Bayangkan makhluk laut berlendir yang sering kita lihat bergelung di dasar laut, seperti “tumbuhan laut” yang merayap perlahan sambil membersihkan sedimen yang jatuh. Itu adalah ubi laut—hewan laut yang sering dianggap tidak begitu menarik, tetapi ternyata memiliki potensi besar bagi dunia medis. Sebuah studi terbaru yang dipimpin oleh para peneliti dari University of Mississippi menemukan bahwa senyawa gula tertentu di dalam ubi laut bisa menjadi kunci untuk menghentikan penyebaran kanker. Temuan ini mengejutkan banyak ilmuwan karena menunjukkan bagaimana makhluk laut yang sederhana bisa memengaruhi penyakit kompleks seperti kanker.
Apa Itu Ubi Laut dan Perannya di Alam
Ubi laut adalah hewan invertebrata laut, artinya mereka tidak memiliki tulang belakang. Walaupun bentuknya sering tampak seperti cacing atau tabung berlendir, ubi laut sebenarnya termasuk kelompok echinoderm—kerabat jauh bintang laut dan bulu babi. Ubi laut hidup di dasar laut dan berperan penting dalam menjaga kesehatan ekosistem laut. Mereka seperti “petugas kebersihan laut” yang membersihkan sedimen, bakteri, dan material organik yang terendap di dasar, sehingga membantu mendaur ulang nutrisi dan menjaga keseimbangan lingkungan laut.

Keunikan mereka tidak hanya pada peran ekologis, tetapi juga pada kimia tubuhnya. Para ilmuwan menemukan bahwa ubi laut menghasilkan senyawa gula yang berbeda dari yang biasa ditemukan di hewan darat atau manusia, dan senyawa ini bisa menjadi alat yang membantu melawan kanker.
Bagaimana Kanker Menyebar di Dalam Tubuh
Setiap sel di tubuh kita memiliki permukaan yang ditutupi oleh struktur kecil bernama glycan. Glycan bisa dibayangkan seperti “rambut-rambut kecil” yang penting dalam komunikasi antar sel, mengatur respons imun, dan mengenali ancaman seperti bakteri atau virus. Ketika sel menjadi kanker, ia sering mengubah cara glycan bekerja dan dimodifikasi sehingga membantu tumor tumbuh lebih cepat dan menyebar ke bagian tubuh lain.
Salah satu “alat” yang digunakan sel kanker untuk memodifikasi glycan adalah enzim yang disebut Sulf-2. Enzim ini bekerja seperti tukang kebun yang memotong dan merapikan “hutan kecil” glycans di permukaan sel. Tapi sayangnya, ketika Sulf-2 terlalu aktif, ia justru membantu sel kanker “berkembang biak” dan meningkatkan kemampuan sel kanker untuk bermetastasis—yaitu menyebar dari satu organ ke organ lain.
Senyawa Gula dari Ubi Laut: Lawan Baru Untuk Sulf-2
Di sinilah peran ubi laut menjadi luar biasa. Para peneliti menemukan bahwa ubi laut jenis Holothuria floridana mengandung senyawa gula khusus yang disebut fucosylated chondroitin sulfate. Nama yang panjang ini bisa dijelaskan sederhana sebagai “gula kompleks yang memiliki cabang khusus”. Senyawa ini bukan sekadar gula manis yang kita kenal di makanan; dalam ilmu biokimia, senyawa seperti ini memainkan peran dalam berbagai proses seluler.
Dengan menggunakan teknik simulasi komputer dan uji laboratorium, para ilmuwan menemukan bahwa senyawa ini mampu menghambat aktivitas Sulf-2. Ketika Sulf-2 dinonaktifkan, perubahan struktur glycan yang biasanya membantu sel kanker menyebar dapat dicegah. Dengan kata lain, senyawa dari ubi laut ini bisa menjadi inhibitor—suatu molekul yang bisa “mematikan” aktivitas enzim yang berperan penting dalam proses kanker.
