Siklogenesis: Siklus, Struktur dan Tumbuh Kembang Angin Siklon

SIKLOGENESIS
Petugas menunjukkan citra satelit Himawari
Gambar 1. Petugas menunjukkan citra satelit Himawari di Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah 3 Denpasar, Bali, Selasa (20/10/2020). BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi di wilayah Bali selama masa periode pancaroba atau peralihan musim kemarau ke musim penghujan serta fenomena badai La Nina. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf.

Siklon tropis adalah sistem tekanan rendah yang muncul di lintang tropis. Siklon tumbuh dan berkembang di wilayah perairan hangat dengan wilayah perawanan konvektif dan kecepatan angin maksimum sedikitnya 34 knot pada lebih dari setengah wilayah yang melingkari pusatnya, serta bertahan setidaknya enam jam. Siklogenesis.

Angin ini merupakan badai dengan kekuatan yang besar. Siklon ini tergolong sebagai fenomena atmosfer yang bercirikan munculnya tekanan udara rendah yang memicu terjadinya angin yang kencang akibat proses perpindahan panas dari daerah khatulistiwa menuju garis lintang.

Dampak dari adanya siklon tropis jika melintas mendekati daratan adalah dapat menyebabkan kerusakan dan bencana di beberapa wilayah. Indonesia menjadi salah satu wilayah yang terdampak adanya Siklon Tropis. Siklon tropis ternyata dapat membawa dampak positif, yaitu menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya pengadukan vertikal dan upwelling yang menyebabkan meningkatnya kesuburan perairan.

Secara teori, siklon tropis tidak dapat melintasi Indosenia karena karakteristik fisis siklon tropis akan selalu menjauhi ekuator. Meskipun demikian, bibit-bibit siklon tropis untuk basin Samudera India bagian Tenggara banyak yang berasal dari wilayah selatan Indonesia. Untuk memprakirakan kemunculan dan kekuatan dari siklon tropis membutuhkan analisis, baik dari pembentukan hingga tahap meluruh (siklogenesis).

Persyaratan Tumbuhnya Siklon

Prakiraan tumbuh kembang angin siklon tropis KENANGA
Gambar 2. Prakiraan tumbuh kembang angin siklon.

Siklon tumbuh di perairan tropis, terutama perairan dengan suhu permukaan laut yang hangat. Rata-rata 57,3 siklon tropis terjadi setiap tahun di belahan bumi utara, dan rata-rata 26,3 siklon tropis terjadi setiap tahun di belahan bumi selatan (berdasarkan data 1968-1989). Waktu rata-rata sebuah siklon tropis dari mulai tumbuh hingga punah adalah sekitar 7 (tujuh) hari, namun variasinya bisa mencapai 1 hingga 30 hari. Siklon tropis dapat terbentuk dalam kondisi berikut:

  • Perairan yang cukup hangat sebagai pemasok energi siklon tropis (suhu permukaan laut > 26ᵒC hingga kedalaman 60 m),
  • Atmosfer memiliki kelembaban udara relatif (nisbi) yang cukup lembab di ketinggian sekitar 5 km (≈15 ribu kaki). Ketinggian ini merupakan atmosfer paras menengah (troposfer tengah), apabila dalam keadaan kering tidak dapat mendukung bagi perkembangan aktivitas badai guntur di dalam siklon.
  • Kondisi udara labil (tidak stabil) sehingga memungkinkan terbentuknya awan Cumulonimbus (indikator konvektif kuat),
  • Vortisitas relatif kuat di lapisan troposfer bawah,
  • Shear vertikal lemah di area siklogenesis,
  • Terjadi pada lintang 5ᵒ atau lebih menjauhi ekuator,
  • Gangguan atmosfer dekat permukaan bumi berupa angin yang berpusar dan pumpunan angin (konvergensi).
  • Perubahan kondisi angin terhadap ketinggian tidak terlalu besar. Perubahan kondisi angin yang besar akan mengacaukan proses perkembangan badai guntur.

Siklus Hidup Siklon

Lalu, seperti halnya fenomena cuaca lainnya, siklon tropis juga mempunyai siklus hidup mulai dari proses pembentukannya hingga saat kepunahannya. Siklus hidup siklon tropis dibagi menjadi empat tahapan, yaitu :

  1. Tahap Pembentukan : Tahap ini bercirikan dengan adanya gangguan atmoster. Jika melihat dari citra satelit cuaca, gangguan ini bercirikan wilayah konvektif dengan awan cumulonimbus. Pusat sirkulasi seringkali belum terbentuk, namun kadangkala sudah nampak pada ujung sabuk perawanan yang membentuk spiral.
  2. Tahap Belum Matang : Pada tahap ini wilayah konvektif kuat terbentuk lebih teratur membentuk sabuk perawanan melingkar (berbentuk spiral) atau membentuk wilayah yang bentuknya relatif bulat. Intensitasnya meningkat secara simultan ditandai dengan tekanan udara permukaan yang turun mencapai kurang < 1000 mb serta kecepatan angin maksimum yang meningkat hingga mencapai gale force wind (kecepatan angin ≥ 34 knot atau 63 km/jam). Angin dengan kecepatan maksimum terkonsentrasi pada cincin yang mengelilingi pusat sirkulasi. Pusat sirkulasi terpantau jelas dan mulai tampak terbentuknya mata siklon.
  3. Tahap Matang : Pada tahap matang, bentuk siklon tropis cenderung stabil. Sirkulasi siklonik dan wilayah dengan gale force wind meluas, citra satelit cuaca menunjukkan kondisi perawanan teratur dan lebih simetris. Pada siklon tropis yang lebih kuat dapat jelas terlihat adanya mata siklon. Fenomena ini bercirikan dengan wilayah bersuhu paling hangat di tengah-tengah sistem perawanan dengan angin permukaan yang tenang dan dikelilingi oleh dinding perawanan konvektif tebal di sekelilingnya (dinding mata).
  4. Tahap Pelemahan : Pada tahap punah, pusat siklon yang hangat mulai menghilang, tekanan udara meningkat dan wilayah dengan kecepatan angin maksimum meluas dan melebar menjauh dari pusat siklon. Tahap ini dapat terjadi dengan cepat jika siklon tropis melintas di wilayah yang tidak mendukung bagi pertumbuhannya, seperti misalnya memasuki wilayah perairan lintang tinggi dengan suhu muka laut yang dingin atau masuk ke daratan. Dari citra satelit dapat terlihat jelas bahwa wilayah konvektif siklon tropis tersebut berkurang, dan sabuk perawanan perlahan menghilang.

