Di dunia hewan, kita sering kali dibuat kagum oleh berbagai perilaku yang tampak menggemaskan, cerdas, atau bahkan penuh kasih sayang, seperti cara lumba-lumba bermain bersama kelompoknya atau induk burung yang dengan sabar memberi makan anaknya. Akan tetapi, alam juga menyimpan sisi lain yang bisa mengejutkan kita. Ada saat-saat ketika hewan memperlihatkan perilaku ekstrem, keras, dan di luar dugaan.
Salah satu contohnya adalah kanibalisme, yaitu tindakan seekor hewan memakan individu lain dari spesies yang sama. Bagi kita manusia, istilah ini terdengar menyeramkan, tetapi dalam dunia biologi, kanibalisme bukanlah hal asing. Fenomena ini sudah terdokumentasi pada banyak kelompok hewan, mulai dari serangga (seperti belalang sembah yang betina memakan pasangannya), ikan (beberapa jenis memakan anaknya sendiri saat sumber makanan langka), hingga mamalia tertentu dalam kondisi ekstrem.
Namun, cerita menjadi lebih kompleks ketika perilaku ini ditemukan pada primata, kelompok hewan yang merupakan kerabat dekat manusia. Karena primata berbagi banyak kesamaan biologis, sosial, dan perilaku dengan kita, kemunculan kanibalisme pada mereka memunculkan pertanyaan besar yang sulit diabaikan: mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah murni soal kebutuhan makanan, strategi bertahan hidup, atau ada faktor sosial yang lebih dalam?
Fenomena mengejutkan inilah yang baru-baru ini berhasil diamati oleh tim peneliti di Taman Nasional Santa Rosa, Kosta Rika. Di kawasan hutan tropis tersebut, sekelompok monyet capuchin berwajah putih (Cebus imitator) memperlihatkan perilaku yang sama sekali tidak pernah tercatat sebelumnya dalam populasi mereka, yaitu kanibalisme, memakan sesama jenisnya.
Monyet capuchin berwajah putih selama ini dikenal sebagai hewan yang cerdas, lincah, dan memiliki kehidupan sosial yang kompleks. Mereka sering dipelajari karena perilakunya yang mirip dengan manusia, seperti penggunaan alat sederhana atau pola interaksi kelompok yang penuh dinamika. Maka ketika spesies ini tiba-tiba menunjukkan perilaku memakan individu lain dari kelompoknya sendiri, para ilmuwan pun terkejut.
Penemuan ini menjadi sangat penting karena bukan hanya memperlihatkan sisi lain yang lebih kelam dari kehidupan primata, tetapi juga menimbulkan pertanyaan ilmiah yang mendalam: apa alasan biologis dan sosial di balik tindakan ekstrem ini? Apakah karena tekanan lingkungan, kelangkaan sumber makanan, atau ada mekanisme lain dalam dinamika kelompok yang memicu perilaku tersebut?
Kasus yang Menggegerkan Peneliti
Pada 9 April 2019, peneliti lapangan mendokumentasikan kejadian mengejutkan: seekor monyet jantan dan seekor betina terlihat memakan bangkai bayi capuchin berusia sekitar 10 hari.
Yang membuat peristiwa ini semakin penting adalah konteksnya: selama lebih dari 37 tahun pengamatan intensif pada lima kelompok monyet di Santa Rosa, belum pernah sekalipun terjadi kasus serupa. Bahkan di lokasi studi lain yang terkenal, Lomas Barbudal, sejak 1990 juga tidak ada laporan kanibalisme pada capuchin.
Dengan demikian, kasus ini menjadi catatan pertama dan sangat langka dalam sejarah panjang penelitian perilaku monyet capuchin.
Mengapa Kanibalisme pada Primata Jarang Terjadi?
Secara biologis, banyak spesies menghindari memakan sesamanya. Alasannya cukup jelas:
- Risiko penyakit – memakan individu sejenis dapat menularkan patogen yang sama.
- Konflik sosial – kanibalisme bisa merusak struktur kelompok yang sangat bergantung pada kerja sama.
- Energi vs risiko – secara evolusioner, hewan cenderung mencari sumber makanan lain yang lebih aman.
Pada primata Dunia Baru (seperti capuchin di Amerika Latin), laporan kanibalisme hampir tidak ada. Hanya sekitar delapan kasus di enam spesies yang pernah tercatat di seluruh literatur ilmiah. Itu pun kebanyakan melibatkan kondisi ekstrem seperti perebutan wilayah, stres, atau kelaparan parah.
Oleh karena itu, kejadian di Santa Rosa dianggap sebagai anomali ilmiah, sesuatu yang tidak lazim dan patut dipelajari lebih lanjut.
Capuchin: Omnivor Cerdas dengan Dunia Sosial Kompleks
Monyet capuchin berwajah putih dikenal sebagai hewan omnivor oportunistik. Mereka makan buah, biji, serangga, reptil, burung, bahkan mamalia kecil yang bisa mereka tangkap. Mereka juga dikenal memiliki otak besar dibanding ukuran tubuhnya, serta keterampilan sosial yang rumit:
- Membentuk aliansi jangka panjang.
- Berbagi makanan atau sumber daya.
- Memiliki hierarki sosial yang stabil.
Dalam perilaku sehari-hari, capuchin biasanya tidak pernah menjadikan sesama anggota kelompok sebagai sumber makanan. Justru sebaliknya, mereka merawat bayi dengan penuh proteksi. Itulah mengapa peristiwa 2019 menjadi tanda tanya besar: apa yang sebenarnya mendorong monyet tersebut melakukan kanibalisme?
Hipotesis Ilmiah: Mengapa Bisa Terjadi?
Sejauh ini, para ilmuwan hanya bisa berspekulasi. Beberapa hipotesis yang mungkin antara lain:
- Kondisi Lingkungan
Apakah saat itu sumber makanan sedang terbatas sehingga bangkai bayi menjadi “sumber energi instan”? Belum ada data pasti, tetapi faktor ekologis bisa berperan. - Faktor Sosial dan Dominasi
Dalam kelompok sosial primata, perebutan status atau agresi bisa terjadi. Namun, biasanya berakhir dengan cedera atau pengusiran, bukan kanibalisme. - Perilaku Spontan atau Penyimpangan
Karena hanya tercatat sekali dalam puluhan tahun, ada kemungkinan ini sekadar perilaku menyimpang yang tidak punya pola berulang. - Pemicu Stres atau Gangguan Kesehatan
Stres fisiologis atau penyakit tertentu kadang mendorong perilaku abnormal pada hewan. Hal ini masih perlu penelitian lebih jauh.
Mengapa Satu Kasus Saja Bisa Penting?
Bagi sains, bahkan satu observasi tunggal bisa sangat berharga. Kasus ini:
- Menantang asumsi bahwa capuchin sepenuhnya menghindari kanibalisme.
- Membuka peluang studi baru tentang hubungan antara kondisi lingkungan dan perilaku ekstrem.
- Menggambarkan dinamika kompleks kehidupan sosial primata, yang mungkin lebih fleksibel dan tidak seketat yang selama ini dipahami.
Setiap catatan baru memperkaya pemahaman kita tentang evolusi perilaku sosial, termasuk bagaimana faktor biologi, ekologi, dan psikologi berinteraksi.
Refleksi: Apa Artinya Bagi Kita?
Mempelajari perilaku ekstrem pada primata bukan sekadar rasa ingin tahu. Ada nilai ilmiah yang lebih luas:
- Membandingkan dengan manusia – sebagai kerabat dekat kita, perilaku primata bisa memberi petunjuk tentang akar biologis perilaku manusia, termasuk kecenderungan agresi atau penyimpangan sosial.
- Konservasi – memahami kondisi yang memicu perilaku abnormal dapat membantu mengelola habitat alami, terutama jika tekanan lingkungan (misalnya deforestasi) terbukti memengaruhi keseimbangan sosial hewan.
- Kesadaran tentang kompleksitas alam – peristiwa ini mengingatkan kita bahwa hewan liar tidak selalu sesuai dengan citra “lucu” yang kita lihat di media. Mereka juga memiliki sisi gelap dan kompleks, sebagaimana manusia.
Kasus kanibalisme pada monyet capuchin di Taman Nasional Santa Rosa adalah sebuah anomali ilmiah, peristiwa tunggal yang menantang pemahaman kita tentang perilaku sosial primata. Meski masih belum ada jawaban pasti, kejadian ini membuka peluang penelitian baru tentang interaksi antara lingkungan, dinamika sosial, dan perilaku ekstrem pada hewan.
Bagi kita, kisah ini adalah pengingat bahwa alam penuh misteri. Bahkan setelah puluhan tahun penelitian, satu peristiwa kecil bisa mengubah cara kita memandang hubungan antara hewan, ekosistem, dan evolusi perilaku.
Baca juga artikel tentang: Rahasia Genetik Simpanse: Adaptasi untuk Bertahan di Habitat yang Berbeda dan Perlindungan dari Malaria
REFERENSI:
Delval, Irene dkk. 2025. Carrying the dead: behavior of a primiparous capuchin monkey mother and other individuals towards a dead infant. Primates, 1-7.
Felício, Beatriz dkk. 2025. Touching faces: The active role of infant capuchin monkeys (Sapajus libidinosus) in their social development. Journal of Comparative Psychology.