Baca juga: Cahaya dan Kimia: Sinergi Baru dalam Perawatan Kanker Payudara
Kelebihan Senyawa Ubi Laut Dibanding Obat Lain
Selain kemampuan senyawa ini untuk menghentikan Sulf-2, ada keuntungan besar lainnya. Banyak obat yang dirancang untuk memodifikasi jalur kanker sering memiliki efek samping serius. Contohnya, beberapa obat yang menghambat enzim bisa juga memengaruhi kemampuan darah untuk menggumpal. Jika darah tidak bisa menggumpal dengan baik, pasien bisa mengalami perdarahan yang sulit dikendalikan—efek samping yang sangat berbahaya.
Namun menurut tim peneliti, senyawa dari ubi laut tidak menimbulkan gangguan pada proses penggumpalan darah ini. Hal ini menjadikannya kandidat yang lebih aman untuk dikembangkan menjadi terapi di masa depan.
Tantangan: Menemukan Cara untuk Menghasilkan Senyawa dalam Jumlah Besar
Meskipun potensi senyawa dari ubi laut sangat menjanjikan, masih ada tantangan besar yang harus diatasi. Ubi laut bukan organisme yang bisa dibudidayakan atau dipanen dalam jumlah besar untuk diekstraksi menjadi obat. Mereka hidup di laut, sering tersebar dan tidak mudah diambil dalam jumlah yang cukup untuk produksi obat.
Karena itu, langkah berikutnya bagi para ilmuwan bukan lagi mengumpulkan ubi laut untuk diekstraksi, tetapi mencari cara untuk mensintesis (membuat secara kimia di laboratorium) senyawa tersebut. Jika berhasil menemukan metode sintesis yang efisien, maka senyawa ini bisa diproduksi dalam jumlah yang cukup untuk diuji pada model hewan dan, jika hasilnya positif, kemudian diuji pada manusia.
Kolaborasi Ilmuwan: Menggabungkan Banyak Keahlian
Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti dari berbagai bidang: kimia, biologi molekuler, biokimia, bahkan ahli dalam pemodelan komputer. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa untuk menghadapi penyakit kompleks seperti kanker, dibutuhkan pendekatan multidisiplin—bukan hanya satu disiplin ilmu saja.
Tim menggunakan teknik seperti mass spectrometry (alat yang memetakan struktur molekul), pemodelan komputer untuk melihat bagaimana molekul bereaksi satu sama lain, dan uji biokimia di laboratorium untuk mengamati efek nyata senyawa tersebut. Semua hasil inilah yang memberikan dasar kuat bahwa senyawa ubi laut memang layak untuk diteliti lebih lanjut.
Kesimpulan: Hikmah dari Laut untuk Masa Depan Terapi Kanker
Penemuan senyawa dari ubi laut yang mampu menghambat enzim yang membantu penyebaran kanker memberikan harapan baru dalam penelitian terapi kanker. Senyawa fucosylated chondroitin sulfate ini bekerja tidak hanya efektif dalam menghambat aktivitas Sulf-2, tetapi juga tampaknya tidak membawa efek samping serius seperti gangguan pembekuan darah. Ini membuatnya menjadi kandidat obat yang sangat menarik untuk masa depan.
Walau tantangan masih ada—terutama terkait bagaimana memproduksi senyawa ini dalam jumlah besar—penelitian ini membuka jendela baru bahwa hewan laut sederhana bisa memberikan jawab atas masalah medis yang sangat kompleks. Kerja sama lintas disiplin ilmuwan menunjukkan bahwa solusi untuk tantangan besar mungkin datang dari tempat yang tidak terduga: dasar laut yang selama ini kita anggap sepele.
Referensi:
[1] https://olemiss.edu/news/2025/06/sea-cucumbers-could-hold-key-to-stopping-cancer-spread/index.html, diakses pada 28 Desember 2025
[2] Marwa Farrag, Reem Aljuhani, Julius Benicky, Hoda Al Ahmed, Sandeep K Misra, Sushil K Mishra, Joshua S Sharp, Robert J Doerksen, Radoslav Goldman, Vitor H Pomin. Heparan-6-O-endosulfatase 2, a cancer-related proteoglycan enzyme, is effectively inhibited by a specific sea cucumber fucosylated glycosaminoglycan. Glycobiology, 2025; 35 (6) DOI: 10.1093/glycob/cwaf025