Struktur Siklon Tropis

Sebuah siklon tropis dengan intensitas kuat umumnya mempunyai struktur seperti pada Gambar 3. sebagai berikut (Pustekkom, 2005) :

Struktur siklon tropis
Gambar 3. Struktur siklon tropis.
  1.  Low Pressure (Tekanan Permukaan Rendah); Siklon tropis berputar di sekitar daerah bertekanan udara permukaan rendah.
  2. Inti hangat; Uap air yang naik ke atmosfir yang dingin akan mengembun dan melepaskan panas. Panas buangan tersebut didistribusikan secara vertikal pada bagian inti siklon tropis yang menyebabkannya terasa hangat.
  3. CDO (Central Dense Overcast); CDO merupakan daerah menyerupai pita melingkar di sekitar inti yang padat akan awan, hujan dan badai petir.
  4. Mata; Siklon tropis kuat seperti Hurricane memiliki mata yang berbentuk lubang melingkar di pusat sirkulasinya. Cuaca pada mata umumnya tenang dan tidak berawan. Pada siklon tropis lemah, CDO menutupi pusat sirkulasi sehingga mata tidak terlihat.
  5. Dinding mata; menyerupai pita melingkar di sekitar mata yang memiliki intensitas angin dan konveksi panas paling tinggi. Pada siklon tropis, kondisi pada dinding matalah yang paling berbahaya.
  6. Aliran keluar (outflow); Pada bagian atas siklon tropis, angin bergerak keluar dari pusat badai tropis dengan arah putaran berlawanan dengan siklon, sedangkan pada bagian bawah angin berputar kuat, melemah seiring dengan pergerakan naik dan akhirnya berbalik arah.

Mengetahui Tumbuh Kembang Siklon dengan Analisis Dvorak

Selanjutnya, untuk mengetahui bagaimana tumbuh kembang dan intensitas siklon, dalam hal ini kita mengamati tumbuh kembang siklon tropis Dahlia. Dalam proses analisis Dvorak menggunakan citra EIR (Enhance Infrared). Perubahan-perubahan warna yang terjadi pada citra satelit menunjukkan nilai suhu puncak awan. Teknik zoom ini berguna untuk melihat pusaran siklon dengan lebih spesifik.

Citra EIR (Enhance Infrared) dari satelit Himawari-8 selama siklogenesis Dahlia
Citra EIR (Enhance Infrared) dari satelit Himawari-8 selama siklogenesis Dahlia
Gambar 4. Citra EIR (Enhance Infrared) dari satelit Himawari-8 selama siklogenesis Dahlia.
Diagram Dvorak
Gambar 5. Diagram Dvorak.

Berdasarkan perbandingan citra satelit pada gambar 4 dengan diagram Dvorak pada gambar 5, kita dapatkan nilai T-Number, nilai kecepatan angin, kategori dan tekanan udara untuk tiap-tiap gambar dalam masa hidup siklon tropis Dahlia. Hal ini dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini.

Hasil analisis diagram Dvorak
Tabel 1. Hasil analisis diagram Dvorak.

Berdasarkan Tabel 1 kita ketahui bahwa selama masa hidupnya, intensitas maksimum Dahlia terjadi pada tanggal 1 Desember 2017, dengan T-Number 3.5, yaitu saat memasuki kategori TS (tropical Storm), kecepatan angin 102 km/jam dan tekanan udara minimum mencapai 994 mb. Dahlia mulai mengalami penurunan intensitas pada 2 Desember 2017, dengan T_Number 3 dan nilai kecepatan angin menjadi 83 km/jam.

Daftar referensi:

  1. Endriani, Z., & Fauziah, A. (2020). Analisis Siklogenesis Siklon Tropis Dahlia Menggunakan Citra Satelit Himawari. Megasains11(01), 31-35.
  2. Fatkhuroyan, F. (2018, February). DETEKSI PERTUMBUHAN SIKLON TROPIS MEMAKAI SATELIT HIMAWARI-8 DAN GSMaP UNTUK ANTISIPASI BENCANA CUACA EKTRIM. In Seminar Nasional Geomatika (Vol. 2, pp. 257-264).
  3. Surinati, D., & Kusuma, D. A. (2018). KARAKTERISTIK DAN DAMPAK SIKLON TROPIS YANG TUMBUH DI SEKITAR WILAYAH INDONESIA. OSEANA43(2), 1-12.
  4. Syaifullah, M. D. (2015). Siklon tropis, karasteristik dan pengaruhnya di wilayah Indonesia pada tahun 2012. Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca16(2), 61-â.
  5. BMKG, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika » Pusat Meteorologi Publik » TCWC Jakarta (bmkg.go.id) diakses tanggal 13 Juni 2021.
  6. Berita Satu, https://www.beritasatu.com/nasional/690831/waspada-cuaca-ekstrem-di-masa-libur-panjang diakses tanggal 13 Juni 2021.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Muhammad Abil Nurjani
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *