Sains Alam

Studi Mengungkap Penyebab Busuk Rimpang Jahe dan Mengevaluasi Fungisida yang Paling Efektif

Meningkatkan hasil panen jahe tidak hanya bergantung pada kualitas bibit, kesuburan tanah, atau pemupukan yang tepat. Keberhasilan budidaya jahe juga sangat dipengaruhi oleh kemampuan petani mengendalikan berbagai penyakit yang menyerang tanaman. Salah satu penyakit yang paling ditakuti adalah busuk rimpang…

Bagikan artikel ini
WhatsApp Email

Meningkatkan hasil panen jahe tidak hanya bergantung pada kualitas bibit, kesuburan tanah, atau pemupukan yang tepat. Keberhasilan budidaya jahe juga sangat dipengaruhi oleh kemampuan petani mengendalikan berbagai penyakit yang menyerang tanaman. Salah satu penyakit yang paling ditakuti adalah busuk rimpang jahe. Penyakit ini menyerang bagian rimpang yang menjadi hasil panen utama sehingga menyebabkan penurunan produksi, penurunan kualitas, bahkan kegagalan panen apabila infeksi berkembang tanpa pengendalian yang memadai. Di berbagai negara penghasil jahe, penyakit ini terus menjadi tantangan karena jamur penyebabnya mampu bertahan lama di dalam tanah dan kembali menyerang tanaman pada musim tanam berikutnya. Kondisi tersebut mendorong para peneliti mencari strategi pengendalian yang lebih efektif.

Penelitian yang diterbitkan pada tahun 2026 dalam jurnal Crop Protection memberikan kabar yang cukup menjanjikan. Peneliti berhasil mengidentifikasi tiga spesies jamur utama penyebab busuk rimpang jahe sekaligus mengevaluasi berbagai bahan antijamur melalui pengujian laboratorium, pengujian keamanan terhadap tanaman, dan uji lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pyraclostrobin memberikan tingkat pengendalian yang sangat tinggi, sedangkan tetramycin juga memperlihatkan kinerja yang baik. Meskipun demikian, hasil tersebut tetap perlu dipahami secara hati hati karena penelitian dilakukan pada kondisi budidaya tertentu sehingga masih memerlukan pengujian di wilayah lain.

Busuk rimpang jahe merupakan penyakit yang berasal dari tanah. Penyakit ini biasanya mulai menyerang bagian akar, pangkal batang, dan rimpang sehingga tanaman mengalami gangguan penyerapan air serta unsur hara. Pada tahap awal, daun terlihat menguning dan tanaman mulai kehilangan kesegaran. Seiring bertambahnya tingkat infeksi, batang menjadi layu, jaringan rimpang berubah lunak, berwarna kecokelatan, kemudian membusuk. Apabila rimpang dibelah, bagian dalamnya menunjukkan kerusakan yang semakin meluas. Dalam kondisi yang lembap, jamur dapat berkembang dengan cepat sehingga penyebaran penyakit berlangsung lebih luas di dalam lahan. Karena bagian yang rusak merupakan hasil panen utama, kerugian ekonomi yang dialami petani dapat menjadi sangat besar.

Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada

Kesulitan utama dalam mengendalikan penyakit ini berasal dari kemampuan jamur bertahan hidup di dalam tanah dalam waktu yang lama. Walaupun tanaman yang sakit telah dicabut, jamur masih dapat bertahan pada sisa akar, sisa tanaman, maupun tanah di sekitarnya. Ketika musim tanam berikutnya dimulai, jamur kembali menginfeksi tanaman muda yang baru ditanam. Oleh sebab itu, pengendalian busuk rimpang tidak cukup hanya mengobati tanaman yang telah sakit, tetapi juga harus mampu menekan sumber infeksi yang berada di dalam tanah.

Untuk memahami penyebab penyakit secara lebih mendalam, peneliti melakukan survei di beberapa daerah sentra budidaya jahe di Provinsi Shandong, Tiongkok. Tanaman yang menunjukkan gejala busuk rimpang dikumpulkan, kemudian jamur yang terdapat pada jaringan sakit diisolasi dan dipelajari lebih lanjut. Peneliti menggunakan identifikasi berdasarkan bentuk morfologi serta analisis molekuler untuk memastikan identitas setiap jamur. Pendekatan tersebut memberikan tingkat ketelitian yang lebih tinggi dibandingkan hanya mengamati bentuk koloni jamur.

Heatmap ini menunjukkan bahwa setiap isolat jamur pada fase spora dan miselium memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap berbagai fungisida, dengan beberapa kombinasi fungisida memberikan efektivitas penghambatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan yang lain (Wang, dkk. 2026).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga spesies jamur yang berperan sebagai penyebab utama busuk rimpang, yaitu Fusarium proliferatum, Fusarium oxysporum, dan Fusarium solani. Ketiga spesies tersebut kemudian diuji kembali pada tanaman sehat untuk memastikan bahwa mereka benar benar mampu menyebabkan penyakit yang sama. Tahapan ini sangat penting karena keberadaan jamur pada jaringan tanaman belum tentu berarti jamur tersebut menjadi penyebab utama penyakit. Setelah seluruh pengujian selesai, ketiga spesies tersebut terbukti memiliki kemampuan menyebabkan busuk rimpang sehingga menjadi target utama dalam penelitian selanjutnya.

Setelah mengetahui penyebab penyakit, peneliti mengevaluasi sembilan bahan antijamur yang berbeda. Pengujian dilakukan terhadap dua proses penting dalam kehidupan jamur, yaitu pertumbuhan miselium dan perkecambahan spora. Miselium merupakan jaringan benang halus yang membentuk tubuh jamur dan bertanggung jawab menyerap nutrisi dari tanaman. Spora merupakan struktur reproduksi yang memungkinkan jamur menyebar ke tanaman lain. Jika kedua proses tersebut berhasil dihambat, kemampuan jamur menginfeksi tanaman juga akan menurun secara signifikan.

Dari seluruh bahan yang diuji, pyraclostrobin memberikan hasil terbaik. Bahan ini mampu menghambat pertumbuhan miselium maupun perkecambahan spora pada ketiga spesies Fusarium dengan konsentrasi yang relatif rendah. Tetramycin juga menunjukkan kemampuan yang baik walaupun efektivitasnya sedikit lebih rendah dibandingkan pyraclostrobin. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemilihan bahan aktif yang tepat sangat menentukan keberhasilan pengendalian penyakit. Tidak semua fungisida memberikan efektivitas yang sama terhadap setiap jenis jamur sehingga penggunaan fungisida tanpa dasar penelitian dapat menghasilkan pengendalian yang kurang optimal.

Gambar ini memperlihatkan karakteristik makroskopis dan mikroskopis beberapa isolat jamur, termasuk morfologi koloni, hifa, dan konidia, yang digunakan untuk identifikasi spesies penyebab penyakit tanaman (Wang, dkk. 2026).

Peneliti kemudian melakukan pengujian keamanan terhadap tanaman jahe. Langkah ini sangat penting karena bahan yang mampu membunuh jamur belum tentu aman bagi tanaman. Pengujian menunjukkan bahwa penggunaan pyraclostrobin maupun tetramycin pada konsentrasi yang digunakan tidak menimbulkan gejala fitotoksisitas. Dengan kata lain, tanaman tetap tumbuh tanpa menunjukkan kerusakan akibat penggunaan kedua bahan tersebut. Temuan ini memberikan keyakinan bahwa efektivitas pengendalian tidak diperoleh dengan mengorbankan kesehatan tanaman.

Tahap berikutnya menjadi bagian yang paling penting karena penelitian berlanjut ke uji lapangan. Berbeda dengan laboratorium yang memiliki kondisi sangat terkontrol, lahan pertanian menghadapi berbagai faktor yang sulit diprediksi, seperti perubahan suhu, curah hujan, kelembapan tanah, serta keberadaan berbagai mikroorganisme lain. Oleh sebab itu, keberhasilan pada uji lapangan menjadi indikator penting bahwa suatu teknologi memiliki peluang diterapkan dalam praktik budidaya.

Hasil uji lapangan menunjukkan bahwa penggunaan pyraclostrobin pada konsentrasi dua ratus lima puluh miligram per liter mampu mengendalikan penyakit busuk rimpang dengan efektivitas sekitar delapan puluh dua hingga delapan puluh tujuh persen pada dua lokasi penelitian. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar serangan penyakit berhasil ditekan selama penelitian berlangsung. Hasil ini memberikan harapan bahwa strategi pengendalian berbasis fungisida yang dipilih melalui pengujian ilmiah dapat memberikan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan penggunaan bahan secara coba coba.

Walaupun demikian, penggunaan fungisida tidak boleh menjadi satu satunya strategi pengendalian penyakit. Penggunaan bahan aktif yang sama secara terus menerus dapat mendorong munculnya resistensi pada jamur. Ketika resistensi terjadi, jamur menjadi lebih kebal sehingga efektivitas fungisida akan terus menurun. Oleh karena itu, para ahli menyarankan penerapan pengendalian terpadu melalui pergiliran bahan aktif, penggunaan bibit sehat, sanitasi lahan, pengelolaan drainase, serta pemantauan kondisi tanaman secara rutin. Pendekatan tersebut mampu memperlambat munculnya resistensi sekaligus menjaga efektivitas fungisida dalam jangka panjang.

Penelitian ini juga memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipahami. Seluruh pengujian lapangan dilakukan di wilayah tertentu di Tiongkok sehingga hasilnya belum tentu sama pada daerah lain yang memiliki jenis tanah, iklim, varietas jahe, dan teknik budidaya yang berbeda. Penelitian juga belum mengevaluasi efektivitas pengendalian dalam jangka waktu yang sangat panjang maupun dampaknya terhadap komunitas mikroorganisme tanah yang bermanfaat. Selain itu, penelitian belum membandingkan strategi ini dengan berbagai metode pengendalian hayati yang saat ini mulai banyak dikembangkan sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai penyebab busuk rimpang jahe sekaligus menawarkan pendekatan pengendalian yang telah melalui tahapan laboratorium hingga uji lapangan. Identifikasi tiga spesies Fusarium sebagai penyebab utama serta keberhasilan pyraclostrobin dan tetramycin dalam menghambat pertumbuhan jamur menjadi dasar ilmiah yang penting bagi pengembangan strategi perlindungan tanaman jahe. Namun hasil penelitian ini belum dapat dianggap sebagai solusi yang berlaku untuk semua kondisi budidaya. Penelitian lanjutan di berbagai wilayah, pengujian pada kondisi lingkungan yang berbeda, serta penerapan pengendalian penyakit secara terpadu tetap diperlukan agar budidaya jahe dapat berlangsung lebih produktif, berkelanjutan, dan mampu memberikan hasil panen yang lebih baik bagi para petani.

Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya

REFERENSI:

Wang, Fengchao dkk. 2026. Screening of Effective Agents and Field Efficacy Trials on Control Ginger Rhizome Rot Caused by Fusarium Species. Crop Protection, 107539.

Maratus Sholikah
TENTANG PENULIS

Maratus Sholikah

Green-Tech Writer dengan 7 tahun pengalaman dan 3.000+ artikel Science & Sustainability yang sudah dipublikasikan. Spesialis mengubah riset kompleks menjadi narasi jernih berbasis data. Karyanya menjangkau topik Green Technology, Biodiversity, hingga Climate Science untuk media sains dan platform digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

✳ SAINS DALAM GAMBAR

Warstek di Instagram

@warstek_com ↗
Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign

Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign

Paper ke 7 JOKOWI telah terbit! Abstrak: ndonesia memiliki batas administrasi yang digunakan untuk menentukan kewenangan pemerintahan, anggaran, pelayanan publik, dan tanggung…▧ Carousel

Paper ke 7 JOKOWI telah terbit! Abstrak: ndonesia memiliki batas administrasi yang digunakan untuk menentukan kewenangan pemerintahan, anggaran, pelayanan publik, dan tanggung jawab antarwilayah.…

Congratulations! JOKOWI sudah terindeks Google! Scopus nggak sih habis ini? #jurnal #jokowi

Congratulations! JOKOWI sudah terindeks Google! Scopus nggak sih habis ini? #jurnal #jokowi