Sains Alam

Siapa Sangka Bunga Kecombrang Bisa Menjadi Sumber Pewarna Alami Masa Depan?

Para ilmuwan terus mengembangkan teknologi yang mampu menghasilkan bahan pangan alami dengan kualitas lebih baik sekaligus lebih ramah lingkungan. Salah satu fokus penelitian saat ini adalah mencari sumber pewarna alami yang aman untuk digunakan dalam makanan dan minuman. Di tengah…

Bagikan artikel ini
WhatsApp Email

Para ilmuwan terus mengembangkan teknologi yang mampu menghasilkan bahan pangan alami dengan kualitas lebih baik sekaligus lebih ramah lingkungan. Salah satu fokus penelitian saat ini adalah mencari sumber pewarna alami yang aman untuk digunakan dalam makanan dan minuman. Di tengah meningkatnya minat terhadap produk berbahan alami, bunga kecombrang muncul sebagai tanaman yang memiliki potensi besar. Selama ini masyarakat lebih mengenal kecombrang sebagai bumbu masakan yang memberikan aroma segar pada berbagai hidangan khas Indonesia.

Namun sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2026 di jurnal Foods menunjukkan bahwa bunga kecombrang juga merupakan sumber antosianin yang sangat menjanjikan. Antosianin merupakan pigmen alami yang menghasilkan warna merah, ungu, hingga biru pada berbagai tanaman. Para peneliti berhasil mengembangkan metode yang mampu mengambil antosianin dari bunga kecombrang secara cepat, efisien, dan tetap menjaga kualitas senyawanya. Temuan ini membuka peluang baru bagi pemanfaatan tanaman tropis sebagai sumber pewarna alami sekaligus bahan fungsional untuk industri pangan.

Kecombrang merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Masyarakat memanfaatkan bunga, batang muda, dan buahnya sebagai bahan masakan. Aroma khasnya sering memperkaya cita rasa sambal, pecel, gulai, ikan, hingga berbagai makanan tradisional. Selain memiliki aroma yang unik, bunga kecombrang juga dikenal kaya akan berbagai senyawa bioaktif. Salah satu kelompok senyawa yang paling menarik perhatian para ilmuwan adalah antosianin.

Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada

Antosianin merupakan pigmen alami yang bertanggung jawab terhadap warna merah, merah muda, ungu, dan biru pada banyak bunga, buah, serta sayuran. Selain memberikan warna yang menarik, antosianin juga memiliki aktivitas antioksidan. Antioksidan membantu melindungi sel tubuh maupun sel tanaman dari kerusakan akibat radikal bebas. Karena sifat tersebut, industri pangan semakin tertarik menggunakan antosianin sebagai pewarna alami yang tidak hanya mempercantik tampilan produk, tetapi juga berpotensi memberikan nilai tambah.

Meskipun demikian, memperoleh antosianin dalam jumlah tinggi bukanlah pekerjaan yang mudah. Senyawa ini cukup sensitif terhadap panas, cahaya, oksigen, serta perubahan tingkat keasaman. Jika proses pengambilan tidak dilakukan dengan benar, sebagian antosianin dapat rusak sehingga kualitas ekstrak menurun. Oleh karena itu, para ilmuwan terus mencari metode ekstraksi yang mampu menghasilkan antosianin dalam jumlah besar tanpa merusak struktur kimianya.

Selama bertahun tahun, proses ekstraksi senyawa alami umumnya menggunakan metode perendaman atau pemanasan dalam waktu yang cukup lama. Cara tersebut memang dapat menghasilkan ekstrak, tetapi membutuhkan energi lebih besar dan sering menyebabkan sebagian senyawa aktif mengalami degradasi. Kondisi tersebut mendorong para peneliti mengembangkan teknologi yang lebih cepat dan lebih efisien.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan teknik ekstraksi berbantuan ultrasonik. Teknologi ini memanfaatkan gelombang suara berfrekuensi tinggi yang menghasilkan jutaan gelembung mikroskopis di dalam cairan. Ketika gelembung tersebut pecah, energi yang dihasilkan mampu membuka dinding sel tanaman sehingga senyawa di dalamnya lebih mudah keluar menuju pelarut. Akibatnya, proses ekstraksi berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan metode konvensional tanpa memerlukan suhu tinggi yang dapat merusak antosianin.

