketinggiannya.

blank
Pondasi tiang pada batu datar Uma Mbolo

blank
Pondasi tiang pada batu datar Uma Ruka

Struktur tengah uma mbolo berupa rangka kayu dengan bidang dinding panel kayu sebagai elemen stabilitas. Dinding panel kayu diletakkan pada sisi depan belakang dan samping kiri kanan sehingga mendukung stabilitas struktur rangka kedua sisi apabila struktur mendapatkan dorongan akibat gempa. Struktur tengah pada uma ruka berbeda dengan uma mbolo. Sementara, tiang pada uma ruka merupakan tiang menerus dari struktur panggung. Selain menahan beban lantai, tiang ini juga meneruskan beban dinding dan atap sampai ke pondasi.

blank

blank

Sistem dan konstruksi dinding Uma Mbolo

Sistem dan konstruksi dinding Uma Ruka

Rumah panggung kayu dengan sistem struktur rangka pada uma mbolo distabilkan menggunakan joint kaku pada bagian bawah dan tengah (gambar D dan E), serta menggunakan batang-batang diagonal pada struktur rangka atap (gambar A–C). Selain itu, bidang dinding juga mendukung stabilitas pada struktur bagian tengah uma mbolo.

blank

Elemen dan jenis sambungan rangka struktur Uma Mbolo

Berbeda dengan uma mbolo, sistem struktur rangka kayu bagian bawah uma ruka diperkuat menggunakan elemen stabilitas batang-batang diagonal yang disebut ceko. Sistem ceko pada ini kemungkinan adalah pengembangan dari sistem pa’a pada uma mbolo. Selain bagian bawah, pada bagian atas uma ruka juga dipasang batang-batang diagonal untuk stabilitas sistem strukturnya (gambar AC).

blank

Elemen dan jenis sambungan rangka struktur Uma Ruka

.

3.Rumah Panggung Masyarakat Jawa Tondano (Jaton), Minahasa, Sulawesi Utara
blank
Rumah panggung

Puluhan bahkan ratusan tahun lalu, warga Minahasa telah menggunakan rumah panggung sebagai tempat tinggal, dan dari sekian peristiwa gempa bumi, tidak ada yang ambruk. Hasil penelitian menunjukan bahwa model struktur dan konstruksi rumah panggung masyarakat Jaton menerapkan prinsip-prinsip bangunan tahan gempa, yang ditinjau dari bentuk denah, struktur rangka, dan struktur atap. Prinsip dasar rumah tradisional ini adalah kesederhanaan struktur, detail sambungan dan tipe konstruksi yang sistematis.

Sistem pondasi yang di gunakan pada bangunan rumah tinggal masyarakat Kampung Jawa Tondano adalah pondasi setempat (pondasi umpak dari batu) yang berdimensi ± 60cm. Bahan dinding yang digunakan terbuat dari papan yang mempunyai dimensi 4/20 cm. Rangka dinding terbuat dari kayu. Rumah ini menggunakan atap pelana kudakuda dari rangka kayu dengan kayu kelas II dengan sistem sambungan kuda-kuda tradisional.

Referensi

.

  • Hariyanto, A. D., Triyadi, S., & Widyowijatnoko, A. (2020). Teknik Tradisional pada Struktur Rumah Panggung di Kabupaten Bima untuk Ketahanan terhadap Gempa. Ruang Space, 7(1).
  • Kamurahan, S. R. (2018). Struktur dan Konstruksi Rumah Panggung Masyarakat Kampung Jawa Tondano (Jaton) ditinjau dari Prinsip-Prinsip Bangunan Tahan Gempa. Media Matrasain, 15(1), 1–8.
  • Rinaldi, Z., & Purwantiasning, A. W. (2015). Analisa Konstruksi Tahan Gempa Rumah Tradisional Suku Besemah di Kota Pagaralam Sumetera Selatan. Prosiding Semnastek, November, 1–1

.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *