Kisah pergerakan pasar saham selalu menjadi perhatian banyak orang. Investor, analis, pemerintah bahkan masyarakat umum merasa penasaran mengapa harga saham bisa berubah begitu cepat. Kadang naik tinggi hanya dalam hitungan jam lalu turun tajam keesokan harinya. Para peneliti dari berbagai bidang terus berusaha memahami bagaimana pikiran manusia, kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah dan informasi yang beredar saling bertemu dan memengaruhi pasar. Salah satu aspek yang semakin mendapat perhatian adalah peran berita kebijakan dalam mendorong naik turunnya volatilitas pasar saham.
Sebuah penelitian yang terbit dalam Journal of Financial Economics tahun 2026 mencoba menjelaskan fenomena tersebut secara sistematis. Tim peneliti menggunakan koran untuk membangun alat pelacak yang mereka sebut sebagai Equity Market Volatility Tracker atau EMV. Alat ini bekerja dengan memanfaatkan teks dari ribuan artikel berita untuk mengukur seberapa besar kecemasan atau ketidakpastian yang muncul dalam pemberitaan ekonomi dan kebijakan. Dengan kata lain, EMV berfungsi seperti termometer yang membaca seberapa panas atau dingin sentimen pasar berdasarkan berita yang diterbitkan.
Baca juga artikel tentang: Ketahui Kebijakan Fiskal dalam Perspektif Ekonomi Makro Islam Lebih Dalam!
Peneliti mengamati hubungan antara pergerakan EMV dan indikator volatilitas yang sudah dikenal luas, seperti VIX yang sering dijuluki indeks rasa takut di pasar saham Amerika. Mereka menemukan bahwa pergerakan EMV sangat sejalan dengan VIX dan volatilitas pengembalian saham pada indeks S and P 500. Temuan ini menunjukkan bahwa berita benar benar memiliki kemampuan untuk menggerakkan pasar, bukan hanya sebagai latar belakang informasi.
Penelitian ini tidak berhenti pada satu jenis berita. Tim peneliti menciptakan lebih dari empat puluh kategori EMV berbeda untuk memahami jenis pemberitaan apa yang paling mempengaruhi pasar. Berita tentang komoditas, suku bunga, pasar real estat, aktivitas ekonomi dan inflasi muncul sebagai konten yang sering membentuk narasi volatilitas. Sebagian besar kategori ini berkaitan langsung dengan kondisi ekonomi nyata. Namun salah satu kategori yang paling berpengaruh adalah berita mengenai kebijakan pemerintah.

Peneliti menemukan bahwa sekitar tiga puluh persen artikel EMV membahas kebijakan pajak. Persentase yang sama membahas kebijakan moneter seperti keputusan suku bunga oleh bank sentral. Sisanya sekitar dua puluh lima persen membahas regulasi dalam berbagai bentuknya. Data ini menunjukkan bahwa investor memberi perhatian besar pada keputusan dan arah kebijakan yang diambil pemerintah atau otoritas keuangan. Kebijakan dalam dunia nyata tampak seperti instrumen yang berjalan lambat, tetapi dalam dunia pasar keuangan keputusan kebijakan dapat memicu reaksi cepat karena investor segera mencoba menafsirkan dampaknya.
Untuk memahami lebih dalam bagaimana pemberitaan kebijakan mempengaruhi risiko yang dihadapi perusahaan, peneliti menggabungkan data EMV dengan analisis teks terhadap laporan keuangan perusahaan terutama dokumen 10 K yang wajib disampaikan ke otoritas pasar modal. Analisis ini memungkinkan peneliti membangun ukuran khusus mengenai seberapa besar risiko yang dihadapi masing masing perusahaan akibat pergerakan ketidakpastian kebijakan. Hasilnya menunjukkan bahwa pengaruh berita kebijakan tercermin pada volatilitas saham perusahaan secara konsisten dari bulan ke bulan.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa dua perusahaan dalam industri yang sama bisa memiliki tingkat volatilitas yang berbeda. Misalnya dua perusahaan teknologi yang mirip bisa bereaksi berbeda terhadap berita kebijakan privasi data. Satu perusahaan mungkin lebih siap secara infrastruktur atau lebih terbuka terhadap regulasi yang ketat sehingga volatilitasnya relatif kecil. Perusahaan lain mungkin sangat bergantung pada kebebasan penggunaan data sehingga berita regulasi dapat membuat sahamnya bergerak lebih liar. EMV memberi cara baru untuk mengukur dan memetakan risiko risiko seperti ini.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa hubungan antara berita dan pasar bersifat dinamis seiring waktu. Pemberitaan kebijakan dapat memiliki dampak yang lebih kuat pada periode tertentu seperti saat ekonomi mengalami tekanan atau ketika pemerintah sedang mengumumkan kebijakan besar. Pada saat ketidakpastian tinggi, pasar menjadi lebih peka dan berita kecil bisa memicu reaksi besar. Sebaliknya pada masa ekonomi stabil, pasar lebih tenang sehingga berita kebijakan tidak selalu menghasilkan gejolak besar.
Mengapa berita kebijakan dapat memiliki pengaruh sebesar ini. Jawabannya terletak pada ekspektasi atau harapan investor. Pasar tidak bergerak hanya karena fakta yang terjadi saat ini tetapi juga karena perkiraan tentang masa depan. Kebijakan pajak baru dapat mempengaruhi laba perusahaan. Kebijakan moneter dapat mengubah biaya pinjaman. Peraturan baru dapat mempengaruhi strategi bisnis atau peluang pertumbuhan. Semua hal ini mempengaruhi keputusan investor yang selalu mencoba berada selangkah di depan.
Selain itu berita kebijakan sering kali membawa narasi tentang arah ekonomi yang lebih luas. Jika koran memberitakan ketidakpastian mengenai anggaran negara atau ketegangan politik, investor dapat menafsirkan bahwa risiko sistemik sedang meningkat. Hal ini bisa mendorong mereka menjual aset berisiko dan mencari instrumen yang lebih aman seperti obligasi pemerintah. Perubahan perilaku massal ini membentuk gelombang volatilitas yang bisa menjalar dengan cepat.
Pendekatan penelitian yang menggunakan teks koran sebagai sumber data menawarkan wawasan penting bagi dunia keuangan modern. Pasar kini bergerak tidak hanya karena angka tetapi juga karena cerita. Kata kata dalam berita memiliki kekuatan untuk memicu optimisme atau kecemasan. Dengan memetakan pola pola ini menggunakan teknologi analisis teks, peneliti dan pelaku pasar dapat memahami dinamika volatilitas dengan lebih akurat.
Studi ini memberi manfaat praktis bagi investor, regulator dan perusahaan. Investor dapat memanfaatkan informasi ini untuk merancang strategi pengelolaan risiko yang lebih baik. Regulator dapat memahami bagaimana kebijakan mereka dipersepsikan di pasar dan mengantisipasi dampak komunikasinya. Perusahaan dapat mempelajari bagaimana pemberitaan memengaruhi saham mereka dan menyesuaikan komunikasi publik agar lebih efektif.
Penelitian ini pada akhirnya menunjukkan bahwa pasar saham adalah ekosistem yang peka terhadap informasi. Kebijakan tidak hanya membentuk ekonomi di dunia nyata tetapi juga membentuk persepsi di dunia pasar keuangan. Dengan memahami interaksi antara berita dan volatilitas, kita bisa melihat bahwa pasar tidak selalu bergerak secara acak. Pasar bergerak mengikuti aliran informasi dan pemberitaan kebijakan menjadi salah satu arus yang paling kuat dalam menggerakkan ombaknya.
Baca juga artikel tentang: Menyatukan Kebijakan di Dunia yang Terpecah: Pelajaran dari Arktik untuk Adaptasi Iklim Global
REFERENSI:
Baker, Scott R dkk. 2025. Policy news and stock market volatility. Journal of Financial Economics 175, 104187.