Para peneliti kemudian melakukan berbagai percobaan untuk menemukan kondisi ekstraksi yang paling optimal. Mereka mengubah komposisi pelarut, suhu, perbandingan jumlah pelarut terhadap sampel, serta tingkat keasaman larutan. Seluruh kombinasi tersebut dianalisis menggunakan pendekatan statistik Box Behnken sehingga para peneliti dapat menentukan kondisi terbaik secara lebih efisien dibandingkan mencoba seluruh kemungkinan satu per satu.

Grafik ini menunjukkan bahwa kombinasi komposisi metanol dan rasio pelarut terhadap sampel memengaruhi kadar antosianin total, dengan kondisi optimum menghasilkan respons ekstraksi tertinggi yang ditunjukkan oleh area berwarna merah (Alauddina, dkk. 2026).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi pelarut dan perbandingan pelarut terhadap sampel merupakan faktor yang paling menentukan keberhasilan proses ekstraksi. Kondisi terbaik diperoleh ketika peneliti menggunakan larutan metanol delapan puluh empat persen dalam air dengan suhu sekitar tiga puluh derajat Celsius, perbandingan pelarut terhadap sampel dua puluh banding satu, dan tingkat keasaman sekitar lima koma enam. Yang paling menarik, waktu ekstraksi terbaik hanya sekitar lima menit.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa proses ekstraksi yang lebih lama tidak selalu memberikan hasil yang lebih baik. Setelah melewati waktu optimal, kandungan antosianin justru mulai menurun karena sebagian molekul mengalami degradasi. Hal ini menunjukkan pentingnya menentukan waktu ekstraksi yang tepat agar senyawa aktif tetap terjaga kualitasnya.

Untuk memastikan metode tersebut benar benar dapat diterapkan pada berbagai jenis kecombrang, para peneliti mengujinya pada beberapa varietas bunga dengan warna yang berbeda. Hasilnya menunjukkan hubungan yang sangat jelas antara intensitas warna bunga dan kandungan antosianinnya. Semakin pekat warna merah pada bunga, semakin tinggi pula kandungan antosianin yang berhasil diekstraksi. Informasi ini sangat penting bagi petani maupun industri karena dapat membantu memilih varietas terbaik sebagai bahan baku produksi pewarna alami.

Penelitian ini memberikan manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar menghasilkan ekstrak antosianin. Saat ini industri pangan menghadapi tuntutan konsumen yang semakin menginginkan produk berbahan alami. Banyak produsen mulai mengurangi penggunaan pewarna sintetis dan mencari alternatif yang berasal dari tumbuhan. Bunga kecombrang berpotensi menjadi salah satu sumber pewarna alami yang menarik karena mudah ditemukan di wilayah tropis dan memiliki kandungan antosianin yang cukup tinggi.

Selain memberikan warna alami, antosianin juga sering dikaitkan dengan berbagai aktivitas biologis, terutama sebagai antioksidan. Namun masyarakat perlu memahami bahwa penelitian ini tidak bertujuan membuktikan manfaat kesehatan antosianin pada manusia. Fokus utama penelitian adalah mengembangkan metode ekstraksi yang mampu menghasilkan antosianin secara efisien. Oleh karena itu, penelitian ini belum membuktikan bahwa mengonsumsi ekstrak bunga kecombrang dapat mencegah atau mengobati penyakit tertentu.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa teknologi ultrasonik memiliki potensi besar dalam mendukung industri pangan modern. Waktu ekstraksi yang hanya lima menit memungkinkan proses produksi menjadi lebih cepat sehingga penggunaan energi dapat ditekan. Suhu ekstraksi yang relatif rendah juga membantu mempertahankan kualitas senyawa aktif yang mudah rusak akibat panas. Dengan demikian, teknologi ini berpotensi meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi dampak lingkungan dibandingkan metode konvensional.

Walaupun hasil penelitian terlihat sangat menjanjikan, beberapa keterbatasan tetap perlu diperhatikan. Penelitian dilakukan pada skala laboratorium sehingga masih diperlukan pengujian lebih lanjut pada skala industri. Selain itu, pelarut yang digunakan dalam penelitian adalah metanol yang memang umum digunakan untuk analisis laboratorium karena memiliki kemampuan tinggi dalam mengekstraksi antosianin. Penggunaan metanol dalam penelitian ini tidak berarti ekstrak tersebut dapat langsung digunakan sebagai bahan pangan. Apabila ingin diterapkan pada industri makanan, proses ekstraksi harus menggunakan pelarut yang memenuhi standar keamanan pangan dan sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Para peneliti juga masih perlu mengevaluasi kestabilan antosianin ketika dicampurkan ke dalam berbagai jenis makanan dan minuman. Warna antosianin dapat berubah akibat suhu, cahaya, tingkat keasaman, maupun lama penyimpanan. Oleh karena itu, penelitian lanjutan sangat diperlukan agar pewarna alami dari bunga kecombrang benar benar dapat digunakan secara luas dalam berbagai produk komersial.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa bunga kecombrang menyimpan potensi yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi bumbu dapur. Tanaman tropis yang sangat akrab dengan masyarakat Indonesia ini ternyata merupakan sumber antosianin yang bernilai tinggi. Dengan memanfaatkan teknologi ekstraksi berbantuan ultrasonik, para ilmuwan berhasil menemukan cara yang cepat, efisien, dan lebih ramah terhadap kualitas senyawa untuk memperoleh pigmen alami tersebut. Meskipun manfaat praktisnya dalam industri pangan masih memerlukan penelitian lanjutan, temuan ini memberikan harapan bahwa kekayaan hayati Indonesia dapat menjadi sumber inovasi penting dalam pengembangan pewarna alami, pangan fungsional, serta teknologi pangan yang lebih berkelanjutan di masa depan.

Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya

REFERENSI:

Alauddina, Menuk Rizka dkk. 2026. Optimization of Ultrasound-Assisted Extraction of Anthocyanins from Torch Ginger. Foods 15 (3), 450.

Maratus Sholikah
TENTANG PENULIS

Maratus Sholikah

Green-Tech Writer dengan 7 tahun pengalaman dan 3.000+ artikel Science & Sustainability yang sudah dipublikasikan. Spesialis mengubah riset kompleks menjadi narasi jernih berbasis data. Karyanya menjangkau topik Green Technology, Biodiversity, hingga Climate Science untuk media sains dan platform digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

✳ SAINS DALAM GAMBAR

Warstek di Instagram

@warstek_com ↗
Ilmuwannya diminta berinovasi. Risetnya dituntut berdampak. Sudahkah dukungannya memadai dan suaranya didengar? Di balik solusi untuk pangan, energi, kesehatan, dan lingkungan, ada…

Ilmuwannya diminta berinovasi. Risetnya dituntut berdampak. Sudahkah dukungannya memadai dan suaranya didengar? Di balik solusi untuk pangan, energi, kesehatan, dan lingkungan, ada orang-orang yang…

Robot beli? Mana paten, bikin lah. Sebuah robot kecil bersiap di tanah. Bentuknya menyerupai rangka melengkung yang dilengkapi karet, jauh dari gambaran…▧ Carousel

Robot beli? Mana paten, bikin lah. Sebuah robot kecil bersiap di tanah. Bentuknya menyerupai rangka melengkung yang dilengkapi karet, jauh dari gambaran robot berkaki…

Segumpal lendir hitam bergerak mendekati baterai kancing. Tubuhnya melebar, melingkar, lalu membungkus benda itu sampai tertutup. Setelah dipotong, bagian tubuhnya bahkan bisa…▧ Carousel

Segumpal lendir hitam bergerak mendekati baterai kancing. Tubuhnya melebar, melingkar, lalu membungkus benda itu sampai tertutup. Setelah dipotong, bagian tubuhnya bahkan bisa disatukan kembali.